Seorang komentator tanpa nama dan link alamat berkomentar pada postingan "Chernobyl Effects, Jangan Ada PLTN di Indonesia", yang intinya menyatakan bahwa PLTN lebih aman daripada Pembangkit Listrik Tenaga lainnya (Diesel, Batubara, Gas, Biofuel, Biomass, Hydro, Peat). Kemudian dia memberikan link rujukan :
http://www.good.is/post/nuclear-accidents-and-all-coal-is-by-far-the-deadliest-energy-source/
Aku kutip sedikit kalimat di dalamnya :
Kemudian artikel itu merujuk juga ke link :
http://www.good.is/post/interactive-chart-deaths-per-twh-by-energy-source/
Terlihat di data tersebut bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Batubara (Coal) telah menyumbang 26 % energi dunia tetapi telah membunuh 161 orang dari setiap TWH yang dihasilkannya. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (Oil) menyumbang 36 % energi dunia tetapi membunuh 36 orang setiap TWH yang dihasilkannya. Demikian seterusnya sampai pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir yang menyumbang menyumbang 5,9% energi dunia dan membunuh hanya 0,04 orang setiap TWH yang dihasilkannya. Data merujuk ke alamat IBM.com :
http://www-958.ibm.com/software/data/cognos/manyeyes/visualizations/2e5d4dcc4fb511e0ae0c000255111976
Suatu sajian data yang aneh jika disejajarkan dengan pernyataan bahwa NUKLIR ADALAH PEMBANGKIT LISTRIK YANG PALING AMAN.
Coba kita ilustrasikan keadaan sebagai berikut :
Sebuah inti Mesin Turbin PLTA (Angin/Wind) meledak. Walaupun hal ini sungguh aneh, tetapi mari kita ukur bahayanya dengan menjawab pertanyaan sederhana berikut ini :
TIDAK ADA LEDAKAN NUKLIR DI FUKUSHIMA. Awalnya tidak terjadi ledakan apapun di Fukushima. Yang terjadi adalah TIDAK ADANYA pasokan listrik ke pompa air pendingin reaktor. Hal ini menyebabkan tekanan reaktor semakin meningkat. Pada tanggal 15 Mei 2011 jam 6.10 terdengar suara aneh di Supresion Tool dan jam 6.14 terdengar suara dan dinding berlobang. Jam 6.42 terjadi kebocoran di Supresion Tool. Silahkan baca kelanjutannya di : Kronologis Ledakan PLTN FUKUSHIMA
Setelah anda baca, coba jawab pertanyaan sederhana ini :
Pertanyaan yang sama seperti ilustrasi kejadian di atas sebelumnya tentang PLTAngin.
Aku punya jawaban sederhana sebagai berikut :
Jika PLTA (angin) mengalami kecelakaan, misalnya dasar pondasi patah yang menyebabkan runtuhnya turbin angin tersebut, palingan luas areal yang diamankan 400 meter (tinggi tiang + panjang kipas dikali 2). Rumus ini hanya berdasarkan pemikiranku jika polisi datang dan memasang garis batas polisi (police-line). Angka 400 meter bisa didapat dari angka kasar Tinggi Turbin Angin dan Panjang Kipas dari Turbin Angin terbesar di dunia. Dapat dibaca di postingan sebelumnya dengan judul : TURBIN ANGIN.
Jika PLTN yang mengalami kecelakaan, polisi tak berani datang karena takut terkena radiasi. Dalam hal ini, polisi pun akan mengarahkan tanggung jawab penanganan kepada pihak yang lebih berkompeten. Lalu polisi tidak bisa memasang garis batas polisi (police-line) karena polisi tidak memiliki persediaan police-line yang cukup banyak untuk menutupi areal aman. Dibutuhkan ribuan meter pita police-line untuk menandakan batas aman.
Dua ilustrasi sederhana itu tidak perlu data yang rumit, tapi kurasa dapat sedikit membuktikan bahwa :
PLTN LEBIH BERBAHAYA DARIPADA PLT ANGIN.
Dalam postingan yang dikomentari tersebut awalnya untuk menjelaskan kepada sebuah komentator lain, yang kemudian mendapatkan komentar dari yang lain lagi dan kuposting disini. Dalam postingan tersebut aku menuliskan bahwa :
Aku tidak membandingkan antara PLTN dengan PLTD (diesel/oil) maupun PLTB (batubara/coal), karena PLTD, PLTB maupun PLTN sama berbahaya dari sisi yang berbeda.
Jika kalimat "Nuklir itu lebih berbahaya daripada Pembangkit Listrik Tenaga Angin, Pembangkit Listrik Tenaga Air, Pembangkit Listrik Tenaga Matahari/Surya" merupakan sebuah hipotesa, maka aku rasa sangat banyak ahli yang bisa membuktikan hal ini.
http://www.good.is/post/nuclear-accidents-and-all-coal-is-by-far-the-deadliest-energy-source/
Aku kutip sedikit kalimat di dalamnya :
Coal kills. It's not as cheap as advertised, especially when all of the external costs (health, lost jobs to labor-light mountaintop removal mining, ecosystem degradation, water contamination, and so on) are considered . And it's a ticking time bomb for our atmosphere and climate.
Kemudian artikel itu merujuk juga ke link :
http://www.good.is/post/interactive-chart-deaths-per-twh-by-energy-source/
This interactive visualization, found at the IBM research site Many Eyes, allows you to compare the number of deaths, measured per terawatt-hour (TWh), that can be attributed to each of the main sources of energy worldwide—coal, oil, natural gas, nuclear, hydro, and peat or biomass—against the proportion that each contribute to global energy production.Artikel ini menyuguhkan data tentang jumlah kematian yang diakibatkan oleh setiap jenis Pembangkit Tenaga Listrik per Tera-Watt-Hour (TWH) yang dihasilkannya.
Terlihat di data tersebut bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Batubara (Coal) telah menyumbang 26 % energi dunia tetapi telah membunuh 161 orang dari setiap TWH yang dihasilkannya. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (Oil) menyumbang 36 % energi dunia tetapi membunuh 36 orang setiap TWH yang dihasilkannya. Demikian seterusnya sampai pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir yang menyumbang menyumbang 5,9% energi dunia dan membunuh hanya 0,04 orang setiap TWH yang dihasilkannya. Data merujuk ke alamat IBM.com :
http://www-958.ibm.com/software/data/cognos/manyeyes/visualizations/2e5d4dcc4fb511e0ae0c000255111976
Suatu sajian data yang aneh jika disejajarkan dengan pernyataan bahwa NUKLIR ADALAH PEMBANGKIT LISTRIK YANG PALING AMAN.
Coba kita ilustrasikan keadaan sebagai berikut :
Sebuah inti Mesin Turbin PLTA (Angin/Wind) meledak. Walaupun hal ini sungguh aneh, tetapi mari kita ukur bahayanya dengan menjawab pertanyaan sederhana berikut ini :
Berapa luas areal yang harus diamankan?Kemudian kita bandingkan dengan peristiwa Fukushima :
TIDAK ADA LEDAKAN NUKLIR DI FUKUSHIMA. Awalnya tidak terjadi ledakan apapun di Fukushima. Yang terjadi adalah TIDAK ADANYA pasokan listrik ke pompa air pendingin reaktor. Hal ini menyebabkan tekanan reaktor semakin meningkat. Pada tanggal 15 Mei 2011 jam 6.10 terdengar suara aneh di Supresion Tool dan jam 6.14 terdengar suara dan dinding berlobang. Jam 6.42 terjadi kebocoran di Supresion Tool. Silahkan baca kelanjutannya di : Kronologis Ledakan PLTN FUKUSHIMA
Setelah anda baca, coba jawab pertanyaan sederhana ini :
Pertanyaan yang sama seperti ilustrasi kejadian di atas sebelumnya tentang PLTAngin.
Berapa luas areal yang harus diamankan?
Aku punya jawaban sederhana sebagai berikut :
Jika PLTA (angin) mengalami kecelakaan, misalnya dasar pondasi patah yang menyebabkan runtuhnya turbin angin tersebut, palingan luas areal yang diamankan 400 meter (tinggi tiang + panjang kipas dikali 2). Rumus ini hanya berdasarkan pemikiranku jika polisi datang dan memasang garis batas polisi (police-line). Angka 400 meter bisa didapat dari angka kasar Tinggi Turbin Angin dan Panjang Kipas dari Turbin Angin terbesar di dunia. Dapat dibaca di postingan sebelumnya dengan judul : TURBIN ANGIN.
Jika PLTN yang mengalami kecelakaan, polisi tak berani datang karena takut terkena radiasi. Dalam hal ini, polisi pun akan mengarahkan tanggung jawab penanganan kepada pihak yang lebih berkompeten. Lalu polisi tidak bisa memasang garis batas polisi (police-line) karena polisi tidak memiliki persediaan police-line yang cukup banyak untuk menutupi areal aman. Dibutuhkan ribuan meter pita police-line untuk menandakan batas aman.
Dua ilustrasi sederhana itu tidak perlu data yang rumit, tapi kurasa dapat sedikit membuktikan bahwa :
PLTN LEBIH BERBAHAYA DARIPADA PLT ANGIN.
Dalam postingan yang dikomentari tersebut awalnya untuk menjelaskan kepada sebuah komentator lain, yang kemudian mendapatkan komentar dari yang lain lagi dan kuposting disini. Dalam postingan tersebut aku menuliskan bahwa :
Nuklir itu lebih berbahaya daripada Pembangkit Listrik Tenaga Angin, Pembangkit Listrik Tenaga Air, Pembangkit Listrik Tenaga Matahari/Surya.
Aku tidak membandingkan antara PLTN dengan PLTD (diesel/oil) maupun PLTB (batubara/coal), karena PLTD, PLTB maupun PLTN sama berbahaya dari sisi yang berbeda.
Jika kalimat "Nuklir itu lebih berbahaya daripada Pembangkit Listrik Tenaga Angin, Pembangkit Listrik Tenaga Air, Pembangkit Listrik Tenaga Matahari/Surya" merupakan sebuah hipotesa, maka aku rasa sangat banyak ahli yang bisa membuktikan hal ini.




24 komentar:
Pokoknya cari aman aja bang... melihat kejadian Fukushima, jangan deh pake energi nuklir buat listrik kita...
PLTN memang bermanfaat tapi bahayanya harus dikaji lagi..
Kalau terjadi kecelakaan memang PLTN akan menimbulkan dampak yang jauh lebih luas dan korban lebih banyak dari pembangkit tenaga lainnya.
Mau koment apa ya...
Selamat beraktifitas aja buat Bang Atta semoga sehta selalu.
Salam hangat dari Bintan
sebenarnya PLTN manfaatnya besar tetap resikonya besar......
dampaknya jauh lebih luas seperti di fukushima....
salam sahabat
perbandingan signifikan terhadap perkembanngan masyarakat yang membutuhkan yach hehehhe,semoga tetap aman
belum lagi efek kalo ada goyang teknotik, yang notabene negeri kita ini jauh lebih 'mudah bergoyang' daripada negeri lain
yang ideal menurut ane sih, tenaga surya yang bisa dibikin swadaya -seperti bikin kompor dari alumunium foil- he he
cari yang aman aja deh untuk kebaikan semua ya bang
saya juga berpendapat klo di Indonesia belum dulu deh ikutan bikin pltn
Aduuuuh ngeri deh sama bahayanya, harus difikirkan lagi deh >.<
memang pltn berguna tapi tetep resiko jga ada,thnx infonya mas bro
Nuklir ternyata berbahaya ya di banding pembangkit listrik #barutau B)
Tenaga nuklir hanyalah jalan pintas buat kita yang malas memberdayakan sumber daya alam lain.
Salam.. .
Wah..kalo denger kata PLTN, yang ada pasti udah takut duluan :D
Dampaknya emang bener2 besar, jadi ya harus berpikir panjang sebelum membangun PLTN :)
Btw, lama ya saya gak kesini.
Apa kabar mas ? :)
Ternyata orang tersebut kritis juga ya tentang masalah keamanan dari pembangunan berbagai PLT tersebut. Karena aku kurang menguasai hal2 semacam ini, jadi aku berharap ada pakar2 yang bisa memberikan opini /alternatif apa yang harus digunakan dalam pembangunan PLT
mungkin dengan PLTN energi nya lebih hemat bner gk?
tpi bahaya nya CUKUP besar ,,,
Kalau begini .. mendingan pakai lampu strongkeng aje lah..
untuk indonesia lebih baik kembangkan tenaga angin dan panas matahari. ajari semua orang membuat pembangkit tenaga angin dan matahari dan buat segalanya murah, pasti pemerintah tak perlu repot mengurusi listrik warganya.
semua di dunia ini pasti ada dampak positif dan negatif. Tinggal memilah aja mas mana yang banyak dampak positif nya. Suwun
waw keren
hhmmm gitu yah
segala sesuatu pasti ada sisi negatif dan positifnya
tergantung bagaimana kita mengatasi permasalahan yang ada
pemilihan pembangkit tenaga apapung harus disesuaikan dengan kondisi daerah
ga usah bangun PLTN wong ngurus koruptor kabur aja ga becus
yup betul tuh bro r10
Post a Comment