05 Mei 2009

Nabi Muhammad SAW dan Lingkungan Hidup - 1

Ketika menaklukkan Makkah (fathu al-Makkah), Nabi Muhammad SAW memberikan perintah kepada para sahabatnya : Pertama, jangan menyakiti wanita dan anak-anak. Kedua, jangan melukai dan membunuh orang-orang Quraisy yang sudah menyerah serta tak berdaya. Ketiga, jangan menebang pohon dan membunuh binatang di daerah penaklukan.

Perintah ketiga Nabi Muhammad yang diucapkan 1.500 tahun lalu, kini mulai menguak kesadaran manusia akan pentingnya konservasi dan kelestarian lingkungan hidup. Perintah Nabi Muhammad itu menimbulkan konsekuensi luas, trutama bagi pasukan Islam yang sudah merasakan kekejaman tentara Quraisy. Mereka tak bisa melampiaskan dendamnya kepada orang Quraisy, meski hanya membabat pohon korma dan membunuh onta kesayangan musuhnya. Dalam kaitan ini, Nabi Muhammad melihatnya dari aspek lain yang mementingkan masa depan : kelestarian lingkungan dan ekosistem. Bahkan untuk mendukung pembangunan ekosistem, Nabi Muhammad menyatakan :
"Tanamlah bibit pohon yang ada ditanganmu sekarang juga, meski besok kiamat. Allah akan tetap memperhitungkan pahalanya."

Dari segi pembangunan ekosistem, apa yang dikatakan Nabi Muhammad saat itu, sangat progresif. Jika ummat Islam yang saat ini jumlahnya sekitar satu milyar di dunia melaksanakan apa yang dinyatakan Nabi Muhammad untuk menanam pohon dimana pun berada, niscaya "dunia" Islam akan terlihat hijau dalam arti yang sesungguhnya. Secara kebetulan, sebagian wilayah dunia Islam - terutama di Timur Tengah - adalah gurun pasir.

Perintah Nabi Muhammad tersebut, kalau kita terjemahkan secara scientific perspective, menyuruh ummat Islam saat itu untuk menghijaukan padang pasir. Beberapa negara kaya minyak seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwait saat ini telah melakukan program penghijauan besar-besaran. Dengan memakai pipa-pipa air dan menutup pasir dengan tanah yang diimpor dari Pakistan, pemerintah UEA misalnya, telah menghijaukan wilayah padang pasir dengan skala yang amat luas. Dengan program penghijauan tersebut, UEA kini tidak hanya makin sejuk udaranya, tapi juga sudah bisa memenuhi kebutuhan sayur mayur dan buah-buahan dari wilayahnya. Dengan cara yang sama, Saudi Arabia dan Kuwait juga, kini sudah berswasembada sayur-mayur dan buah-buahan. Di UEA, misalnya, orang yang menumbangkan pohon dihukum berat dan didenda sangat tinggi, sekitar 5.000 dollar. Menurut Presiden UEA, Syaikh Zaid bin Sulthan an-Nahyan :
jika sebuah bangunan roboh, orang bisa membangunnya kembali hanya beberapa hari, asal ada uang. Tapi jika, sebuah pohon tumbang dan mati, orang harus menunggu tahunan untuk mendapatkan pohon seperti semula

Pendapat Syekh Zaid ini sungguh tepat dan patut diperhatikan bangsa Indonesia. Jangan mentang-mentang banyak hujan, lantas orang dan petugas boleh menebang pohon seenaknya saja. Jangan karena ingin membangun gedung yang megah dan besar, para pengembang lantas seenaknya menebang pohon-pohon besar dan langka. Cobalah meniru UEA atau bahkan Singapura. Betapa indahnya jika di tengah sebuah gedung atau pusat perdagangan ada sebuah space yang ditumbuhi pepohonan, sehingga sirkulasi udara yang mengandung oksigen berjalan alami.


saduran buku :
Prof. Dr. Hadi Alikodra, et.al
Global Warming : Banjir dan Tragedi Pembalakan Hutan
Bab : Nabi Muhammad, Kemanusiaan dan Lingkungan Hidup


13 komentar:

  1. Versi Psikolog ngomong nih: Rasul emang seorang Philosopher yang sempurna, Beliau menempatkan kepentingan kaum wanita dan anak pada urutan pertama.

    Sayangnya fatwa Beliau banyak diterapkan dinegara2 yang justru bukan Muslim. Lihat negara2 kaya yang bukan Muslim dari masalah pemerintahan sampe undang2, hampir UU-nya itu adalah apa yang diperintahkan oleh Rasul.

    Tapi lihat dinegara2 dengan mayoritasnya Muslim?

    BalasHapus
  2. Nah..Rasul aja yang tinggal di gurun nan sulit ketemu dengan pohon rindang nan hijau tetap berjuang menerapkan kebenaran dan melawan kedzaliman. Apa kita gak malu hah ...? orang Indonesia yang hidup dipenuhi pohon rindang dan teduh tetapi dikerumunin orang-orang korupsi, orang-orang yang hanya bisa recok untuk urusan kepentingan dan perut sendiri-sendiri ? heheheh

    BalasHapus
  3. Ini cerita yang baru aku tahu. Makasih utk sharing informasinya ya ??

    BalasHapus
  4. Beliau adalah figur teladan yang sempurna, bahkan dalam sebuah buku (yang judulnya saya lupa). Nabi pernah berfatwa pada sahabat bahwa janganlah kamu merusak sehelai daunpun, karena sesungguhnya daun itu nantinya akan meminta pertanggungjawaban darimu.

    BalasHapus
  5. gan, agar lebih baik dan banyak dibaca pengguna internet, mendingan posting d kaskus.us aj.

    tanggapannya lebih rame.

    BalasHapus
  6. @ anonymous :
    waduhhh ntar aku ga bisa ngebagi waktu antara ngeblog ma forum neh

    BalasHapus
  7. Ternyata, sebesar-besarnya kebencian kita terhadap seseorang, tapi tetap jangan sampailah kita nebang pohon buah atau bunuh ternak mereka hanya karena kita pengen mereka nggak bisa makan. Apa artinya satu-dua musuh kelaparan, kalo dibandingin dengan seribu anak-cucu kita yang kelaparan? Muhammad emang ciamik bener..

    BalasHapus
  8. Mampir lagi nih ada bingkisan yang dapat diambil klik disini moga berkenan.

    BalasHapus
  9. Subhanallah ya..Rasulullah telah mengajarkannya jauh-jauh hari. Meneladaninya akan utama. Tulisan yang membangun. Terimakasih. Salam silaturrahmi.

    BalasHapus
  10. Mengingatkan lagi pada saya satu aspek keteladanan Rasulullah tentang bagaimana menjaga hubungan dengan lingkungan tempat kita hidup. Yang sebenernya memang tugas kita sebagai khalifah di alam fana ini.

    BalasHapus
  11. bagus sekali artikel nabi ini...subhanallah

    BalasHapus
  12. Muhammad emang dahsyat!

    BalasHapus

Copyright © 2013 attayaya: Nabi Muhammad SAW dan Lingkungan Hidup - 1 | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah