07 July 2010

Mangan Ora Mangan Kumpul : Sketsa-sketsa Umar Kayam

Mangan Ora Mangan Kumpul : Sketsa-sketsa Umar Kayam (Kumpuloan kolom dalam harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta dari 12 Mei 1987 s/d 30 Januari 1990) merupakan buku terbitan PT. Pustaka Utama Grafiti - Jakarta. Telah dilakukan beberapa kali cetakan mulai dari Cetakan I Oktober 1990, Cetakan II Maret 1991, Cetakan III Juli 1992. Sedangkan aku memiliki buku Cetakan IV Maret 1993. Buku ini kubeli di toko buku Sari Anggrek di Padang tanggal 21 Februari 1995. Buku ini memiliki sekitar 472 lembar dengan soft-cover.
Dikemas dalam gaya seloroh, nakal dan santai, kumpulan kolom Umar Kayam ini mencuatkan sesuatu yang transendental. Teknik penulisannya pun, uniknya, mengingatkan kita pada Obrolan Pak Besut di RRI Yogyakarta dahulu yang menghadirkan sejumlah tokoh tetap, dan mengikat "alur cerita" dengan warna lokal yang kental.

Jika kemudian warna lokal Jawa yang dipilihnya, agaknya harus dilihat lebih sebagai alat menyampaikan kearifan dalam memandang kehidupan. Baginya, hidup adalah harmoni, dan tidak selalu hitam putih. Komentar Goenawan Muhammad, "Hidu, seperti tersirat dalam tulisan Umar Kayam ini, tidak bisa dilihat secara ekstrem; banyak problem, tapi kita masih bisa selalu betah karena hidup tak pernah jadi proses yang soliter."

Umar Kayam dilahirkan di Ngawi, Jawa Timur, 30 April 1932 dan meninggal di Jakarta 16 Maret 2002. Meraih gelar Ph.D. dari Universitas Cornell, Amerika Serikat tahun 1965, budayawan yang mantan Dirjen RTF, ketua Dewan Kesenian Jakarta, dan Rektor IKJ tershor juga sebagai bintang film spesialis Bung Karno, kolumnis, cerpenis, dan penulis skenario film.




Buku ini berisi sekitar 127 sketsa Umar Kayam. Latar belakang Jawa dengan lokasi Yogyakarta memang menunjuk dan tidak merujuk kepada primordialisme atau bersifat "uber alles" kesukuan. Umar Kayam mengambil latar itu sebagai simbol keberpihakannya pada kearifan dalam memandang hidup yang dalam tulisan itu diwakili oleh tokoh Mr. Rigen & Family sebagai tokoh pembantu rumah tangga atau wong cilik "from Pracimantoro" Gunung Kidul sebagai orang nomor 1 dalam "kitchen cabinet" rumah Pak Ageng yang menjadi tokoh mewakili orang "sugih/priyayi" (kaya) yang kadang dipanggil "ndara/ndoro" oleh Mr. Rigen & Family (mister Rigen dan Nansiyem serta anaknya "thole" Beni Prakosa).

Coba baca satu sketsa dari buku tersebut halaman 90-92 di bawah ini.

MEMBINA BUDAYA WONG CILIK


Kadang-kadang naluri priyayi feodal saya, harus saya akui, memang masih mengalir dengan derasnya di otot-otot saya. Terutama naluri sadis terhadap para kerabat wong cilik. Tentu bukan lagi sadisme pada zaman Amangkurat, tetapi sadisme kecil-kecilan yang cukup membuat Mr. Rigen & family frustrasi tidak keruan. Ah, tentu saja bukan macam sadisme kawan-kawan ndoromas zaman kecil saya yang suka memberi tahu goreng, yang diam-diam mereka penuhi dengan lombok rawit, kepada abdi mereka. Waktu para abdi itu pada blingsatan kepedasan, kawan-kawan ndoromas itu pada tertawa cekakakan dengan nikmatnya. Air mata mereka, para ndoromas itu, tidak kalah deras mengalir dari mata mereka dibanding yang keluar dari mata para batur mereka. Cuma yang satu air mata kegembiraan, yang satu air mata kepedihan. Weh, air mata kok ternyata bisa kontekstual, lho ....

Tidak. Sadisme saya terhadap para anggota kitchen cabinet saya tentu lebih canggih dan modern daripada para ndoromas yang dekaden itu. Misalnya pada Sabtu sore, daripada melihat ketoprak di teve, saya kumpulkan mereka di ruang tengah saya ajak main cerdas tangkas. Tentu saja targetnya mulia, bin ideal. Supaya mereka menjadi batur-batur yang kelak punya wawasan intelektual yang luas. Misalnya, saya akan bertanya: siapakah Sir Isaac Newton itu?

"Sinten, Pak?" tanya Mr. Rigen dengan pandangan bengong.

"Ser Aisaak Nyuten, bento."

"Wah, kita mboten kenal sama Sri Asiah saking Nyutran, itu Pak."

"We, gebleg tenan kowe. Saya cengklong gajimu Rp 100,00 satu minggu."

Muka keluarga itu mulai pucat. Mungkin batin mereka mulai ngunandika, "Majikan saya mulai kumat ini . . . ."

Adapun saya tertawa terkekeh-kekeh.

"Saestu, Iho, Pak. Saya sama Bune ini tidak punya sedulur dengan nama begitu di Nyutran. Atau jangan-jangan Bune?"

"Ora ki Pakne."

Dan Ms. Nansiyem pun menjawab suaminya dengan pandangan yang benar-benar desperate. Habis, Rp 100,00 seminggu. Kalau majikannya kumat dengan cerdas tangkas sadis begini tiap Sabtu sore, sambil mengorbankan ketoprak, harus bayar berapa lagi nanti. Ha, ha, ha, haaa. Saya pun tertawa bagaikan Dursasana, satria dari Banjarjungut itu.

"Ayo, satu pertanyaan lagi, Gen, Yem, Ben! Kalo kali ini tidak bisa lagi cengklong Rp 100,00 satu minggu lagi."

Mereka kelihatan tegang. Mata mereka sedikit mendelik. Saya pun mencari-cari pertanyaan yang muskil tetapi canggih. Mau saya tanyakan urutan Pancasila dan arti-artinya pasti mereka sudah akan mengetahui. Meskipun mereka belum lulus P4 paket satu jam pun, pastilah mereka sudah akan dapat dengan tangkas menjawabnya. Wong Pancasila 'kan asli berakar di bumi kita, termasuk bumi Pracimantara. Jadi, pasti mereka sudah mengenalnya. Saya tidak ikhlas kalau mereka dapat dengan enak menjawab pertanyaan saya. Dan juga itu tidak mendidik!

"Nah, sekarang, Gen, Yem, Ben. Perhatikan. Dengar baik-baik. Jangan ngowoh. Apakah kalian setuju dengan konsep konflik kelas dari Karl Marx?"

Mr. Rigen memang lantas ngowoh betul. Kemudian rambutnya dicabuti.

"Wualah, Paak. Gek siapa lagi orang ituu. Menyerah, Pak. Menyerah saja Bune. Nggak usah dijawab!"

"Heit, kalau menyerah cengklongannya Rp 200,00 seminggu. Saya lebih menghargai orang yang ngawur daripada yang menyerah. Kalau ngawur itu masih ada harapan jadi orang. Kalau belum-belum menyerah mau jadi apa kowe? Cengklong Rp 200,00"

"Mati kita Bune, Ben. Gek berapa saja jumlah denda itu nanti. Habis gaji kita, Pak. Padahal bulan depan kita mau nyadran ke desa."

"Hus, jangan cengeng. Bagaimana kamu bisa jadi batur yang modern dan canggih, kalo belum-belum sudah cengeng begitu?"

Mereka duduk diam. Kekes, kecut hati mereka. Mungkin mereka ngunandika dalam hati: gek tadi malam Pak Ageng mimpi apa kok jadi kumat begini?

"Nah, sekarang pertanyaan satu lagi. Dengar baik-baik. Siapakah President Reagen itu?"

Tiba-tiba dengan sigap Ms. Nansiyem mengacungkan tangannya.

"Lha, nek niku ya Bapake tole, to, Pak!"

"Dapurmu. Aku tanya Reagen. Bukan Rigen sontoloyo. Cengklong lagi!"

Ketiga makhluk batur itu sekarang hanya bisa menundukkan kepala mereka.

"Sekarang benar-benar pertanyaan terakhir. Kalau sampai salah satu dari kalian tidak bisa menjawab aja takon dosa kalian!"

Mereka makin sigap lagi mendengarkan. Penuh konsentrasi dahsyat. Mata mereka kelap-kelip seperti lampu gereja.

"Siapakah Dr. Huxtable itu? Hayo, cepat jawab!"

Mr. Rigen nglokro. Ms. Nansiyem tidak marnpu lagi melolo matanya. Tiba-tiba si setan cilik Beni Prakosa mengacungkan tangannya.

"Saya, tahu, Pak Ageng. Saya tahu." Saya kaget.

"Kamu bener tahu, Le?"

"Iya, itu wong ileng di tipi. Ha, ha, ha . . . ."

Aha, jenius cilik. Akhirnya ada harapan juga pada generasi muda kita. Cerdas tangkas saya bubarkan. Cengklongan, tentu saja, tidak diterapkan. Begitu besar hati saya melihat kecerdasan Beni Prakosa. Sejak itu, setiap hari, saya sediakan sedikitnya satu jam untuk mengedril dia untuk macam-macam. Menghafal sajak-sajak. Baris-berbaris. Upacara bendera. Sajak yang paling dia senangi:

Halo, matahari
Aku di sini
Namaku Beni

Sajak yang paling saya senangi kalau dia deklamasi:
Halo, Pak Ageng
Engkau matahari
Matahari. Matahari, ma-to-ha-riiii ....

17 November 1987


Dari buku inilah aku mengenal jargon :
Maknyuss
Makbeup
dan lain-lain

47 comments:

  1. worship, manteb tenan... hidup wong cilik...

    ReplyDelete
  2. biar kreatif, apa wong cilik mesti "kepepet" dulu yaa...???

    ReplyDelete
  3. Halo, Pak Ageng
    Engkau matahari
    Matahari. Matahari, ma-to-ha-riiii..

    Ha ha.. .jadi kepingin denger dari orangnya langsung gmn dia deklamasi innya.
    Eh bukunya bagus tuh Sob..

    ReplyDelete
  4. bagus nian bukunya bang, tetapi lebih bagus lagi reviewnya mantappp

    ReplyDelete
  5. jadi pingin copas..simpen di note fb...jiahahaha...

    ReplyDelete
  6. selamat pagi pekanbaru, mangan ora mangan asal kumpul demikian pula kami berkumpul ama bang iwan

    ReplyDelete
  7. Salam bahagia
    Mohon izin mamper. Semoga satu hari saya dapat memiliki buku indah itu. Kata-kata 'mangan ora mangan kumpul' mengingatkan saya kepada seorang pelajar Masters yang pernah saya kenali, dari Jember, yang menyatakan orang-orang Jawa amat akrab sesama anggota famili, sehingga soal makanan menjadi perkara sekunder (walau itu maksudnya makanan bukanlah tidak utama), kumpul bersama perkara primer. Saya kagum dengan nilai kehidupan yang indah ini! Saya juga kagum dengan isi entri anda. Semoga dapat terus menikmati yang mendatang.

    ReplyDelete
  8. Nice.. Info Linknya makin subur ya Om

    ReplyDelete
  9. mirip lagu slank makan ga makan asal kumpul ya...

    ReplyDelete
  10. reviewnya asik...duh, jd kangen jogja hehehe...have a nice day...^_^

    ReplyDelete
  11. mangan ora mangan tetep mangan ah :) but nice posting thx

    ReplyDelete
  12. jaman kuliah dulu, aku sering banget bahas Umar Kayam nih...
    termasuk bukunya yang ini

    ReplyDelete
  13. aku belum membaca buku ini,tp kayak nya menarik

    ReplyDelete
  14. sering denger umar kayam dari kakak saya, tp ngga pernh tau sprti apa sih beliau...

    ReplyDelete
  15. kata2 nya unik bertradisi menurut umy,,
    pagi,,
    umy mampir y,,,

    nice post dah

    ReplyDelete
  16. Om Omar Kayam mank salah satu sastrawan ajaib ya...

    ReplyDelete
  17. Buku yg mantap bang...sangat memberi inspirasi..btw maaf bg saya selalu telat, krn jaringan lg lelet

    ReplyDelete
  18. Alhamdulillah...ada kejutan ni..apa itu...??
    Gak Sombong ni lho....? KLIK AJA MAS NAMA SAYA...LANGSUNG MENUJU LINK TUJUAN...
    KLIK LINK NO. 2..
    he he he he he
    alhamdulillah....
    HE HE HE HE SENEEEEEEEEEEEEEEEEENG

    ReplyDelete
  19. Wah reviewnya Mantabz Sob.....tapi itu buku masih beredar dan diproduksi apa ga Sob?????koq kayanya covernya jadul gtu hhe....

    ReplyDelete
  20. hahaa...wah...itu pepatah jawa banget, makan ga makan yg penting ngumpul...hahaha..

    ReplyDelete
  21. Jadi pengen baca bukunya Bang..!
    Sungguh menarik sepertinya. Bang Atta masih punya buku lama ini rupanya.

    ReplyDelete
  22. Aku kenal kampung Nyutran...
    Aku tertawa pedih membaca bagaimana gaya humor para 'ndoro' ini yg seringkali kejam terhadap abdi dalemnya.

    ReplyDelete
  23. Mangan oora mangan yang penting ngumpul...
    asal jangan manre jokka-jokka...

    makasih banyak atas infonya Bang.
    Juga untuk info di blog aprillins.

    ReplyDelete
  24. Mangan ra mangan pokoke kumpul dan yg penting lagi sehat wal afiat gan

    ReplyDelete
  25. Aku memilih makan tapi kumpul saja kawand

    ReplyDelete
  26. selamat malam pekanbaru mampir baca-baca mantappp

    ReplyDelete
  27. Jadi inget dulu Bang, waktu masih SD keluarga saya langganan koran KR ini, memang filosofinya Pak Omar Kayam ini nyentrik bahasane lan menarik isine.. :-)

    ReplyDelete
  28. Buku yang sangat2 bermutu, sangat bagus mutunya..
    Thanks Bang..

    ReplyDelete
  29. wah... keren nich ceritanya...
    mangan ora mangan kumpul... baru dengar bang.. hehehe...

    ReplyDelete
  30. sering dulu denger nama umar kayam, cuma baru tau karyane kali ini hehhe

    ReplyDelete
  31. mantep om :)
    aku juga kenal tuh karena diceritan sama om attayaya :) oya om aku mau tanya-tanya nih, kok trafik om bisa ribuan gitu sih om ? gimana ceritanya ? aku paling di bawah 50an om, :(

    ReplyDelete
  32. Beredar di Bali gag nih? ato di Bandung ada gag? kan aku bakal PKL ke Bnadung tuh, sapa tau aku sempet beli. hehe

    ReplyDelete
  33. ini buku lama
    keknya dah ga produksi lagi

    ReplyDelete
  34. Suka deh gw sama Umar Kayam. Tar ah kalo pas mudix nyari bukunya di Gramed. Ato Bang Atta mo kasih buat emak2 yang lagi hamil muda?? :-)

    ReplyDelete
  35. Lucu...Bang..! Btw mksh atas info nya di kotak komentar ku

    ReplyDelete
  36. wah...seneng masih dapat membaca secuil dari sketsa beliau...bagaimana saya bisa mendapatkan softcopy lengkap sketsa2ini?
    Pak moderator bisa bantu?

    ReplyDelete
  37. sajak terindah sepanjang hidupku, dimana bisa dapetin bukunya ya.....

    ReplyDelete
  38. mak nyuz - enak untuk makanan
    mak nyes - nyaman untuk cuaca
    mak nyoz - kena air panaz
    mak e dhewe - simbok
    mak legender - menelan dengn mudah
    mak prucul - memegang dan lepas karena licin

    bukunya yang nggedabel bin lusuh ning jadi tamba kangen tueenanan, kelingan maca koran KR, pilihan pertama ya itu pak ageng dan kitchen kabinetnya........yang semrinthil......

    ReplyDelete
  39. Kira-kira bukunya masih ada ga?
    boleh minta salinannya, Pak?
    carinya susah banget.
    saya cuma punya yang buku 2-3 e... ^_^

    ReplyDelete

Copyright © 2013 attayaya: Mangan Ora Mangan Kumpul : Sketsa-sketsa Umar Kayam | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah