03 Juni 2010

Anak Kecil Itu di Teh Telur Ajo

Anak Kecil itu tertawa sumringah sedikit cengengesan. Tangan kirinya hanya sampai sebatas lengan, entah kenapa. Tidak berniat bertanya, takut tersinggung. Umurnya sekitaran 12 tahun. Tangan kanannya memegang ember plastik kecil warna hijau. Memakai kopiah warna hitam masih bagus walau tidak baru. Kaosnya pun sedikit kebesaran dengan paduan celana pendek yang sedikit menggantung di atas tumit.

Anak Kecil itu cengengesan ketika mendekati meja aku dan temen-temen tentara dari Yon Arhanudse 13 Batri R Pekanbaru yang sedang duduk di warung tenda Ajo, kebetulan saat itu aku lagi tidak ada janjian nongkrong dengan Blogger Bertuah. Warung Tenda Ajo menjual Teh Telur dan jenis makanan minuman lainnya merupakan tempat favoritku untuk nongkrong di malam hari. Anak kecil itu sebut saja bernama AKI, karena sampai akhir cerita pun aku tak tau namanya.

AKI mendekati kami, salah seorang temenku pun menyapanya, "Darimana kamu?". AKI menjawab, "Cari pitih Da" (Cari uang bang). Hmmmmm... ternyata AKI menggunakan bahasa Minang. Temenku memberikan uang seribu rupiah kepada AKI yang ditampungnya dalam ember plastik kecil yang selalu ditentengnya di tangan kanan. Setelah menerima uang, AKI pun menggelitik pinggang temenku dengan menggunakan tangan kirinya yang tidak sempurna. AKI tertawa riang bersama temenku itu.

"Dia emang biasa begitu bang, kalo kita kasi duit ke dia, terutama untuk orang yang sering ngasi duit ke dia", kata temenku menjelaskan hal tersebut kepadaku. Aku pun tersenyum-senyum ga jelas.

"Jo, tuka pitih Jo", pinta AKI ke Ajo (Jo, tukar uang Jo). Ajo pun menghitung uang AKI bersama-sama. Terkumpul sekitar Rp.44.000,- saja. AKI berujar cepat, "Tunggu sabanta Jo, ambo cari pitih enam ribu dulu, buek ganok an limo puluah" (Tunggu sebentar Jo, aku cari uang enam ribu dulu, buat menggenapkan lima puluh ribu). AKI pun bergegas ke tempat lain. Tak sampai 1 menit, AKI kembali dengan recehan jumlahnya Rp.10.000,- pas. Astaga... ckckckck... aku berdecak kagum bingung aneh. Tak sampai 1 menit AKI udah berhasil mendapatkan uang segitu banyak. AJO pun mengambil uang recehan AKI sebanyak Rp.50.000,- dan memberikan selembar uang kertas pecahan Rp.50.000,- juga, dan AKI masih memegang sisa recehan Rp.4.000,-.

Ketika temenku bertanya kepada AKI berapa lama AKI mendapatkan uang sebanyak itu, AKI pun menjelaskan bahwa dia mendapatkan uang itu sejak dari jam 7 malam selepas maghrib. Waaaaaah... aku pun makin kebingungan. Sekarang jam 8 malam, berarti dalam waktu 1 jam AKI telah berhasil mengumpulkan uang recehan sebanyak Rp.54.000,-. Woooow... fantastis hatiku berkata. Ajo saja yang berusaha dari selepas maghrib sampai subuh, baru bisa menghasilkan 3 kali lipat hasil AKI.

"Julo-julo inyo se dua atuih ibu sahari bang", kata Ajo kepadaku selepas AKI berlalu dengan tertawa sumringah (Jula-julanya saja dua ratus ribu sehari bang). Whaaaaat???? Jula-jula semacam arisan kumpul duit yang pada masa tertentu diberikan kepada pengikut arisan itu. Jangka waktu undian menerima jula-jula bisa per 10 hari, 20 hari atau 30 hari ataupun sesuai kesepakatan bersama, walau ada juga yang punya hitungan bulanan. AKI ikut jula-jula Rp.200.000 per hari dalam jangka waktu 30 hari. Woooow.... berarti AKI akan menerima sekitar Rp.6.000.000,- jika giliran waktunya tiba menerima undian jula-jula. Lebih besar daripada gajiku, aku cuma setengahnya saja.

Jika AKI membayar jula-jula Rp.200.000,- sehari ditambah biaya hidup untuk makan, transport, dan lain-lain kuhitung pendapatan AKI dari meminta uang recehan itu sekitar Rp.300.000,- kurang lebih. Pendapatku ini dibantah Ajo, bahwa AKI mendapatkan uang recehan per hari adalah minimal Rp.350.000,-. Whaaaaaaaaat.... hampir pingsan aku mendengar hal itu. Tentara yang temenku itu membenarkan kata-kata Ajo. Temenku itu bilang bahwa dia pernah ketemu AKI di daerah Perawang dan pada saat itu AKI udah mendapatkan uang recehan sebanyak Rp.475.000,- padahal hari masih siang. Jika AKI berjalan mendapatkan uang recehan lagi di malam harinya, bisa lebih banyak lagi pendapatannya.

Tak habis pikir.

Dijelaskan Ajo, AKI tidak mau sekolah lagi, padahal anaknya pintar. Orang tuanya di kampung masih punya sawah dan masih sanggup menyekolahkan AKI. Cuma sangat disayangkan, orang tua AKI tidak menyuruh AKI untuk sekolah lagi. Bahkan orang tua AKI menerima kiriman sekitar Rp.1.000.000,- per bulan dari pendapatan AKI meminta uang receh.

Tak habis pikir.

Kenapa pekerjaan mendapatkan belas kasihan orang karena ketidaksempurnaan tangan AKI menjadi suatu hal yang disukai oleh AKI dan orang tuanya?

Bagaimana dengan peraturan tentang Ketenagakerjaan dan Pekerja Anak?

Bagaimana dengan hak azasi anak?

Bagaimana anak bisa menikmati masa anak-anaknya?

hmmmm.....

Cerita ini kututup dengan pertanyaan seperti di atas. Sampai sekarang aku tidak tahu jawabannya. Bahkan aku pun tidak tahu nama asli Anak Kecil Itu yang kusebut AKI dalam cerita ini. Semoga AKI baik-baik saja dan mau bersekolah lagi serta tidak meminta-minta uang receh lagi. Dan aku juga tidak bisa memotretnya karena tidak bawa kamera.

Pergi ke Sigunggung beli buah kuini
Jangan tersinggung ceritaku ini

Buka cerita dengan judulnya
Coba kita ambil hikmahnya


*****

  1. Cerita ini terjadi sekitar awal bulan Mei 2010 berlokasi di Warung Tenda Ajo Jalan Harapan Raya simpang Kapling I Pekanbaru.
  2. Cerita ini untuk diikutsertakan dalam kontes ANAZKIA dengan sponsor HIDUP UNTUK BERBAGI DENAIHATI
  3. Cerita ini pun mempersilahkan pengunjung untuk berkomentar jika ada yang berminat untuk mencari jalan pemecahannya terhadap AKI-AKI lain yang banyak beredar di jalanan.




50 komentar:

  1. Masa kanak-kanak tidak boleh terampas keindahannya.

    BalasHapus
  2. Launching Zona Download. Sudi mampir.

    BalasHapus
  3. yang jadi pertanyaan apa orang tuanya memang sengaja mengeksploitasi anaknya ya bang karena gampang cari duit dan memanfaatkan ketidaksempurnaan anaknya atau memang anaknya sendiri yang sudah senang cari uang, kisah yang yang inspiratif bang

    BalasHapus
  4. numpang lewat aja Om....

    BalasHapus
  5. kasihan si AKi ...
    bagaimna dgn AKi2 yg lain??

    BalasHapus
  6. bagaimana masa depan si AKI ya.. apa dia akan terus jadi peminta minta....

    BalasHapus
  7. anak masih dibawah umur yg seharusnya duduk dibangku sekolah dan bermain bersama teman temanya, tetapi keluarganya malah membiarkan anaknya bekerja dengan meminta uang receh.

    BalasHapus
  8. AKI ADALAH SOSOK MANUSIA (ANAK KECIL) yang terlantar dari kenginan dan keakuan.....!!

    Anak Sekecil ITu Berkalahi dengan waktu
    Anak Sekkecil Itu tak Sempat Menikmati Waktu (Iwan Fals)

    BalasHapus
  9. Walaupun penghasilannya buat orang ngences tapi apapun itu dia masih anak kecil..

    Oia semoga sukses ya Om, cerita yang bagus.. :)

    BalasHapus
  10. Tak Patut.....di tiru lah
    Pantesan di Pekanbaru makin banyak aja pengemis dan tukang minta2, karena mudahnya mendapatkan uang / belas simpati dari orang.
    Padahal kan kata Rasul kita gak boleh memberi sedekah kepada orang yg masih sehat dan mampu untuk bekerja (*denger ceramah di Radio Hidayah 103 FM - Pekanbaru)
    Pemko harus bertindak nih.....

    BalasHapus
  11. Belas kasihan yang dijadikan ladang profesi (doh)

    BalasHapus
  12. wah..besar juga pendapatan si aki ya bang ..btw semoga sukses kontesnya ya bang...saya dukung dengan doa

    BalasHapus
  13. Link dah Anas kirim ke juri. Makasih yah, bang. sudah berpartisipasi...

    BalasHapus
  14. Ceritanya bagus Bang. Sebuah perenungan, tanpa jawaban.

    bang, rupanya banyak penulis yang ikutan acara ini *duh* kok yah aya2 wae... anaz yang dududz :(( ngadin lomba, yang ikut orang2 hebad semua...

    BalasHapus
  15. kadang mereka lebih senang hidup begitu
    dikasih solusi seperti apapun, g mempan
    karena emang kemauan dr diri orangnya sendiri ^^

    moga menang lombanya ^^

    BalasHapus
  16. Pembantu tukang diproyek saya aja yang kerjanya banting tulang ditengah-tengah panasnya matahari gak nyape hasilnya segitu...

    Btw jadi penasaran ne siapa Si Ajo.

    BalasHapus
  17. mmhhh..seolah hanya uang saja yang terpenting di dalam hidup...have a nice day ^_^

    BalasHapus
  18. Nggak heran Bang, dengan pendapatan segitu pastilah si Aki jadi malas sekolah. Kebanyakan orang seperti itu berfikir: sekolah itu ngabisin duit. Mereka nggak mikir bahwa ilmu itu lebih berharga daripada uang. Eh, kok saya jadi sok bijak gini ya... Ehm, maaf Bang? Bang Atta urang awak-kah?

    BalasHapus
  19. ceritanya menyentuh bang.. semoga menang ya?

    BalasHapus
  20. wah, moga menang ya, bang. tumben tulisannya rada serius. tapi bagus tuh

    BalasHapus
  21. Ternyata di bumi kita banyak anak2 yg seperti Aki.
    Mereka sudah mengenal uang dan merasakan nikmatnya mempunyai uang, sehingga mereka tak lagi peduli pada pendidikan.
    Patut disayangkan...

    BalasHapus
  22. Wah, Bang Atta ikutan juga ya di Berbagi Kisah Sejati. Semoga menang Bang.. kisahnya bagus sekali.

    Maaf ya baru bisa mampir, karena baru sembuh dari sakit mata nih.. :D

    BalasHapus
  23. Semoga sukses kontesnya bung...

    BalasHapus
  24. benar2 luar biasa penghasilan AKI dan orang-orang seperti AKI,
    namun, yang jadi permaslahan... orang-orang seperti AKI itu sebenarnya tanggung siapa ya?????

    BalasHapus
  25. Kalau udah kenal uang emang susah bang. Semoga menang lombanya bang. Sukses selalu.

    BalasHapus
  26. kayonyo aki..minta ciek bang..saratui aja tak apa2 dengan pangkat 6..hihihi...

    BalasHapus
  27. saya setuju tu ma Bang Munir...

    BalasHapus
  28. Cerita yang bagus Om...

    Salam Bertuah.. :)

    BalasHapus
  29. ini juga
    isu yg
    buat aq prihatin

    tapi kalau aq
    tiap hari melihat
    ada byk di sini

    sampai2
    bocah dsini
    bukan jadi sosok
    yg trlihat lugu lg

    saking seringny
    mereka berbaur
    dgan wajah stres
    dgan para pcari nafkah

    kemana perginya ya
    anak2 yg bermain
    tanpa lagu dewasa
    tanpa bilang nafkah

    BalasHapus
  30. Ternyata bisa juga serius Bang...

    BalasHapus
  31. aku tadi udah komentar kok gg ada ya :'(

    BalasHapus
  32. Laporan Bang...
    Paketnya sudah saya terima barusan Bang.
    Makasih banyak.

    BalasHapus
  33. aku pun pernah sempat menonton tv, bahkan ibu2 pun berlaku seperti itu,, dia lebih memilih untuk mengemis dibandingkan bekerja, padahal dia masih sempurna dan sehat!

    *masih ga habis pikir

    BalasHapus
  34. sungguh aku jg tak habis pikir sob..

    BalasHapus
  35. i do not understand your languages but you have a nice blog

    BalasHapus
  36. Ortunya kemana si anak itu

    BalasHapus
  37. kita juga berperan membuat aki begitu, saya pikir (thinking)

    BalasHapus
  38. ingat masa kecil dulu,,,

    BalasHapus
  39. knapa malah di eksploitasi yah...... ada apa ini, tanya kenapa bang :)

    BalasHapus
  40. zaman sekarang makin edan yah bang *geleng geleng*
    hasil jula jula 6 jetongg alamaak jaangg...pindah profesi lah eykee kek aki wkwkwkwkkw

    jadi keder juga mo ikutan lomba,,bagus2 semuaaaa

    BalasHapus
  41. Bang Atta Gajinya 3 juta sebulan Ya... ^^^
    Bingung Mo koment apa Kurang begitu Tahu peraturan tentang Ketenagakerjaan dan Pekerja Anak... ^^

    BalasHapus
  42. gendeng deh...waah kayaknya jadi dinaikin pangkat juga saya mas ha ha ha ha jadi editor..woow..wooow..wwoow..loading blog saya emang sengaja dibuat berat ha ha ha biar tau siapa yang koneksi lambat kan bisa promosi kalo ada koneksi cepat jiahahahahaha....

    BalasHapus
  43. Duh, KI bisa gitu hebat ya. Jadi inget dengan PONARI. Yah mungkin tergantung ke kondisi anaknya Bang, Kalo memang mereka begitu bukan paksaan ataupun tekanan kukungan, ya nggak papa selama yang ngasih ikhlas... he

    BalasHapus
  44. Moga menang ya Bng, kontesnya. Kak Seto tentu mbaca ini neh...

    BalasHapus
  45. alhamdulillah
    makasih bro

    BalasHapus

Copyright © 2013 attayaya: Anak Kecil Itu di Teh Telur Ajo | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah