28 March 2014

KABUT ASAP DAN KEMARAU PANJANG SEBAGAI DAMPAK PEMBUKAAN LAHAN KELAPA SAWIT DI RIAU

Sawit itu merusak tanah, Jendral!!!

Seperti diketahui, perkebunan kelapa sawit Provinsi Riau secara nasional menempati posisi teratas di Indonesia seluas 2,2 juta hektare atau 25 persen dari total luas perkebunan kelapa sawit Indonesia. Kondisi ini disamping memberikan angin segar bagi kondisi perekonomian masyarakat Riau, di satu sisi juga memberikan kontribusi negative terhadap lingkungan. Terjadinya kasus kabut asap di Riau setiap tahunnya, salah satunya adalah kontribusi dari keberadaan kebun kelapa sawit di Propinsi Riau yang terus meluas.

Keberadaan perkebunan kelapa sawit terhadap lingkungan memiliki banyak sekali dampak buruk, berikut ini beberapa diantaranya:
  1. Persoalan tata ruang, dimana monokultur, homogenitas dan overloads konversi
  2. Hilangnya keaneka ragaman hayati ini akan memicu kerentanan kondisi alam berupa menurunnya kualitas lahan disertai erosi, hama dan penyakit.
  3. Pembukaan lahan sering kali dilakukan dengan cara tebang habis dan land clearing dengan cara pembakaran demi efesiensi biaya dan waktu.
  4. Kerakusan unsur hara dan air tanaman monokultur seperti sawit, dimana dalam satu hari satu batang pohon sawit bisa menyerap 12 liter (hasil peneliti lingkungan dari Universitas Riau) T. Ariful Amri MSc Pekanbaru/ Riau Online). Di samping itu pertumbuhan kelapa sawit mesti dirangsang oleh berbagai macam zat fertilizer sejenis pestisida dan bahan kimia lainnya.
  5. Munculnya hama migran baru yang sangat ganas karena jenis hama baru ini akan mencari habitat baru akibat kompetisi yang keras dengan fauna lainnya. Ini disebabkan karena keterbatasan lahan dan jenis tanaman akibat monokulturasi.
  6. Pencemaran yang diakibatkan oleh asap hasil dari pembukaan lahan dengan cara pembakaran dan pembuangan limbah, merupakan cara-cara perkebunan yang meracuni makhluk hidup dalam jangka waktu yang lama. Hal ini semakin merajalela karena sangat terbatasnya lembaga (Ornop) kemanusiaan yang melakukan kegiatan tanggap darurat kebakaran hutan dan penanganan Limbah.
  7. Terjadinya konflik horiziontal dan vertikal akibat masuknya perkebunan kelapa sawit. sebut saja konflik antar warga yang menolak dan menerima masuknya perkebunan sawit dan bentrokan yang terjadi antara masyarakat dengan aparat pemerintah akibat sistem perijinan perkebunan sawit.
  8. Selanjutnya, praktek konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit seringkali menjadi penyebab utama bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.
  9. Dampak negatif terhadap lingkungan menjadi bertambah serius karena dalam prakteknya pembangunan perkebunan kelapa sawit tidak hanya terjadi pada kawasan hutan konversi, melainkan juga dibangun pada kawasan hutan produksi, hutan lindung, dan bahkan di kawasan konservasi yang memiliki ekosistem yang unik dan mempunyai nilai keanekaragaman hayati yang tinggi (Manurung, 2000; Potter and Lee, 1998).

Dari banyaknya dampak buruk di atas, dua hal penting yang menjadi dampak negatif dan dirasakan oleh masyarakat Riau secara keseluruhan adalah terjadinya musim kemarau yang panjang sebagai akibat habisnya cadangan air karena diambil lebih banyak untuk perkebunan kelapa sawit di Riau yang sangat luas, serta upaya pembukaan lahan bagi lahan perkebunan baru dengan cara pembakaran.

Keberhasilan budidaya kelapa sawit pada umumnya ditentukan oleh lima faktor utama yaitu kesesuaian lahan, sarana produksi, manajemen, sumber daya manusia dan masalah sosial. Faktor kesesuaian lahan mencangkup kondisi tanah serta ketersediaan air. Kondisi tanah dipengaruhi oleh sifat-sifat tanah baik sifat fisik, kimia, maupun biologi tanah. Konservasi tanah diperlukan untuk mencegah erosi, memperbaiki tanah yang rusak dan memelihara serta meningkatkan produktivitas tanah agar tanah dapat digunakan secara berkelanjutan. Sementara itu, konservasi air pada prinsipnya merupakan penggunaan air hujan yang jatuh ke tanah se-efisien mungkin, dan mengatur waktu aliran agar tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau.

Berdasarkan PPKS (2006), ketersediaan air juga memegang peranan penting dalam produksi kelapa sawit. Kekeringan yang cukup lama biasanya menyebabkan terjadinya penurunan produksi yang nyata karena kekeringan menyebabkan tanaman menghasilkan lebih banyak bunga jantan. Selain itu, pengelolaan air (water management) merupakan kunci keberhasilan budidaya kelapa sawit khususnya di tanah gambut. Konservasi tanah dan air sangat penting dan semakin memerlukan perhatian dalam budidaya kelapa sawit. Kondisi tanah yang baik akan berpengaruh pada proses penyerapan air dan hara, respirasi akar serta memudahkan pemeliharaan tanaman dan panen. Menurut Arsyad (2006), setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air pada tempat itu dan tempat-tempat di hilirnya.

Ekspansi perkebunan kelapa sawit di kawasan hutan yang tidak seharusnya dijadikan lahan perkebunan semakin sulit terbendung. Lahan gambut yang memiliki fungsi sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem, tak luput dari ulah tangan-tangan tak bertanggung jawab. Di tengah besarnya ancaman bencana, mata publik harus diperlihatkan kepada fakta bahwa bahaya kerusakan lahan gambut akan sangat merugikan karena itu, tidaklah tepat jika perkebunan kelapa sawit dibiarkan beroperasi di lahan gambut. Mengubah lahan gambut menjadi perkebunan kelapa sawit akan sangat mengancam keseimbangan ekosistem. Akan sangat banyak kerugian yang harus ditanggung jika lahan gambut itu rusak. Kerusakan lahan gambut umumnya disebabkan oleh beroperasinya perusahaan besar yang menyulapnya menjadi perkebunan kelapa sawit. Padahal, lahan gambut merupakan suatu kawasan yang berfungsi sebagai pelindung dari terjadinya bencana tsunami (Aceh), habitat ribuan satwa langka dan dilindungi, kawasan resapan air yang mengatur ketersediaan sumber air sekitar dan penyimpan Karbon Dioksida (CO2). Di sisi lain, lahan gambut juga merupakan kawasan yang jika terbakar akan sangat sulit untuk dipadamkan. Dampak dari keberadaan perkebunan kelapa sawit hingga sekarang sudah dirasakan oleh masyarakat, dengan terjadinya banjir yang sebelum adanya perkebunan tidak pernah terjadi.

Pengelolaan air yang dilakukan oleh perusahaan mapun masyarakat adalah dengan membuat parit gajah (parit/selokan besar) untuk menurunkan elevasi air di lahan sehingga dapat ditanami sawit. Alasan lainnya pembuatan parit gajah ini adalah untuk mencegah gajah atau binatang lain memasuki lahan perkebunan sawit tersebut. Akibatnya adalah lahan menjadi kering, CO2 keluar dari bagian bawah tanah, lahan mudah terbakar, hilangnya habitat di kawasan tersebut, dan hilangnya daya serap air.


Parit Gajah
Gambar : http://theglobejournal.com

Adji Darsoyo, selaku Communication & Fundraising Coordinator PAN Eco – Yayasan Ekosistem Lestari menyebutkan, lahan gambut juga berfungsi sebagai buffer atau pelindung dari masuknya gelombang tsunami ke darat, berdasarkan peta satelit, di salah satu kawasan yang sudah menjadi perkebunan kelapa sawit dan perusahaannya membuat kanal ke laut, ternyata saat terjadi tsunami tahun 2004 lalu di Aceh, gelombang tsunami sangat jauh masuk ke daratan, pintunya dari kanal yang dibuat oleh perusahaan tersebut. Harus ditunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit bisa akan jauh lebih baik jika ditanam di darat dan bukannya di lahan gambut. Ia menerangkan, untuk itu, pihaknya kemudian membuat proyek percontohan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan yang tidak menggunakan lahan gambut melainkan memanfaatkan lahan tidur dan memberdayakan petani.

Jadi apabila terjadi bencana susul menyusul di Riau berupa musim kemarau yang berkepanjangan disusul dengan kabut asap yang terjadi rutin, maka sangat bisa dimaklumi mengingat area perkebunan kelapa sawit di Riau menempati posisi urutan teratas di Indonesia. Hal yang perlu dilakukan pemerintah tentunya dengan membuat mekanisme kebijakan baik di bidang pengelolaan dan pencegahan maupun dalam hal penegakan hukum.


selengkapnya...

24 March 2014

Sebab Musabab Kabut Asap di Riau

Asap itu membunuh kami perlahan-lahan, Jenderal!!!

Meski sudah mulai mereda, bencana kabut asap di Riau bukan tidak mungkin terulang bila masyarakat Riau sendiri tak tahu apa penyebab utama dari kebakaran hutan dan lahan yang ada di Riau. Secara umum, ada banyak sekali pen yebab terjadinya kebakaran hutan yang ada di Riau.


Berikut ini beberapa faktor penyebab terjadinya kebakaran hutan di Riau yang dapat memicu terjadinya musibah kabut asap.
  • Cuaca yang ekstrim, musim kemarau yang panjang mendorong terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Riau hingga akhirnya muncul lah musibah kabut asap yang membahayakan.
  • Lahan gambut yg mudah terbakar, hampir 60% jenis tanah di Riau adalah gambut. Oleh karena itu lahan ini menjadi salah satu jenis lahan yang paling mudah terbakar. Cukup wajar bila di kawasan lahan gambut bila terjadi kebakaran akan sangat meluas efeknya karena jenis tekstur tanahnya yang mudah terbakar.
  • Cara bercocok tanam penduduk dengan cara membakar. Ini menjadi salah satu tradisi salah kaprah masyarakat di Riau yang harus ditindak tegas oleh aparat. Terlebih lagi bila cara ini dilakukan pada musim kemarau. Maka peluang untuk terjadi kebakaran yang meluas akan lebih besar lagi. Cara membuka lahan dengan membakar memang sangat ekonomis, cepat dan praktis. Namun di sisi lain sangat lah buruk efeknya bagi kesehatan masyarakat sekitar. Oleh karena itu perlu adanya tindakan hukum yang tegas bagi masyarakat yang suka membuka lahan baru dengan cara membakar lahan yang ada.
  • Tindakan membakar secara meluas bermotifkan finansial, ini biasanya dilakukan oleh kalangan ekonomi atas atau perusahaan tertentu yang ingin mendapatkan keuntungan yang besar dengan modal yang relative kecil.
  • Tidak optimalnya pencegahan oleh aparat di tingkat bawah. Jadi yang sering terjadi malahan adalah aparat di tingkat bawah tidak peduli atau malah bersekongkol dengan para pelaku pembakar lahan yang dapat menimbulkan efek kabut asap yang tidak sehat. Bila ingin kabut asap di Riau menjadi musibah yang tak terulang lagi, ketegasan memang harus dilakukan dari pihak aparat di tingkat bawah.
  • Kurang cepat dan efektifnya pamadaman api. Terkadang yang jadi soal adalah biaya dan kesungguhan. Modal yang besar dibutuhkan untuk membuat satu kali hujan buatan atau bom air. Sikap lamban dan tidak respek karena merasa bahwa musibah asap itu sudah menjadi musim yang biasa muncul setiap tahun di Riau. Jadi dianggap biasa saja, bukan menjadi sesuatu hal yang harus diselesaikan secara cepat.
  • Penegakan hukum yang tidak bisa menyentuh master-mind pembakaran. Inilah masalah yang dialami oleh aparat penegak hukum kita. Hukum itu runcing ke bawah namun tumpul ke atas. Ada orang-orang yang dianggap kebal hukum sehingga pelaku utama atau otak penyebab terjadinya kebakaran itu sulit disentuh. Itu karena aparat hukum tak punya keberanian menyentuh otak pembakar hutan dan lahan yang ada.

Dari beberapa faktor penyebab kebakaran di atas, Presiden SBY mengatakan, penyebab utama bencana asap di Riau bukanlah cuaca ekstrem, melainkan pembakaran. Presiden menyebutkan, hal itu seharusnya bisa dicegah. "Negara ini ada pejabat presiden, menteri, gubernur, bupati, wali kota, dan camat. Mestinya bisa dilakukan pencegahan supaya tidak terulang," kata Presiden.


Para perambah hutan juga disebut-sebut sebagai salah satu faktor penyebab dari terjadinya kebakaran hutan dan kabut asap di Riau. Para perambah ini menebang hutan dan membakar bekas hutan untuk dijadikan lahan perkebunan. Penuturan para perambah bahwa mereka mendapatkan Surat Keterangan Ganti Rugi (SKGR) dari kepala desa setempat. Mereka yang bukan masyarakat setempat mengaku tidak mengetahui lahan yang dirambah merupakan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu. Pihak perambah juga menjelaskan bahwa mereka hanya mengerjakan lahan sekitar 16 ha dan baru tanam sawit di lahan seluas 5 ha. Pengakuan mereka bahwa mereka membuka hutan karena hanya ingin bertani. Pihak Kepolisian Riau terus mengembangkan kasus ini dibantu dengan pihak Kejaksaan Riau, Kemenhut, dan KLH.


Berdasarkan laporan Tim Khusus Satgas Darat yang disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, pihaknya mendapati 39 kamp yang digunakan para perambah dengan gelondongan potongan kayu yang beratnya ratusan ton. Tim ini terus bergerak untuk mendapatkan lebih banyak perambah karena temuan ratusan ton potongan kayu yang siap dikirim melalui kano-kano kecil.

Fakta membuktikan bahwa penyebab terjadinya bencana kabut asap yang bersumber di Riau pada dasarnya disebabkan oleh kelakuan tangan-tangan jahil manusia sendiri, baik warga lokal maupun pihak-pihak yang ingin mengeruk keuntungan di Riau yang masih kaya dengan hutan. Terjadinya kabut asap menandakan bahwa di bumi Riau ini sedang terjadi pembantaian terhadap flora yang ada. Tak pandang itu yang dilindungi ataupun yang tidak. Maka dari itu warga Riau harus betul-betul paham mengenai penyebab ini. Jangan sampai warga Riau menjadi pembunuh bagi warga Riau itu sendiri.


Adanya bencana kabut asap di Riau telah menyebabkan berbagai bencana di semua bidang kehidupan. Bahkan yang paling parah adalah ketika propinsi ini dinyatakan sebagai propinsi yang tak layak huni karena kualitas udaranya. Keserakahan manusia telah menghilangkan rasa simpati akan nasib saudara sendiri. Alam akan bersahabat dengan manusia andai saja manusia mau menjaga alam semesta ini dengan bijak. Dan begitulah seharusnya kita memperlakukan hutan yang ada di Riau.
selengkapnya...

23 March 2014

Dampak Kabut Asap Riau

Inilah Negeri Berasap, (bukan) Negeri di atas Awan.
Asap Ini Pedih Jenderal.

Tragedi kabut asap di Riau yang sudah rutin terjadi selama bertahun-tahun menimbulkan banyak dampak bagi kehidupan masyarakat. Bukan hanya dampak buruk yang banyak dialami masyarakat, dampak baik pun dirasakan. Meskipun demikian, harus diakui bahwa dampak buruknya jauh lebih besar dibanding dampak positif. Seperti diketahui, di awal Maret 2014, kebakaran hutan dan lahan gambut di provinsi Riau, Sumatera, Indonesia, melonjak hingga titik yang tidak pernah ditemukan sejak krisis kabut asap Asia Tenggara pada Juni 2013. Hampir 50.000 orang mengalami masalah pernapasan akibat kabut asap tersebut, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia. Citra-citra satelit dengan cukup dramatis menggambarkan banyaknya asap polutan yang dilepaskan ke atmosfer, yang tentunya juga berkontribusi kepada perubahan iklim.

Sejak 20 Februari hingga 11 Maret 2014, Global Forest Watch mendeteksi 3.101 peringatan titik api dengan tingkat keyakinan tinggi di Pulau Sumatera dengan menggunakan Data Titik Api Aktif NASA. Angka tersebut melebihi 2.643 total jumlah peringatan titik api yang terdeteksi pada 13-30 Juni 2013, yaitu puncak krisis kebakaran dan kabut asap tahun sebelumnya. Selama bulan Juni 2013, mayoritas kebakaran yang terjadi terpusat di Provinsi Riau, Pulau Sumatera, Indonesia. Angka yang cukup mengejutkan, yaitu adanya kenaikan persentase menjadi 87 persen dari peringatan titik api di sepanjang Sumatera pada 4-11 Maret 2014 yang berada di Provinsi Riau.

Lantas apa saja dampak buruk kabut asap di Riau tersebut? Berikut ini diantaranya:
  1. Dampak di bidang ekonomi
    • Produksi minyak Indonesia terganggu akibat polusi kabut asap yang saat ini terjadi di Provinsi Riau. Produksi minyak turun hingga belasan ribu barel per hari (bph) padahal Pemerintah menargetkan produksi tahun 2014 sebesar 870 bph.
    • Kabut asap di Provinsi Riau menyebbkan maskapai penerbangan Garuda Indonesia Airways (GIA) di Pekanbaru mengalami kerugian materil dan inmateril puluhan juta rupiah per hari. Semakin buruknya kabut asap ini pun menyebabkan 4 (empat) maskapai penerbangan menutup jalur operasional ke Bandara Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru untuk beberapa hari. Tak tanggung-tanggung, pihak Bandara pun akhirnya menutup operasional bandara itu sendiri mengingat keselamatan penerbangan.
    • Wakil Ketua Umum Bidang Ekonomi dan Kerjasama Internasional Kamar Dagang dan Industri Provinsi Riau, Viator Butar Butar SE, MA, PhD menyebutkan, dampak kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan mengakibatkan Riau mengalami kerugian sekitar Rp10 triliun lebih. Kerugian sebesar Rp10 triliun tersebut muncul antara lain akibat penurunan produktivitas usaha, mobilisasi barang dan orang melalui transportasi darat, udara, dan laut yang tertunda dan terganggu akibat kabut asap itu.
  2. Dampak di bidang kesehatan
    • Kabut asap dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, serta menyebabkan reaksi alergi, peradangan dan mungkin juga infeksi.
    • Kabut asap dapat memperburuk penyakit asma dan penyakit paru kronis lain, seperti bronkitis kronik, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan sebagainya.
    • Kemampuan kerja paru menjadi berkurang dan menyebabkan seseorang mudah lelah dan mengalami kesulitan bernapas.
    • Bagi mereka yang berusia lanjut (lansia) dan anak-anak maupun yang mempunyai penyakit kronik, dengan kondisi daya tahan tubuh yang rendah akan lebih rentan untuk mendapat gangguan kesehatan.
    • Kemampuan dalam mengatasi infkesi paru dan saluran pernapasan menjadi berkurang, sehingga menyebabkan lebih mudah terjadi infeksi.
    • Berbagai penyakit kronik juga dapat memburuk.
    • Bahan polutan pada asap kebakaran hutan dapat menjadi sumber polutan di sarana air bersih dan makanan yang tidak terlindungi.
    • Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) jadi lebih mudah terjadi, terutama karena ketidak seimbangan daya tahan tubuh (host), pola bakteri/virus penyebab penyakit (agent) serta buruknya lingkungan (environment).
Segala aktivitas menjadi terhenti atau melambat karena adanya musibah kabut asap yang melanda Riau. Secara umum sebenarnya keberadaan bencana kabut asap mengganggu semua bidang kehidupan manusia. Bidang pendidikan misalnya juga sangat terganggu dimana anak-anak sekolah diliburkan, kegiatan belajar mengajar menjadi tertunda. Di bidang pariwisata kebanyakan objek wisata maupun hotel-hotel menjadi sepi salah satunya karena terganggunya transportasi khususnya transportasi udara. Begitu pula pusat perbelanjaan seperti mall juga cenderung berkurang pengunjungnya dibanding dengan hari biasa. Orang lebih memilih berdiam diri di dalam rumah. Perusahaan banyak mengalami kerugian karena karyawan banyak yang diliburkan ataupun sakit.

Di tengah banyaknya dampak buruk musibah kabut asap tersebut, ternyata ada juga dampak baik yang bisa dimanfaatkan orang dari kejadian tersebut. Berikut ini hal-hal baik yang bisa kita temukan di tengah musibah bencana asap di Riau:
  1. Meningkatnya rezeki penjual masker. Tepian jalan raya menjadi tempat paling strategis untuk berjualan masker dengan berbagai kualitas.
  2. Sebuah keluarga menjadi lebih sering mengumpul di rumah. Jika hari-hari biasa semuanya sibuk, di musim asap ini banyak orang yang menemukan kembali keharmonisan keluarga mereka.
  3. Bencana kabut asap di Riau yang juga berdekatan dengan musim pemilu legislatif (pilleg) maupun pemilu presiden (pilpres) menjadi peluang banyak calon legislatif (caleg) maupun partai politik untuk memanfaatkannya sebagai sarana sosialisasi.
  4. Bencana kabut asap membuat masyarakat lebih mengingat Tuhan. Mereka mengadakan shalat minta hujan, berdoa kepada Allah, istighfar dan bertaubat atas dosa-dosa mereka.
  5. Kabut asap membuat masyarakat Riau menjadi lebih bersyukur dengan nikmat hujan, matahari dan oksigen gratis yang diberikan Tuhan di udara.
  6. Nampak adanya kepedulian dari pemuda-pemudi terhadap sesama dengan membagikan masker dimana-mana. Terbukti bahwa bukan saja mereka suka hura-hura tak peduli tapi masih punya hati nurani.
  7. Banyak komunitas yang bahu membahu menyuarakan agar asap sirna dari muka bumi Riau melalui media sosial ataupun di jalan-jalan. Bentuk "suara" itupun berbeda-beda sesuai dengan kemampuan masing-masing. Kreatifitas "suara" itupun dituang dalam bentuk tulisan, gambar ataupun karikatur, photo bahkan video. Suara-suara itu pun ditujukan kepada pemimpin negeri dan mendapat respon positif.

Editing video mnenjadi salah satu bentuk kreatifitas menyangkut asap Riau.
"Hitler Marah Kabut Asap Riau"


KOTAK - Kabut Asap Riau


Kepedulian pemuda-pemudi Riau.
"Menolak Diam"
"Banyak cara untuk tidak diam"




Bencana asap memang memerlukan penanganan yang serius agar tidak terjadi berulang setiap tahunnya. Karena saking seringnya terulang, masyarakat bahkan sudah menganggap asap menjadi bagian dari musim yang rutin terjadi setiap tahun. Mereka lupa bahwa itu adalah bencana. Dan yang paling parahnya lagi adalah pihak yang membuat kerusakan dan membakar di hutan dan lahan yang berakibat pada munculnya kabut asap tersebut. Mereka tak sadar telah menyakiti dan membunuh secara berlahan-lahan puluhan, ratusan, ribuan warga di Riau, bahkan jutaan.
selengkapnya...

19 November 2013

JADWAL OMBAK BONO SUNGAI KAMPAR 2013-2014-2015

PERINGATAN :
YANG COPY PASTE
JADWAL BONO 2013-2014-2015
HARAP NYANTUMKAN ALAMAT URL POSTINGAN/ARTIKEL INI SECARA LENGKAP!!!

CAPEK BRO/SIS NGELIAT JADWAL BULAN KEMUDIAN MENULISNYA KE DALAM BLOG.


Hari ini (19/11/13), aku bersama Komunitas Blogger Bertuah khususnya dari Tim BertuahTV kembali mengejar ombak Bono Sungai Kampar untuk pengambilan photo dan video.

Find us on --> BertuahTV dan Bono Kampar


******

Ini adalah Jadwal Perkiraan Terjadinya Ombak Bono pada tahun 2013 dan 2014 serta 2015 sebagai panduan awal untuk mendapatkan atau bertemu ombak bono di Sungai Kampar Riau. Jadwal ini biasanya akan meleset 1 hari (maju / mundur).

Ombak Bono adalah ombak yang terjadi di Sungai Kampar Riau dan menjadi ombak sungai yang terbesar di dunia, menyaingi Pororoca Brazil. Untuk mengetahui tentang Ombak Bono Sungai Kampar Riau silahkan baca artikel lainnya :
Gelombang / Ombak Bono Kampar Riau Indonesia
LOKASI BONO - TIDAL BORE DI DUNIA
TINJAUAN ILMIAH TERJADINYA OMBAK BONO KAMPAR
Mengejar Bono Sungai Kampar
Dikejar Ombak Bono Sungai Kampar


Jadwal ini dibuat oleh Attayaya berdasarkan pergerakan bulan.
JADWAL BONO 2013 :

05 – 07 September 2013 (M)
19 – 21 September 2013 (P)
04 – 06 Oktober 2013 (M)
18 – 20 Oktober 2013 (P) (B)
03 – 05 November 2013 (M) (B)
17 – 19 November 2013 (P) (B)
02 – 04 Desember 2013 (M) (B)
17 – 19 Desember 2013 (P) (B)

JADWAL BONO 2014 :

01 – 03 Januari 2014 (M) (B) – Bertepatan dengan Tahun Baru 2014
16 – 18 Januari 2014 (P) (B)
01 - 02 Februari 2014 (M)
13 - 15 Februari 2014 (P)
01 - 03 Maret 2014 (M) (B)
15 - 20 Maret 2014 (P) (B)
30 Maret - 1 April 2014 (M) (B)

Pada 19 Maret 2014, fenomena perigee bulan (jarak terdekat bulan terhadap bumi), yang memiliki siklus putaran sekitar 27,3 hari, terjadi bersamaan dengan bulan purnama besar yang muncul tiap 29 hari. Ketika perigee bulan terjadi bersamaan dengan bulan purnama, maka permukaan bulan akan tampak 14 persen lebih besar. Selain itu, cahayanya 30 persen lebih terang dari bulan purnama biasa. Dengan keadaan ini, sangat dimungkinkan akan terjadi Ombak Bono Super, yaitu ombak bono yang lebih besar dari biasanya jika dipicu juga oleh debit aliran Sungai Kampar yang tepat.

JADWAL OMBAK BONO YANG BESAR 2014 :

22 - 24 OktobeR 2014 (M) (B)
04 - 07 NovembeR 2014 (P) (B)
22 - 24 NovemBer 2014 (M) (B)
05 - 07 Desember 2014 (P) (B)
21 - 23 Desember 2014 (M) (B)

JADWAL BONO 2015 :

02 - 05 Januari 2015 (P) (B) Tidak bertepatan dengan Tahun Baru 2015

Keterangan Perkiraan :
Jadwal Terjadinya Bono Sungai Kampar 2013-2014-2015 ini dihitung oleh Attayaya berdasarkan kalender Bulan/Tahun Melayu atau Kalender Hijriyah 1434 - 1435 Hijriyah
(P) = Bulan Purnama / tengah bulan Melayu
(M) = Bulan Mati / awal bulan Melayu
(B) = Ombak Bono Sungai Kampar yang berukuran besar berkisar antara 4-6 meter di sekitar Pulau Muda. Selain itu biasanya berukuran sedang dengan ketinggian 3 meter untuk lokasi tertentu.

Penginapan di sekitar lokasi Ombak Bono merupakan penginapan di rumah-rumah penduduk yang bersahabat. Hotel di sekitar lokasi ombak bono sedang dibangun.

selengkapnya...

Copyright © 2013 attayaya | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah