SEJARAH PECINAN BANDUNG
postingan ini sebagai oleh-oleh dari Bandung, sebelumnya aku kehilangan data untuk postingan tentang Sejarah Pecinan Makassar huaaaaaaa.....
*****
Menurut catatan sejarah, bangsa Tionghoa pertama kali datang ke Indonesia melalui ekspedisi Laksamana Haji Muhammad Cheng Hoo (1405-1433). Ketika itu, Cheng Hoo berkeliling dunia untuk membuka jalur sutra dan keramik. Cheng Hoo pun pernah menginjakkan kaki di pulau Jawa. Sejak ekspedisi itu, berangsur-angsur bangsa Tionghoa berdatangan dan membangun pecinan di beberapa daerah di pulau Jawa.
Kuncen Bandung, Haryoto Kunto dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (Granesia, 1984), menuturkan bahwa sebagian warga Tionghoa di Pulau Jawa pindah ke Bandung ketika terjadi perang Diponegoro (1825). Setiba di Bandung, sebagian besar tinggal di kampung Suniaraja dan sekitar Jalan Pecinan lama. Mereka menetap dan mencari nafkah disana.
Tahun 1885 mereka mulai menyebar ke Jln. Kelenteng. Pecinan di Jln. Kelenteng di tandai dengan pembangunan Vihara Satya Budhi. Menurut keterangan pengurus Vihara Satya Budhi, pecinan di Bandung seperti rumah-rumah toko pada umumnya, tak ada asesoris khusus seperti pecinan di daerah lain di Indonesia. Warganya pun beragam, tak hanya keturunan Tionghoa.
Pecinan berkembang pesat disekitar Pasar Baru sejak 1905. Umumnya warga Tionghoa menjadi pedagang. Salah satunya, Tan Sioe How yang mendirikan kios jamu ”Babah Kuya” di Jln. Belakang Pasar, tahun 1910. Bisa dikatakan, toko Babah Kuya merupakan salah satu perintis toko di kawasan itu. Selain Babah Kuya, warga Tionghoa lain pun banyak yang mendirikan kios di wilayah ini.
Budayawan Tionghoa, Drs. Soeria Disastra, mengatakan bahwa pecinan memang ada, tapi tidak ada batasan. Maksudnya, hubungan warga Tionghoa dan Pribumi sekitar abad ke-19 dekat sekali. Akan tetapi, Belanda tidak senang melihat kedekatan itu. Belanda pun memisahkan Tionghoa dan Pribumi dari segi ekonomi. Warga Tionghoa dijadikan perantara perekonomian bangsa Eropa dan pribumi. Menjual rempah-rempah dari pribumi ke Belanda untuk di ekspor. Lama kelamaan kedekatan itu pun memudar.
Menurut Sie Tjoe Liong (75), generasi keempat pemilik kios ”Babah Kuya”, kawasan pecinan di Bandung terbentuk karena faktor politik. Warga pecinan tidak diizinkan berbaur dengan pribumi karna kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang memisahkan pemukiman orang asing dengan pribumi. Kebijakan itu tidak hanya untuk warga Tionghoa tetapi juga untuk Arab dan Eropa.
Selain di Pasar Baru, kawasan pecinan juga tumbuh di Suniaraja dan Citepus tahun 1914. setiap pecinan dipimpin oleh Wijkmeester. Wijkmeester untuk daerah Suniaraja adalah Thung Pek Koey, sedangkan untuk daerah citepus Tan Nyim Coy. Wijkmeester di pimpin oleh seorang Luitennant der Chineeschen. Di Bandung, Luitennant-nya adalah Tan Djoen Liong (H. Buning, ”Maleische Almanak”, 1914).
Para pemimpin Tionghoa itu diabadikan di beberapa tempat misalnya di sekitar jalan Chinees-Wijk Citepus, ada pula Gang Goan Ann di Andir dan Jap Lun.
Sie Tjoe Liong menjelaskan, ketika peristiwa Bandung Lautan Api (1946). Kios-kios di Pasar Baru dibakar tentara Belanda. Wilayah Bandung terpisah menjadi bagian utara dan selatan. Kedua wilayah dibatasi rel kereta api yang membujur dari Cimahi hingga Kiara Condong. Wilayah utara dikuasai Belanda, sedangkan selatan oleh pribumi dan warga asing.
Akibat peristiwa itu, warga Tionghoa mengungsi ke kawasan Tegalega, Kosambi, Sudirman, dan Cimindi. Dengan demikian, dari Pasar Baru, kawasan pecinan meluas ke daerah-daerah tersebut. Warga Tionghoa dan pribumi pun bersatu kembali.
Belanda menyebut kawasan ini Groote Post Weg. Pada masa pemerintahan Orde Lama (1945-1968), pemerintah membatasi bidang ekonomi dan politik. Akan tetapi, menurut Soeria Disastra, dari segi kebudayaan pemerintah membuka pintu lebar-lebar. Lain lagi dengan pemerintahan orde baru (1968-1998), warfa Tionghoa mengalami pembatasan di segala bidang, kecuali ekonomi. Lagi-lagi, jurang pemisah itu pun muncul lagi.
Akan tetapi, di Zaman reformasi (1998-2008), kehidupan sudah lebih baik. Kebebasan yang diberikan mencakup hampir di segala bidang. ”pengakuan Imlek sebagai libur nasional adalah hal yang sangat berarti bagi kami,” kata Soeria.
Saat ini, daerah Pecinan di Bandung semakin luas meliputi Jln. Pasar Baru, Jln. ABC, Jln. Banceuy, Jln. Gardu Jati, Jln. Cibadak dan Jln. Pecinan Bandung. Namun, Sie Tjoe Liong berpesan agar warga pribumi dan Tionghoa tetap akur.
”Sekarang mah ga ada pecinan teh. Sudah berbaur. Interaksi antara warga Tionghoa dan pribumi telah berlangsung lama. Kita adalah bangsa Indonesia,” kata dia.
postingan ini sebagai oleh-oleh dari Bandung, sebelumnya aku kehilangan data untuk postingan tentang Sejarah Pecinan Makassar huaaaaaaa.....
*****
Menurut catatan sejarah, bangsa Tionghoa pertama kali datang ke Indonesia melalui ekspedisi Laksamana Haji Muhammad Cheng Hoo (1405-1433). Ketika itu, Cheng Hoo berkeliling dunia untuk membuka jalur sutra dan keramik. Cheng Hoo pun pernah menginjakkan kaki di pulau Jawa. Sejak ekspedisi itu, berangsur-angsur bangsa Tionghoa berdatangan dan membangun pecinan di beberapa daerah di pulau Jawa.
Kuncen Bandung, Haryoto Kunto dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (Granesia, 1984), menuturkan bahwa sebagian warga Tionghoa di Pulau Jawa pindah ke Bandung ketika terjadi perang Diponegoro (1825). Setiba di Bandung, sebagian besar tinggal di kampung Suniaraja dan sekitar Jalan Pecinan lama. Mereka menetap dan mencari nafkah disana.
Tahun 1885 mereka mulai menyebar ke Jln. Kelenteng. Pecinan di Jln. Kelenteng di tandai dengan pembangunan Vihara Satya Budhi. Menurut keterangan pengurus Vihara Satya Budhi, pecinan di Bandung seperti rumah-rumah toko pada umumnya, tak ada asesoris khusus seperti pecinan di daerah lain di Indonesia. Warganya pun beragam, tak hanya keturunan Tionghoa.
Pecinan berkembang pesat disekitar Pasar Baru sejak 1905. Umumnya warga Tionghoa menjadi pedagang. Salah satunya, Tan Sioe How yang mendirikan kios jamu ”Babah Kuya” di Jln. Belakang Pasar, tahun 1910. Bisa dikatakan, toko Babah Kuya merupakan salah satu perintis toko di kawasan itu. Selain Babah Kuya, warga Tionghoa lain pun banyak yang mendirikan kios di wilayah ini.
Budayawan Tionghoa, Drs. Soeria Disastra, mengatakan bahwa pecinan memang ada, tapi tidak ada batasan. Maksudnya, hubungan warga Tionghoa dan Pribumi sekitar abad ke-19 dekat sekali. Akan tetapi, Belanda tidak senang melihat kedekatan itu. Belanda pun memisahkan Tionghoa dan Pribumi dari segi ekonomi. Warga Tionghoa dijadikan perantara perekonomian bangsa Eropa dan pribumi. Menjual rempah-rempah dari pribumi ke Belanda untuk di ekspor. Lama kelamaan kedekatan itu pun memudar.
Menurut Sie Tjoe Liong (75), generasi keempat pemilik kios ”Babah Kuya”, kawasan pecinan di Bandung terbentuk karena faktor politik. Warga pecinan tidak diizinkan berbaur dengan pribumi karna kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang memisahkan pemukiman orang asing dengan pribumi. Kebijakan itu tidak hanya untuk warga Tionghoa tetapi juga untuk Arab dan Eropa.
Selain di Pasar Baru, kawasan pecinan juga tumbuh di Suniaraja dan Citepus tahun 1914. setiap pecinan dipimpin oleh Wijkmeester. Wijkmeester untuk daerah Suniaraja adalah Thung Pek Koey, sedangkan untuk daerah citepus Tan Nyim Coy. Wijkmeester di pimpin oleh seorang Luitennant der Chineeschen. Di Bandung, Luitennant-nya adalah Tan Djoen Liong (H. Buning, ”Maleische Almanak”, 1914).
Para pemimpin Tionghoa itu diabadikan di beberapa tempat misalnya di sekitar jalan Chinees-Wijk Citepus, ada pula Gang Goan Ann di Andir dan Jap Lun.
Sie Tjoe Liong menjelaskan, ketika peristiwa Bandung Lautan Api (1946). Kios-kios di Pasar Baru dibakar tentara Belanda. Wilayah Bandung terpisah menjadi bagian utara dan selatan. Kedua wilayah dibatasi rel kereta api yang membujur dari Cimahi hingga Kiara Condong. Wilayah utara dikuasai Belanda, sedangkan selatan oleh pribumi dan warga asing.
Akibat peristiwa itu, warga Tionghoa mengungsi ke kawasan Tegalega, Kosambi, Sudirman, dan Cimindi. Dengan demikian, dari Pasar Baru, kawasan pecinan meluas ke daerah-daerah tersebut. Warga Tionghoa dan pribumi pun bersatu kembali.
Belanda menyebut kawasan ini Groote Post Weg. Pada masa pemerintahan Orde Lama (1945-1968), pemerintah membatasi bidang ekonomi dan politik. Akan tetapi, menurut Soeria Disastra, dari segi kebudayaan pemerintah membuka pintu lebar-lebar. Lain lagi dengan pemerintahan orde baru (1968-1998), warfa Tionghoa mengalami pembatasan di segala bidang, kecuali ekonomi. Lagi-lagi, jurang pemisah itu pun muncul lagi.
Akan tetapi, di Zaman reformasi (1998-2008), kehidupan sudah lebih baik. Kebebasan yang diberikan mencakup hampir di segala bidang. ”pengakuan Imlek sebagai libur nasional adalah hal yang sangat berarti bagi kami,” kata Soeria.
Saat ini, daerah Pecinan di Bandung semakin luas meliputi Jln. Pasar Baru, Jln. ABC, Jln. Banceuy, Jln. Gardu Jati, Jln. Cibadak dan Jln. Pecinan Bandung. Namun, Sie Tjoe Liong berpesan agar warga pribumi dan Tionghoa tetap akur.
”Sekarang mah ga ada pecinan teh. Sudah berbaur. Interaksi antara warga Tionghoa dan pribumi telah berlangsung lama. Kita adalah bangsa Indonesia,” kata dia.
Sumber :
KALAWARTA
Berita Komunitas Kota Baru Parahyangan
Edisi Februari 2010
KALAWARTA
Berita Komunitas Kota Baru Parahyangan
Edisi Februari 2010



50 komentar:
Luarbiasa.. bagus-bagus.. interesting.. detil banget.. apa lagi yach.. pertamax.. he.. he..
(maaf) izin mengamankan KEDUA dulu. Boleh kan?!
Komplit banget, Bang sejarahnya. Hampir disemua kota di kawasan pesisir utara jawa mempunyai daerah pecinan...
wah Om... dulu waktu sekolah aku kurang suka ama pelajaran sejarah...
tapi kenapa sekarang tiap bw dan ada tentang sejarah jadi menarik yah...
apa karena g perlu dihafal yah Om...
*garuk2 dengkul*
met pagiiiiiii Om Atta
met berhari jum'aaaat have a nice day ^^
Pecinan di Bandung tidak semencolok Pecinan di Jakarta atau Surabaya. Mungkin karena pembaurannya dengan warga Sunda cukup kental. Tidak tampak ornamen Cina di bagian depan perumahan kaum Tionghoa. Harus berinteraksi dulu dengan mereka, baru ngeh kalau mereka itu turunan Tionghoa.
wah Om... dulu waktu sekolah aku kurang suka ama pelajaran sejarah...
tapi kenapa sekarang tiap bw dan ada tentang sejarah jadi menarik yah...
apa karena g perlu dihafal yah Om...
*garuk2 dengkul*
met pagiiiiiii Om Atta
met berhari jum'aaaat have a nice day ^^
(maaf) izin mengamankan KETIGA dulu. Boleh kan?!
Sekarang pecinan sudah mulai terbuka dengan masyarakat wilayah sekitar
Jadi tau sejarah dari pecinan bandung...
Bener banget bang, mereka juga termasuk warga indonesia...
wuah... ternyata ceng ho nyampe bandung juga ya.. kirain cuman daerah pesisir jawa doang..
wuaaahhh..sayang banget data sejarah pecinan Makassar nya hilang bang.. :(
btl cina di Jawa Barat gak ada perbedaan kami berbaur,jadi inget masa nganter ponakan dulu
banya warga china yg satu kls kami sama2 nungguin anak msg2 kami pun akrab
makasih bang atas info sejarah pecinannya...moga ini menambah wawasan buat kita semua....
Brkunjung mas atta..,pantesan ya mas, hmpir merata keturunan tionghoa ada menyebar di seluruh indonesia. Jd tau ni sejarahx ..trims yo..;-)
wah makasih banget infonya bang
weew..oleh-oleh dari Bandung ya bang
Kalo sejarah pecinan di Pekanbaru gimana bang ?
jadi pengen tahu juga, ada ga ya
bewe lagi aahhh...eh be er deng (*blog running) :P
Tambah pengalaman nih,,, Mantab Jaya! makasih ya gan...
mentang2 ke bandung, jadi bahas bandung deh.hehee
sekali kali datanglah ke Pontianak bang ...biar bisa lihat pecinan Pontianak yang lebih unik dan bisa di lihat dari semua lini tingkat/strata kehidupan mereka .....
yap, bandung never dies. banyak tempat-tempat yang musti di eksplor plus di kupashabis biar pada tau sejarahnya. he..he..he..
Intinya BHINEKA TUNGGAL IKA...
itu yg dari dulu aku bingung, kenapa disebut pecinan. Padahal disitu ga cuma ada orang cina tapi banya orang pribumi...
ooo jd karena kebijakan hindia belanda to...
setujuuuu.... kami adalah bagian dari negara ini... kami sama cintanya kok dengan negara ini... hehehehehehe...
aku baru tau itu toh ternyata sejarahnya....
chinaTown dimana-mana selalu menarik untuk dilihat ,dibahas dan diperbincangkan, met sore bro
Baru tau nih sejarahnya secara komplit.
makasih Bang.
Mantap bang, ajak dong jalan2nya...
ia atuh jangan marah marahan kayak gitu,,
kan kalau akur lebih menyenangkan..
wkwkwk
kunjungan perdana neh untuk sobat baru
duh, yang baru pulang dari Bandung,oleh2nya mana bang?
I like Bandung So Much
apalagi ITB :)
saya baru tahu tentang sejarah Pecinan Bandung dari tulisan ini,
padahal sudah 26 tahun saya tinggal di Bandung
he he...sudah lama kita tidak membuka sejarah..dan mungkin kita sudah banyak lupa pelajaran sejarah dulu...eh ada yang bicara sejarah...baca-baca bentar.,..
Bandung sih tetangga Cirebon tuh...
tanggong jawab pokoke kok bisa ilang datanya....
Jadi tau nih sejarahnya.suwun
Bangsa tionghoa memang merajalela dan tersebar di dunia ini
Hm.. detilnya...
info yang sangat bermanfaat sobat ..
sebuah bangsa yang besar... dimanapun ada komunitas mereka....salut..
Ow begitu ya awal mulanya.... eh kita belum tukeran link ya Bang? NAnti ane pasang duluan akh...
oalaaahh....
xing ming tai wu lai yung
mai ling khu cing tu pai laaa...
mo lui xing ming haaa...
belajar sejarah ni gan...
serasa di ingatkan kembali dengan sejarah yahh...
jadi tau neh sekarang.. makasih yah
wah aku ngimpi2 pgn ke bandung belom kesampean :(
oleh-oleh yang mantap
gak sia-sia JJ di bandung yah
aku pengin ke bandung lagi deh.... cuma sekali dan bentar dulu kesana.. ngga puas
kayaknya hampir disetiap kota ada peninannya ya bung...di Solo ada kampung bernama mbalong yg isinya warga keturunan n jangan salah kalo semua cina punya toko. dibalong banyak cina yg hidup dibawah garis kemiskinan...
infonya komplit banget, terima kasih ya
Di Kediri juga ada daerah yg sebagian besar penghuninya China, cuman namanya bukan pecinan. Hehehe..saya sendiri dulu sebelum berjilbab sering dikira china juga sih,padahal Jawa asli..
bergerilya subuh-subuh, mengunjungi kawan lama...
bersatulah Indonesia Raya
bagus deh kalo pecinan menganggap dirinya bangsa Indonesia. berbaur... biar gak ada jarak...
emang harus begitu mba elsa
Post a Comment