Find out how to reduce your carbon footprint
attayaya support to : The Banyumas Residence

2009-06-29

Pembangunan yang tidak berkelanjutan merupakan pembalikan arah, tujuan, fungsi dan segala hal dari Pembangunan Berkelanjutan. Sustainable development yang di-Indonesia-kan menjadi Pembangunan Berkelanjutan merupakan proses pembangunan yang memiliki prinsip bahwa pembangunan itu terus berlanjut untuk kehidupan manusia saat ini dan saat selanjutnya yang tidak mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan. Faktor penting yang harus diperhatikan adalah memperbaiki kehancuran lingkungan dengan tidak mengorbankan pemenuhan kebutuhan pembangunan ekonomi dan sosial. Sehingga tiga faktor utama tersebut (ekonomi, sosial, lingkungan) menjadi suatu ketergantungan yang tidak bisa dilepaskan satu sama lainnya. Salah satu masalah ini pernah diulas di postingan Menghalau Gajah VS Ekonomi Kerakyatan.

Istilah Pembangunan Berkelanjutan telah lama berdengung, demikian juga dengan Pembangunan Hijau. Kedua istilah ini sama-sama memiliki 3 faktor utama seperti di atas, hanya saja Pembangunan Hijau lebih mendahulukan Perbaikan Lingkungan. Dengan lingkungan yang lebih baik maka kemudian sumber daya tercukupi dengan pemenuhan ekonomi dan sosial. Pembangunan Hijau didengungkan karena kehancuran lingkungan yang sangat dahsyat sehingga memerlukan penangan dan perhatian khusus untuk memperbaiki, dimana lingkungan adalah merupakan sumber daya bagi manusia sekarang dan masa depan.

Konsep Pembangunan Berkelanjutan memang penuh dengan perdebatan sengit terutama tentang pengertian, faktor utama dan pendukung, teknik pelaksanaan sampai dengan pembelajaran kepada publik. Tetapi yang harus kita ambil sebenarnya pola pikir bahwa kita hidup bukan hanya untuk kita hari ini. Kita hidup juga untuk generasi penerus kita, keturunan kita. Bahkan ketika mengikut kuliah dengan (alm) Prof. Mubyarto sang pakar ekonomi kerakyatan di UGM Jogjakarta, beliau pun mengarahkan konsep Pembangunan Berkelanjutan kepada nilai-nilai agama. Bahwa tidak ada satu agama pun di muka bumi ini mengajarkan umatnya untuk menghancurkan alam. Menghancurkan alam sama saja menghancurkan diri sendiri.

Tetapi kenyataannya bahwa pembangunan di Indonesia tidaklah bisa menerapkan 100 persen konsep pembangunan berkelanjutan. Masih banyak kebijakan-kebijakan publik yang tidak memikirkan konsep pembangunan berkelanjutan. Banyak contoh yang ada dan akhirnya muncul ke permukaan karena tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Kebijakan publik di bidang kehutanan baik menyangkut penebangan dan pemanfaatan hutan alam, perlambatan perluasan hutan lindung, penindakan illegal logging sampai penangan kebakaran hutan.

Pemanfaatan dana reboisasi yang tidak jelas arah dan penggunaannya juga merupakan suatu hal yang membuat pembangunan yang tidak berkelanjutan. Ketika aku masih bekerja di sebuah bank swasta bagian back office (BO) yang menangani transfer uang, setiap hari ada saja perusahaan kayu di Riau menyetor Dana Reboisasi ke rekening khusus Menteri Kehutanan. Ini adalah prosedur legal atas pemanfaatan kayu yang telah ditebang. Yang menjadi temuan pemeriksa adalah jumlah yang disetor ternyata tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Kemudian tidak jelasnya pemanfaatan dana tersebut. Hal ini telah sering dikumandangkan dengan keras oleh organisasi non-profit/non-pemerintah (NGO/non-government organization).

Pada kasus Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PPLG) Sejuta Hektar sebagai usaha pemenuhan pangan teruatama beras, sebenarnya merupakan tujuan mulia. Tetapi jika dirunut ke belakang adalah bahwa lahan tersebut adalah lahan bekas HPH (Hak Pengusahaan Hutan) yang kosong dan ditumbuhi semak belukar dan pohon kecil. Nah, kenapa tidak menggunakan dana reboisasi untuk menghijaukan kembali lahan bekas HPH ini. Dana Reboisasi malahan dipakai untuk membangun lahan sawah di mega proyek Lahan Sejuta Hektar tersebut (Mega Rice Project). Dana APBN telah digunakan lebih dari 2 trilyun rupiah dan gagal karena melawan kodrat alam. PPLG Sejuta Hektar dilaksanakan berdasarkan Keppres 82 tahun 1995 tanggal 26 Desember 1995.

AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan) pada proyek Lahan Sejuta Hektar disusun setelah proyek berjalan, sehingga tidak adanya analisa mendalam mengenai lingkungan baik flora maupun fauna. Beberapa NGO telah menyuarakan tentang perlunya peninjauan ulang atas proyek ini, tetapi terlambat diperhatikan oleh pembuat kebijakan publik saat itu. Sehingga mengakibatkan kegagalan yang luar biasa dalam penggunaan dana dan hancurnya lingkungan hidup.

Jelas tulisan ini tidak ingin menggurui para pembuat kebijakan publik di negeri Indonesia Raya yang tercinta ini yang pintar dan sangat pintar. Tulisan ini hanya berusaha mengingatkan kembali, agar jangan sampai kasus seperti diatas (yang sebenarnya masih banyak kasus pembangunan yang merusak lingkungan lainnya) terulang kembali. Dan berusaha mengingatkan akan pentingnya konsep Pembangunan Berkelanjutan yang memerhatikan ekonomi, sosial dan lingkungan sehingga tidak menjadi Pembangunan Yang Tidak Berkelanjutan.

Dari berbagai sumber.






Related Post


55 komentar:

bunga raya said...

pertamaxxxxxxxxxx
nanti om baca dan komennya

bunga raya said...

wah emang iya om sekarang ni pantas aja bnyak pembangunan yang tidak berkelanjutan mungkin di sebabkan oleh ini dan itu ya..baru tau...nice post

Sang Cerpenis bercerita said...

oot : atta...aku mau dong diajarin cara bikin link exchange kyk punyamu.

JengSri said...

kebijakan publik disahkan pake duit
di nego pake duit
wajar publik indo dari atas
sampe bawah jadi mata duitan

dikit2 uang rokok, dikit2 sogok, dikit2 senyum nakal minta ditabok pake higheels
moral dulu dibangun, seperti kata bang Wr Supratman:

Bangunlah JIWAnya
bangunlah badannya

Aldrix said...

betul boss ane setuju bgt... emang negara kita ini INDONESIA masih menyepelekan hal2 seperti itu ... byak kasus yag tidak BERMORAL kayak ASUSILA ... heheheheh

nice info,, gut luck ya !!!

Ivan@mobii said...

Duit segalanya bt org berhati duit....

Newsoul said...

Setiap pembangunan seharusnya adalah Pembangunan Berkelanjutan (Suistainable Development)bila kita menginginkan kehidupan layak bagi anak cucu kita depan terus memiliki keberlanjutan. Contoh malapetaka karena kita melaksanakan Pembangunan yang Tidak Berkelanjutan sudah banyak, seharusnya kita belajar. Nice posting sobat, salam kenal.

suryaden said...

kalo berkelanjutan berarti gak selesai-selesai dung :D

Tukang Komen said...

Duit mulu sih... jadinya gak kelar-kelar...

reni said...

Betul-betul pemerhati lingkungan... Salut deh !
Semoga aja harapannya didengar oleh pembuat kebijakan di negeri ini ya?

chrysanti said...

yang salah negaranya atau orangnya sih?

Ruzavi said...

Siapa lagi klo bukan kita yg menjaga lingkungan

kakve-santi said...

blog nya aja hijau...
gimana jalan pikirannya ya..
lingkungan banget dah!
salut

buwel said...

Masya alloh...moga makin baik nantinya ya...

J O N K said...

yui, jangan sampai pembangunan mengganggu alam,bisa bahaya nanti,

jangan sampai anak indonesia kelak, gak bisa melihat KODOK ...

J O N K said...

kan lucu kalau kodok punah hehehehehe

ravatar cerita panas said...

Kalo tidak berkelanjutan berarti tidak ada pembangunan dong bang. selama ini kita jadi kayak pura2 membangun ya

eri-communicator said...

Mau dilanjutkan ya om dengan cara yang lebih cepat lebih baik dengan sikap pro.

genial said...

gimana berkelanjutan bang... merata juga nggak :p

tau dehhh salah dmn?!?!? walau gag bermksd menyalahkan siapa2, bukan bermaksud mengkambing hitamkan pihak manapun, tp emang mesti ada korban yg ditunjuk bersalah, yang patut menanggung beban, bukan tuk di meja hijaukan melainkan di ajak duduk bersama membicarakan gmn seharusnya ini diperbaiki :(

susah emang :(

ajieee said...

wah gawat tuh kok pembangunan banyak yang berhenti sih

dwina said...

keknya mang dari dulu duit tuh kuasanya gede banget yah..

idem ama JS. dikit2 duit

cupu-kisruh said...

ini salah siapa
dan ini dosa siapa
mari tanyakan pada rumput yang bergoyang ^_^

masih sempet nyanyi

Dinoe said...

Setuju bang...pembangunan memang sering jadi ajang memperluas kekayaan..dan hasilnya jadi terhambat...maaf bang..saya mampirnya telat..

dwi said...

mampir bang..

manteb...manteb...
intinya jangan hanya sekedar ngomong "LANJUTKAN!!!" tapi "BUKTIKAN!!1". hehe

IjoPunkJUtee said...

Dari sabang sampa merauke, kaya atau kere, derap langkah pembangunan jew...???

Ayo lanjutkan...!!! (bukan kampanye loh Oom.....)

TRIMATRA said...

belum selesai baca, nanti kesini lagih. keburu brangkat nih :D

Susy Ella said...

andai setiap pembangunan memperhatikan lingkungan..tentu pekanbaru ga berkabut asap ya bang ^_^

BIG SUGENG said...

Pembangunan tidak berkelanjutan diperparah dengan sistem pemilihan kepala daerah secara langsung, dia hanya berfikir 5 tahun atau maksimal 10 tahun saja.....

darwis said...

blognya nice....

ranny said...

2 sks ekonomi pembangunan -.-
kesel sangad tuh andal dan amdal tuh ga diterapkann..yang rugi masyarakatt..untuk perusahaan yang udah bona juga males banget untuk melakukan CSR buhhhh

mocca_chi said...

Mmm.. kalau ga salah, pembangunan itu pelajaran ekonomi SMA kelas dua, ya keknya Bang. aku udah lupa, mohon ga usah diingatkan deh, paling anti pelajaran ekonomi. hiiii

nietha said...

sudah rahasia umum ada kongkalikong dibalik semua penebangan hutan di Indonsia. Bisakah diberantas??

aprillins said...

tetapi saya rasa saya tahu benar apa maksud dari paragraph terakhir heuehuehueheh.. sebuah sindiran yang sangat halus.. heuheueh ...

pembangunan yang tidak berkelanjutan.. Progal.. proyek gagal.. ehueheueuhe

casual cutie said...

Indonesia memang hobi merusak lingkungan...termasuk kita jg lo...

Elsa said...

entahlah...
baca kata pembangunan... jadi inget sama Pak Harto. di masa pemerintahannya kan, senjata utamanya adalah PEMBANGUNAN DI SEGALA BIDANG. meskipun ternyata pake uang dari utang luar negri dan ternyata pembangunannya cuman di Jawa. hehehehehe....

pembangunan ini
pembangunan itu...
akhirnya menjuluki diri sendiri sebagai bapak pembangunan.

heh, aku kok negatif banget gini ya

KangBoed said...

Huuuuwaaakaakakak.. kayanya banyak deh pembangunan.. terutama buat kenyang perut sendiri.. hehehe..
Salam Sayang Bang ATTA

Anazkia said...

Pembangunan jasmani dan membangun rohani, pembangunan di segala bidang, itilah tujuan kita.

pembangunan.. pembangunan (masih inget gak bang Atta dengan lagu itu...???) Banyak aspek yang di pentingkan dan di perlukan untuk pembangunan. Wallahu'alam...

kenyo said...

pembangunan boleh dilakukan asal melihat juga dampaknya terhadap lingkungan

Seti@wan Dirgant@Ra said...

Pembangunan yang tidak berkelanjutan, kemiskinan yang berkesinambungan.

Muhammad Qori said...

langsung aja nih...

menurut ane, lebih baik lakukan daripada tidak

sama sekali...

kang dwi said...

pembangunan berkelanjutan ganti dengan
"PROYEK BERKELANJUTAN"
wkkkkkk

Dinoe said...

Met sore bang atta...kunjungan persahabatan...

Antaresa said...

wah kalo ngomongin beginian aku ngga ngerti nih...
kayaknya aku udah lama ya ngga berkunjung kamari? hehehehe...

Etha said...

duit..duit...duit

rco said...

diguruin aja gak pa-pa, wong gak diguruin yo gak pinter2 kok?

♥ Neng Aia ♥ said...

wahh.. kalah donk sama sinetron Cinta Fitri yang lanjuuutt terus ga capek²... hihihi

Ariyanti said...

Tulisannya bagus banget... Semoga para petinggi2 itu juga bisa baca ini...

bunga raya said...

ronda malam sahabat apa kabar

andie said...

ciri khas Indonesia banget tuh bang!
heheh :D:D

sumbara said...

numpang lewat bro....

ibnukus said...

Assalamu'alaikum wr.wb. terima KASIH Mas Atta atas kunjungan dan sarannya ....saya setuju pembangunan yang berkelanjutan tetapi saya juga tidak setuju kalo pembakaran hutan yang terus-menerus dilanjutkan, penggusuran kampung-kampung miskin tanpa solusi dilanjutkan serta tidak malu menyinggung agama karena takut sara ...saya setuju lebih cepat-lebih baik untuk mengakui dosa-dosa kita sehigga segera bertobat cara yang paling tepat, dan tidak melanjutkan kemaksiatan yang sudah terlanjur dilakukan ...membuat gundul hutan , membakar hutan , membuang sampah sembarang tidak perlu kita lanjutkan ....melanjutkan budi pekerti seperti yang di contohkan Rasulullah adalah solusi karena beliaulah suri tauladan kita dan contoh dari budi pekerti yang luhur ....lanjutkan yang hijau, agar langit tetap biru dan bila melakukan kesalahan lebih cepat lebih baik untuk kembali bertaubat .....

ibnukus said...

Jika kita telah berhasil untuk melanjutkan yang baik dan lebih cepat lebih baik dalam bertaubat maka kita akan "Merdeka"....

Warung-Juice said...

Hello Numpang lewat ya - diriku masih baru di dunia blogger - salam kenal

attayaya said...

hmmmmmmmmmm

ibnukus said...

Mas Attayaya ...Hijaumu membuatku terpesona .... tanya lagi nih ...apa scrib?