15 Maret 2010

Butang Emas - Tag buku

Butang Emas merupakan sebuah buku yang berisikan tentang WARISAN BUDAYA MELAYU KEPULAUAN RIAU. Kali ini dimunculkan dalam postingan blog ini bersempena (sehubungan) dengan adanya Tag Buku dari :
mursalin http://qualityptc.blogspot.com
dengan tugas sebagai berikut :
Kita yang diberi tag harus membagi/share buku-buku apa saja yang pernah dan sampai saat ini masih jadi referensi kita. Baik buku-buku lama (kalo ingat tentunya) maupun buku yang baru-baru ini masih kita baca.

Butang Emas semulanya adalah merupakan sebuah buku, tetapi karena ketertarikanku maka aku mencoba membuat sebuah blog untuk buku tersebut yang awalnya beralamat di
http://butang-emas.blogspot.com
Secara kemudian dengan kecukupan dana yang tersedia, aku membeli domain untuk blog tersebut di :
http://www.butang-emas.net

Semoga bermanfaat...

*****

BUTANG EMAS

Bismillahirrahmaanirrahimi
Alhamdu li 'llahi 'lladzila syarika lahu fi mulkihi wa la hakima lihikumihi lahu'lmulku wa lahulhukmu wa huwa biahkami'lhakimina. Kama qala fi kitabihi 'lqadimi. Quli'llahumma malika'lmulki tu'tilmulka man tasyaau wa tanzi'ulmulka mimman tasyaa'u watu'izzu mantasyaa'u wa tudhillu man tasyaa'u bi yadika 'lkhairu innaka 'ala kulli syaiinqadirun. Tuuliju'llaila fi'nnahari wa tuuliju'nnahara fi'llaili wa tukhriju 'lkhayya mina 'lmayyiti wa tukhriju 'lmayyita mina 'lhayyi wa tanzaqu man tasyaa'u bi ghairi hisabin

Segala puji bagi Allah juga yang tiada ada dalam kerajaan-Nya itu sekutu bagi-Nya dan tiada ada yang menghukumkan bagi hukum-Nya itu. Ia juga empunya kerajaan dan Ia jua empunya hukum, sedang Ia-lah yang telebih bijak daripada sekalian hakim, seperti berkata Ia dalam kitab-Nya yang qadim : "Katakanlah olehmu, wahai, Allah, Engkau jua Raja yang empunya Kerajaan, akan memberi kerajaan itu pada barang siapa yang Kau kehendaki dan mengambil kerajaan itu daripada barang siapa yang Kau kehendaki, dan memuliakan barang siapa yang Kau kehendaki dan menghinakan barang siapa yang Kau kehendaki; pada tangan qodratmu jua segala kebajikan. Bahwa sesungguhnya Engkau jualah yang memasukkan malam dalam siang dan yang memasukkan siang dalam malam, dan yang mengeluarkan yang mati daripada hidup, dan memberi rezki akan barang siapa yang Kau kehendaki dengan tiada hisabnya itu.

Kemudian daripada itu, disampaikan salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kehadirat nabi kita Muhammad SAW. Keluarganya yang thahirin thayibin dan sahabat-sahabatnya yang shalihin muttaqin.

Pada seketika ini hendaklah diperbuat atau hendak menyusun untuk memberitahukan seluruh pelosok negeri dan seluruh pelosok bumi tentang adat resam Melayu yang mungkin sebenarnya sudah banyak diperbuat orang akan dia. Yakni, berkaitan dengan berbagai hal hidup dan kehidupan Orang Melayu dengan segala kelaku-perangainya dan lagak ragam yang kemudiannya melahirkan kepada kebiasaan, adat-istiadat dan seni budayanya.

Apa-apa yang telah sedia ada, atau berita-berita, atau kitab-kitab yang dikarang sebelum atau mungkin bersamaan dengan ini bahkan mungkin kepada yang sesudahnya kelak, patutlah diberikan laluan dan penghargaan yang setinggi-tingginya. Karena daripadanya diperdapat berbagai pengetahuan, penambah seri dan harumnya di dalam majelis kehidupan dengan bermacam ragam bunga rampai. Selain itu, kitab-kitab yang telah dikarang ataupun disusun tersebut dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, tetaplah ianya mempunyai maksud yang terkandung untuk memberikan yang terbaik bagi hidup dan kehidupan ini. Pada intinya hendak memberikan sesuatu yang berfaedah dan kemaslahatan kepada orang banyak. Lebih-lebih kitab yang sebelumnya diperbuat oleh para cerdik pandai, budayawan dan ilmuwan dengan segala pengetahuannya dan disampaikan pula dengan bahasa yang sangatlah baiknya. Sehinggakan menambah tingginya nilai-nilai yang terkandung dalam kitab tersebut. Maka tiadalah mengherankan jika kesemuanya itu menjadi bahan penambah sekaliannya melengkapkan sehingga ianya dapat terlihat seperti sekarang ini.

Sememangnyalah diakui, bahwasanya banyak ataupun paling sedikit tetap ada, di antara adat resam ataupun kebiasaan-kebiasaan yang sudah dianggap mentradisi pada dahulunya itu, kemudiannya sesuai dengan perkembangan dan perubahan zaman; tiadalah diikuti lagi atau dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari, maupun dalam acara-acara tertentu. Sebab-sebab daripada tiada diikuti dan dilaksanakan, kemungkinan dikarenakan tidak bersesuaian lagi dengan alam dan zamannya (termasuk kepada anggapan), atau mungkin juga di antara dari adat resam itu dianggap lebih banyak kepada mengeluarkan ongkos atau biaya yang besar dan dianggap sebagai kerja yang mengade-ade dan hanya sebagai pemubaziran. Malahan ada pula yang lebih teruk dan menceme'eh kepada orang yang masih mengikut kepada adat resam itu, dikatakan adalah kerje merapek, kerje tak masuk akal, dan masih banyak lagi perkataan yang dilontarkan.

Akan halnya yang sedemikian itu tiadalah pula boleh dipersalah-salahkan. Karena terkadang terdapatlah beberapa pemahaman dan pemikiran yang berbeda antara satu kepada lainnya terhadap adat resam yang telah sedia ada itu. Apatah lagi di zaman seperti sekarang ini (tulisan ini diposting tahun 2008), ketika semuanya serba maju dan canggih yang sebenarnya mempunyai pengaruh terhadap pikiran dan jiwa seseorang, yang bukan tidak mungkin, sesuatu terpinggirkan dan tidak diindahkan lagi. Walaupun begitu, dianya jangan mematahkan semangat. Sebab, adat resam, adat istiadat yang kesemuanya bermuara kepada "Budaya" budidayanya Orang Melayu, adalah sesuatu yang sangat tinggi, mempunyai nilai-nilai hakiki dari kehidupan itu sendiri, sehingga kita bersepakat dan berkeyakinan bahwa semaju-majunya orang, selahi ianya manusia, dirinya tidak akan pernah terlepas dengan namanya adat istiadat ataupun budayanya.

Adapun masa atau waktu yang dipergunakan sememangnyalah sangat lama untuk menyusun kitab "butang emas" ini yakni sejak awal tahun 1990. Hal ini lebih dikarenakan tingkat kesulitan yang dihadapi dari segi data ataupun bahan-bahan yang diperlukan. Apatah lagi wilayah Kepulauan Riau secara geografis yang terdiri dari pulau-pulau dan perairan yang luas, sehingga banyak memakan masa, disamping itu juga mencari bahan sampai ke wilyah lainnya di Indonesia, seperti di beberapa kabupaten lain di Propinsi Riau, Medan (Teja), Jambi dan Pontianak (Amir). Kemudian juga mencari bahan-bahan yang diperlukan sampai ke negeri jiran seperti Malaysia, Singapura, Brunei dan Thailand, paling tidaknya sebagai pembanding.

Mengingat tenggat waktu yang begitu lama, barulah kitab ini dapat disusun dan diterbitkan, banyaklah di antaranya orang-orang tua yang menjadi sandaran tempat bertanya dan meminta ilmu telah berpulang ke rahmatullah, seperti Allahyarham Ayahanda R. Rajak, Ayahanda/Kekanda Mochtar Zam, Kekanda R. Hamzah Yunus, Tok Muhammadin Awang dan Kekanda Drs. Imran Nuh; Innalillahi wainna ilaihi roji'un. Maka sehingga tiada berkesempatan untuk menyaksikan sampai kepada selesainya pekerjaan menyusun kitab ini. Orang-orang tua ini yang dahulunya menjadi sandaran tempat bertanya, meminta ilmu, mengumpulkan bahan-bahan dengan wawancara ataupun perbualan mengenai adat resam Melayu.

Sebagaimana yang telah diungkapkan bahwa menyusun kitab ini sebenarnya telah direncanakan cukuplah lama (gagasan untuk menyusun kitab ini oleh MOCHTAR ZAM), yakni pada awal-awal tahun '90 (hingga tanpa disadari telah terbit pula kitab-kitab yang hampir sama, tetapi tidaklah melemahkan semangat, melainkan sangat berterima kasih karena dengan terbitnya kitab-kitab tersebut dapat menambah pengetahuan penyusun) yang telah melakukan pengumpulan dan penelitian walaupun ianya dilakukan tidak secara berurutan, kemudian kebetulan pula pada tahun 1995 saudara Amiruddin bersama bapak Goris Kraf mengadakan penelitian dan pemetaan bahasa. Kesempatan itu dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk mengadakan wawancara dengan berbagai masyarakat dan kalangan lainnya. Bersamaan dengan itu hampirlah kepada kami saudara Teha Al-Habd dengan keinginan yang sama untuk ikut bersebati dalam penyusunan kitab ini dengan muatan ungkapan tradisi dan pengetahuannya. Akan tetapi setelah sekian lama, barulah kata keinginan terkota dalam meluahkan apa-apa yang telah terpendam sekian lama di dalam kitab ini, alhamdulillah.

Syahdan, itulah mutiara pemikiran yang hendak disampaikan sebagai pembuka kata sekaliannya mengkota kata hingga terkota kitab ini yang kami namakan "BUTANG EMAS" WARISAN BUDAYA MELAYU KEPULAUAN RIAU.
Selain daripada itu dengan sangat sukanya dan hati yang ikhlas mengucapkan sekalung budi terimakasih yang tiada terhingga kepada Ayahanda R. Rajak, Ayahanda/Kekanda Mochtar Zam, demikian juga halnya dengan Kekanda R. Hamzah Yunus, Tok Muhammadin Awang dan Kekanda Drs. Imran Nuh yang kesemuanya pada masa penyusunan kitab ini telah berpulang ke rahmatullah, akan tetapi sebelumnya ketika semasa hidupnya telah banyak memberikan butir-butir pengetahuan dan pengalamannya memberikan tunjuk ajar mengenai adat resam yang berlaku bagi orang Melayu. Kemudian daripada itu juga diicapkan terimakasih kepada Bapak Drs. Daud Kadir (saat blog ini ditulis, beliau telah berpulang ke rahmatullah di bulan Juni 2008; Innalillahi wainna ilaihi roji'un), Bapak Abdul Razak sebagai tokoh masyarakat dan budayawan, kemudian kepada Tok Keling dan Bunda R. Chatijah; semogalah apa-apa yang telah menjadi manikam atau butang emas kepada alam dan keturunan, mendapat pahala dan balasan yang setimpal dari Allah SWT.

Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya juga kami sampaikan kepada semua sahabat antara lain R. Malik, R.M. Yamin, dan beberapa kalangan yang sayangnya tiada dapat disebutkan satu-persatu, juga kepada Musium Kandil Riau (dahulunya), Kepada Kantor Jarahnitra Tanjungpinang serta kepada Balai Maklumat Riau di Pulau Penyengat. Kemudian terkhusus kepada Kekanda (Mas) Machzumi Dawood yang dengan telaga ilmu dan jiwanya terus mengaliri di ladang-ladang hatiku. Juga kepada anaknda Mukhtar yang telah bersusah payah membantu untuk membuatkan ilustrasi dan reka bentuk di dakam kitab ini, juga kepada Mbak Dwi Stiati dan Evawarni yang dengan kesabaran serta penuh dedikasi memberikan/mencarikan bahan-bahan yang diperlukan sebagai bahan untuk kitab ini. Segalanya dan semuanya, hanya Allah SWT jua yang akan membalas kebaikan tersebut.
Amin!

*****

Adat resam ataupun disebut juga dengan adat istiadat merupakan bahagian dari kebudayaan, sementara kebudayaan itu sendiri merupakan peristiwa penting dan utama dalam sejarah dari kehidupan manusia. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa manusia dapat sampai pada aras modern seperti ini, dikarenakan sejak dini manusia diperkenalkan dengan kebudayaan.

Kebudayaan merupakan dasar gerak kehidupan, oleh karenanya tiadalah mengherankan, kalau kemudiannya kebudayaan menjadi tempat bagi orang untuk mengenal sesuatu. Dari mulai pembagian fase kehidupan secara luas sampai kepada suatu komunitas masyarakat, bahkan sampai kepada kehidupan keluarga dan pribadi. Dengan demikian kebudayaan merupakan implementasi dari seperangkat pemahaman, harapan dan sekaligus kehendak manusia dalam membangun dirinya. Dengan kata lain, kebudayaan merupakan sebuah sisi yang paling adil dari eksistensi manusia. Kebudayaan tidak disembunyikan, ianya terdedah secara alami dan menyiapkan sebuah jalan yang terbentang dan mempersilakan orang untuk masuk kedalamnya.

Ketinggian kebudayaan sebuah negeri lebih kepada nilai dan penetapan identitasnya, demikian juga halnya kebudayaan yang ada di Indonesia yang begitu banyak dan beragam, akan tetapi justru dengan keberagaman yang ada menjadikannya sebagai bunga rampai yang indah dan berbau harum sekaligus meninggikan kepada nilai budaya itu sendiri. Tidaklah terkecuali dengan kebudayaan Orang Melayu.

Kebudayaan Melayu yang hampir menjadi "batang terandam" karena pengaruh perkembangan zaman, haruslah ianya diangkat kembali oleh orang-orang Melayu khususnya, dan orang-orang Indonesia pada umumnya. Dengan memperkenalkan adat resam Melayu kepada seluruh pelosok negeri dan seluruh pelosok dunia dengan harapan bahwa sisi lahiriah dan filosofis budaya Melayu dapat terus berkembang, selain itu juga bahwa adat resam Melayu adalah sebagai identitas atau jati diri orang Melayu sebagai sumber nilai kehidupan orang-orang Melayu itu sendiri.


Sumber :
http://www.butang-emas.net



34 komentar:

  1. maju terus budaya daerah..!

    jangn sampe diambil2 terus

    BalasHapus
  2. kunjungan n sekalian bilang link uda saya add di blogroll list....
    trims yaw....

    BalasHapus
  3. wahhhhh!!! majukan terus budaya kita!!!!..........saya dukung bang atta!!!! saluttttttt!!!!

    BalasHapus
  4. manteeeepppp..
    majukan terus budaya melayu..
    melayu bukan berarti layu.

    BalasHapus
  5. Selamat pagi bang atta...

    Maju terus budaya daerah!!!

    BalasHapus
  6. hidup Melayu...
    saya bangga sebagai anak melayu, mempunyai warisan budaya yang kaya dan banyak.........
    nice artikel bang......

    BalasHapus
  7. butang emas, meski pandi baru baca, pandi sangat mendukung seni/budaya positif yang membuat dampak positif.
    luar biasa..
    teruskanlah..

    BalasHapus
  8. cieehh.. butang emasnya dikeluarin yah.. ehehheeh sekalian promosi nih ye.. tapi pas baca paragraf 13 jadi terharu..

    lanjutkan bang atta!

    BalasHapus
  9. Semoga yang muda-muda (termasuk saya :D) dapat melestarikan budaya ini asalkan tidak bertentangan dangan nilai Agama. Bisa jadi budaya kitalah yang nantinya menjadi sumber pendapatan devisa terbesar dibandingkan yang lainnya bila dikelola dengan baik.

    Jayalah Indonesia!

    BalasHapus
  10. Salut.. Memang ada banyak cara untuk memperkenalkan budaya kita. Ayo, kita lestarikan terus budaya bangsa.

    BalasHapus
  11. yok'ik...kalo bukan kita siapa lagi yg mo ngelestariin budaya leluhur kita bung...tempat gw aja banyak anak muda yg nggak ngerti apa itu blekketepe...nah lho...bung atta ngerti pora blekketepe?

    BalasHapus
  12. wah ensiklopedi budaya riau yah bang.... sippp biar budayanya semakin lestari tidak hilang di telan jaman

    BalasHapus
  13. berkunjung, ditunggu kunjungan baliknya

    BalasHapus
  14. kebudayaan memang rawan dilupakan.
    jangan sampai itu terjadi. lanjut!!!

    BalasHapus
  15. wuih...duowon'e postingan Oom.....

    BalasHapus
  16. ternyata menyusun buku itu tak semudah membalikkan tangan, banyak hal yang berkesan di balik layar, semoga alamarhum semua yang telah mendahului sebelum melihat kitab itu, mendapat ridho allah, dan diselamatkan dalam kuburnya, tahun '90 aku baru lahir Om, hihihi, lama juga ya :), semoga kitabnya sampai ketangan seluruh indonesia, bukan di melayu saja, hehe, sukses selalu buat Om atta, ayo Om, kasih aku satu hihihihi [ngarep :p]

    BalasHapus
  17. Selamat sore bang atta... aku datang lagi...

    BalasHapus
  18. budaya melayu jadi inget laskar pelangi ^^

    BalasHapus
  19. Moga Butang Emas selalu lestari... :-)

    BalasHapus
  20. semoga sukses attaya~~~
    maju terus
    mudah2an riau semakin populer

    BalasHapus
  21. hidup budaya daerah yang memperkaya kebeudayaan nasional

    BalasHapus
  22. baru tahu sekarang nih saya

    BalasHapus
  23. Hmmm.. patutlah beria-ria melestarikan budaya Melayu, tabik! Bang Atta, keturunan keluarga dirajakah?

    BalasHapus
  24. wah.. baru tau sejarahnya di sini saya.
    jaga terus kebudayaan negara indonesia tercinta ini.
    maju terus....

    BalasHapus
  25. sayang aku belum pernah membaca buku itu, tapi yang pasti bdaya daerah memang harus di jaga.

    BalasHapus
  26. bahasanya asli itu ya...

    mantep tenan dan enak dihati, pertama sih agak aneh.. tapi nyaman rasanya.. sememangnyalah..

    sip tenan

    BalasHapus
  27. ternyata budaya Indoesia sangat beragam,,,
    apalagi saya tertarik dengan budaya Melayuu,,
    ada blognya lagi,,
    langsung kesono ahhh

    BalasHapus
  28. ada yang xXx ga Om???? jiahhahh.....
    eits... jgn parno dulu.... itu tuh film acktions yg aktornya botak.... hhehehe.... aku numpang loncing besok ya di MP .... hoohohoho...

    BalasHapus
  29. bagus banget nih bukunya, membahas tentang budaya daerah.

    maju terus budaya daerah indonesia :D

    BalasHapus

Copyright © 2013 attayaya: Butang Emas - Tag buku | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah