02 Januari 2010

Deforestasi Hutan

Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.

Deforestasi Hutan merupakan penurunan luas hutan baik secara kualitas dan kuantitas. Deforestasi secara kualitas berupa penurunan ekosistem flora dan fauna yang terdapat pada hutan tersebut. Deforestasi secara kuantitas (sangat jelas) berupa penurunan luas hutan. Dapat disebutkan bahwa Deforestasi adalah perubahan secara permanen dari areal berhutan menjadi tidak berhutan yang diakibatkan oleh kegiatan manusia. Sedangkan Degradasi hutan adalah penurunan kuantitas tutupan hutan dan stok carbon selama periode tertentu yang diakibatkan oleh kegiatan manusia.

Penyebab :
  1. Hak Penguasaan Hutan, dimana lebih dari setengah kawasan hutan Indonesia dialokasikan untuk produksi kayu berdasarkan sistem tebang pilih. Tetapi, banyak perusahaan HPH yang melanggar pola-pola tradisional hak kepemilikan atau hak penggunaan lahan. Kurangnya pengawasan dan akuntabilitas perusahaan menyebabkan pengawasan terhadap pengelolaan hutan menjadi sangat lemah dan lama kelamaan, banyak hutan produksi yang telah dieksploitasi secara berlebihan, bahkan telah berubah menjadi perkebunan.
  2. Hutan tanaman industri telah dipromosikan secara besar-besaran sebagai suatu cara untuk menyediakan pasokan kayu bagi industri pulp yang berkembang pesat di Indonesia, dan cara ini mendatangkan tekanan terhadap hutan alam. Penanaman kayu jenis akasia untuk memenuhi kebutuhan industri pulp tidaklah mengurangi CO2 yang telah meningkat akhir-akhir ini.
  3. Lonjakan pembangunan perkebunan, terutama perkebunan kelapa sawit. Banyak perusahaan yang mengoperasikan konsesi HPH, juga memiliki perkebunan. Hal ini terjadi dimana perusahaan HPH tersebut menebang habis seluruh hutan konsesi dan merubahnya menjadi perkebunan. Padahal seharusnya hutan tersebut diremajakan oleh perusahaan tersebut.
  4. llegal logging (Pembalakan liar) adalah merupakan praktek langsung pada penebangan pohon di kawasan hutan negara secara illegal. Umumnya memang dilakukan oleh masyarakat. Tetapi ini terjadi karena "bujukan" perusahaan pulp atau perusahaan kayu lainnya untuk memenuhi bahan baku perusahaan. Kayu-kayu yang ditebang masyarakt sekitar hutan dibeli oleh perusahaan. Padahal seharusnya perusahaan-perusahaan tersebut meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar dengan bentuk usaha lain, bukan dengan membeli tebangan kayu masyarakat.
  5. Program Transmigrasi yang berlangsung dari tahun 1960-an sampai 1999, yaitu memindahkan penduduk dari Pulau Jawa yang berpenduduk padat ke pulau-pulau lainnya, diperkirakan oleh Departemen Kehutanan membuka lahan hutan hampir 2 juta ha selama keseluruhan periode tersebut. Disamping itu, para petani kecil dan para penanam modal skala kecil yang oportunis juga ikut andil sebagai penyebab deforestasi karena mereka membangun lahan tanaman perkebunan, khususnya kelapa sawit dan coklat, di hutan yang dibuka dengan operasi pembalakan dan perkebunan yang skalanya lebih besar disekitar wilayah yang dibuka untuk transmigrasi. Belakangan ini, transmigrasi "spontan" meningkat, karena penduduk pindah ke tempat yang baru untuk mencari peluang ekonomi yang lebih besar, atau untuk menghindari gangguan sosial dan kekerasan etnis.
  6. Pembakaran secara sengaja oleh pemilik perkebunan skala besar untuk membuka lahan, dan oleh masyarakat lokal untuk memproses pembukaan lahan perkebunan atau kegiatan operasi HPH mengakibatkan kebakaran besar yang tidak terkendali, yang luas dan intensitasnyan semakin meningkat. Lebih dari 5 juta ha hutan terbakar pada tahun 1994 dan 4,6 juta ha hutan lainnya terbakar pada tahun 1997-98. Sebagian dari lahan ini tumbuh kembali menjadi semak belukar, sebagian digunakan oleh para petani skala kecil, tetapi sedikit sekali usaha sistematis yang dilakukan untuk memulihkan tutupan hutan atau mengembangkan pertanian yang produktif.
  7. Konvensi Lahan akibat pertanian tradisional skala kecil dilakukan oleh masyarakat lokal untuk (umumnya) memperluas lahan pertanian. Sedikit berbeda dengan Transmigrasi dimana pembukaan lahan hutan dilakukan pemerintah.



Akibatnya sudah jelas : tidak terolahnya CO2 melalui fotosintesis tanaman yang berlanjut kepada PEMANASAN GLOBAL

Repost date : 9 Februari 2009 02:50
Sehubungan dengan dunia hijau
dari berbagai sumber



39 komentar:

  1. wah baru tau kalo transmigrasi ngrusak neh...

    BalasHapus
  2. Programnya sih sepertinya selalu bener tapi oknumnya yang terlalu serakah dan sering2 prkatiknya gak bener karena juga lemahnya pengawasan dan aparat yang masih bisa dibakar eh.... dibayar maksudna :-)

    BalasHapus
  3. @ suryaden : transmigrasi khan membuka lahan hutan
    @ bdh : yup bener sekali. pengawasan sangat kurang sekaleeee

    BalasHapus
  4. ayo berantas illegal loging! bikin gersang aja tuh.

    BalasHapus
  5. Mungkin transmigrasi bisa lebih ditata dengan baik biar tidak merusak hutan..misalnya dengan menanam pohon2 baru disekitar lingkungan yg ditebang.
    Yang perlu diberantas itu ilegal loging itu..

    BalasHapus
  6. transmigrasinya mungkin bercocok tanam dng cara berpindah2 ya??? bikin ladang terus dibakar tp setelah itu gak dirawat ditinggal begitu aja

    BalasHapus
  7. Kalo hutan terus di eksploitasi bisa besar nie damapk global warming...!

    Untuk semuanya mari kita gerakkan menanam pohon untuk mencegah damapak global warming

    Let's save the earth !

    thx for the review and I'll wait your comment too :D cheer's

    BalasHapus
  8. semoga pada sadar kalo negara kita dah jadi paru paru dunia dengan hutannya,.>!!!

    BalasHapus
  9. entah kenapa saya sangat sebal sekali melihat fotonya.. sebal sekaligus sedih.......... itu parah banget fotonya.. duh......

    BalasHapus
  10. benar kata bunga, bang attayaya punya kreatifitas yg tinggi, sangat peduli dengan lingjungannya,,,hmm kapan bang jadi menteri? ditunggu ya....salam tahun baru, sukses slalu.

    BalasHapus
  11. benar kata bunga, bang attayaya punya kreatifitas yg tinggi, sangat peduli dengan lingjungannya,,,hmm kapan bang jadi menteri? ditunggu ya....salam tahun baru, sukses slalu.

    BalasHapus
  12. selamat taun baru bangg

    deuh..jadi pe-er kita bersama ntuh..gimana tetep menyelamatkan hutan kita..

    BalasHapus
  13. bang atta jadi menteri???hohohohohoh
    sayah jadi penasehat fashion yah bang wwkwkwkkw

    BalasHapus
  14. memang hutan kita seharusnya di jaga bukannya jadi seperti ini.. kita yang jadi generasi harus tetap menjaga lingkungan...

    BalasHapus
  15. Benar sekali bang..pengerusakan hutan sangat berdampak besar , terutama dalam pemanasan global....

    BalasHapus
  16. skrng sich kbnykn org tdk bisa mnjaga keperawanan ank'y pa lg lingkungan....

    BalasHapus
  17. Jadi segala sesuatunya itu ada dampaknya ya, bang. Ada positifnya, tapi nggak kalah besar negatifnya...bahkan negatifnya fatal untuk kelangsungan hidup kita.
    Transmigrasi = buka lahan = hutan2 tandus = pemanasan global pula... hehehe

    *sok tau* :D

    BalasHapus
  18. semoga hutan cepat hijau kembali let's go green

    BalasHapus
  19. blog yang indah.
    ayo join gratis 100% membernya masih sedikit bro.
    http://adepromo.com/?id=via

    BalasHapus
  20. blog yang indah.
    ayo join gratis 100% membernya masih sedikit bro.
    http://adepromo.com/?id=via

    BalasHapus
  21. itu termasuk keserakahan manusia yang tak mau di untung tu om..

    BalasHapus
  22. fenomena transmigrasi memang memerlukan solusi. pemerataan penduduk tersebut memiliki efek samping berkurang dan rusaknya hutan yang ada...
    nice post...
    salam kenal...

    BalasHapus
  23. Lalu....apa yang akan kita lakukan kalau sudah begitu??

    Lalu..... apa yang bakal tersisa dan di nikmati anak cucu kita ??

    Mengenaskan.....

    BalasHapus
  24. Sayang banget di luarnegeri masyarakatnya berlomba lomba membuat penghijauan untuk mengurangi pemanasan global dengan membuat hutan kecil termasuk taman eeeee negeri sendiri hutan malah di babat habis.....

    BalasHapus
  25. Ternyata kayu-2 itu ada yang sudah jadi pintu rumah kita juga...

    BalasHapus
  26. Program pemerintah yang tidak disertai pengawasan terhadap lingkungan yang ketat dan berkesinambungan membuat lahan hutan semakin menyusut,ditambah perusakan hutan oleh sekelompok oknum yang memperkaya diri sendiri dari eksplorasi hutan itu

    BalasHapus
  27. salam sejahtera
    lagi-lagi telah tampak kerusakan akibat ulah manusia
    apa jadinya kalo hutan jadi rusak?
    bisa-bisa masa depan anak cucu kita jadi suram

    BalasHapus
  28. Hijau, aku suka themenya :)

    adakah cara lain agar hutan kita tetap lestari, atau mungkin membuka lahan tapi menanaminya kembali gt, kayak reboisasi, jadi program transmigrasi bisa tetap berjalan :)

    BalasHapus
  29. jadi semakin banyak make kayu, semakin sering merusak huatn , begitu yah Om..
    semoga manusia bisa memanfaatkan hutannya dengan sangat baik.

    aku dulu juga tinggal di hutan loh Om ;)), untung ngga ikut ketebang :D

    BalasHapus
  30. apa krn populasi amnusia terus membludak sehingga membutuhkan tmp baru. konsekwensinya, hutanlah yg di korbankan sbg tmp baru manusia. Slain itu, juga sifat rakus manusia nebang kayu buat duit. Yg sebelnya, hanya segelintir oknum yg ngerusak hutan, tapi akibatnya kita smua yg ngerasain. Dan lbh ironisnya, hanya segelintir dari kita juga yg sadar btp pentingnya hutan dan melawan oknum yg merusak hutan (itupun ga gt ngaruh bgt). banyak dari kita ga peduli sama sekali. ck.....

    BalasHapus
  31. di tempat saya hutan masih banyak, dan saya harap akan selamanya tetap seperti itu.

    follow ya sob...

    BalasHapus
  32. Bang Atta bener-2 konsisten mengangkat masalah lingkungan hidup nih.. Salut..!!

    BalasHapus
  33. kalau hutannya d rusak ky gt, kalau sampai bumi marah siapa yang disalahkan

    BalasHapus
  34. pengelolaan hutan yang harus dilakukan
    bukan dibiarkan hancur babakbelur

    BalasHapus

Copyright © 2013 attayaya: Deforestasi Hutan | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah