27 April 2009

Ekolabel Indonesia

Ekolabel dapat berupa simbol, label atau pernyataan yang diterakan pada produk atau kemasan produk, atau pada informasi produk, buletin teknis, iklan, publikasi, pemasaran, media internet. Selain itu, informasi yang disampaikan dapat pula lebih lengkap dan mengandung informasi kuantitatif untuk aspek lingkungan tertentu yang terkait dengan produk tersebut. Ekolabel dapat dibuat oleh produsen, importir, distributor, pengusaha ‘retail’ atau pihak manapun yang mungkin memperoleh manfaat dari hal tersebut.

Menurut situs ekolabel Kementerian Negara Lingkungan Hidup (ini yang asli di http://www.menlh.go.id/ekolabel-sml/ekolabel/), terdapat 20 perusahaan yang mempunyai Sistem Manajemen Lingkungan, 5 perusahaan (pabrik bubur kertas dan pabrik kertas) yang bersertifikat lingkungan dengan 20 produk (semuanya kertas), 5 perusahaan pabrik bubur kertas dan pabrik kertas yang mengklaim perusahaannya telah Ramah Lingkungan (Swadeklarasi)

Tetapi, coba simak sedikit artikel dari website tersebut :
  • Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) mengindikasikan 70% bahan baku industri pulp dan kertas di Indonesia masih menggunakan kayu dari hutan alam. "Saya bisa mempertanggungjawabkan kayu yang digunakan industri pulp and paper menggunakan kayu hutan alam," ujar Direktur Eksekutif LEI Taufik Alimi, kemarin. Taufik menjelaskan ketergantungan industri pulp dan kertas pada kayu yang berasal dari hutan alam sangat tinggi, tercermin dari kasus pembalakan liar di Riau. Indikatornya, menurutnya, terlihat ketika polisi menerapkan police-line di Riau, salah satu perusahaan pulp dan kertas di sana terpaksa harus mengurangi kapasitas produksinya.

  • Indikator lainnya, lanjut Taufik, pabrik pulp dan kertas itu mengklaim menggunakan kayu hutan tanamannya yang masih berumur 5 tahun, sedangkan sesuai dengan ketentuannya kayu hutan tanaman itu idealnya dipanen pada usia 6 tahun. Padahal, Dephut telah mengeluarkan kebijakan yang melarang industri pulp dan kertas menggunakan kayu hutan alam melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.101/Menhut- II/2004 tentang Percepatan Pembangunan Hutan Tanaman untuk Pemenuhan Bahan Baku Industri Pulp dan Kertas. "Dalam ketentuan itu perusahaan hutan tanaman industri (HTI) yang terikat dengan industri pulp dan kertas harus menyelesaikan penanaman seluruh arealnya paling lambat 2009."

  • Namun, Menhut M.S. Kaban belum lama ini menyatakan batas waktu penggunaan kayu hutan alam untuk keperluan industri pulp dan kertas diundur.

  • Taufik berpendapat perpanjangan kebijakan penggunaan kayu hutan alam bagi industri pulp dan kertas memperparah ketidakpastian iklim usaha di Indonesia. Untuk itu, katanya, perlu segera direalisasikan percepatan pelaksanaan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) yang dapat membantu mempercepat pemulihan prakondisi kehutanan.
Jika melihat kepada daftar perusahaan yang mendapat sertifikat Ekolabel Indonesia, terdapat 2 perusahaan kertas/bubur kertas di Riau yaitu PT. RIAU ANDALAN PULP AND PAPER (RAPP) dan PT. INDAH KIAT PULP AND PAPER, Tbk. (IKPP). PT. RAPP telah memiliki sertifikat atas 6 produk kertas tanpa salut hasil produksinya, sedangkan PT. IKPP memiliki sertifikat atas 1 produk kertas tanpa salut hasil produksinya. Ketika polisi merazia dan memberi "garis polisi/police-line" atas hasil hutan alam Riau, ternyata 1 dari 2 perusahaan tersebut mengurangi kapasitas produksinya karena minimnya pasokan bahan baku. Berarti salah satu perusahaan telah menggunakan bahan baku dari hutan alam Riau dan bukan dari Hutan Tanaman Industri.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan label EKOLABEL INDONESIA - RAMAH LINGKUNGAN pada salah 1 dari 2 perusahaan tersebut adalah TIDAK BENAR, karena menggunakan bahan baku dari hutan alam. Maka dengan keadaan seperti ini, Hutan Alam Indonesia masih tidak aman dari perambahan liar guna memenuhi kebutuhan bahan baku pabrik kertas/bubur kertas. Prinsip tebang pilih tidak berlaku. Yang ada hanyalah TEBANG HABIS.


50 comments:

  1. 1 2 3 pertamaXXXXxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

    ReplyDelete
  2. sepakaTTTTTTTTTTTTTTTTTTTtttttttttt.............
    tebang habiszzz..... sampe habisszzz....licin punah
    sekali lagi tbang habiszz...............
    ga usah ingat anak cucu...... yg penting cari kenikmatan sesaat.... yg hanya jangka pendek.....
    gmn Om? hihihihi

    ReplyDelete
  3. betul sekali attayaya... gak ada istilah pilih tebang yang ada tebang habuis... yang celaka kita juga...

    POLItikus!!!, yang ada malah memberi jalan untuk melakukan tebang habis... yaaaellaaah

    ReplyDelete
  4. waaaaaaaaah eMo421.... kalo di tebang habis, entar sungai kuantan bakal kering tuuuh...

    ReplyDelete
  5. @indra putu: hihihihi.............. makanya tebang habis aja.... biar sungai-sungai mengering.... keindahan alamnya musnah..... wakakakakaka....
    aduh... senewen aq nih.... liat tingkah politisi busuk tuh.... anjrit......... dulu sungai kuantan jernih... tak keruh sekuning sekarang..... hihisshihksshikss,,,,,,,,, apa yg harus kita perbuat lagi bg indra putu dan om Atta??

    ReplyDelete
  6. awalnya BIRU, diganti dengan PINK, sekarang HITAM.. jadi slogannya diganti dagi donk... :D
    "HITAMKAN INDONESIA" 'Attayaya Menghitamkan Bumi, Anda Kapan?' jiakakakakak.... :D piss akh....

    ReplyDelete
  7. tebang terus biar gundul, ntar kalo udah bankir baru tau rasa, nyesel

    ReplyDelete
  8. Ada temuan baru nih,.... siswa saya berhasil membuat art paper dari tangkai tandan pisang,.... jadi tidak membabat hutan lagi bro.

    ReplyDelete
  9. Seperti makan buah simalakama, Bang... Pada kenyataannya kalau industri itu tidak menemukan solusi selain menggunakan bahan kayu dari hutan alam, maka mereka akan tetap ketergantungan. Nah kalau udah ketergantungan terus harus di stop, ribuan pekerjanya akan menjadi pengangguran. Kemana kita harus berpihak?

    ReplyDelete
  10. yang bagus nanam kayu sendiri seperti RAPP jadi hutan alam ga habis bner ga bang taufik. sebaba walaupun bagai mana kalau merambah hutan alami tetep tidak di benarkan..

    ReplyDelete
  11. misleading banget ya label itu. gimana kalo ternyata konsumen uda terlanjur percaya banget kalo produk itu dibuat tanpa merusak lingkungan, tapi ternyata ga taunya semua itu boong? penipuan terhadap konsumen.. :&

    ReplyDelete
  12. @to All: jedah tebang,,,, wajib dilakukan.....
    klu peruasahaan mandek dan mau PHK karyawan.. ya PHK saja... lagian ini utk jangka panjang..... yg di PHK pun dah punya pesangon...... tul tak....
    pokoke... wajib Jedah Tanam, yg lebih mujarab itu komitment pemimpin negeri ini.... terutama "RIAU"
    coba lihat di Papua Gubernurnya mantab bro.... berani melakukan jedah tanam..... Riau ni macem mane pemimpinnya nih.... dah tau dari masse kempimpinan yg lalu amburadul.. masih saje terpilih..... *hihihihihi*
    kayaknya emg sulit... kita harus putus generasi yg sperti itu............ ayo satukan suara.. rapatkan barisan.......... untuk indonesia tercinta....... mari...bersatu... jgn berpangku tangan......... *provokator*

    ReplyDelete
  13. susah bang membangun mental cinta alam.. soalnya kenapa? karena perusahaan udah terlebih dahulu cinta uang.. mereka pun harus gaji karyawan.. huuuhh... serba salah ne.. tetapi saya yakin ada cara lain untuk menanggulangi persoalan semacam ini dan itu bisa dilakukan oleh para ahli yang lebih memiliki ilmu teknis tentang ekosistem.

    OH IYA!! bang atta silakan diambil awardnya melalui link yang telah saya berikan.. ehuehueh

    ReplyDelete
  14. Speechless bang Atta.......besna komennya semua udah panjang panjang ..mana bener semua ga ada yang salah......atut dehh......

    ReplyDelete
  15. Memang benar bang penebangan hutan untuk produksi dampaknya merusak juga...oh ya bang rumahnya cat baru ya...keren bang..

    ReplyDelete
  16. Memang benar bang penebangan hutan untuk produksi dampaknya merusak juga...oh ya bang rumahnya cat baru ya...keren bang..

    ReplyDelete
  17. Seharusnya pemerintah menghidupkan kembali program menanam 1000 pohon,klu perlu dibuat sanksi tegas jika ada yang tak melaksanakan, demi hijaunya negara kita. Met siang bang...met beraktifas....salam..

    ReplyDelete
  18. kalo aq jadi presiden , org2 yg kaya' gitu ga sayang ama pohon , bakalan aq asingkan di gurun sahara biar tahu rasa gmn ngerasain ga ada pohon...

    ReplyDelete
  19. aneh2 ajah nih...sblumnya dipikirkan sblum bertindak,,,mg pemerintah bnr dlm tindakannya...

    ReplyDelete
  20. Ya, saya setuju dengan pernyataan "TEBANG HABIS", karena itulkah realita yang terjadi saat ini.

    ReplyDelete
  21. tebang habis? bisa mengkilap and mengkilau nih bumi indonesia kita alias botak.. silau man...

    ReplyDelete
  22. Kaya semboyan ini ya mas
    Habis Tebang terbitlah Banjir
    he.he

    ReplyDelete
  23. @itik bali : cerdas neng..
    Tebang abis? Lha nti anak cucu aku kebagian apa dunk?

    ReplyDelete
  24. mentang2 punya hph kali..., seenaknya pada nebang hutan yahh......

    ReplyDelete
  25. makanya bencana dimana2 dan kita yang kena imbasnya

    ReplyDelete
  26. masalah tebang menebang, jadi ingat bokap waktu nangkepin para penebang kayu ilegal dari kalimantan, kapan2 diposting ah...

    ReplyDelete
  27. btw, bagusan yang ini Ya warnanya.

    ReplyDelete
  28. "kalo mo nebang yang di depan aja, ini hutan tanaman industri, kalo yang belakang hutan alam indonesia"

    "hutan alam yang nama pak? lah wong udah gundul"

    setuju ama jeng sri warna yang ini lebih bagus.

    ReplyDelete
  29. sayangnya pas negara eropah dan amerikah dulu ngrusak hutan ngak ada sanksinya ya?

    ReplyDelete
  30. eh jangan ngina warna merah jambu ya, itu kan warna kesukaan jengsri. kalo cinta ditolak jangan balik menghina donkk!

    (maburrrrrrrrrrrrrr!!!!!!)

    ReplyDelete
  31. jiaaaakaakakaka jeng sri ada ada aja

    ReplyDelete
  32. om attayaya, demokrat janji tuh 2 menteri dari riau, 1 buat om lukman edi, satu lagi buat om attayaya aja yah menteri lingkungan hidup,khan om attayaya temannya om lukman edi.

    ReplyDelete
  33. hahahahahahaha ta mutin lah
    (ga mungkin lah)

    ReplyDelete
  34. hehehe, blog ini juga ekolabel, ramah lingkungan nih bang hehe, makin sejuk aja nih ...

    ReplyDelete
  35. belum ekolabel karena masih menggunakan energi listrik dari PLN yg notabene mboros minta ampun

    ReplyDelete
  36. kayu yg digunakan sebagai bhn baku oleh perusahaan tsb memang masih memakai kayu alam dari hutan yang telah mendapat izin dari pemerintah untuk dikonversi menjadi HTI..kesimpulan bapak tidak bisa diterima..karena masalah itu tdk bisa dilihat dari satu aspek saja.

    ReplyDelete
  37. hal ini juga didukung leh beberapa oknum yang telah melakukan penebangan liar. cuma oknum itu selain tidak mau disebutkan, merka mengatakan bahwa kayu yang mereka tebang dan jual mendapatkan surat izin (atau surat apalah) yang bisa dibeli melalui oknum lainnya.
    penjualan itu berantai dan berakhir di beberapa pabrik kertas dan pemotongan kayu.

    pemegang HPH juga ikut andil dengan menebang kayu yang berada diluar kawasan HPH terlebih dahulu, baru kemudian menebang di dalam HPH

    rantai penebangan dan penjualan kayu ilegal sangat panjang dan sangat tertutup
    didukung oleh oknum. mulai dari tersedianya surat sampai pengamanan di jalanan.

    1-2 tahun terakhir ini memang kegiatan ini sangat jauh berkurang.
    selain hutannya yang mulai gundul, aparat dan intensitas razia makin meningkat

    semoga penebangan dan penjualan kayu ilegal bisa dihilangkan

    ReplyDelete
  38. akhirnya Menteri Kehutanan Perintahkan Penghentian Aktivitas APRIL di Lahan Gambut Kampar

    http://www.greenpeace.org/seasia/id/news/menteri-kehutanan-perintahkan

    ReplyDelete
  39. ckck emang penggalakan hukum konservasi di indonesia belum tegas..

    sudah jelas aturan kawasan konservasi itu dibagi menjadi zona inti, zona pemanfaatan, dan zona penyangga..
    tapi knp banyak disalahgunakan dgn diikutkan ekolabel..

    padahal untuk penebangan seperti itu kan bisa saja memanfaatkan zona pemanfaataan jangan melakukan penebangan di zona inti..

    slamm konservasi!!

    ReplyDelete
  40. kejujuran pengusaha sangat dibutuhkan

    ReplyDelete
  41. kami dalam pengembangan kemitraan jabon di lahan masyarakat akan menggndeng lembaga ekolabel indonesia,,biar harganya kayu bagus

    ReplyDelete
  42. semoga sukses
    dan jalankanlah ekolabel yg benar

    ReplyDelete
  43. SAYA PUNYA LEBIH KURANG 4 HA JABON BERUSIA 7 TH, DIAMENTER 70-130CM\
    BERKISAR 2552 BATANG.
    KLO BERMINAT HUB : UCOK(08127652291)
    LOKASI KEBUN DI KAB. INDRAGIRI HULU - RIAU

    ReplyDelete

Copyright © 2013 attayaya: Ekolabel Indonesia | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah