13 Mei 2010

Terorisme Ekologi

Dengan melihat besarnya nilai kerugian akibat banjir, longsor, kekeringan, dan pencemaran lingkungan akibat pengrusakan hutan, maka tidak salah kiranya kalau para perusak hutan-penebang liar, pengusaha kayu ilegal dan jaringannya, dimasukkan dalam kategori kejahatan teroris ekologi. Sebagaimana UU Terorisme yang keras untuk memberantas terorisme yang amat mencemaskan keselamatan umat manusia di muka bumi, maka UU Terorisme Ekologi juga harus mengacu pada UU Terorisme sekarang ini.

Kita masih ingat, betapa 3.000-an orang tewas dalam sekejap ketika dua pesawat terbang penumpang sengaja ditabrakan oleh teroris ke menara kembar World Trade Center, New York, 11 September 2001 lalu. Begitu pula 11 Maret 2004 lalu, ketika puluhan bom diledakkan teroris di gerbong kereta api penumpang di Madrid, Spanyol sehingga menewaskan ratusan orang. Kedua tragedi itu dalangnya adalah kaum teroris. Ciri-ciri kejahatannya : menebarkan katakutan, terorisme, dan kematian kepada siapa saja dan di mana saja. Mereka tak peduli korbannya siapa. Yang penting publik dan pemerintah merasa ketakutan dan tujuan mereka tercapai.

Dari gambaran di atas, kita pun bisa mengaitkan para perusak hutan sebagai teroris lingkungan atau ekologi.

Kenapa?

Mereka merusak hutan semena-mena tanpa peduli siapa korban dari perusakan hutan itu. Kerugian yang nilainya amat besar seperti disebutkan di atas sudah merupakan bukti betapa para perusak hutan sebetulnya adalah teroris!

Persoalannya, beranikah pemerintah memperlakukan para perusak hutan sebagai tindak kejahatan terorisme?

Itulah yang terjadi persoalan. Jika para perakit bom yang diringkus Minggu (21/3/2004) di Cimanggis, Jakarta di kategorikan sebagai kejahatan terorisme semestinya, pemerintah pun harus bersikap sama terhadap para penebang liar yang bisa ditemukan di mana-mana. Jangan hanya karena tekanan AS aparat keamanan mau bersikap keras terhadap para teroris “bom”, tapi juga sudah saatnya aparat keamanan bersikap keras terhadap teroris ekologi. Teroris yang kedua ini tingkat bahanya lebih besar ketimbang teroris pertama. Kenapa? Terorisme yang pertama hanya mengarahkan ancamannya kepada kelompok tertentu (meski dampaknya menimbulkan ketakutan publik), sedangkan terorisme yang kedua melakukan ancaman secara tidak disadari kepada publik tanpa pandang bulu. Bila menyembunyikan diri. Itulah sebabnya, terorisme ekologi sebetulnya jauh lebih berbahaya ketimbang terorisme konvensional.

Betul, pemerintah telah menyiapkan Perpu “extra ordinary” untuk mengganjar para teroris hutan itu. Masalahnya, punyakah keberanian pemerintah untuk menerapkan Perpu tersebut secara konsekuen dan eksisten tanpa pandang bulu? Pertanyaan itu perlu dikemukakan kepada pemerintah sendiri, khususnya aparat hukum. Jika kita boleh menilai, kinerja aparat hukum dalam mengatasi kejahatan pencurian kayu selama ini hasilnya jauh dari memuaskan. Tapi itu tidak berarti, kita boleh putus asa. Dilihat dari perspektif ini, Perpu Antipencurian Kayu merupakan langkah berani pemerintah meski baru sebatas hitam di atas putih. Kita tinggal menunggu implementasinya.

Setiap manusia, apa pun jabatan dan pekerjaannya, pasti punya hati nurani dan panggilan jiwa. Melihat kerusakan hutan yang demikian parah di Indonesia, rasanya tidak terlalu sulit untuk menggugah nurani dan jiwa para penegak hukum agar bersikap konsisten dan tegas dalam menindak para teroris lingkungan tersebut. Jika dulu UU khusus Terorisme Ekologi yang bisa dipakai untuk menindak tegas para perusak hutan belum ada, sekarang Perpu Antipencurian Kayu sedikit banyak bisa dipakai sebagai alat hukum untuk melindungi kelestarian ekologi, khususnya hutan tropis Indonesia. Dan kita percaya, implementasi Perpu Antipencurian Kayu bukan merupakan sesuatu yang mustahil apalagi jika mengingat betapa parahnya kerusakan hutan di tanah air yang sangat membahayakan masa depan umat manusia.


Sumber :
GLOBAL WARMING
Banjir dan Tragedi Pembalakan Hutan
Prof. Dr. Hadi Alikodra, et.al
Pengantar Prof. Dr. Emil Salim
Penerbit Nuansa
Cetakan I
Desember 2008



29 komentar:

  1. lebih tepatnya adalah pengkhianat bangsa dan masa depan..
    harus dihukum mati seribu kali...

    BalasHapus
  2. Selamat pagi bang atta...
    Wahhh... pagi-pagi dah bahas teroris... wkwkwk...

    BalasHapus
  3. Lebih bahaya lagi teroris yang dapat tugas mengamankan ikut juga merusak hutan.

    BalasHapus
  4. ah pemerintah gak pernah ngasih perhatian lebih ke lingkungan kita sih

    BalasHapus
  5. Wah, ada teroris disini, siap grak, siapkan senjata... majuuuuuuuuuu.. !
    brantas abis deh sgala mcm bentuk teroris..!

    BalasHapus
  6. Benar bang harus ada yang berani memberantas perusak hutan ...

    BalasHapus
  7. Para perusak lingkungan emang pantas disebut Teroris... Karena dampaknya lebih berbahaya.

    BalasHapus
  8. duh, moga cerahlah esok hari...

    BalasHapus
  9. yah setidaknya minimal kita menanam pohon di rumah kita untuk menghijaukan bumi...

    BalasHapus
  10. pelaku teroris ekologi bagusnya di lindas2 pake balok kayu curiannya

    BalasHapus
  11. teroris emang bejat...bisanya bikin rusak...ayo brantas teroris ampe seakar-akarnya...

    BalasHapus
  12. betul, perusak hutan tak ubahnya teroris

    BalasHapus
  13. Brantas Terroris Lingkungan!!!!! Lingkungan Terancam tuh.... hhehhe

    BalasHapus
  14. betul, seharusnya pemerintah lebih berani memberantas teroris hutan yang sering membuat bencana alam

    BalasHapus
  15. Banyak yang dirugikan jika ekologi tdk seimbang.yang untung yg nebangi hutan.hbs nebangi mereka lari tanpa menghiraukan penghijauan lagi ato apa gt

    BalasHapus
  16. Penghijauan atau penanaman kembali pohon yang sudah ditebangi akan lebih baik demi bumi ini

    BalasHapus
  17. Wow, terorisme ekologi, mantap bang!

    Saya yang berkecimpung di bidang pengairan saja sangat sakit hati dengan pembalakan liar. Efeknya dahsyat bang. Sungai yang menjadi ikon kehidupan kini hanya sebagai penghantar pasir dan sedimen. Itu gara2 kurangnya resapan di daerah hulu yang telah gundul. Ah, sial betul.

    Setuju. Aksi pembalakan harus disamaratakan dengan terorisme. Apa yang kita lakukan terhadap terorisme, seharusnya diterapkan juga bagi pembalak liar. Lingkungan jadi taruhannya men!

    Saya bingung ma pemerintah. Ribuan wacana keluar, ratusan penyuluhan oke, tapi pelaksanaan di lapangan jauh panggang dari api. Jauuuh!

    Kalau mau bumi ini awet, dan anak cucu kita masih mau hidup di atasnya, ngga ada cara lain selain: TEMBAK DI TEMPAT BAGI PEMBALAK LIAR!

    Sory, agak emosi bang ^_^

    BalasHapus
  18. teroris terselubung yah Om...
    harusnya itu juga perlu lebih lebih diperhatikan dan ditanggapi....

    maap Om... baru sempet mampir sekarang ^^

    BalasHapus
  19. setuju...perusak lingkungan sama koruptor di masukkan sebagai golongan teroris!!

    BalasHapus
  20. teroris apapun harus di basmi, biar ga gigit dan bikin gatel ( lah kaya nyamuk wae ) emang iya teroris kan meresahkan dalam bentuk apapun itu heheh.

    BalasHapus
  21. jangan tangkap bang! buka teroris! >,<

    BalasHapus
  22. wih mantap..
    emang negeri kta sedang gonjang ganjing nih..

    BalasHapus
  23. perpu antipencurian kayu itu langkah baru tuh.. tapi nggak tau prakteknya siapa tau melenceng melenceng dikit, tapi tidak apa2 yang penting sudah ada kemajuan yang berarti untuk melestarikan ekosistem..

    BalasHapus
  24. teroris banyak macamnya ya...
    btw bang atta suka VB ga?? aku baru posting tuh

    BalasHapus
  25. semoga pembalakan liar bisa jauh dikurangi

    hutan selamat

    BalasHapus

Copyright © 2013 attayaya: Terorisme Ekologi | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah