25 Mei 2009

Menghalau Gajah VS Ekonomi Kerakyatan

Terdapat suatu polemik yang besar antara mencari perbaikan taraf ekonomi rakyat dan menyeimbangkan ekologi. Salah seorang Calon Presiden Indonesia 2009 pernah mengemukakan untuk mengembangkan/memperluas pertanian dengan menebang sebagian hutan atas nama mengembangkan ekonomi kerakyatan (sesuatu hal yang tidak pernah kupelajari dengan pakar ekonomi kerakyatan alm. Prof. Mubyarto dan beliau pun tidak akan pernah mengajarkan hal seperti itu). Hmmmmm aku TIDAK merekomendasikan Capres seperti ini. Mengembangkan ekonomi kerakyatan bukan lah meningkatkan taraf hidup rakyat dengan menghancurkan rakyat lain beserta ekologinya.

Mengembangkan pertanian tak hanya dengan memperluas lahan pertanian (ekstensifikasi) tetapi yang lebih penting menurutku adalah intensifikasi. Intensifikasi salah satunya bisa dilakukan dengan membuat bibit yang handal (Thailand dan Philipina telah sangat maju dibidang ini). Bibit padi yang bisa panen 4 kali dalam 1 tahun, dengan jumlah kuantitas panen yang tinggi, tahan hama, dan perawatan mudah sangat dibutuhkan. Bibit yang seperti ini sangat perlu dikembangkan. Di bidang perkebunan, kita kalah dengan malaysia. Jika 3/4 hektar lahan karet di malaysia bisa menghasilkan karet setara dengan 1 s/d 1,5 hektar karet di Indonesia. Berarti perkebunan karet di Indonesia sangat boros lahan. Hal ini juga terjadi pada tanaman sawit. Intensifikasi juga bisa dengan mengembangkan lahan tidak produktif.

Sering bolak-balik Pekanbaru-Jakarta selalu membuat hatiku miris ngeliat hutan Riau yang sudah tidak ada lagi. Yang ada adalah hutan homogen sawit. Semua sawit, sawit...sawit...dan sawit. Dan sebagian hutan akasia untuk bahan baku bubur kertas. Hutan alami sudah sangat jarang terlihat. Yang masih lumayan adalah hutan tepi sungai Teratak Buluh khususnya di daerah Buluh China Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar yang masih memiliki hutan alami karena merupakan tanah ulayat. Tetapi hutan ini pun sudah mau dibeli oleh investor dari negara tetangga dekat untuk dijadikan perkebunan sawit. Untung tetua adat dan datuk masih mempertahankan hutan tanah ulayat tersebut.

Apa yang terjadi jika hutan ditebang dan dijadikan lahan pertanian ataupun perkebunan?

Ini bukan teka-teki. Ini real pertanyaan yang sebenarnya semua orang tahu, tapi tidak mahu tahu. Sang Capres itu pun tahu.

Satu permasalahan yang terjadi di Riau dengan makin meluasnya lahan perkebunan baik oleh rakyat maupun oleh para investor, yaitu terganggunya ekologi baik flora maupun fauna. Untuk fauna, permasalahannya adalah pada gajah. Gajah mempunyai daerah "kekuasaan" yang luas di hutannya dan mempunyai jalur khusus untuk mencari makannya. Gajah adalah makhluk hewan yang punya daya ingat yang tinggi. Jalur jalannya mencari makan umumnya tidak berubah. Tetapi sekarang jalurnya telah berubah menjadi lahan pertanian ataupun perkebunan. Tentu saja sang gajah akan melewati lahan tersebut yang akhirnya tanaman pada jalur tersebut akan rusak. Mohon untuk tidak menyalahkan gajah tersebut. Gajah itu telah lama hidup beranak pinak di hutan tersebut. Kedatangan manusia yang katanya mempunyai daya akal dan pikiran yang tinggi, tetapi tidak mau memikirkan kehidupan makhluk lainnya.

Maka penghalauan dan penangkapan gajah pun dilakukan oleh manusia. Gajah yang tertangkap kemudian ada yang dibunuh dan ada juga yang dipelihara. Pemeliharaan gajah bukanlah menyelamatkan fauna, tetapi justru membuat gajah tersebut jadi bodoh. Bodoh sebagai hewan yang harusnya hidup bebas. Maluri hewannya pun mulai hilang.

Jika sememang peneliti Indonesia bisa menghasilkan bibit tanaman yang bagus dan dapat menggunakan lahan yang kecil tapi menghasilkan panen yang tingi, alangkah bagusnya. Sehingga lahan hutan tidak perlu dialihkan menjadi lahan pertanian atau perkebunan. Sehingga hutan tempat hidup flora dan fauna pun tidak terganggu.




28 komentar:

  1. yeee..pertamaxx nih!!
    Setuju bang, mengembangkan sektor pertanian jangan dengan mengorbankan atau merusak ekosistem dan habitat yg ada
    knapa gak niru negara lain, jepang misalnya dengan hidroponiknya, kan gak perlu lahan yg luas, di dalam rumah pun bisa namem sayur mayur

    BalasHapus
  2. kasian banget tuh para gajah...dah lah terusir, terancam pula kelangsungan hidup/ reproduksinya...pantesan banyak gajah pada ngamuk, ngerusak lahan dan pemukiman warga...ya gak salah juga tuh gajah, yg salah mungkin manusianya, kan diberi akal pikiran ma tuhan, ngapain juga ngerebut habitatnya gajah, kayak gak ada lahan lain aja buat tempat tinggal...sebel deh !!!

    BalasHapus
  3. Naluri hewan jadi hilang, justru berpindah ke manusia,.............. semakin serakah merusak hutan demi keuntungan pribadi.

    BalasHapus
  4. okeeee,, setuju banget dah pokonyeee,
    trus kpn dong mo bagi gw anak gajah?? twew :)

    BalasHapus
  5. setuju bang...perluasan lahan memang byk berdampak tidak baik bagi alam..

    BalasHapus
  6. Makanya perang terus manusia dengan Hewan... Yaiiyyyalahhh... tempat tinggal mereka diganggu gugat.
    BTW aku punya signature sekarang, Bang...

    BalasHapus
  7. sepakat>>>> gimana klu kita kembangkan pertanian yg peduli lingkungan....

    BalasHapus
  8. Memakmurkan, Mengambil manfaat dan Melestarikannya adalah langkah terbaik bagi kehidupan sekarang dan yang akan datang.. Hidup Bang Atta..

    BalasHapus
  9. harusnya gajahnya dikasi tempat yang comfy.. jadinya ga merusak alam..

    BalasHapus
  10. Emang sih ..manusia adalah machluk yang sangat besar daya rusaknya terhadap alam...
    kasian gajah, macan dan teman2nya ya...

    nice sharing

    BalasHapus
  11. ayo kita pentungin aja orang yg punya sawit, sawit,sawit itu,he...

    BalasHapus
  12. petani yang bisa bikin bibit unggul seharusnya juga dilindungi undang-undang, dan mendapatkan lisensi general publik license...

    BalasHapus
  13. berarti aku kek gajah ya om karna punya daya ingat yang tinggi, tapi cuma daya ingatnya aja ya gak bodynya,huehehehehe

    BalasHapus
  14. ass.
    hewan-hewan punah karena manusia yang serakah. Pelestarian hutan, sudah lama tidak dilakukan, memang serakah tuh manusia ya.
    wassalam

    BalasHapus
  15. baiknya mengembangkan pertanian bukan dengan nebang pohon, kasian kan ekosistemnya. mendingan meningkatkan teknologi pertaniannya, biar kayak jepang gituh ... :D

    BalasHapus
  16. Setuju bang... tpi btw berat2 ya topiknya... :)

    BalasHapus
  17. pengen nebang sawit yang baru tanam?

    BalasHapus
  18. Kunjungan persahabatan bang..salam hangat dari singkep

    BalasHapus
  19. Setuju Nh Omm.. Pemikiran yang Brilian

    BalasHapus
  20. aku datang dengan rumah baru

    BalasHapus
  21. Betul itu,.... trus gimana donk!????

    BalasHapus
  22. Setuju bang, mengembangkan sektor pertanian jangan dengan mengorbankan atau merusak ekosistem dan habitat yg ada

    BalasHapus
  23. mari kita kurangi pola hidup hedoisme agar kita bisa hidup lebih sederhana, tanpa merusak alam...

    bang atta udah ngajak jadi petani ....!!!1

    BalasHapus
  24. Aku gak ngerti mas..
    aku ngikut aja..walaupun gak nyambung
    pokoknya yang penting ngeblog jangan diharamkan
    juga peternakan di tingkatkan
    terutama itik
    selain dagingnya bergizi
    pupuknya juga bagus untuk pertanian
    iya to??

    BalasHapus
  25. itik kok malah bikin ketawa sih...

    sudah-sudah..., itu kayak apa ya? kayak udah dilema yang tak berujung.
    ibarat benang sudah bundet, susah di urai satu persatu untuk dicari jalan keluarnya.

    BalasHapus
  26. hmmmm dilema atau problema?

    BalasHapus
  27. pilihan yg sulit, mengingat semakin waktu pertumbuhan penduduk makin meningkat,

    aku melihat sajalah

    BalasHapus
  28. agak susah memang.manusianya tambah banyak. tapi lahannya semakin sempit...pusing juga neh...

    BalasHapus

Copyright © 2013 attayaya: Menghalau Gajah VS Ekonomi Kerakyatan | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah