16 Desember 2009

Solar Hijau

Solar Hijau = Marine Fuel Oil (MFO) + air (H2O)

M. Hafnan adalah seorang peneliti dari Universitas Trisakti Jakarta Indonesia yang telah melakukan penelitian bersama peneliti Jepang dalam mengembangkan bahan bakan alternatif yang mencampurkan Marine Fuel Oil (MFO) dengan air (H2O). Semula beliau melakukan penelitian ini di Jepang, tetapi kecintaannya terhadap tanah air membuatnya kembali dan melanjutkannya di Indonesia. Tawaran pendapatan yang menggiurkan dan kecanggihan tekhnologi penelitian di Jepang juga tidak membuat beliau tergiur untuk menetap disana.

Walaupun kendala cukup berat, seperti kesulitan mendapatkan bahan baku MFO yang harus diimpor, beliau tetap semangat untuk melakukan penelitian di bawah naungan PT. Impreza Cipta energi.
Tujuan penelitian adalah menemukan formula campuran aditif agar menyatukan solar (MFO) dengan air

Penelitian semacam ini bukanlah hal baru, Pada 1980-an, di Eropa penelitian serupa lebih dulu berhasil mencampur solar dengan air. Bedanya dengan penelitian dan temuan Hafnan adalah : hasil emulsi buatan Eropa tampak serupa (berwarna) susu sehingga sering disebut "bahan bakar susu".

Hafnan dan tim berhasil menemukan :
formula aditif yang membuat hasil akhir campuran solar dan air kembali serupa warna solar, dengan komposisi :
77 persen solar,
8 persen air
15 persen zat aditif

Hafnan menamakan temuannya dengan sebutan SOLAR HIJAU

Ujicoba pada Laboratorium Motor Bakar ITB dan Universitas Indonesia didapati pengurang kadar Nox hingga 42%, Kadar CO berkurang 22,6%, dan kadar opasitas (asam emisi gas buang) berkurang 3,2%. Ujicoba pada mesin sesungguhnya dilakukan pada mesin diesel Pembangkit LIstrik Tenaga Diesel (PLTD) milik PT. PLN (persero) di Sungai Kupang, Kalimantan Selatan.

Hasilnya adalah :
  1. Solar Hijau menghasilkan opasitas (asam emisi gas buang) yang lebih bersih dan tentunya bersahabat dengan lingkungan,
  2. Kinerja Solar Hijau sama dengan kinerja solar biasa,
  3. Tidak adanya penambahan deposit pada ruang bakar,
  4. Tidak terjadi perubahan pada miyak pelumas,
  5. Tidak ada perbedaan pada pengukuran SFC.
  6. Terjadi penghematan bahan bakar 12,5% pada beban mesin 80% (PLN Sungai Kupang biasanya mengonsumsi 15 juta liter solar dengan harga asumsi Rp.5250, maka akan didapat penghematan bahan bakar sekitar 1,8 juta liter/bulan atau sekitar 8 milyar rupiah setiap bulannya).
Solar Hijau dijual dengan harga jauh lebih murah daripada solar biasa untuk industri, apalagi jika Pertamina telah dapat melakukan impor dalam jumlah besar bahan baku MFO. Jika Solar Hijau telah dapat diproduksi massal di dalam negeri, maka harganya bisa lebih murah 33% dari solar industri biasa.

"Bayangkan berapa triliun yang bisa dihemat PLN dalam setahun," ucap M. Hafnan, sang penemu Solar Hijau.

Indocita
Oil and Gas Business and Community
November 2009




46 komentar:

  1. bayangkan jika PLN gak pernah lagi memadamkan listrik... ga ada lagi pemadaman bergilir...
    wuuuah....seandainya....

    BalasHapus
  2. Nice info bang... Besar juga manfaat solar hijau itu ya bang...sudah sepantasnya dimanfaatkan buat energi...

    BalasHapus
  3. Two Thumbs untuk M Hafnan..
    Ayo bangsa Indonesia tunjukkan nasionalisme mu..

    saya follow mas..

    BalasHapus
  4. Wah!!! Pertamina N PLN mesti coba ntu keknya... kan bs lebih menghemat, dll-lah pokoknya..

    BalasHapus
  5. waahh selain penghematan, solar hijau juga mengurangi dampak global warming tuh om sepertinyaa heheheee. keren bangeett beliau yaa!!

    BalasHapus
  6. inovasi yang bagus bang, semoga benar2 bisa diterapkan... :)

    BalasHapus
  7. keren banget penelitian itu
    semoga bisa dilanjutkan dan penelitiannya berguna buat indo ^^

    BalasHapus
  8. Kabar gembira nih, mudah2an bisa segera diproduksi massal...

    BalasHapus
  9. bener2 mantap ya bang...!
    salut..salut..

    BalasHapus
  10. mantep nih... bahan bakar alternatif yang baru.
    Cuman mungkin zat aditifnya yang susah diperoleh.

    Biasanya yang dipelajari di Kimia bahan pengemulsi antara air dan minyak biasa dipakai cairan detergen..
    Apa mungkin yah??

    BalasHapus
  11. wah semoga cepet dikembangkan yah.... biar bumi semakin sehat....

    BalasHapus
  12. Semoga bisa segera diwujudkan secara massif ya.

    BalasHapus
  13. pa kabar mas atta, lama tidak bersua...lama absen saya mas...he...

    wah...wah...dengan adanya penelitian ini, semoga akan menjadi terobosan untuk udara yang lebih bersih ya mas...

    BalasHapus
  14. biar ga ada pemadaman bergilir lgi yakkk

    BalasHapus
  15. seandainya pemerintah bisa memfasilitasi penemuan2 dari para peneliti kita seperti M.Hafnan ini, pasti sudah banyak perubahan2 sosial yang bisa dibuat untuk kemaslahatan umat ya bang :)

    BalasHapus
  16. sungguh temuan yang membanggakan,,, dan membakar semangat untuk bisa berkarya demi bangsa,,,

    Salam Hangat Selalu

    BalasHapus
  17. kunjungan menjelang sore, sepertinya ini kunjungan perdana,,

    salam kenal
    dan salam hangat selalu

    BalasHapus
  18. Yup semoga anak2 negri ini, bisa memajukan bangsa kita dan terutama pemerintah harus mendukung hal2 seperti ini.

    BalasHapus
  19. maju terus dan berkembang... memang energy di alam ini masih banyak yang belum explored n dimanfaatkan, nice info

    BalasHapus
  20. wuah top banget tuh.. patut di tiru...

    BalasHapus
  21. WOOOWW!! 30% jumlah yang sangat signifikan sekali itu..! saya dikasih 10%nya aja juga mau kok.. hehe

    oh iya bang atta kasih tips blogvertise doonkk!!!

    BalasHapus
  22. Salut dg bapak satu ini, konsisten dg 'hijau'nya. semoga segera diproduksi masal..

    BalasHapus
  23. baRu dengar nich kLo trnYata aDa soLar hijau...
    thx ya dah sHare...

    BalasHapus
  24. waaahh,, hebat neehh... nemuin inovasi baru yang menguntungkan... keren dah!!

    BalasHapus
  25. Wah, penelitian untuk meniptakan biogas dan bioenergi harus disegerakan nih agar bumi yg semakin panas ini tidak keburu meledak. Indonesia, kapan akan mulai membangun sarana dan prasarana untuk produksi bioenergi?

    BalasHapus
  26. Semoga penemuan ini nggak mentok/berhenti di sini aja, bang. Diteruskan ke masyarakat juga, ke perusahaan2 semacam pertamina ma pln juga... dst... dst... kalo emang ada yang lebih baik dari solar biasa, kenapa nggak dimanfaatkan sebaik2nya? Iya nggak? :D

    BalasHapus
  27. menunggu action pemerintah. blogger bisa nyumbang nih :D perlu kah gerakan 1 juta blogger dukung solar hijau? :P

    BalasHapus
  28. wah mudah2an..gk pemadaman bergilir lg jika terwujud realisasi secara massalnya...

    BalasHapus
  29. ternyata ilmuwan kita jago-jago yan brother

    BalasHapus
  30. Ngikut komen Bang,

    Tanya kenapa banyak peneliti hijrah ke negri luar? Tentu saja alasan pertama adalah karena PENGHARGAAN ILMU dan BIDANG YANG LEBIH SPESIFIK bisa peneliti dapatkan disini. FINANCIAL adalah alasan nomor SERIBU.

    Dihargainya ilmu para peneliti dan dukungan kuat dari instansi2 terkait menjadikan para peneliti tidak lagi berpikir tentang financial karena peneliti diluar negri mendapatkan 'GAJI' yang sepadan dengan gaji anggota DPR di Indonesia.

    Berapa uang yang sudah di korupsi untuk penelitian oleh para 'tengkulak' di Indonesia? terlalu banyak. Dana yang seharusnya untuk menyandang penelitian sudah lebih dulu di 'georogoti'. Alhasil penelitian pun dilakukan ala kadarnya. Padahal materi penelitian lebih memadai di Indonesia tapi kenapa tidak terasa berkualitas untuk dijadikan penelitian?

    Tentunya para peneliti akan kembali ke Indonesia setelah berhasil 'mencuri' ilmu 'kedisiplinan' dari luar negri. Pertanyaannya adalah apakah ILMU itu akan sepadan dan menemukan BIDANGNYA di Indonesia? Sebab di Indonesia belum ada wadah yang spesifik dan sepadan untuk para peneliti. Dan para peneliti mempunyai kedisiplinan yang konkrit dan mutlak. Apakah ini bisa di terapkan di Indonesia?

    So buntut2nya mereka akan ditawari pekerjaan menjadi 'BOS' para 'tengkulak' yang bukan bidangnya.

    Anyway, siapa yang akan mengambil keuntungan dari hasil penemuannya Mr Hafnan? Tentu saja kembali ke para 'tengkulak'.

    Be wise,
    JS.Com

    BalasHapus
  31. makasih bang infonya, moga solar hijau bisa menghemat pln ya...

    BalasHapus
  32. Energi harus lebih RAMAH Lingkungan.....

    BalasHapus
  33. yep, smoga risetnya sukses, jd ada produk yg lbh murah dst bs hemat belanja negara (PLN dll). Penghematan bs alokasi utk pembangunan lain. thanks

    BalasHapus
  34. beautiful.
    blog spongebob http://oke-sexoke.blogspot.com/

    BalasHapus
  35. hmm solar ijo..napa ga ada solar biru yah??

    BalasHapus
  36. masih bisa ngeplud gag :D heheh

    BalasHapus
  37. kapan yah ada solar hijau di indonesia???

    go greenn

    BalasHapus
  38. *oot
    eh eh ada geishaa..hihih i love geisha songs :P cinta banget dah ampe di karaokean nyanyi itu hihihih

    BalasHapus
  39. wakh nanti bakalan mahal yah solar hijau?

    BalasHapus
  40. apapun yang terjadi
    semoga bermanfaat

    BalasHapus
  41. Nice info δƍп SOLAR HIJAU...
    Ïπï kami jg sedang melakukan penelitian zat aditif yg mjd katalis pembuatan SOLAR SUSU dan BENSIN SUSU.
    Sudah berhasil menyatukan AIR dg SOLAR maupun AIR dg BENSIN.
    Sudah kami terapkan pd sepeda motor HONDA Vario, tdk ada mslh δƍп kendaraan tsb.
    Ïπï kami kembangkan lagi mjd BENSIN BIRU sebening premium.
    Kalau smua sdh slesai sempurna, Αќαи kami bagikan teman2 smua Juga.
    Pembuatannya sgt sederhana, mudah & manual.
    Ada filmnya jg saat2 proses pembuatan dan uji coba durasi 20an menit.
    Suatu saat pasti Αќαи kami unggah Ð̀́ī YOUTUBE.
    Kami berharap penemuan2 kami nantinyapun ϐïśα mjd kan harga BBM Negeri Ïπï murah & rakyat kecil bisa menikmati kemakmuran merata.
    Sukses u/ negeri Ïπï.

    BalasHapus

Copyright © 2013 attayaya: Solar Hijau | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah