2012-05-05 - 37 komentar
Catatan perjalanan attayaya ke Pulau Bunguran, Pulau Sedanau, dan Kawasan Pulau Tiga Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.
Tanggal 29 April - 4 Mei 2012

*****
"Selamat datang kembali di Indonesia. Saat ini sisa pulsa anda ...."
Itulah pesan singkat yang masuk ke handphoneku ketika tiba di Bandara Hang Nadim Batam sebagai bandara transit penerbangan aku sebelumnya dari Bandara Ranai Kabupaten Natuna. Yaaa... ketika aku di Ranai, sinyal providerku agak susah. Malahan sinyal providerku yang lain malah tidak muncul sama sekali. Jam di handphoneku selalu berubah menyesuaikan dengan waktu negara tetangga, malahan kadang jadi ngaco. Begitulah ketika aku berada di salah satu ujung utara Indonesia. Tepatnya di Kota Ranai, Pulau Bunguran, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.

Kabupaten Natuna beribukota Ranai sekarang terpisah dengan dengan Kabupaten Anambas yang beribukota Terempa (kota tempat attayaya dilahirkan). Dahulunya merupakan wilayah pemerintahan Provinsi Riau dan biasa disebut dengan Kawasan Pulau Tujuh. Setelah Riau dipisah menjadi 2 provinsi yaitu Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau, maka kawasan Pulau Tujuh yang terdiri dari Kawasan Anambas dan Kawasan Natuna menjadi sebuah kabupaten tersendiri yaitu Kabupaten Natuna. Kemudian Kabupaten Natuna ini pun dipecah menjadi 2 kabupaten yaitu Kabupaten Natuna dan Kabupaten Anambas.

Peta Kabupaten Natuna dalam Wilayah Republik Indonesia
Lokasi yang dituju

Peta Pulau Bunguran di Kabupaten Natuna

Kabupaten Natuna terletak di ujung paling utara Provinsi Riau (dahulu) atau Provinsi Kepulauan Riau (sekarang). Dahulu, pada gambar peta provinsi Riau, kawasan ini menjadi "insert" yaitu gambar tambahan karena posisinya yang sangat jauh.

Kabupaten ini memiliki pulau terluar paling utara yang berhadapan langsung dengan negara Vietnam adalah Pulau Laut. Walaupun ada pulau terluar lagi, tetapi pulau tersebut sering hilang dari pandangan. Menurut orang-orang tua disana pulau itu disebut Pulau Lengit.

Perjalananku kali ini bermula dari Pekanbaru 29 Mei 2012 menuju Batam dan terpaksa bermalam disana karena penerbangan ke Bandara Ranai di Natuna hanya ada pagi hari sekitar jam 9. Penerbangan ke Ranai kami lakukan dengan pesawat dari Maskapai AviaStar dengan waktu tempuh 1 jam 10 menit.

Sampai di Ranai, aku melanjutkan perjalanan untuk mencari bangunan rumah tua terutama rumah-rumah milik Datuk Kaya yang semasa Kerajaan Riau-Lingga merupakan pimpinan-pimpinan wilayah di kawasan tersebut.

Di Kota Ranai aku temui 1 buah rumah Datuk Kaya dan 1 buah rumah tua. Aku lanjutkan lagi perjalanan ke Desa Tanjung dan Desa Ceruk. Di 2 desa ini aku tidak menemukan bangunan-bangunan tua, malahan aku mendapatkan suguhan pemandangan indah di Desa Tanjung yaitu Pantai Tanjung.

Esok harinya aku melakukan perjalanan ke Desa Kelarik (Kelarak) dan menemukan rumah tua milik seorang Datuk Kaya. Rumah ini tidak berpenghuni lagi dan terlihat rusak disana-sini. Tak jauh dari rumah itu, aku menemukan lagi sebuah rumah tua milik penduduk tempatan yang berada di dalam kebun kelapa. Tidak berpenghuni dengan kerusakan terutama di bagian belakang.

Siang itu juga aku menyeberang ke pulau Sedanau dengan menggunakan pompong sewaan. Di Sedanau aku menemukan 4 rumah tua dan 1 tapak rumah Datuk Kaya Suan.

Ini sebagian foto-foto rumah tua yang ada disana :

Rumah Tua di Sedanau

Rumah Tua di Sedanau
Rumah Datuk Kaya di Air Mali - Kelarik

Rumah Tua diAir Mali - Kelarik


Rumah Tua di Sedanau

Rumah Tua di Sedanau

Wah kalo foto-foto di bawah ini, aku no comment laaaaah...
Selamat menikmati...


Ga perlu diving alias menyelam untuk melihat
batu koral (coral stone) di Pelabuhan Natuna
Selat Lampa Natuna

Pemandangan mirip Bangka Belitong
sangat banyak di kawasan Natuna

Bukit Sindu Ranai - Natuna

Hasil alam Natuna
Cengkeh

Pantai Tanjung
Kecamatan Bunguran Timur - Natuna

Pelabuhan Pulau Batang
Desa Pulau Tiga, Kecamatan Pulau Tiga - Natuna

Batu karang/koral di halaman rumah di desa Pulau Tiga

Batu karang/koral (Coral Stone)
Pantai Desa Setumuk - Kecamatan Pulau Tiga - Natuna

Rumah penduduk tepi pantai di Desa Pulau Tiga

NO COMMENT!!!
IT'S SO AMAZING

Sunset dalam perjalanan pulang dari
Pulau Tiga ke Selat Lampa - Natuna

Batu di Pantai Desa Setumuk

Batu di Pantai Desa Setumuk

Desa Tanjung Pulau Tiga Natuna

Desa Tanjung Pulau Tiga - Natuna

Batu Tokong Rusia
Ranai - Bunguran Timur - Natuna


Selengkapnya - Selamat datang kembali di Indonesia - Ekspedisi Rumah Besar Natuna

2012-04-08 - 46 komentar
Situs Candi Muara Takus adalah sebuah situs candi yang berada di Desa Muara Takus Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau, Indonesia. Situs ini merupakan situs candi Budha yang terbuat dari bata (tanah liat) untuk bangunan dan sebagian dari batu putih untuk pagar yang berbeda dengan candi-candi Budha seperti umumnya yang terbuat dari batu. Umur candi ini masih menjdai perdebatan para ahli. Ada yang mengatakan abad keempat, ada yang mengatakan abad ketujuh, abad kesembilan bahkan pada abad kesebelas.

Situs Candi Muara Takus ini terdiri dari 4 bangunan candi yaitu :
  1. Candi sulung /tua,
  2. Candi Bungsu,
  3. Mahligai Stupa,
  4. Palangka.

Status Situs Candi Muara Takus

Candi Muara Takus telah terdaftar menjadi Benda Cagar Budaya Tahun 2000. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, pengembangan dan pemanfaatan kawasan cagar budaya diperbolehkan oleh undang-undang apabila dapat mengakomodasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemberdayaan cagar budaya tentunya harus tetap mempertahankan aspek kelestariannya. Pelestarian cagar budaya dapat dilakukan dengan menetapkan sistem zonasi pada kawasan baik secara vertikal maupun horizontal. Dalam pasal 37 diterangkan bahwa sistem zonasi tersebut terdiri atas zona inti, zona penyangga, zona pengembangan dan zona penunjang. Dimana, batas keruangan tiap zona yang disesuaikan dengan kebutuhan dan mengutamakan peluang peningkatan kesejahteraan rakyat.
(Wiwik Dwi Serlan H., Skripsi, PERENCANAAN LANSKAP CANDI MUARA TAKUS SEBAGAI OBJEK WISATA BUDAYA DALAM UPAYA PELESTARIAN KAWASAN, IPB, 2011.)

Pada tanggal 6 Oktober 2009, Pemerintah Indonesia telah mengajukan Situs Candi Muara Takus ini sebagai calon Situs Warisan Dunia (World Heritage Sites) UNESCO. Sampai sekarang masih dalam penelitian lembaga tersebut untuk terdaftar. Pencalonan sebagai situs warisan dunia ini diajukan pemerintah Indonesia terhadap situs Candi Muara Takus bersama dengan Situs Bawomataluo, Candi Muarajambi, Situs Gua Prasejarah di Maros - Pangkep,Pemukiman Tradisional Tana Toraja, dan Situs Trowulan - Ibukota Kerajaan Majapahit. Berarti sampai saat ini terdapat 27 Calon Situs Warisan Dunia dari Indonesia yang masih dalam proses penetapan oleh UNESCO. Daftar 27 Calon Situs Warisan Dunia dari Indonesia dapat dibaca di :
http://nationalgeographic.co.id/berita/2011/03/indonesia-miliki-27-calon-situs-warisan-dunia

Keberadaan bendungan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang ada pada sungai Kampar Kanan di sekitar kawasan Candi Muara Takus juga mengancam kelestarian kawasan tersebut. Bendungan PLTA sering menyebabkan Sungai Kampar Kanan meluap sehingga berpotensi banjir khususnya pada musim penghujan.

Perlu sebuah peraturan penetapan kawasan situs Candi Muara Takus ini agar nilai-nilai sejarah budaya dan kualitas lanskap pada kawasan tersebut dapat terus terjaga dan lestari keberadaannya. Perencanaan kawasan wisata budaya harus didasari oleh konsep menjaga kelestariannya melalui pengembangannya sebagai kawasan wisata budaya. Konsep tersebut bertujuan untuk melestarikan lanskap situs Candi Muara Takus, meningkatkan kesejahteraan masyarakat disekitar candi, serta memberi kepuasan bagi wisatawan domestik maupun wisatawan asing yang berkunjung ke Candi Muara Takus.

Asal Usul Candi Muara Takus

Candi adalah sebuah bangunan tempat ibadah dari peninggalan masa lampau yang berasal dari agama Hindu-Buddha. Candi digunakan sebagai tempat pemujaan dewa-dewa. Namun demikian, istilah 'candi' tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat ibadah saja, banyak situs-situs purbakala dari masa Hindu-Buddha atau masa Klasik Indonesia yang berupa istana, pemandian/petirtaan, dan gapura juga disebut dengan istilah candi. Suatu candi di masa lampau biasanya berfungsi dan digunakan masyarakat dari latar belakang agamanya, yaitu Hindu-Saiwa, Budha Mahayana, Siwa Buddha dan Rsi.

Muara Takus berasal dari nama sebuah anak sungai bernama Takus yang bermuara di Batang Sungai Kampar Kanan. Candi muara takus berasal dari dua kata “muara“ dan “takus“. “Muara” yaitu suatu tempat dimana anak sungai mengakhiri alirannya ke laut atau ke sungai yang lebih besar. “Takus” berasal dari bahasa China yaitu "ta', "ku" dan "se". Ta berarti besar, ku berarti tua sedangkan se berarti candi. Gabungan arti keseluruhan dari kata Muara Takus adalah : candi tua (the old temple) besar atau megah yang terletak di muara sungai (Pemerintah Daerah Kabupaten Kampar, 2010, dikutip oleh Wiwik Dwi Serlan H.).

Struktur Bangunan Situs Candi Muara Takus

Candi Muara Takus memiliki struktur bangunan yang terbuat dari bahan batuan merah. Bahan tersebut diyakini sebagai tempat para dewa bertahta oleh komunitas Budhis. Ciri utama yang menunjukkan bahwa Candi Muara Takus merupakan bangunan suci dalam agama Budha adalah dari keberadaan stupanya.

Arsitektur bangunan stupa yang ada pada Candi Muara Takus sangat unik karena tidak ditemukan di tempat lain di Indonesia. Bentuk stupa tersebut yaitu ornamen sebuah roda dan kepala singa. Bentuk stupa memiliki kesamaan dengan stupa Budha di Myanmar, stupa di Vietnam, Sri Lanka atau stupa kuno di India pada periode Asoka.

Berdasarkan hasil penelitian arkeologi tahun 1994, peninggalan arkeologi di kawasan Candi Muara Takus terdiri atas pagar keliling, Candi Tua, Candi Bungsu, Candi Mahligai, Candi Palangka, Bangunan I, Bangunan II, Bangunan III, Bangunan IV, Bangunan VII, dan Tanggul kuno. Selain bangunan, benda-benda bersejarah lain juga ditemukan di dalam kawasan Candi Muara Takus yaitu berupa fragmen arca singa, fragmen arca gajah pada puncak candi Mahligai, inskripsi mantra dan pahatan vajra, serta gulungan daun emas yang juga dipahat mantra dan gambar vajra pada bagian permukaannya.

Peninggalan arkeologis yang ada dalam kawasan Candi Muara Takus tidak semua dapat diidentifikasi fungsinya. Hal ini dikarenakan sebagian bangunan saja tidak memiliki kelengkapan struktur. Peninggalan-peninggalan yang masih dapat diketahui fungsinya adalah pagar keliling, Candi Tua, Candi Bungsu, Candi Mahligai, Candi Palangka, bangunan I dan II, bangunan III, bangunan IV, bangunan V dan VI, bangunan VII, dan Tanggul Kuno (Arden Wall).

Peta Lokasi Situs Candi Muara Takus
Peta Lokasi Situs Candi Muara Takus



Denah Bangunan Utama Situs Candi Muara Takus
Denah Bangunan Utama Situs Candi Muara Takus



Situs Candi Muara Takus berada dalam pengawasan dan pemeliharaan :
Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar (BP3 Batusangkar).
Wilayah kerja: Provinsi Sumatra Barat, Riau, dan Kepulauan Riau.
Alamat: Jl. Sultan Alam Bagagarsyah, Kotak Pos 29,
Pagaruyung,
Batusangkar,
Sumatra Barat,
telp. (0752) 72322.

Tulisan diatas banyak bersumber dari tulisan :
Wiwik Dwi Serlan H.
Skripsi
PERENCANAAN LANSKAP CANDI MUARA TAKUS SEBAGAI OBJEK WISATA BUDAYA DALAM UPAYA PELESTARIAN KAWASAN
IPB
2011

National Geographic Indonesia
Indonesia Miliki 27 Calon Situs Warisan Dunia

Wikipedia
Candi Muara Takus
http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Muara_Takus

Silahkan baca juga :
Wisata Riau Candi Muara Takus
Selengkapnya - Candi Muara Takus, Wisata Riau

2012-03-07 - 52 komentar
Catatan perjalanan Attayaya ke Hutan Wisata Desa Buluhcina, Kampar - Riau bersama :
  • Blogger Bertuah tanggal 27 Januari 2012
  • Oranye Design tanggal 20 Februari 2012

Desa Bulucina


Secara geografis Desa Buluhcina berbatasan dengan desa-desa tetangga, yaitu disebelah timur berbatasan dengan Desa Pangkalanbaru, sebelah barat berbatasan dengan Desa Tanjung Balam dan Lubuk Siam, disebelah selatan berbatasan dengan Desa Buluh Nipis sedangkan disebelah utara berbatasan langsung dengan dengan Desa Baru. Keadaan daerah berupa daratan dan perairan, dimana sebahagian wilayahnya terdiri atas aliran sungai dan danau-danau. Desa Buluhcina ini dipisahkan oleh Sungai Kampar yang membelah ditengah-tengah desa diantara Dusun I dan Dusun II dengan Dusun III dan IV.

Desa Buluhcina merupakan desa wisata yang terkenal hingga ke beberapa negara tetangga, karena didesa ini banyak terdapat tempat-tempat wisata diantaranya danau-danau yang indah, hutan-hutan yang masih asri dengan berbagai macam flora fauna yang hidup didalamnya. Umumnya wisatawan asing adalah peneliti flora dan fauna hutan hujan tropika.

Dalam hal ini pemanfaatan tanah dan lahan dipergunakan untuk perkebunan, hutan wisata 1000 ha, dan lahan kosong seluas 1.500 ha. Khusus untuk lahan kososng tersebut rencanaya akan dipergunakan sebagai cadangan lahan perkebunan masyarakat.

Dalam hal sarana dan prasarana transportasi dipergunakan lintas darat dengan kondisi jalan beraspal sedangkan perairan dipergunakan sebagai jalan alternatif untuk menghubungkan dengan desa tetangga yaitu disebelah hulu sungai dengan Desa Tanjung Balam, Desa Lubuk Siam, dan Desa Kampung Pinang (Kecamatan Perhentian Raja). Sedangkan di hilir sungai dengan Desa Pangkalan Baru, Desa Buluh Nipis, dan Kuala Besako ke Kuala Kampar di Kabupaten Pelalawan.

Jarak Desa Buluhcina dari ibu kota Kecamatan Siak Hulu lebih kurang 6 Km dapat ditempuh lebih kurang 10 (sepuluh) menit sedangkan jarak ke ibu kota Kabupaten Kampar (Bangkinang) ditempuh kurang lebih 83 Km dengan jalan darat dengan waktu tempuh 1,5 - 2 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Sedangkan jarak Desa Buluhcina dengan ibu kota Propinsi Riau (Pekanbaru) dapat ditempuh dalam waktu lebih kurang 1 jam perjalanan darat dengan jarak tempuh sekitar 25 km.

Jumlah penduduk Desa Buluhcina kurang lebih berjumlah 1.488 jiwa, dengan 387 kepala keluarga, yang mayoritas memegang teguh ajaran agama Islam dan adat istiadat. Pemerintah desa terdiri dari 4 dusun dengan berpegang teguh kepada adat ninik mamak yang kuat. Adapun suku yang ada didesa ini hanya 2 (dua) suku utama saja, yaitu Suku Melayu dan Suku Domo.

a. Suku Melayu, dipegang oleh :
PUCUK
Datuk Mojolelo, Dubalang Monti
Datuk Sanggo, Dubalang Kayo
Datuk Jelo Sutan, tanpa Dubalang

b. Suku Domo, dipegang oleh :
PUCUK
Datuk Tumenggung, Datuk Pulo Godang
Datuk Bagindak, Datuk Paduko
Datuk Koto Marajo, Datuk Muncak

Dan masing-masing suku dibantu oleh Sumonto Tuo dan Tuo Pakaian.
Dubalang = Hulubalang

EKOSISTEM DAN FLORA


Secara umum kawasan Desa Buluhcina mempunyai tipe ekosistem hutan daratan rendah kurang lebih dari 10 meter dari permukaan laut terletak disepanjang jalan menuju desa dan sepanjang bantaran Sungai Kampar yang terdapat di desa ini. Tanaman hutan ini didominasi oleh pohon kayu :
  1. Rengas,
  2. Meranti,
  3. Cimpur,
  4. Belanti,
  5. Karet,
  6. Keriung,
  7. Mahang,
  8. Tapa-tapa,
  9. Rotan,
  10. Angrek Hutan jenis Ochirium,
  11. Telinga Beruk,
  12. Kedundung,
  13. Kandis,
  14. Palam, dan lain-lain.

FAUNA


Dikawasan hutan Desa Buluhcina terdapat beberapa jenis fauna, yang sering dijumpai adalah :
  1. Elang,
  2. Kijang,
  3. Rusa,
  4. Trenggiling,
  5. Beruang Madu,
  6. Landak,
  7. Siamang,
  8. Enggang,
  9. Gagak,
  10. Kera,
  11. Monyet,
  12. burung Punai,
  13. Murai,
  14. Ketitiran,
  15. Ayam Hutan,
  16. Merbah,
  17. Gereja,
  18. Layang-layang,
  19. Balam, dan lain-lain.

(Flora dan Fauna bersumber : masyarakat, ninik mamak dan hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa UIR jurusan biologi bekerja sama dengan PT CALTEX Riau tahun 2006/2007, Institute Pertanian Bogor (IPB) jurusan Pertanian-Kehutanan tahun 2007, mahasiswa UNILAK jurusan Kehutanan tahun 2006, kemudian hasil penelitian mahasiswa pecinta alam UIR, UNRI, UNILAK, dan Politeknik Riau).

EKOWISATA - Wisata Hutan Desa Buluhcina Riau


A. Sungai kampar
Sungai Kampar merupakan sungai yang membentang dan membelah Desa Buluhcina dengan air yang berarus cukup deras, sehingga setiap tahun tepatnya pada bulan Agustus dilakukan olah raga pacu sampan. Sungai ini pun sebagai tempat berkembang biaknya ikan sehingga baik untuk refreshing dengan memancing ikan dialam bebas. Bagi wisatawan yang ingin menelusuri Sungai Kampar dapat mempergunakan sampan atau perahu motor yang disediakan masyarakat.

B. Danau
Di Desa Buluhcina terdapat 11 (sebelas) danau wisata yaitu
  1. Danau Rengas,
  2. Danau Tanjung Putus,
  3. Danau Baru,
  4. Danau Dalam,
  5. Danau Pinang Luar,
  6. Danau Kutit,
  7. Danau Tuok Tongah,
  8. Danau Tanjung Balam,
  9. Danau Tangon,
  10. Danau Buntar, dan
  11. Danau Awang.
Terdapat 7 (tujuh) danau yang berada di lokasi Hutan Wisata yang baik untuk tempat rekreasi keluarga dan menghilangkan kejenuhan dengan memancing di danau tersebut dengan disediakannya sampan bagi para pengunjung. Selain itu bagi wisatawan dapat pula melihat budidaya ikan selais. Hutan Wisata dan seluruh lingkungannya merupakan menjadi lokasi yang tepay bagi penelitian flora dan fauna serta lingkungan sosial budaya bagi mahasiswa dan peneliti.

C. Hutan
Wisata Hutan Desa Buluhcina memiliki hutan yang sangat luas dengan jenis tanaman hutan yang beraneka ragam dengan peruntukan lahan hutan yang berbeda yaitu :
  • Hutan Lindung
  • Hutan wisata 1000 ha
  • Hutan cadangan perkebunan 1500 ha

Sehingga bagi wisatawan atau peneliti dan mahasiswa yang hobi berpetualangan dapat melakukan hiking, kemping dan penelitian di Hutan Wisata Desa Buluhcina.

Danau Tanjung Putus - Wisata Hutan Desa Buluhcina Riau

Pemotretan 27 Januari 2012.

Wisata Hutan Desa Buluhcina Riau

Wisata Hutan Desa Buluhcina Riau

Wisata Hutan Desa Buluhcina Riau

Wisata Hutan Desa Buluhcina Riau

Wisata Hutan Desa Buluhcina Riau

Wisata Hutan Desa Buluhcina Riau

WISATA HUTAN DESA BULUHCINA

Hiking (Jalan Sehat di Hutan)
Tersedia pemandu dari masyarakat setempat untuk memandu para wisatawan yang hendak hiking di dalam hutan. Terdapat 3 jalur yang disediakan yaitu Jalur 500m, Jalur 1000m, dan Jalur 2000m. Hal ini disesuaikan dengan kemampuan para wisatawan.

Setiap kelompok hiking akan dipandu oleh 2 orang pemandu (depan dan belakang) dengan biaya berkisar Rp. 75.000 - Rp. 100.000 /pemandu. Setiap kelompok hiking berjumlah maksimal 25 orang.

Camping (Kemping alias Berkemah)
Banyak tempat kemping di areal Wisata Hutan Desa Buluhcina ini. Jika tak hendak memilih, pemandu siap memberikan tempat kemping terbaik bagi wisatawan. Jika hendak memilih, lakukanlah survey tempat terlebih dahulu beberapa hari sebelum pelaksanaan kemping. Pemandu akan menunjukkan tempat-tempat yang cocok bagi wisatawan untuk kemping. Selain itu, pemuda setempat akan bersedia menjadi pembuat/pendiri tenda, pembuat kamar kecil (MCK), penjaga malam dan antar jemput ke lokasi. Mereka pun siap menyediakan makanan jika dipesan terlebih dahulu.

Outbond
Saat ini saya, attayaya, dan beberapa teman-teman lain sedang mencari modal untuk pembuatan lokasi dan penyediaan alat-alat outbond. Rencana awal lokasi adalah di sekitar Danau Tanjung Putus.

Jika berminat berwisata hutan Desa BuluhCina ini ataupun berminat menanam modal untuk Outbond Wisata Hutan, silahkan tulis komentar dibawah dengan nomor kontak yang bisa saya hubungi.

Catatan :
Nama desa ini adalah BULUHCINA bukan BULUH CINA.

Hubungi langsung Pak Kasmi 081365628661

Selengkapnya - Wisata Hutan Desa Buluhcina Riau