19 November 2013

JADWAL OMBAK BONO SUNGAI KAMPAR 2013-2014-2015

PERINGATAN :
YANG COPY PASTE
JADWAL BONO 2013-2014-2015
HARAP NYANTUMKAN ALAMAT URL POSTINGAN/ARTIKEL INI SECARA LENGKAP!!!

CAPEK BRO/SIS NGELIAT JADWAL BULAN KEMUDIAN MENULISNYA KE DALAM BLOG.


Hari ini (19/11/13), aku bersama Komunitas Blogger Bertuah khususnya dari Tim BertuahTV kembali mengejar ombak Bono Sungai Kampar untuk pengambilan photo dan video.

Find us on --> BertuahTV dan Bono Kampar


******

Ini adalah Jadwal Perkiraan Terjadinya Ombak Bono pada tahun 2013 dan 2014 serta 2015 sebagai panduan awal untuk mendapatkan atau bertemu ombak bono di Sungai Kampar Riau. Jadwal ini biasanya akan meleset 1 hari (maju / mundur).

Ombak Bono adalah ombak yang terjadi di Sungai Kampar Riau dan menjadi ombak sungai yang terbesar di dunia, menyaingi Pororoca Brazil. Untuk mengetahui tentang Ombak Bono Sungai Kampar Riau silahkan baca artikel lainnya :
Gelombang / Ombak Bono Kampar Riau Indonesia
LOKASI BONO - TIDAL BORE DI DUNIA
TINJAUAN ILMIAH TERJADINYA OMBAK BONO KAMPAR
Mengejar Bono Sungai Kampar
Dikejar Ombak Bono Sungai Kampar


Jadwal ini dibuat oleh Attayaya berdasarkan pergerakan bulan.
JADWAL BONO 2013 :

05 – 07 September 2013 (M)
19 – 21 September 2013 (P)
04 – 06 Oktober 2013 (M)
18 – 20 Oktober 2013 (P) (B)
03 – 05 November 2013 (M) (B)
17 – 19 November 2013 (P) (B)
02 – 04 Desember 2013 (M) (B)
17 – 19 Desember 2013 (P) (B)

JADWAL BONO 2014 :

01 – 03 Januari 2014 (M) (B) – Bertepatan dengan Tahun Baru 2014
16 – 18 Januari 2014 (P) (B)
01 - 02 Februari 2014 (M)
13 - 15 Februari 2014 (P)
01 - 03 Maret 2014 (M) (B)
15 - 20 Maret 2014 (P) (B)
30 Maret - 1 April 2014 (M) (B)

Pada 19 Maret 2014, fenomena perigee bulan (jarak terdekat bulan terhadap bumi), yang memiliki siklus putaran sekitar 27,3 hari, terjadi bersamaan dengan bulan purnama besar yang muncul tiap 29 hari. Ketika perigee bulan terjadi bersamaan dengan bulan purnama, maka permukaan bulan akan tampak 14 persen lebih besar. Selain itu, cahayanya 30 persen lebih terang dari bulan purnama biasa. Dengan keadaan ini, sangat dimungkinkan akan terjadi Ombak Bono Super, yaitu ombak bono yang lebih besar dari biasanya jika dipicu juga oleh debit aliran Sungai Kampar yang tepat.

JADWAL OMBAK BONO YANG BESAR 2014 :

22 - 24 OktobeR 2014 (M) (B)
04 - 07 NovembeR 2014 (P) (B)
22 - 24 NovemBer 2014 (M) (B)
05 - 07 Desember 2014 (P) (B)
21 - 23 Desember 2014 (M) (B)

JADWAL BONO 2015 :

02 - 05 Januari 2015 (P) (B) Tidak bertepatan dengan Tahun Baru 2015

Keterangan Perkiraan :
Jadwal Terjadinya Bono Sungai Kampar 2013-2014-2015 ini dihitung oleh Attayaya berdasarkan kalender Bulan/Tahun Melayu atau Kalender Hijriyah 1434 - 1435 Hijriyah
(P) = Bulan Purnama / tengah bulan Melayu
(M) = Bulan Mati / awal bulan Melayu
(B) = Ombak Bono Sungai Kampar yang berukuran besar berkisar antara 4-6 meter di sekitar Pulau Muda. Selain itu biasanya berukuran sedang dengan ketinggian 3 meter untuk lokasi tertentu.

Penginapan di sekitar lokasi Ombak Bono merupakan penginapan di rumah-rumah penduduk yang bersahabat. Hotel di sekitar lokasi ombak bono sedang dibangun.

selengkapnya...

11 November 2013

Kain Tenun Songket Melayu

Kain Tenun Songket Melayu
Songket berasal dari kata "sungkit" yang artinya "mencungkil" yang juga memerlukan proses "mengait". Kedua proses tersebut (mencungkil dan mengait) merupakan proses utama di dalam menenun sebuah kain yang diinginkan. Sebagian orang malah menyebut bahwa kata "songket" tersebut berasal dari kata "Songka" yang artinya topi atau kata "songkok" khas Palembang yang dipercaya sebagai daerah dimana masyarakatnya merupakan masyarakat yang pertama kali memiliki kebiasaan melakukan kerajinan menenun kain menggunakan tangan yang digunakan pada songkok atau topi yang selanjutnya berkembang penggunaannya pada pakaian. "Menyongket" dapat diartikan sebagai ‘menenun dengan benang emas dan perak’.



Kain Tenun Songket Melayu sendiri merupakan kain dari hasil kerajinan tangan masyarakat Melayu yang dilakukan melalui proses menenun benang yang juga diselingi dengan tenunan benang emas atau benang perak dengan menggunakan ragam motif/corak tenunan tertentu. Kain hasil tenunan Songket Melayu memiliki banyak keunikan dan kaya dengan nilai keindahan atau estetika sebagai bentuk gabungan dari unsur-unsur budaya yang biasanya melambangkan corak, pandangan dan pemikiran masyarakat Melayu. Ragam dari motif/corak kain tenunan Songket sangatlah erat hubungannya antara manusia dengan alam sekitar, baik hewan maupun tumbuhan. Ragam tersebut sekaligus juga mencerminkan cara dan pandangan hidup umat manusia.

Pada masa dahulu, kain tenunan songket tersebut ditenun dengan memakai benang sutera yang diselingi dengan motif tertentu menggunakan benang emas ataupun perak. Hal tersebut dipengaruhi oleh adanya para pedagang dari Tiongkok yang kerap membawa benang sutera, sementara para pedagang asal India biasa membawa benang emas ke tanah Melayu. Dengan mempertimbangkan mahalnya harga benang sutera, maka pada perkembangan songket Melayu selanjutnya, benang sutera tersebut diganti dengan benang kapas. Pada masa kain tenunan dihasilkan dengan menggunakan benang sutera, kain tenun biasanya juga bisa menunjukkan strata kelas masyarakat yang melambangkan kedudukan dan kemegahan.

Ragam Corak Kain Tenun Songket Melayu

Ada banyak jenis ragam corak tenun songket yang biasa digunakan, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Motif Kuntum Bunga
2. Motif Siku Keluang
3. Motif Siku Awan
4. Motif Siku Tunggal
5. Motif Pucuk Rebung Kaluk Pakis
6. Motif Pucuk Rebung Bertabur Bunga Ceremai
7. Motif Pucuk Rebung Bertali
8. Motif Daun Tunggal
9. Motif Mata Panah Motif Tabir Bintang

Baca juga tentang Kain Tenun Songket Melayu :

Menurut petuah orang tua melayu Riau, makna dan falsafah di dalam setiap motif kain tenun tersebut, selain dapat meningkatkan minat-minat orang untuk menggunakan kain tenun juga dapat menyebar-luaskan nilai-nilai ajaran agama Islam yang dianut masyarakat Melayu. Itu lah sebabnya dahulu pengrajin diajarkan membuat atau meniru corak. Ada banyak ungkapan Melayu yang menunjukkan keistimewaan penggunaan kain songket tersebut, diantaranya adalah:

Bertuah orang berkain songket,
coraknya banyak bukan kepalang.
Petuahnya banyak bukan sedikit,
hidup mati di pegang orang”

Kain songket tenun melayu,
mengandung makna serta ibarat.
Hidup rukun berbilang suku,
seberang kerja boleh di buat.

Bila memakai songket bergelas,
di dalamnya ada tunjuk dan ajar.
Bila berteman tulus dan ikhlas,
kemana pergi tak akan terlantar.


Dusun Muara Laut Desa Sukajadi Kecamatan Bukit Batu yang ada di Kabupaten Bengkalis Propinsi Riau Indonesia merupakan salah satu dusun penghasil kerajian kain songket Melayu tersebut. Dusun tersebut merupakan dusun dimana Datuk Laksemana Raja di Laut bermukim dan dimakamkan. Hampir disetiap rumah yang ada di dusun tersebut memiliki alat tenun kain songket. Pemasarannya pun dilakukan oleh orang-orang yang datang langsung membeli ke rumah-rumah penduduk.

Tokoh Wanita Melayu Riau yang dikenal sangat berperan dalam mengembangkan kerajinan kain tenun songket Melayu Siak di Riau bernama Tengku Maharatu. Tengku Maharatu sendiri adalah permaisuri Sultan Syarif Kasim II yang kedua. Dia melanjutkan perjuangan kakaknya (permaisuri pertama) dalam meningkatkan kedudukan kaum perempuan di Siak dan sekitarnya, yakni dengan mengajarkan bagaimana cara bertenun yang selanjutnya dikenal dengan nama tenun Siak. Tenun Siak tersebut merupakan hasil karya kaum perempuan. Saat ini kain tersebut telah menjadi pakaian adat Melayu Riau yang dipergunakan dalam pakaian adat pernikahan dan berbagai upacara lainnya.

Kain Tenun Songket Melayu





selengkapnya...

01 November 2013

SMART CITY AWARD 2014

Pernahkah Anda mendengar istilah kota pintar? Setiap tahunnya, jumlah masyarakat dunia yang tinggal di perkotaan terus bertambah. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena kehidupan perkotaan menawarkan lapangan pekerjaan yang lebih luas dan harapan akan kehidupan yang jauh lebih baik. Tak heran jika banyak penduduk desa yang berbondong-bondong untuk mengadu nasib di kota. Kota memang merupakan salah satu pusat perkembangan teknologi dengan peluang bisnis yang terus menerus bertambah.

SMART CITY AWARD 2014

Pada tahun 2014 nanti, tepatnya pada tanggal 14-17 Agustus akan diselenggarakan Smart City Awards 2014. Acara yang diselenggarakan oleh Federasi Pembangunan Perkotaan Indonesia ini memberikan beberapa kategori penghargaan seperti Smart City Awards-Indonesia, Project Award, dan Innovative Initiative Award. Saat ini, upaya pembangunan kota pintar serta ramah lingkungan semakin gencar dilakukan.

Salah satu syarat sebuah kota bisa mendapatkan penghargaan kota pintar adalah kota tersebut harus mampu mengimplementasikan teknologi informasi dan komunikasi di dalam tatanan kehidupannya. Pada tahun 2011 lalu, kota Surabaya berhasil menyabet 3 dari 4 kategori penghargaan di ajang Smart City Award 2011. Ketiga kategori penghargaan yang berhasil diperoleh antara lain Smart Living, Smart Governance, dan Smart Environment. Saat itu kota Surabaya mampu menyisihkan 59 peserta lainnya yang berasal dari seluruh provinsi Indonesia (ada 33 provinsi). Untuk bisa memenangi kategori Smart Government, sebuah kota harus bisa memenuhi tiga hal: Participation in Decision Making, Public Services, dan Transparent Governance. Di kategori smart living, beberapa poin yang dijadikan tolok ukur antara lain education facilities (sarana dan prasarana pendidikan), touristic attractivity, dan ICT infrastructure availability. Sedangkan untuk smart environment, indikator dilihat dari sustainable resource management.


Siapakah yang seharusnya berperan untuk mengelola kota tempat tinggal kita? Jawabannya adalah kita semua, termasuk pemerintah kabupaten atau kota, pengusaha, serta masyarakat. Untuk menciptakan sebuah pondasi ekonomi dan sosial yang ideal dan kuat, kita harus bisa mengelola kota dengan baik. Pengelolaan kota juga harus dilandasi dengan sebuah tujuan bersama dan berkelanjutan. Di dunia, ada beberapa kota yang sudah terkenal dengan konsep kota pintarnya. Beberapa diantaranya adalah Wina, Toronto, Paris, New York, London, Tokyo, Berlin, Kopenhagen, Hong Kong, dan Barcelona. Di Indonesia sendiri, ada Surabaya yang dengan kemenangannya di tiga kategori pada Smart City Awards 2011 menunjukkan bahwa kota ini sudah dianggap mampu dan berhasil dalam penerapan konsep kota pintar yang berbasis dapada teknologi informasi serta komunikasi yang terintegrasi dengan baik.

Konsep yang diusung pada Smart City Awards 2014 nanti adalah "Smart Society for Innovative and Sustainable Cities". Konsep Masyarakat Cerdas untuk kota inovatif dan berkelanjutana ini diharapkan bisa mendorong terciptanya semakin banyak kota pintar yang ada di Indonesia. Beberapa tema yang diangkat antara lain governance, economy, collaborative city, the smart society, sustainable built environment, smart energy, technology, innovation, mobility, smart geo, city resilience, dan security. Ada banyak hal yang perlu dibenahi dalam pembangunan kota, khususnya kota-kota besar di Indonesia. Dengan hadirnya penganugerahan kota pintar pada tahun 2014 nanti, diharapkan masyarakat Indonesia bisa lebih terpacu dan termotivasi untuk melakukan perubahan ke arah yang jauh lebih positif dalam mengembangkan kota. Lingkungan perkotaan yang baik akan memajukan negara dan bangsa, terlebih dengan masih tingginya angka urbanisasi.

Urbanisasi adalah tindakan yang tepat jika masyarakat dari desa memiliki bekal ketrampilan dan keahlian yang memadai. Selain itu, kapasitas daya lingkungan kota juga sangat mempengaruhi kesejahteraan sosial masyarakatnya. Jika kapasitas daya lingkungan kota masih sangat terbatas, maka menekan atau mengurangi tingginya angka kepadatan penduduk, tingginya limbah karbon dan limbah, serta tingginya jumlah kawasan kumuh akan sulit untuk dilakukan. Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk menjadikan kota-kota besar di dalamnya menjadi kota pintar. Tentu saja untuk mewujudkan kota pintar diperlukan upaya yang sangat keras dan besar derta komitmen pemimpin dengan partisipasi seluruh lapisan masyarakat. Semoga dengan adanya Smart City Award 2014 bisa menjadi motivasi dan dorongan agar semakin banyak lagi masyarakat Indonesia yang sadar akan pentingnya berkontribusi aktif terhadap pengembangan kota pintar.
selengkapnya...

21 Oktober 2013

Istana Siak Sri Indrapura Riau

Istana Siak

Istana Siak merupakan sebuah istana yang menjadi kediaman resmi Sultan Siak pada waktu dahulu. Istana tersebut mulai dibangun pada tahun 1889 oleh seorang arsitektur berkebangsaan Jerman. Istana tersebut dibangun pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim. Istana Siak merupakan peninggalan dari Kesultanan Siak Sri Inderapura yang selesai dibangun pada tahun 1893. Saat ini, istana yang juga dijuluki Istana Matahari Timur ini, masuk ke dalam wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Siak, Propinsi Riau, Indonesia.



Arsitektur Bangunan Istana Siak

Bangunan kompleks Istana Siak memiliki luas sekitar 32.000 meter persegi. Terdiri atas beberapa bangunan seperti; Istana Siak, Istana Lima, Istana Padjang, Istana Baroe, gudang, serta tangki air. Istana Siak seluas 1.000 meter persegi, terdiri dari dua tingkat. Pada lantai dasar terdapat lima kamar utama. Ada ruang tamu, yang semula dibagi menjadi dua bagian. Tamu laki-laki menggunakan tirai hijau lumut, sedangkan yang perempuan menggunakan tirai beludru.

Arsitektur bangunan Istana Siak merupakan gabungan dari arsitektur Melayu, Arab dan juga Eropa. Bangunan ini terdiri dari dua lantai. Lantai bawah dibagi menjadi enam ruangan sidang: Ruang tunggu para tamu, ruang tamu kehormatan, ruang tamu laki-laki, ruang tamu untuk perempuan, dan satu ruangan disamping kanan adalah ruang sidang kerajaan yang juga digunakan untuk ruang pesta. Lantai atas terbagi menjadi sembilan ruangan yang berfungsi untuk istirahat Sultan dan para tamu kerajaan.

Pada bagian dinding istana dihiasi dengan aneka keramik yang secara khusus didatangkan dari Prancis. Beberapa koleksi benda antik Istana, kini disimpan di Museum Nasional di Jakarta, dan di Istananya sendiri menyimpan duplikat dari koleksi tersebut. Diantara beberapa benda-benda aktik yang menjadi barang koleksian tersebut adalah: Keramik dari Cina, Eropa, Kursi-kursi kristal yang dibuat tahun 1896, Patung perunggu Ratu Wihemina yang merupakan hadiah dari Kerajaan Belanda dan patung pualam Sultan Syarim Hasim I bermata berlian yang dibuat pada tahun 1889, perkakas seperti sendok, piring, gelas dan cangkir berlambangkan Kerajaan Siak masih terdapat dalam Istana.

Pada bagian puncak bangunan terdapat enam buah patung burung elang yang dijadikan sebagai lambang keberanian Istana. Sementara di sekitar istana masih dapat dilihat delapan buah meriam yang menyebar di berbagai sisi-sisi halaman istana. Sementara di sebelah kiri belakang istana terdapat bangunan kecil yang berfungsi sebagai penjara sementara.

Pada bagian lain dalam istana, terdapat pula alat musik Komet yang dibuat secara home industri di Jerman. Alat tersebut memiliki piringan dengan garis tengah berukuran sekitar 90 cm berisikan lagu-lagu klasik dari Mozard dan Bethoven. Konon barang ini hanya ada dua di dunia yaitu di Jerman sebagai pembuat dan di Istana Siak.


Alat musik tersebut dijalankan dengan menggunakan pegas untuk memutar piringan. Piringan yang terbuat dari logam memiliki lobang-lobang agar pengetuk suaranya berbunyi berdasarkan lobang dan panjang lobang. Piringan ini mirip dengan cara kerja compact-disc laser jaman sekarang yang menggunakan bit 0 dan 1. Komet ini bertulis Komet Goldenberg & Zetitlin Patent 95312 buatan abad XVIII. Istana Siak memiliki 17 piringan dengan berbagai lagu klasik. Alat ini sekarang tidak dimainkan lagi karena usianya telah sangat tua, ditakutkan akan merusak alat.


Gambar milik Ferry Rusli
http://ferryrusli.blogspot.com/2013/08/hitam-putih-siak-project-a.html

Alat ini jika dimainkan dengan mengengkol pegas yang berada di sisi kirinya. Komet ini dibawa oleh Sultan Siak ke XI bernama Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syarifuddin (1889-1908) ketika melakukan lawatan ke Eropa di tahun 1896. Bahkan, di Istana Siak juga menyimpan pemutar piringan hitam berukuran kecil buatan Thomas Alfa Edison yang tidak dipergunakan lagi sekarang. Istana Siak juga masih banyak menyimpan manuskrip-manuskrip sejarah melayu dan Indonesia yang harus dijaga agar tidak berpindah tangan yang tidak bertanggung jawab.

Istana Siak Sebagai Objek Wisata

Saat ini Istana Siak menjadi salah satu tempat wisata favorit di Kabupaten Siak yang sekaligus juga menjadi salah satu icon wisata sejarah budaya Melayu Propinsi Riau. Istana Siak bisa ditempuh dari arah Kota Pekanbaru sebagai Ibu Kota Propinsi Riau dengan menggunakan jalur perjalanan darat. Waktu tempuh perjalanan menuju ke lokasi Istana Siak sekitar 2 sampai 3 jam. Di samping Istana Siak, juga masih banyak objek wisata lain di Kabupaten Siak seperti Jembatan Siak, Masjid Sahabuddin, Makam Sultan Kasim II dan sebagainya.

Istana Siak Sri Indrapura Riau
selengkapnya...

15 September 2013

Tugu Perjanjian Setan Bagan Siapiapi

Tugu Perjanjian Setan Bagan Siapiapi

Nama tempat wisata kali ini cukup unik dan menarik, Tugu Perjanjian Setan Bagan Siapiapi yang sudah cukup terkenal sejarah pembuatannya. Tidak banyak cerita yang bisa digali dari tugu bersejarah tersebut. Akan tetapi, cerita yang cukup mahsyur dari sejarah berdirinya tugu tersebut di awali pada saat tahun naga atau tepatnya pada tahun 1928. Tugu Perjanjian Setan Bagan Siapiapi terletak di pinggiran jalan, berwana merah dan kuning dengan ukiran huruf-huruf Cina yang memiliki makna tersendiri. Tugu ini konon merupakan bentuk simbol perjanjian antara setan atau roh-roh dengan manusia yang terjadi pada saat tahun naga tersebut.


Sejarah Tugu Perjanjian Setan Bagan Siapiapi

Diceritakan pada sekitar tahun 1928, telah terjadi kehebohan dan kegaduhan di banyak tempat di Bagansiapiapi tersebut. Dimana tempat-tempat perjudian, tempat minum-minuman keras, rumah-rumah prodeo banyak mengalami peristiwa yang tidak masuk akal. Ditempat pelacuran sering terdengar suara orang sedang mandi di kamar mandi, namun ketika dilihat ternyata tidak ada orang yang sedang mandi. Begitu juga di tempat perjudian, batu-batu mahyong sering berputar-putar sendiri sehingga menimbulkan banyak kegaduhan. Di kedai kopi misalnya kerap terlihat kaki manusia diatas meja. Kontan, para penghuninya dibuat bingung dan mereka segera mengadu kepada para biksu Budha yang ada di Bagan Siapiapi untuk mengantisipasi hal yang terjadi tersebut.

Namun yang terjadi, para biksu yang ada di Bagansiapiapi sendiri tidak mampu berbuat banyak akan kejadian tersebut. Mereka lalu memanggil biksu Budha lainnya yang berasal dari Singapura dan Taiwan untuk dimintai bantuan mengatasi permasalahan yang terjadi. Setelah dicek oleh para biksu asal Taiwan dan Singapura tersebut, ternyata kegaduhan tersebut ditimbulkan oleh para roh-roh yang sebelumnya mati di laut. Maka atas hal ini, diupayakan lah perjanjian antara pihak biksu dengan pihak roh-roh dari laut tersebut.

Langkah awal dari isi perjanjian antara biksu dengan roh-roh tersebut adalah diberi kesempatan bagi para roh untuk menghibur diri selama satu pekan lamanya. Di seluruh pelosok kota Bagansiapiapi didirikan tempat-tempat hiburan simbolik terbuat dari bambu dan kertas, ada kedai kopi,ada tempat pengisapan candu, perjudian dan lain lain. Semuanya terbuat dari bambu dan kertas secara simbolik. Ada panggung sandiwara, ada rumah bordir dengan wanita PSK-Nya, ada kedai kopi, ditempat-tempat inilah para syetan dipersilahkan menghibur selama satu minggu sebagai tahapan awal dari perjanjian yang akan disepakati.

Setelah para syetan puas bergentayangan selama satu minggu untuk menghibur diri mereka di tempat-tempat yang telah disediakan, maka selanjutnya para setan tersebut harus kembali bergentayangan di laut, tidak boleh lagi membuat kegaduhan di daratan seperti yang telah dilakukan sebelumnya.

Sebagai bukti dari hasil perjanjian yang telah disepakati tersebut maka dibuatlah tiga buah prasasti atau tugu yang bertuliskan di atasnya LAM HU OMITOHUD yaitu nama sang Budha. Maka setelah tugu tersebut didirikan, setiap kali syetan-syetan itu akan kembali ke darat, maka para syetan itu akan membaca tugu perjanjian yang telah dibuat tersebut dan mereka pun biasanya akan kembali lagi ke laut. Konon ceritanya, tugu-tugu perjanjian yang telah dibuat tersebut tidak boleh hilang dari tempat tersebut. Apabila Tugu Perjanjian Setan tersebut hilang maka konon perjanjian yang telah dibuat dengan syetan akan batal, begitu menurut kepercayaan masyarakat setempat.

Konon sejauh ini telah puluhan tahun lamanya perjanjian tersebut disepakati, namun belum ada kabar atau kejadian syetan melanggar hasil dari perjanjian tersebut. Hikmah pelajaran yang dapat dipetik adalah ternyata syetan bisa lebih patuh dan disiplin dibandingkan dengan manusia itu sendiri. Konon syetan selalu menunggu tugu tersebut supaya lenyap. Dengan demikian maka berarti perjanjian yang sudah disepakati akan batal, dan para syetan pun akan kembali bebas ke daratan untuk bisa mengganggu manusia seperti sebelumnya. Demikian kepercayaan masyarakat setempat terhadap keberadaan Tugu Perjanjian Setan Bagansiapiapi tersebut.

Sebagai informasi bahwa Kota Bagan Siapiapi memiliki komunitas Tionghoa yang besar di Indonesia. Komunitas ini tersebar di hampir pelosok kota Bagan Siapiapi. Klenteng sebagai tempat ibadahnya dapat dijumpai di sudut-sudut kota. Tionghoa di Bagan Siapi-api juga mempunyai tradisi Bakar Tongkang yang merupakan satu-satunya tradisi yang ada di dunia.

selengkapnya...

02 September 2013

JANGAN PILIH BAPAK ITU, SI MACAN OMPONG, SAMPAI RIMBA MERDEKA

JANGAN PILIH BAPAK ITU, SI MACAN OMPONG

Woooww Riau akan memilih seorang Gubernur pada tanggal 4 September 2013 yang akan memimpin Riau selama 5 tahun 2013 mpe 2018 aja (kalo mau lanjut lagi harus ikut ajang kompetisi pilih memilih lagi). Sangat banyak keinginan masyarakat yang dititipkan kepada para Calon Gubernur Riau (biasa disingkat CAGUBRI). Dan semakin banyak pula janji-janji yang diberikan oleh Cagubri kepada masayarakt. Baik Cagubri yang berani teken kontrak depan Notaris dengan Masyarakat yang dijanjikannya. Ada pula Cagubri yang omong sana-omong sini. Ada pula Cagubri yang berani nulis dimana-mana. Macam gaya banyak rasa.

Ketika aku menulis sebuah status di facebook tanggal 1 September 2013 sekitar jam sebelas malam yang berbunyi eeeh yang tertulis :
Kebun untuk rakyat?
Kenapa ga buat hutan untuk rakyat? Untungnya ga cuma buat rakyat tapi bagi seluruh alam bumi.
Weeeew jadi rame dah.

Tulisan itu kutulis ketika melihat sebuah Fanpage Cagubri yang dishare oleh seorang teman lain tentang sebuah program yang sepertinya bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembagian lahan yang akan dijadikan kebun, khususnya kebun sawit.

Abis nulis itu, komen bermunculan. Aiiih... menurut salah seorang teman (si A) bahwa program itu diajukan oleh seorang teman (si B) yang menjadi Tim Sukses seorang Cagubri, yang juga merupakan teman aku (si C). Aiiih... nii semua pertemanan.

Boleh dooong sebagai teman mengkritik sesama teman.
Kalo ga boleh, aku berhenti nulis aaah.

Status itu kulanjutkan dengan nulis status lagi :
Hutan sudah terancam dan makin terancam
http://www.youtube.com/watch?v=R8aXY9BFIZs

Status itu memuat sebuah video yang aku edit dah lamaaa sekali (upload 9 Mei 2011). Jauuuh sebelum ada ajang kompetisi pemilihan gubernur tahun ini. Eeeeh aji gileee yang nonton 24 ribu kali. #eheeeem

Video itu aku publish lagi di blog pada tulisan "Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi" pada tanggal 10 Mei 2011.

Tak lama kemudian, hatiku semakin perih ketika mendapat sebuah inbox dari masbro RZ. Hakim (www.acacicu.com) yang memberikan aku sebuah lagu dari ujung timur pulau Jawa. Lagu yang menyayat hati para pecinta lingkungan untuk terus tetap tegar mengumandangkan semangat perjuangan lingkungan dan berbuat lebih baik kepada lingkungan.

Mendengar lagu tersebut, aku kemudian menulis status di Facebook (lagi...) :
burung pun menangis melihat hutan hancur. Kita hidup di bumi ini hanya sebentar, lalu apa hak kita untuk menghancurkan alam dengan mengambil seluruh manfaatnya saat ini?

aaah sedih rasanya melihat tanah riau akhirnya habis hanya untuk dibagi2kan kepada manusia tanpa memberi ruang yang lebih luas untuk makhluk hidup lainnya.

cc: Hisam Setiawan Juli Endri Taufik 'Fiko' Asmara

Lagu itu dinyanyikan Grup Tamasya pada Album Save The Tree.
http://www.reverbnation.com/tamasyabandalbumsavethetree4/song/17525321-sarka

Ini lirik aslinya :
SARKA (Sampai Rimba Merdeka)

Hutanku tak ada lagi
Dan sungai mulai tercemar
Sang raja hutan berlari
Tapi tak tahu kemana..

Dengar bumiku merintih
Pelan terbawa angin
Apa kau juga mendengarnya...

Temanku bersedih lagi
Tanahnya ditambang lagi
Orang rimba kalah lagi
Hidupnya semakin tersisih

REFF

Waktuku hampir habis
Harus tetap bertahan
Melawan semua yang menindas
Sampai kita semua merdeka

Kemudian aku nulis lagi, lagi dan lagi. Statusku kubuat berdasarkan lagu yang dikirim Hisam Setiawan :
JANGAN PILIH BAPAK ITU!!!
Photomu kau paku di pohon

https://soundcloud.com/hisam-setiawan/macan-ompong
CC: Hisam Setiawan Juli Endri Fauzanov Medevdev Taufik 'Fiko' Asmara

Generasi muda penerus bangsa memimpikan Pemimpin yang pro terhadap lingkungan demi Negara Indonesia.

Lagu ini dinyanyikan oleh JP-28 Band
SANI SARAGIH untuk Lyric & Music, Drumer
RICKY DUTA, Guitar Lead
MOELJADI, Guitar Rhytim
RIAN, Bass
HISAM, Vocalist

MACAN OMPONG | JANGAN PILIH BAPAK ITU

Peraturan yang tumpang tindih
Kebijakan manipulasi
Tutup mata terima kanan kiri

Hutan-hutan kau eksploitasi
Perizinan kau rekomendasi
Pada siapa yang mau beri upeti

Chorrus:
Jangan pilih bapak itu - yang ga peduli dengan hutan ku
Jangan coblos pasangan itu - yang cuma bisa ngomong, kelakuan persis Macan Ompong

Kabut asap penuh polusi
Global warming menanti pasti
Bagaimana anak cucu kami nanti

Hutan-hutan kau modifikasi
Korupsimu menjadi-jadi
Mau kemana nasib negeri ini nanti

Back to chorrus*

Reff:
Macan Ompong - Macan Ompong - Hutan gundul kau cuma bengong
Macan ompong - Macan Ompong - Alam ku rusak kau malah bohong
Macan ompong - Macan Ompong - Photomu kau paku di pohon
Macan Ompong - Macan Ompong - Janji manismu pepesan kosong

Kedua lagu diatas bersuara sama yaitu menyuarakan KEPEDULIAN LINGKUNGAN. Satu ingin kemerdekaan bagi makhluk hidup di rimba, yang satu lagi mengajak kita untuk tidak memilih pemimpin yang TIDAK PEDULI LINGKUNGAN.


Dari 5 CAGUBRI yang akan bertanding tanggal 4 sept nanti, tidak ada satupun yang menggelontorkan program penyelamatan lingkungan yang sangat terkait dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Coba lihat dan baca Visi Riau 2020 :
"Terwujudnya Provinsi Riau Sebagai Pusat Perekonomian Dan Kebudayaan Melayu Dalam Lingkungan Masyarakat Yang Agamis, Sejahtera, Lahir Dan Bathin Di Asia Tenggara Tahun 2020”

Pusat perekonomian :
Emangnya hutan ga bisa menjadikan Riau sebagai pusat perekonomian ya?

Sejahtera :
Emangnya hutan ga bisa menjadikan masyarakat Riau menjadi lebih sejahtera ya?

Aiiih... kalo pikirannya pendek, yaaa... programnya yang pendek-pendek aja.

aaaah cabe dweeeeh.....

milih ga ya?
selengkapnya...

31 Agustus 2013

Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT)

Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT)
Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) merupakan kawasan perbukitan yang berada di tengah-tengah hamparan alam dataran rendah pada bagian Timur Pulau Sumatera. Tempat ini mempunyai potensi keanekaragaman jenis tumbuhan maupun satwa endemik yang bernilai cukup tinggi. TNBT terletak di kawasan Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) dan Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) di Propinsi Riau serta Kabupaten Bungo Tebo dan juga Kabupaten Tanjung Jabung di Propinsi Jambi.

Luas lokasi TNBT semula hanya 127.698 hektar berdasarkan pada SK Menteri Kehutanan, SK No. 539/Kpts-II/1995. Kemudian luasnya ditambah menjadi 144.223 hektar berdasarkan Sk Menteri Kehutanan, SK No. 6407/Kpts-II/2002. Akan tetapi pada faktanya telah terjadi pengurangan luas kawasan tersebut akibat adanya perluasan perkebunan sawit yang dilakukan oleh perusahaan maupun masyarakat.

Tipe ekosistem penyusun dari hutan Taman Nasional Bukit Tigapuluh adalah jenis hutan dataran rendah, hutan pamah serta hutan dataran tinggi. Jenis flora yang mendiami kawasan ini diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Jelutung (Dyera costulata),
2. Getah merah (Palaquium spp.),
3. Pulai (Alstonia scholaris),
4. Kempas (Koompassia excelsa),
5. Rumbai (Shorea spp.),
6. Cendawan muka rimau/raflesia (Rafflesia hasseltii),
7. Jernang atau palem darah naga (Daemonorops draco), dan berbagai jenis rotan.

Sementara untuk jenis satwa, Taman Nasional Bukit Tigapuluh ssedikitnya memiliki 59 jenis mamalia, 6 jenis primata, 151 jenis burung, 18 jenis kelelawar, dan berbagai jenis kupu-kupu. Beberapa jenis satwa yang bisa ditemukan di daerah ini diantaranya adalah:
1. Habitat harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae),
2. Tapir (Tapirus indicus),
3. Ungko (Hylobates agilis),
4. Beruang madu (Helarctos malayanus malayanus),
5. Sempidan biru (Lophura ignita),
6. Kuau (Argusianus argus argus) dan lain-lain; juga sebagai perlindungan hidro-orologis Daerah Aliran Sungai Kuantan Indragiri.

Untuk dapat mencapai lokasi TNBT tersebut, dapat dilakukan dari arah Pekanbaru menuju ke Siberida - Rengat di Kabupaten Indragiri Hulu sejauh kurang lebih 285 km atau sekitar 4-5 jam perjalanan kendaraan roda 4. Selanjutnya dari Siberida dapat masuk ke lokasi TNBT melalui jalan bekas HPH (Hak Pengusahaan Hutan).

Jika ragu dapat bertanya ke bagian Informasi Alamat Kantor Jl. Gerbang Sari No. 9, Pematang Reba, Rengat, Indragiri Hulu, Riau. Telp. (0769) 3412255, 341279 Fax. 341132, 341148. Untuk berkirim email silahkan ke tn.bukit30@gmail.com, bukit30_np@yahoo.com. Atau dapat juga menghubungi Kantor TNBT : Jl. Raya Rengat No. 70, Pematang Reba - Rengat Indragiri Hulu, Riau. Telp. (0769) 341279; Fax. (0769) 341148 E-mail: btnbt2003@yahoo.com.

Pada awalnya, kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh merupakan kawasan hutan lindung dan hutan produksi terbatas. Namun demikian, kondisi hutan taman nasional tersebut relatif sagat masih alami. Agak mirip kondisinya dengan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu Riau Indonesia.

Lokasi di kawasan TNBT merupakan lokasi tempat tinggal "Orang Rimba/Anak Rimba/Suku Anak Dalam/Suku Kubu" dan juga orang "Suku Talang Mamak" serta "Suku Melayu Tua". Satu kelompok dari Suku Talang Mamak berada di kawasan Dusun Semarantihan Desa Suo-Suo Kecamatan Sumai, Kabupaten Tebo, Jambi. Masyarakat inimenjaga percaya akan perlunya keseimbangan alam untuk kehidupan, sehingga mereka tutut menjaga alam TNBT dengan sebaik-baiknya. Orang luar lah yang terkadang merambah dan merusak kawasan alam TNBT tersebut.

Bila kita berada di kawasan TNBT tersebut, ada beberapa hal menarik yang bisa kita saksikan sebagai bagian dari objek wisata di kawasan tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Air Hitam Dalam: Bisa dilakukan dengan menyelusuri sungai sambil melihat dan menyaksikan aneka kehidupan tumbuhan/satwa. Air Hitam Dalam merupakan lokasi dari habitat harimau Sumatera.
2. Tembelung Berasap: di sini kita bisa melihat panorama dari air terjun, mandi sambil melakukan pengamatan terhadap tumbuhan.
3. Batu Belipat dan Batu Gatal: merupaka bentuk wisata budaya arung jeram. Kegiatan ini dapat dilakukan di bagian Sungai Gangsal, Sungai Menggatai, dan Sungai Sipang.
4. Kemantan: merupakan bentuk wisata budaya yang dilakukan untuk melihat upacara keagamaan Suku Talang Mamak.

Musim kunjungan yang baik ke lokasi TNBT setiap tahunnya adalah dimulai dari bulan Maret sampai Juli.


Populasi gajah Sumatera ini tersebar di sebagian besar wilayah di Sumatera diantaranya di kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) dan sekitarnya. Secara administratif wilayah TNBT ini berada di dua propinsi yaitu propinsi Jambi dan Riau.

International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah menetapkan gajah Sumatera sebagai spesies yang “kritis” atau critically endangered karena populasinya yang kian menurun akibat meningkatnya ancaman serta berkurangnya habitat mamalia besar ini. Menurut data WWF gajah Sumatera diperkirakan kini hanya ada sekitar 2400 hingga 2800 ekor saja yang hidup di alam liar. Jumlah ini menyusut sekitar 50% dari tahun 1985.

Di propinsi Jambi kawasan TNBT berada di dua kabupaten yaitu kabupaten Tebo dan kabupaten Tanjung Jabung Barat. Total luas kawasan TNBT saat ini adalah 144.223 ha tapi dengan melihat kecenderungan hilangnya tutupan hutan alam di propinsi Jambi dan Riau serta kawasan TNBT yang dikelilingi oleh daerah penyangga yang memiliki kawasan berhutan dengan nilai konservasi tinggi yang juga merupakan habitat satwa yang dilindungi yaitu gajah, harimau dan orangutan maka pada tahun 2001 Konsorsium Bukit Tiga Puluh yang dikomandoi oleh KKI Warsi mengusulkan perluasan kawasan TNBT namun hingga saat ini usulan perluasan kawasan masih belum ada realisasinya.

Sementara itu perambahan hutan serta izin pemanfaatan kawasan yang mengakibatkan alih fungsi hutan disekitar kawasan TNBT terus dikeluarkan oleh pemerintah daerah.

Di kawasan taman nasional ini juga terdapat pohon nibung (oncosperma tigilarium), sejenis palem liar, mirip pohon pinang, yang secara spesifik tergolong dari suku palmae. Pohon ini tumbuh secara berumpun, berbatang lurus, yang memiliki ketinggian mencapai 20—30 meter. Habitat tumbuhan jenis ini adalah di hutan-hutan pantai, air payau, dan berkembang secara alami. Bagi masyarakat Riau, pohon nibung memiliki makna tersendiri, yaitu sebagai simbol semangat persatuan dan persaudaraan masyarakat Riau. Oleh Pemerintah Propinsi Riau, pohon ini kemudian dijadikan sebagai maskot Propinsi Riau.

Kawasan TNBT adalah sebagai tempat tinggal Suku Talang Mamak dan Suku Kubu, dua suku yang dianggap sebagai keturunan ras Proto-Melayu. Menurut data yang dikeluarkan Pemerintah Propinsi Riau pada tahun 2001, jumlah orang Talang Mamak terbilang sangat sedikit, yaitu hanya 164 jiwa, yang tersebar di dusun-dusun seperti Rantaulangsat, Airbaubau, Nanusan, dan Siamang. Sedangkan jumlah Suku Kubu sampai saat ini belum diketahui secara pasti, karena hidupnya yang berpindah-pindah dan berpencar-pencar.

Kehidupan suku-suku asli di kawasan TNBT merupakan daya tarik pariwisata tersendiri. Suku-suku tersebut merupakan fenomena eko-budaya yang menarik untuk dipelajari, terutama bagaimana cara mereka berinteraksi dengan alam. Suku-suku tersebut sangat tergantung dengan hutan, sehingga hutan bagi mereka adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka. Dilihat dari cara mereka berinteraksi dengan alam, suku-suku asli tersebut sangat ramah terhadap ekosistem hutan.

Mereka tidak eksploitatif terhadap sumber daya hutan, dan tahu persis kapan saat yang tepat untuk memanfaatkan hasil hutan, seperti memetik buah, mengambil rotan, dan memanen madu. Untuk membuka lahan baru, mereka juga tidak sembarangan menebang pohon di hutan. Ada pohon-pohon tertentu yang tidak boleh ditebang, dan ada tata-cara tersendiri untuk menebangnya. Kearifan tersebut telah diwariskan secara turun-temurun.

Sumber Tulisan :
http://wisatasumatera.wordpress.com/wisata-jambi/taman-nasional-bukit-tigapuluh/
http://www.mongabay.co.id/2012/08/16/tn-bukit-tigapuluh-habitat-gajah-terus-terhimpit-ekspansi-tambang-dan-sawit/
http://www.attayaya.net/2011/06/taman-nasional-bukit-tigapuluh-30-tnbt.html

Sumber gambar :
http://www.djemari.org/2009/11/mengenal-taman-nasional-bukit-tigapuluh.html
selengkapnya...

17 Agustus 2013

SALAM TIDAK MERDEKA


gimana aku bisa bilang MERDEKA jika hendak bernafas saja harus menggunakan masker akibat kebakaran lahan yang disengaja.

SALAM TIDAK MERDEKA

selengkapnya...

27 Juli 2013

Taman Nasional Tesso Nilo

Tesso Nilo Sebagai Hutan yang Kaya


Taman Nasional Tesso Nilo merupakan sebuah taman nasional yang terletak di Propinsi Riau, yaknin tepatnya di Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Indragiri Hulu. Taman nasional tersebut telah diresmikan pada 19 Juli 2004 dan saat ini Taman Nasional Tesso Nilo menjadi salah satu tujuan wisata di Propinsi Riau.

Istilah Tesso Nilo berasal dari kata Teso dan Nilo yang merupakan nama dua buah sungai yang membelah wilayah tersebut. Sejak zaman dahulu hingga sekarang, sungai tersebut masih menjadi sarana transportasi yang cukup vital. Bagi masyarakat lokal sendiri yang mayoritas suku Melayu, Tesso Nilo merupakan kawasan perlindungan dan pengelolaan hutan. Terdapat beberapa bentuk tradisi masyarakat Melayu di kawasan hutan tersebut seperti mengambil ikan dan madu. Tradisi ini merupakan tradisi unik yang tak lepas dari keberadaan hutan Tesso Nilo itu sendiri.

Menurut Andi Glison (2001), kawasan Tesso Nilo merupakan kawasan yang memiliki kekayaan tumbuhan vaskular tertinggi di dunia hingga mengalahkan kawasan hutan lainnya termasuk juga hutan amazone. Pada tahun 2001 Center for Biodiversity Management yang berasal dari Australia menemukan sedikitnya 218 jenis tumbuhan vascular di petak seluas 200 m2. Sementara hasil penelitian dari LIPI dan WWF Indonesia (2003) dalam petak sample plot yang berukuran 1 hektar ditemukan sedikitnya 360 jenis yang tergolong ke dalam: 165 marga dan 57 suku dengan rincian 215 jenis pohon dan 305 jenis anak pohon. Hal ini menjadikan kawasan Tesso Nilo tersebut disebut-sebut sebagai hutan dengan tingkat keanekaragaman hayatinya tertinggi di dunia.

Beberapa jenis tumbuhan yang ada di Taman Tesso Nilo merupakan jenis yang keberadaanya terancam punah dan masuk dalam data red list IUCN. Tumbuhan tersebut diantaranya adalah:
1. Kayu Batu (Irvingia malayana),
2. Kempas (Koompasia malaccensis),
3. Jelutung (Dyera polyphylla),
4. Kulim (Scorodocarpus borneensis),
5. Tembesu (Fagraea fragrans),
6. Gaharu (Aquilaria malaccensis),
7. Ramin (Gonystylus bancanus),
8. Keranji (Dialium spp),
9. Meranti (Shorea spp),
10. Keruing (Dipterocarpus spp),
11. Sindora leiocarpa, Sindora velutina, Sindora Brugemanii, dan jenis-jenis durian (Durio spp) serta beberapa jenis Aglaia spp.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh LIPI (2003) di kawasan hutan Tesso Nilo juga ditemukan sekitar 83 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan obat. Terdapat juga 4 jenis tumbuhan untuk racun ikan. Tanaman obat yang cukup penting bisa ditemukan di kawasan tersebut yaitu jenis pagago (Centella asiatica) dan patalo bumi (Eurycoma longifolia).



Sementara untuk jenis satwa, di hutan Tesso Nilo dapat ditemukan beberapa jenis satwa seperti Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), harimau (Panthera tigris sumatrae), tapir (Tapirus indicus), rusa (Cervus timorensis russa), siamang (Hylobathes syndactylus syndactylus), beruang madu (Helarctos malayanus malayanus).


Program Konservasi Taman Tesso Nilo

Program Wilayah Konservasi Tesso Nilo (Tesso Nilo Conservation Landscape Program), meliputi 7 modul, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Kejahatan Hutan (Forest Crime),
2. Perlindungan Harimau (Tiger Protection), mengarah pada penggalakan pemberlakuan hukum bagi perburuan harimau, mengumpulkan informasi mengenai penyebaran harimau, dan mengkampanyekan perlindungan habitat harimau ke pemerintah daerah di wilayah provinsi Riau.
3. Pengelolaan Taman (Park Management),
4. Konflik Manusia - Gajah (Human - Elephant Conflict),
5. Hubungan Bisnis (Corporate Relations), Hubungan Komunitas (Community Relations),
6. Pengelolaan Proyek (Project Management).

Berbagai langkah hukum terus dilakukan untuk keselamatan Taman Tesso Nilo, seperti misalnya penetapan batas wilayah, perambahan hutan Tesso Nilo, pencaplokan lahan oleh masyarakat dan oknum, perburuan binatang dan tumbuhan, dan hal lainnya. Terbukanya jalan di areal Taman Nasional Tesso Nilo akibat bekas jalan perusahaan HPH membuat dampak buruk bagi keselamatan kawasan ini.

Cara Menuju ke Tesso Nilo

Setidaknya telah ada 5 jalur penerbangan yang rutin menuju ke Kota Pekanbaru sebagai Ibu Kota Provinsi Riau. Yakni melalui Jalur Batam, Jakarta,Medan, Singapura dan Kuala Lumpur. Dari Kota Pekanbaru perjalanan dapat dilanjutkan menuju ke lokasi Taman Nasional tesso Nilo dengan menggunakan kendaraan roda empat dengan jarak tempuh lebih kurang selama 4,5 jam. Perjalanan bisa ditempuh melalui jalan Lintas Timur menuju ke Kabupaten Pelalawan, yakni tepatnya di Kecamatan Ukui. {GW/SUG]



Sumber gambar :
http://tessonilonationalpark.blogspot.com/
selengkapnya...

20 Juli 2013

Festival Lampu Colok 2013 Kota Pekanbaru

Lampu colok adalah nama lampu tradisonal yang biasa digunakan untuk menerangi kegelapan di kampung-kampung. Lampu colok biasanya terbuat dari bahan-bahan seperti bambu yang mirip obor. Ada juga yang dibuat dengan menggunakan kaleng ataupun botol bekas minuman yang didesain menyerupai lampu senter. Setelah itu diisi dengan minyak tanah agar lampu bisa menyala melalui sumbu yang terpasang di bagian tengah lampu.

Kata ‘colok’ sendiri di dalam bahasa Melayu memiliki arti penerang yang berasal dari kata 'suluh'. Masyarakat Melayu sendiri memberi sebutan colok dengan istilah pelite atau pelito, yakni sejenis lampu yang menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar penyalanya. Di daerah bagian Riau Pesisir, colok sehari-harinya dipakai sebagai alat penerang yang diletakkan di bagian depan pintu rumah. Biasanya digunakan untuk menemani saat anak-anak hendak pergi mengaji ke surau atau untuk pergi pada saat malam hari. Lampu colok juga sangat besar fungsinya bagi masyarakat nelayan yang hendak pergi melaut.


Tradisi Festival Lampu Colok tersebut biasanya dilakukan masyarakat Melayu pada malam ke 27 Ramadhan, atau biasa disebut malam "tujuh likur" atau orang Jawa menyebutnya malam ‘Pitu Likur’. Tradisi ini paling banyak dijumpai di Pekanbaru dan Bengkalis dan beberapa daerah lainnya di Riau. Dahulunya, lampu colok tersebut dinyalakan setiap malam di bulan Ramadhan sebagai penerang jalan menuju Mushalla atau Mesjid ketika hendak shalat melaksanakan shalat Isya dan Taraweh, hanya ketika malam 27 Likur untuk menyambut malam lailatul Qadr, lampu colok dinyalakan lebih banyak sehingga kelihatannya lebih meriah, padahal dulu hanyalah untuk lebih menerangi jalan dan kawasan menuju Mushalla atau Mesjid.

Festival lampu colok yang biasa diadakan di Pekanbaru dan Bengkalis merupakan sajian festival lampu colok terbesar yang ada di Riau. Pembukaan kegiatan festival biasanya juga diiringi dengan aneka tarian khas Melayu seperti Tarian Senandung Syukur Seribu Bulan yang ada di Pekanbaru. Lampu colok yang akan dibuat festival tersebut disusun dalam suatu kerangka kayu dan diikat dengan kawat. Susunan lampu colok tersebut biasanya menggambarkan bentuk-bentuk yang unik seperti bentuk mesjid, kapal, kubah, gerbang atau hal lainnya. Untuk menyalakan lampu colok bagian atas, maka diperlukan seorang "penghidup lampu" yang memanjat di kerangka kayu sampai ke ujung dengan ketinggian sekitar 7 meter. Bagian bawah biasanya dinyalakan dengan menggunakan galah yang ujungnya dipasang obor.


Satu susunan kerangka biasanya bisa menghabiskan 1000 s/d 2000 botol/ kaleng lampu colok, tergantung ukuran besar kecil dan kerumitan desain susunannya. Setiap malam perayaan tradisi tersebut, biasanya akan menghabiskan 1 drum minyak tanah untuk 1 atau 2 desain susunan lampu colok. Penghematan bisa dilakukan jika pemadaman lampu colok dipercepat, sehingga sisa minyak tanah yang masih berada dalam botol lampu colok tersebut bisa ditambahkan untuk malam berikutnya. Biasanya setiap kecamatan memiliki 1 desain utama besar dan 2 desain kecil di tambah lampu penerang jalan yang disusun berjajar. Maka diperkirakan setiap kecamatan membutuhkan sekitar 100 liter tiap malam lebih.


Seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi turun temurun, masyarakat Melayu khsususnya menjelang malam-malam penghujung bulan Ramadhan kerap menggunakan penerangan colok tersebut sebagai hiasan di depan rumah, terutama sekali pada saat malam-malam ganjil yang diyakini sebagai malam lailatul qadar. Maka aneka bentuk lampu colok pun dibuat oleh masyarakat dengan menggunakan bahan-bahan seperti kaleng minuman bekas, botol kaca minuman, bambu yang diberi sumbu sampai dengan colok yang dibuat khusus seperti tabung menggunakan bahan baku seng dan alumunium.

Festival Lampu Colok dapat kita temukan di daerah Propinsi Riau seperti Pekanbaru dan Bengkalis. Biasanya akan dipertandingkan antar kecamatan. Seperti di Pekanbaru, pembukaannya dilakukan pada malam ke 27 Ramadhan. Tradisi Festival Lampu Colok ini bukan hanya menjadi khasanah budaya Melayu, kini festival ini juga sudah dikembangkan menjadi salah satu agenda wisata di beberapa kabupaten dan kota di Propinsi Riau. Kesemarakan bulan Ramadhan kian terasa dengan adanya tradisi turun temurun yang diwariskan oleh masyarakat Melayu tersebut dari satu generasi ke generasi selanjutnya.


Artikel Lampu Colok Pekanbaru 2011

selengkapnya...

12 Juli 2013

Tradisi Petang Megang

Tradisi Petang Megang adalah sebuah kebiasaan turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat Melayu yang ada di Pekanbaru dan sekitarnya. Tradisi ini dilakukan untuk menyambut bulan Suci Ramadhan. Kebiasaan ini terus dipertahankan hingga kini. Sebelumnya, acara petang megang ini dikemas berbeda-beda di setiap tempat, tapi tidak mengurangi maknanya.
Petang Megang sendiri adalah suatu petang (sore hari) yang pada esok harinya akan dilaksanakan ibadah puasa. Petang Megang (Petang Belimau) bisanya sangat dinanti-nantikan oleh masyaraka tempatan. Ada yang membuat aneka kue, serta masak-masakan khas Melayu yang sengaja dibuat untuk mereka makan. Juga ada beberapa makanan yang dikemas dalam beberapa bentuk wadah seperti tabak (Khas Indragiri Hulu) yang kemudian diisi dengan telur dan makanan lain dan kemudian dihias sedemikian rupa dan diarak keliling hingga ke Sungai Siak.

Selain itu juga ada air dari rebusan limau (jeruk) purut yang dicampur dengan serai beraroma wangi, ako siak-siak, daun nilam, mayang pinang dan dilengkapi dengan irisan bunga rampai. Air rebusan ini digunakan untuk mandi. Mandi yang dilakukan tersebut dinamakan ‘Mandi Belimau’. Dahulunya masyarakat Pekanbaru mengadakan cara Mandi Belimau tersebut bertempat di Sungai Siak karena pada saat itu kondisi Sungai Siak masih bersih dan tidak tercemar seperti saat ini.

Biasanya tradisi Petang Megang yang ada di Pekanbaru dilakukan oleh masyarakat melayu pesisir, Seperti, Kabupaten Siak, Bengkalis, Rokan Hilir, Meranti. Di kabupaten lain, ada juga yang melakukan tradisi yang sama, hanya saja biasanya menggunakan nama yang berbeda, tapi tetap saja memiliki tujuan yang sama. Beberapa daerah yang ada di Pekanbaru seperti Tanjung Rhu, Jalan Tanjung Datuk dan sebagainya merupakan daerah yang biasa kita temukan melakukan tradisi Petang Megang tersebut.


Gambar : Win Halim

Seiring dengan perkembangan tradisi lokal yang terus tergilas dengan budaya-budaya modern, konsep mandi belimau pada acara petang megang kini berubah haluan menjadi tradisi yang dilakukan oleh warga di rumah-rumah. Perubahan konsep ini akhirnya semakin lama, semakin hilang, terlebih adat budaya ini sudah mulai dilupakan setelah empat generasi keturunan orang melayu di wilayah pesisir. Faktor lain seperti adanya perkawinan silang antara suku Melayu dengan suku lain tentunya juga kian memicu punahnya tradisi petang megang ini. Seperti misalnya seorang lelaki melayu menikahi perempuan dari suku lain. Hal ini akan membuat tradisi petang megang mulai punah. Akan tetapi, jika perempuan asli melayu tentunya ini tetap akan dilakukan kepada suaminya yang berasal dari luar melayu.

Ada beberapa bentuk kegiatan yang biasa dilakukan pada tradisi Petang Megang tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Ziarah makam di pemakaman Senapelan
    Ziarah dilakukan dengan melakukan zikir, tahlil dan doa yang biasanya dipimpin oleh Imam Mesjid raya Pekanbaru. Kemudian dilanjutkan dengan acara tabur bunga. Makam yang diziarahi diantaranya adalah makam para Tokoh Perintis Kemerdekaan, Tokoh Pemerintah, Tokoh Agama dan para Tokoh Budaya.
  2. Shalat Ashar berjamaah di Masjid Raya
    Setelah melakukan ziarah, acara dilanjutkan dengan melakukan ibadah shalat ashar berjamaah di Masjid Raya Senapelan.
  3. Arak-arakan mandi balimau
    Para peserta pawai diarak menuju ke tepian Sungai Siak sambil diiringi dengan lagu melayu serta iringan musik kompang dan rebana.
  4. Acara puncak mandi balimau

Biasanya dibuka dengan beberapa buah tarian Melayu. Kemudian dilanjutkan dengan acara simbolis pembukaan Petang Megang dengan pemukulan bedug yang dilakukan oleh Walikota Pekanbaru dan Gubernur Riau. dilakukan acara mandi belimau dan secara simbolis dilakukan pengguyuran terhadap beberapa anak yatim yang ada di pekanbaru, dan kemudian dilakukan Lomba menangkap itik. Dan para peserta melanjutkan dengan bersih-bersih atau mandi di Sungai Siak.

Air belimau yang ada pada tradisi mandi balimau tersebut digunakan untuk menyiram diri (tubuh) sebagai pembersih. Kepercayaan masyarakat secara turun temurun bahwa air limau (belimau atau berlimau) mampu membersihkan diri dari kotaran-kotoran, baik kotoran yang terlihat (debu yang melekat tubuh) atau pun kotoran yang tidak terlihat (dosa). Tradisi petang megang dengan mandi air belimau, menurut kepercayaan masyarakat tempatan lebih mengedepankan membuang perbuatan-perbuatan jahat, yang selama setahun penuh dengan debu dan dosa. Agar menghadapi bulan Ramadhan seseorang akan siap menjalankan ibadah. Lebih jelasnya penekanan ini dititik beratkan pada motivasi.[GW/SUG]
selengkapnya...

08 Juli 2013

Cagar Biosfer Giam Siak Kecil – Bukit Batu Riau

Cagar Biosfer Giam Siak Kecil – Bukit Batu Riau

Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu merupakan cagar biosfer ke-7 yang ada di Indonesia, dan merupakan satu-satunya yang berada di Sumatera. Eksotisme dan keberagaman sumber daya cagar alam tersebut yang mendominasi. Hubungan yang harmonis antara alam dan manusia menjadi daya tarik tersendiri wilayah ini. Cagar Biosfer Giam Siak Kecil - Bukit Batu Riau (CG-GSK-BB) terletak di 2 wilayah pemerintahan yakni Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Siak di Propinsi Riau Kawasan ini adalah koridor ekologi yang menggabungkan dua suaka margasatwa, yaitu Giam Siak Kecil (84.967 ha) dan Bukit Batu (21.500 ha).

CG-GSK-BB Riau tersebut ditetapkan dalam sidang 21st Session of the International Coordinating Council of the Man and the Biosphere Proggramme UNESCO di Jeju, Korea Selatan, 26 Mei 2009 lalu. CG-GSK-BB merupakan satu dari 22 lokasi yang diusulkan 17 negara yang diterima sebagai cagar biosfer pada tahun tersebut. Cagar Biosfer sendiri merupakan satu-satunya konsep kawasan konservasi dan budidaya lingkungan yang diakui secara internasional. Dengan demikian pengawasan dan pengembangannya menjadi perhatian seluruh dunia atas kawasan tersebut.

Menurut keterangan Direktur Program Komite Nasional Program MAB Indonesia Y Purwanto, di tempat tersebut telah ditemukan 159 jenis burung, 10 jenis mamalia, 13 jenis ikan, 8 jenis reptil, serta 52 jenis tumbuhan langka dan dilindungi, diantaranya adalah anggrek dan ramin. Satwa yang dilindungi yang ada di kawasan tersebut di antaranya adalah buaya senyulong dan burung rangkong. Untuk penelitian lebih lanjut akan dibangun dua stasiun riset. Marga pohon yang cukup dominan di kawasan ini adalah Calophyllum, Chamnosperma, Dyaera, Alstonia, Shorea, Gonystylus, dan Palaquium. Di samping itu ada banyak jenisPohon Ramin (Gonystylus bancanus), Pohon Gaharu (Aquilaria beccariana), Pohon Meranti Bunga (Shorea teysmanniana), dan Pohon Punak (Tetramerista glabra). Seluruh jenis pohon tersebut merupakan indikator bagi kawasan Hutan Rawa yang masih baik.

Beberapa jenis satwa langka yang bisa kita temukan pada kawasan Cagar Biosfer yang satu ini diantaranya adalah Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis) dan Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), 8 jenis reptil, dan sebagainya. Salah satu jenis reptil adalah Buaya Sumpit (Tomistoma schegelii) sebagai reptil yang biasa disebut senyulong, kerap dijumpai oleh masyarakat setempat. Jenis satwa terbang yang kadang-kadang nampak adalah Burung Julang Jambul Hitam (Aceros undulatus).

CG-GSK-BB menjadi sesuatu yang khas karena Hutan Rawa Gambut yang tiada duanya ditemukan di daerah tersebut. Sedikit berbeda kekhasannya dengan Hutan Gambut Semenanjung Kampar (dengan sedikit rawa). Kekhasan lainnya yang ditemukan adalah CG-GSK-BB ini diinisiasi oleh pihak swasta yang bekerjasama dengan pemerintah melalui BBKSDA (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam). Di kawasan tersebut, nama Grup Sinar Mas cukup baik karena grup perusahaan inilah yang menginisiasi pembentukan CG-GSK-BB dari pihak swasta. Namun untuk di kawasan lainnya, nama Grup Sinar Mas sendiri cukup mengkhawatirkan karena telah terjadinya perluasan perkebunan sawit yang dimiliki secara tidak wajar (investigasi Greenpeace).

Cagar Biosfer Giam Siak Kecil - Bukit Batu Riau memiliki luas wilayah sebesar 178.722 hektar . terdiri dari Zona Inti :
1. Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil seluas 84.967 hektar.
2. Suaka Margasatwa Bukit Batu seluas 21.500 hektar.

Sementara Zona Penyangga atau Hutan Produksi yang tidak ditebangi lagi dan telah diserahkan ke pemerintah dari Grup Sinarmas Forestry seluas 72.255 hektar. Terdiri atas :
1. PT. Dexter Timber Perkasa Indonesia = 31.745 hektar.
2. PT. Satria Perkasa Agung = 23.383 hektar.
3. PT. Sakato Pratama Makmur = 12.302 hektar.
4. PT. Bukit Batu Hutani Alam = 5.095 hektar

Untuk dapat mencapai lokasi Cagar Biosfer Giam Siak Kecil - Bukit Batu Riau tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan rute perjalanan darat dari arah Kota Pekanbaru sebagai ibu kota Propinsi Riau. Dengan menggunakan kendaraan angkutan jalur darat seperti misalnya taksi, angkutan umum maupun travel selama kisaran waktu 5 jam perjalanan darat. Perjalanan juga bisa ditempuh dari arah Kabupaten Bengkalis, Riau.
[GW/SUG]
selengkapnya...

15 Maret 2013

Pindahan

huaaaaa.... 
aku pindahan dulu yaa... 
ke 

www.RiauMagz.com

kalo mau komentar
di blog RiauMagz aja ya








 Komentar di blog ini 

ditutup sementara 
selengkapnya...

Copyright © 2013 attayaya: 2013 | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah