03 April 2010

Korupsi Pajak : Studi Kasus Tax Evasion Pihak Swasta

Korupsi Pajak : Studi Kasus Tax Evasion Pihak Swasta merupakan draft tulisanku yang udah lama nongkrong di dalam draft blogku.

*****

Walaupun aku belom baca semua tulisan dalam kontes korupsi mas Jodie, tetapi dari beberapa yang sudah kubaca, banyak tulisan yang membicarakan topik Pemerintah sebagai pemeran utama korupsi. Kalo menurutku sih, korupsi itu bermula dari diri masing-masing manusia (pihak swasta maupun oknum pemerintahan), kemudian didukung sistem dan kesempatan yang ada sehingga menjadi "korupsi yang sistemik" (mengikut istilah Kasus Bank Century). Sememang di Pemerintahan merupakan ladang korupsi yang terbesar (karena pemerintah adalah organisasi yang terbesar diseluruh dunia yang didanai oleh rakyat), tetapi tidak lupa juga bahwa hal ini juga terjadi di pihak swasta. Pihak swasta ini bisa TIDAK berhubungan sama sekali dengan Pemerintah, maupun yang ADA hubungannya.

Jika tidak ada hubungannya, berarti itu masalah internal pihak swasta (perorangan maupun badan hukum). Nah yang susahnya jika ADA hubungannya dengan Pemerintah, apalagi menyangkut uang rakyat.

Hubungan korupsi Swasta dan Pemerintah itu bagaikan sebuah prinsip dalam ilmu ekonomi yaitu SUPPLY dan DEMAND. Selain itu, korupsi juga menerapkan ilmu Biologi yaitu saling membutuhkan dalam Simbiosis Mutualisma. Hal ini terjadi menganut pemikiran "Siapa membutuhkan Siapa" dan "Siapa menyediakan Apa" serta adanya kesepakatan sepihak, kedua belah pihak maupun berbagai pihak.

Coba perhatikan kasus ini :
Kasus Saling Membutuhkan
Sebuah perusahaan swasta MEMBUTUHKAN pekerjaan pengaspalan jalan, sehingga direkturnya menyogok oknum di pemerintahan untuk meng-gol-kan pekerjaan tersebut. Si Oknum itu menyetujui sekalian "meminta dana" untuk meng-gol-kan pekerjaan tersebut. Disini kedua belah pihak setuju melakukan pekerjaan tersebut dengan adanya masing-masing kebutuhan yang harus dipenuhi. Si Swasta butuh pekerjaan. Si oknum pemerintahan butuh dana/duit.


Kasus Memperkaya Diri Sendiri
Aku ga perlu kasi contoh kasus kalo hal ini terjadi di pemerintahan, karena di koran dan seluruh media massa udah memberitakan hal ini. Nah kalo kejadiannya berada di pihak swasta yang menyangkut ke pemerintah dan uang rakyat, hal ini tidak banyak orang yang menyorot "Kasus Korupsi di Pihak Swasta Yang Merugikan Masyarakat". Hal korupsi yang sering dilakukan pihak Swasta adalah "Tax Evasion". Kalo Tax Avoidance (Tax Mitigation) merupakan penghindaran pajak secara legal.

Tax Evasion (Perlawanan Pajak) merupakan pengelakan/penghindaran pajak dengan cara ilegal dan sengaja sehingga menjadi suatu perlawanan terhadap pajak. Pengelakan/penghindaran pajak terjadi sebelum SKP (Surat Ketetapan Pajak) dikeluarkan. Hal ini merupakan "pelanggaran terhadap undang-undang" dengan maksud melepaskan diri dari pajak atau mengurangi dasar penetapan pajak dengan cara "menyembunyikan" sebagian dari penghasilannya. Wajib pajak di setiap negara terdiri dari wajib pajak besar (berasal dari multinational corporation yang terdiri dari perusahaan-perusahaan penting nasional) dan wajib pajak kecil (berasal dari profesional bebas yang terdiri dari dokter yang membuka praktek sendiri, pengacara yang bekerja sendiri, dll). Pajak yang dapat dielakkan/dihindarkan akan masuk ke ranah "memperkaya diri sendiri dan orang lain dengan melanggar undang-undang".

Aku menilai TAX EVASION sebagai KORUPSI DARI PIHAK SWASTA YANG MERUGIKAN MASYARAKAT.

Kemudian sodara-sodara seperjuangan.
Pada semua kasus korupsi, ketika dana dari pihak swasta untuk menyogok oknum pemerintahan mengalir ke rekeningnya yang kemudian ketahuan maka akan dipakai alasan sederhana yang udah sangat basi :
"kerjasama bisnis"
"minta tolong untuk membelikan tanah"
"minta tolong untuk membelikan mobil"
"bantuan yayasan"
"bantuan bhakti sosial"
dll
Sudah bukan rahasia lagi bahwa Pengajuan Keberatan Pajak merupakan salah satu ladang terbesar untuk melakukan korupsi, dan juga penghapusan denda, pengurangan penetapan pajak, serta proses lain menjadi suatu "berkah terburuk" yang pernah ada. Semua proses ini menguntungkan kedua belah pihak (swasta dan oknum), tetapi merugikan rakyat lainnya.

oia....
Perlu juga pemeriksaan terhadap perusahaan siluman untuk mengalirkan dana korupsi sebagai salah satu langkah pencucian uang.

Intinya adalah :
Pihak pemerintah jelas bisa melakukan korupsi
Pihak swasta juga bisa melakukan korupsi
So...
Pihak manapun yang melakukan,
apapun minumannya
apapun makannya
KORUPSI harus diberantas.

Bagaimana menurut teman-teman?





34 komentar:

  1. Koropsi memang wajib untuk diberantas...

    BalasHapus
  2. mesti harus sadar masing2...kalo gak ntar masing2 saling membutuhkan ya dimaklumi aja kalo ada uang-uangan fiktif...

    BalasHapus
  3. hmmm....ini lingkaran setan namanya....entah kapan berakhir.. kalau gak ada yang bisa memulai menahan diri susah berakhirnya...yuk memulainya dari diri sendiri...(^_^)'

    BalasHapus
  4. gimana ya korupsi yang menguntungkan negara, misalnya mengajak perang negara lain gitu...

    wakakakkaka... nggak brani pasti ya..

    BalasHapus
  5. Dmulai dr diri kita sndiri, kdang kita tdk menydari kalau diri kita telah melakukan korupsi..seperti hal2 ygkcil..;-).
    .

    BalasHapus
  6. Kita sendiri saja juga sering melakukan korupsi kok mas. Korupsi waktu, waktu yg harusnya buat DIA, seringkali kita sunat bukan? Hehehe..

    BalasHapus
  7. apapun makannya...keluarnya tetap busuk bung...karena wadahnya aja udah busuk...

    BalasHapus
  8. Kalau melihat kejadian seperti ini pasti banyak yang berminat masuk jadi PNS golongan 3A

    BalasHapus
  9. Oalah boz, capek ngomong masalah pajak dan negara ini. Lebih baik mikir diri sendiri dan memperkaya diri, tentunya dari cara yang halal. Thanks...

    BalasHapus
  10. ya namanya korupsi jangan dibiarkan dong

    BalasHapus
  11. berantas korupsi sampai tuntas
    maaf fast reading hehehehe

    BalasHapus
  12. kOrupsi memang selalu merugikan negara,
    sebaiknya pelaku korupsi harus di berantas sampai keakar2nya..

    BalasHapus
  13. korupsi memang susah diberantas

    BalasHapus
  14. aduh, otak santri ane gak nangkep apa-apa nih,,,
    urusan pajak, ane belum wajib bayar sih..

    BalasHapus
  15. 136 ribu besok 131 wah meski orangnya nggak ada alexa tetap nurun drastis wk wk wk

    BalasHapus
  16. Koruptor bunuh aja..
    susah banget sih nangkep mereka huh!!

    BalasHapus
  17. banyak celah ya untuk melakukan korupsi!!!!!

    sigh!!! semoga saya tidak tergoda untuk berbuat seperti itu!!! god help me!!!

    BalasHapus
  18. tapi saya tetap percaya gak semua pegawai pajak gituhh

    BalasHapus
  19. Selama transparansi belum tercipta. Rakyat hanya jadi korban orang-orang tak bertanggung jawab

    BalasHapus
  20. di negara kita korupsi seperti sudah menjadi budaya, dari yang orang biasa sampe para petinggi pemerintahan berlomba untuk korupsi.

    BalasHapus
  21. iya juga sih bang, diri sendiri, berperan aktif dan punya andil besar, untuk perubahan. Oleh2nya mana bang...?? :D

    BalasHapus
  22. Jadi.., siapa pun bisa melakukan korupsi, selama ada kesempatan dan iman yang tak terjaga.

    BalasHapus
  23. Jadi.., siapa pun bisa melakukan korupsi, selama ada kesempatan dan iman yang tak terjaga.

    BalasHapus
  24. Jalan-2 lagi ya Bang..? Jangan lupa oleh-2nya.. (maaf komennya gak nyambung)

    BalasHapus
  25. adik q lulusan stan bang...katanya si gayus tuh dulu paling pinter di kelasnya...sekarang dia di makan kepinteranya hehehehehehehe

    BalasHapus
  26. setujuuu....
    bewe lagi ahhh

    BalasHapus
  27. setuju...brantas korupsi !!
    bewe lagi aahhhh :)

    BalasHapus
  28. pastinya sejak kasus gayus orang jadi tambah gak percaya ma departmen perpajakan dan gak mau bayar pajak

    BalasHapus
  29. korupji jenis apapun ya harus diberantas
    sampai tuntas

    kalo gak gitu, negeri kita tetap miskin,.
    rakyat kita tetap menderita
    mau samapi kapan begini terus?

    BalasHapus
  30. bener mba elsa
    hajaaaaar brantassss

    BalasHapus

Copyright © 2013 attayaya: Korupsi Pajak : Studi Kasus Tax Evasion Pihak Swasta | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah