24 Mei 2009

Menitipkan Masalah Besar Lingkungan Hidup Kepada Presiden

Masalah Besar yang bersifat global yang dihadapi umat manusia dewasa ini adalah krisis ekologi dan krisis moral. Krisis ekologi yang dihadapi umat manusia berakar dari sikapnya yang kurang memperhatikan norma-norma moral dalam hubungannya dengan lingkungan hidup secara luas. Kondisi tersebut makin diperparah dengan minimnya pengertian dan pemahaman secara ilmiah warga masyarakat terhadap aspek-aspek penting dari lingkungan hidup. Walhasil, minimnya moral dan pengetahuan - ditambah lagi dengan krisis ekonomi - menjadikan lingkungan hidup dan Sumber Daya Alam (SDA) sebagai korban dari respon manusia menghadapi kondisi yang menerpa dirinya.

Dalam rangka menyikapi kondisi lingkungan hidup yang semakin gawat itulah, sangatlah tepat jika kita memulai secara kritis untuk membangun "etika lingkungan". Diperlukan moral bangsa Indonesia di bidang lingkungan hidup yang dilandasi oleh kesatuan dari tiga (3) pilar utama, yaitu intelektual, spiritual, dan emosional. Pengetahuan kita terhadap seluruh SDA yang kita miliki sangat terbatas, namun di lain pihak pemanfaatannya sudah sangat intensif. Potensi SDA ini belum terinventarisir secara keseluruhan dan kegiatan penelitian untuk mengungkap manfaatnya juga sangat terbatasi. Akibatnya ada hambatan dalam upaya pemanfaatannya secara luas dan bijaksana.

Berbagai kerusakan dan pencemaran lingkungan yang terus meningkat sangat erat kaitannya dengan kemampuan pengelolaan SDA dan lingkungannya, dimana secara umum berbagai praktik pengelolaannya dilaksanakan tanpa memperhatikan hukum-hukum ekologi. Mereka hanya menggunakan pertimbangan ekonomi untuk mengejar keuntungan yang sebesar-besarnya, tanpa memikirkan dampaknya di kemudian hari terhadap lingkungan (termasuk manusia).

SDA yang kita miliki terbentuk dari proses mata rantai yang sangat panjang, saling terkait, dan saling tergantung satu sama lainnya. Satu unsur saja hilang menyebabkan terganggunya seluru mata rantai jaringan kehidupan. Untuk itu, ke depan kita harus mempromosikan implementasi pembangunan berwawasan lingkungan, dimana setiap individu, organisasi, maupun lembaga secara konsisten harus memiliki kemampuan untuk melaksanakan kebijakan pembangunan terlanjutkan itu.

Mencermati hal-hal di atas, presiden Indonesia terpilih mendatang hendaknya mempunyai kebijakan berlandaskan pengembangan moral lingkungan hidup, suatu kebijakan yang dapat mengembangkan kesetaraan antara kepentingan ekonomi dengan ekologi. Atau suatu kebijakan yang mampu mengimplementasikan konservasi dalam pengelolaan SDA dan lingkungannya di negara yang kita cintai ini.

Walau pada akhirnya kemampuan dalam menyelamatkan SDA dan lingkungan hidup ini sangat tergantung dari kerjasama dan kemampuan seluruh bangsa Indonesia, tapi presiden mendatang sangat menentukan jalan atau tidaknya kebijakan di bidang lingkungan Indonesia.

Semoga pembangunan terlanjutkan atau pembangunan berkelanjutan ataupun pembangunan berwawasan lingkungan yang dasar-dasarnya sudah diletakkan sejak 1992 akan dapat terimplementasikan pada periode pemerintahan 2009 ke depan. Berbagai praktik pengelolaan SDA dan lingkungan yang salah harus segera dihentikan, dan digantikan dengan tepat yang memperhatikan aspek ekonomi dan ekologi jangka panjang.

siapapun presidennya
tolong seimbangkan peningkatan
taraf ekonomi rakyat
dengan
penyelamatan ekologi




Digubah ulang sesuai dengan kondisi sekarang dari buku :
Prof. Dr. Hadi Alikodra, et.al
Global Warming : Banjir dan Tragedi Pembalakan Hutan
Bab : Titip Lingkungan Hidup Untuk Presiden Mendatang
Bagian : Masalah Besar


43 komentar:

  1. Benar bang..semoga presiden tahun ini mampu memegang amanah

    BalasHapus
  2. sip bang Atta
    semoga aja presiden mendatang bisa melakukannya

    BalasHapus
  3. Amiinn.. lanjut, Gan! :)
    Semoga presidennya care sama lingkungan ya.. ga cuman lingkungan DPR/MPR dan sekitarnya.. tapi juga lingkungan tempat tinggal rakyatnya.. beuuh.. perfect banget tu presiden..

    BalasHapus
  4. pagi juga pak attayaya....

    setia bgt deh ke blog aku... jd terharu.... huhuhuhuhuhuhu....

    BalasHapus
  5. Siapa Pun Presidennya minumnya teh botol SOSOR..

    BalasHapus
  6. Setuju.......presiden yang penuh perhatian dan bukan hanya minta diperhatikan dan dipilih........

    BalasHapus
  7. sebenernya masalah terbesar di negeri ini adalah masih adanya budaya "amin" terhadapa "yang menjadi atasan"....tanpa adanya inisiatif dari masyarakat itu sendiri....
    siapapun presidennya jika masyarakat nggak mampu "mengontrolnya" dia nggak akan "ngeh" dengan lingkungan di negeri ini.....apalagi jika presiden kita nanti adalah orang yang hanya umbar "dobolan" dan sangat antusias mengejar jabatan dan kekayaan (bisa dilihat sendiri lah siapa yang begitu...)
    piss 4 all

    BalasHapus
  8. yah semoga presiden mendatang lebih perhatiin ttg Lingkungan, tp tidak hanya presiden tapi kita semua juga haru lebih memperhatikan ttg lingkungan

    BalasHapus
  9. Berat juga titipannya...

    Tapi kita harus dukung juga kan?

    BalasHapus
  10. setuju bang,.... membangun boleh2 saja bahkan sangat diharuskan tetapi harus memperhitungkan analisis dampak lingkungan.

    BalasHapus
  11. Saya suka banget neh dengan pelestarian lingkungan.

    BalasHapus
  12. presiden jangan hanya duduk dan berpangku tangan atas kekuasaannya yang didapat tapi haru menjalankan amanah yang diberikan rakyat...moga krisis itu berkurang atas kesadaran mereka..............


    Dokter Termuda Di Indonesia...16 tahun

    BalasHapus
  13. Semoga presiden mendengar...

    BalasHapus
  14. Ayo bang Atta, maju jadi presiden 5 tahun mendatang yak.. biar tambah hijau Indonesiaku..

    btw yg attayayadotcom punya abag juga yak?

    BalasHapus
  15. "Pengetahuan kita terhadap seluruh SDA yang kita miliki sangat terbatas, namun di lain pihak pemanfaatannya sudah sangat intensif."

    NOTE: Sangat terbatas atau memang tidak perduli (atau rakyat yang tidak pintar)? SANGAT TERBATAS punya konotasi kalimat yang berbeda seperti tidak adanya pengetahuan tentang alam. Bukankah rakyat indonesia sudah dididik dengan yang namanya Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sejak dari SD?

    BalasHapus
  16. "namun di lain pihak pemanfaatannya sudah sangat intensif."

    NOTE: Intensif bagi siapa dan untuk apa? (positif bagi siapa dan negatif bagi siapa?)

    Ini beneran saduran tulisan dari seorang profesor yang ahli lingkungan? Keknya tulisannya harus lebih diperjelas kalau tulisan ini mau dibaca sama presiden. Gimana kalau sekertaris kek jengsri yang tukang ngedit? gak masuk deh keknya proposalnya,heheheh

    BalasHapus
  17. emang ada ya, di antara capres2 tu yg masuk kriteria??

    BalasHapus
  18. ""Pengetahuan kita terhadap seluruh SDA yang kita miliki sangat terbatas"

    NOTE: Eropa barat, amerika, australia punya pengetahuan tentang SDA yang dimiliki Indonesia lebih dari WNI-nya. Mereka gak perlu datang ke Indonesia untuk tau semua tentang tetek-bengeknya indonesia. CUKUP BACA. Kalau diadakan cerdas cermat tentang SDA indonesia boleh deh adu sama WNA..dijamin lewat orang kita...(except jengsri ya,heheheh)

    BalasHapus
  19. bener bung ataya,,
    ntar yang jadi presiden harus peduli lingkungan, rakyat dan kaum rastaman kayak aq
    wakakakakakakkakakakakak

    BalasHapus
  20. Semoga yang di cita2kan bapak dan penulis buku tersebut bisa terlaksana. Insya Allah...

    Oh ya Pak, di postingan saya yang 'Kalau Aku Jadi...??? saya pinjam nama Bapak dikit :)

    BalasHapus
  21. setuju banget boss
    hmmm cukup kritis
    :)

    BalasHapus
  22. semoga presiden yang baru lebih baik!!!

    BalasHapus
  23. setuju banget sob ....
    presiden kita harus peduli dengan linkungan kita.
    semoga.

    BalasHapus
  24. semoga terbaca sam orang pemerintahan sana iia kang ...

    BalasHapus
  25. Amanah yang berat nih bang...mudah-mudahan yang berani memikul, bersedia membuktikan dengan sepenuh hati, pikiran, tenaga dan terutama dengan kekuasaan yang dimilikinya

    BalasHapus
  26. apapun presidennya, yang penting jangan babat hutan lagi :D, kita paru2 dunia lho ...

    BalasHapus
  27. masya alloooh, bener bang siapapun presidennya
    tolong seimbangkan peningkatan taraf ekonomi rakyat dengan penyelamatan ekologi

    BalasHapus
  28. Seep..!! Semoga calon presiden kita membaca tulisan ini.

    BalasHapus
  29. adem ayem deh disini..ijo royo-royo

    BalasHapus
  30. Semoga sang calon presiden lebih terbuka nuraninya

    BalasHapus
  31. Malam bang atta...jalan2 ke pekan baru..salam..

    BalasHapus
  32. sebagaimana jenggot, hutan kan tumbuh sendiri, asal kabe berhasil aja... jiahaha

    BalasHapus
  33. asalamualaikum selamat malam tuan
    saya berkunjung

    BalasHapus
  34. bang, bahasannya serius serius amat akhir akhir ini, hiiii

    BalasHapus
  35. banyak PR yah calon Presiden kita? moga dicatat PR2nya jadi ntar pas menjabat gak lupa sama tugas yang harus dilakukan

    BalasHapus
  36. harus dimulai dari diri sendiri.
    dari hal² yang kecil :D
    dan dari sekarang .. :)

    jangan buang sampah sembarangan :D

    bner gak bang ^_^
    agar nanti klo kita semua jadi presiden ...*ngarep "udah terbiasa dan lebih peduli sama lingkunagan hidup :D

    BalasHapus
  37. jagalah lingkungan di sekitar kita

    BalasHapus
  38. Dua fokus masalah yang seharusnya menjadi perhatian para pemimpin bangsa.
    Kira-kira bisa gak ya, bang?
    Optimis aja deh bisa... Bukankah kita harus optimis? hehe

    BalasHapus
  39. dukung atta ah..
    buat jd presiden 5 taon lg...(rock)

    BalasHapus
  40. makanya saudara-saudara, pilih presiden yang nilai IPA nya tinggi!

    BalasHapus
  41. mas atta yang diberi gelar menteri lingkungan hidup kaum blogger.

    setujuh sekali saya...emang ya kadang2 kita terlalu sibuk ngurusi peningkatan ekonomi, tapi lupa dengan alam yang terkadang dijadikan korban dengan pembenaran untuk meningkatan pertumbuhan ekonomi....

    ck...ck...

    BalasHapus

Copyright © 2013 attayaya: Menitipkan Masalah Besar Lingkungan Hidup Kepada Presiden | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah