16 Februari 2011

Unsur Mitos dalam Pelestarian Alam

Unsur Mitos dalam Pelestarian Alam
Laporan PURNIMASARI, Bokor
purnimasari@riaupos.com


Riau Pos berkesempatan melihat ‘bela’ kampung pada Senin (3/1) lalu di Bokor. Menurut Penghulu Desa Bokor, Iriyanto Abdullah, ‘bela’ kampung ini dilakukan dua tahap. Pertama, buang ancak yang dilaksanakan pada Kamis (30/12/2010). Kemudian ratib saman tiga hari berturut-turut sejak Ahad (2/1) hingga Selasa (4/1) dengan rute yang berbeda. Hari pertama, ratib dari Dusun Cempedak ke Dusun Durian. Hari kedua, dari Dusun Kelapa ke Dusun Durian. Hari ketiga, sama seperti hari kedua tapi beda tempat.

Pada Kamis (30/12/2010) pukul 8.00 WIB, penduduk membuat ancak dan sesajian. Ancak adalah media sesajian yang terbuat dari pelepah rumbia dan daun kelapa. Ancak biasanya berisi beras putih, daging ayam bakar, serta penganan tradisional seperti lepat dan kue koci (kue yang terbuat dari tepung beras, berbentuk segitiga dan di dalamnya ada inti dari kelapa dan gula). Semuanya dalam kondisi separo masak. Pukul 15.00 WIB, sesajian diletakkan ke ancak dan dibawa ke tempat melepas ancak di dua lokasi. Ketika ancak dibacakan mantera oleh bomo, anak-anak kecil disuruh mencangkung di bawah ancak yang dipercaya untuk buang sial. Selepas itu penduduk menaburkan bertih (beras yang sudah digonseng) ke dalam ancak.

Jumat (31/12/2010) pagi, warga mengambil air penawar ‘bela’ kampung di rumah bomo. Air penawar itu diminum dan dicampur dengan air mandi. Setelah itu mereka melakukan pantang selama tiga hari hingga Ahad (2/1) pukul 13.00 WIB. Pantangan itu di antaranya: tak boleh memotong kayu, tak boleh memetik daun, tak boleh menangkap ikan, tak boleh mengambil daun pandan dan tak boleh mengambil air di sumur umum untuk dibawa pulang. Air sumur, selama masa pantang, hanya boleh dipakai mandi.

Saat ‘bela’ kampung di Bokor pada Senin (3/1) lalu, semua pesertanya, kurang lebih 90 orang, adalah lelaki. Mereka berkumpul di jalan di depan rumah penduduk yang paling ujung. Sebelum berbaris dan memulai ratib saman keliling kampung, mereka membagi-bagikan bertih. Nanti, bertih ini akan dimasukkan ke wadah-wadah air yang diletakkan penduduk di atas kursi atau bangku pas di jalan masuk ke halaman mereka. Tak jarang, bersama wadah air ini penduduk menyedekahkan makanan berupa biskuit.

Perempuan dan anak-anak tak boleh keluar rumah apalagi melintas sepanjang ratib. Masyarakat percaya akan ada bala menimpa untuk orang yang melanggarnya. Di setiap simpang, para peserta ratib berhenti dan pemimpin ratib akan mengumandangkan azan lewat pengeras suara. Karena hanya diikuti para lelaki, ritus tua itu kini seolah-seolah bergeser hanya jadi milik kaum maskulin. Sepintas, mirip tradisi tua di Jepang yang juga cenderung berpusat pada kaum Adam (patriarch centric). Begitu para peserta ratib melewati rumah, barulah kaum perempuan dan anak-anak berani keluar rumah dan mengambil air yang sudah diberi bertih tadi. Air itu bisa direnjis-renjiskan ke rumah, diminum, atau dijadikan campuran air untuk mandi.

Selain untuk merawat kampung, ‘bela’ kampung juga bertujuan menghalau bala. Karena itu, zaman dulu, ‘bela’ kampung juga kadang diadakan setelah suatu desa mengalami musibah. Pengalaman serupa itu masih membekas di ingatan salah seorang warga Bokor, Sopandi. Menurutnya, di awal tahun 1990-an, daun-daun durian di Bokor banyak dihinggapi ulat. Melihat kejadian itu, penduduk Bokor melakukan ‘bela’ kampung. "Alhamdulillah, hingga saat ini, insya Allah belum ada musibah yang melanda kampung kami," ujar Sopandi.

Jika kita perhatikan, masih ada beberapa mitos yang dibungkus lewat cerita rakyat (folklore) yang kemudian dijadikan panduan. Inilah dongeng di mana jembalang dan mambang menjadi cameo-nya. Semaju apapun bangsa, tetap punya mitos walau mengalami demitologisasi. Oleh kita yang hidup hari ini, mitos itu mungkin kebanyakan tak masuk akal. Padahal, itu adalah hasil pengalaman ratusan tahun. Namun, unsur mitos adalah suatu teknik pelestarian alam dalam minda orang Melayu. Sehingga tak ada orang yang berani ceroboh memperlakukan alam di luar ketentuan adat resam Melayu dan panduan Islam yang lurus. Jadi, mitos hanya bersifat sementara, sebelum orang punya pikiran logis terhadap kelestarian alam. Walaupun, untuk dukun-dukun yang mengambil jalan kidal kadang digunakan untuk kepentingan irasional yang sangat terbatas. Jadi, puak Melayu menyimpan logika dalam mitosnya.

Pembuatan ancak dan sesajian adalah peninggalan zaman animisme. Namun itu tidak disembah oleh orang Melayu. Bahkan, di beberapa tempat di Meranti, pembuatan ancak dan sesajian sudah tak ada lagi. Yang tinggal hanya memasukkan bertih ke air.

Menurut budayawan Yusmar Yusuf, memasukkan bertih ke air bermakna mengharapkan berkah, rezeki, sekaligus simbol kemakmuran. Semua itu merupakan bagian dari penyusunan tanda-tanda suci (hierofany) karena setiap ritus selalu diikuti tanda-tanda suci. Dalam ‘bela’ kampung dimensi air (sungai atau laut) adalah pengharapan akan ikan yang banyak. Itu bisa terlihat pada ‘bela’ (semah laut) untuk terubuk di Selat Bengkalis yang diterajui pawang. Juga di Selat Asam di Desa Baran Melintang di Pulau Merbau, Meranti. Selain di Bokor, ‘bela’ sungai dan kuala juga di Sungai Suir, Kecamatan Tebing Tinggi Barat, Meranti. Konon, menurut cerita, sang pawang keturunan batin Suir berdiri di atas tubuh ikan pari yang timbul di tengah-tengah Sungai Suir.

"Semuanya menjaga keseimbangan manusia dan alam. Dengan menuju puncak bijak (wise) dan bajik (virtue). Kaidah-kaidah lokal yang kompromi dengan logika alam. Malah di era krisis energi dan perubahan iklim yang ekstrim, ihwal ini menjadi ‘cultural exercise’ (latihan kebudayaan) yang menarik dan testable (bisa diuji) untuk kehidupan yang nyaman (liveable)," ujar Yusmar yang juga anak jati Teluk Belitung, Meranti ini.

nb :
DEMIKIANLAH MELAYU DALAM MENJAGA KESEIMBANGAN ALAM.
Menjaga Hutan
Melestarikan hutan
Semuanya hancur oleh orang luar dan kebijakan pemerintah pusat yang tidak berperilingkungan-hidup.

Artikel lainnya :
Ekspedisi Hulu Sungai Bokor
Fiesta Bokor Riviera 2011
Desa Bokor Kecamatan Rangsang Barat
Herba Kembang Bokor
Peta Hutan Kabupaten Meranti Propinsi Riau
Tahun Baru Imlek di Selat Panjang
Bangunan Tua Kota Selatpanjang
Kearifan Lokal Memelihara Kampung di Pulau Ransang, Meranti : Obor dari Bokor
Unsur Mitos dalam Pelestarian Alam
Memperlakukan Alam Bagai Manusia


26 komentar:

  1. kayak masalah di bali, para pejabat dan petinggi adat lagi bersitegang tentang cara melindungi bali

    BalasHapus
  2. Beragam cara yang di lakukan masyarakat disana ya bang utk menjaga kelestarian kampung mereka..

    BalasHapus
  3. kalau suatu wilayah asri, segar makin asyik aja ya.btw bang Atta suka buatin logo2 atau semacamnya ya? tarifnya berapa bang? :)

    BalasHapus
  4. iya tuh kita perlu melestarikan hutan untuk kelangsungan hidup kita sendiri!!!!



    pagiiiii BANGG ATTTAAAAAAA........!!!! hehehehehe

    BalasHapus
  5. Di beberapa daerah juga masih ada bang, termasuk di daerah saya bermukim daerah Kalimantan.... Mitos atau cerita rakyat bisa menjadi tipis perbedaannya.

    Salam hangat dari Balikpapan.

    BalasHapus
  6. mengedepakan kearifan atau budaya lokal memang sangat perlu ya bos.. di Sunda juga begitu.. mitos2 sengaja dibuat bukan untuk membodohi tapi untuk menyelamatkan sesuatu yg lebih besar yaitu keseimbangan

    BalasHapus
  7. memang lingkungan perlu dilestarikan untuk kelangsungan hidup manusia..

    BalasHapus
  8. dimana bumi di jejak dusana langit dijunjung.:D

    BalasHapus
  9. orang kecil melindungi alam, orang besar melakukan illegal loging

    BalasHapus
  10. kayanya sekarang lingkungan kita sudah penuh dengan polusi ya brow...

    BalasHapus
  11. kayanya harus memang harus ada yang koordinir tentang menjaga pelestarian ini sob...

    BalasHapus
  12. kunjungan balasan
    sesajian..
    itu tradisi nenek moyang

    BalasHapus
  13. alam lestari atau pun tidak ya rahmat dari Yang Maha Kuasa dan dari manusianya sendiri

    BalasHapus
  14. oom komen copas,,, hahaha,,, orang biasabnya posting ane kopas,, om komen di kopas,,,hakhakhakha

    BalasHapus
  15. saya pikir hal seperti ini merata ada di pelosok negeri bang di Sulawesi pun masih banyak yang seperti ini, tapi umumnya mereka hanya melanjutkan warisan leluhur

    BalasHapus
  16. Kadang2 kearifan lokal ini kalah oleh keberingasan ekonomi, meluluh lantak alam hanya karena ingin mememuhi nafsu ekonminya semata

    BalasHapus
  17. Budaya melayu kaya akan cerita rakyat yang pro kelestarian alam. Kini yang tersisa hanya puing2 dari reruntuhan cerita.. Alam semakin tergerus oleh para investor;

    BalasHapus
  18. Tulisan yang menarik tentang pelestarian alam.
    Sesungguhnya nenek moyang kita sudah mengajarkan kepada kita tentang perlunya kita menjaga alam.

    BalasHapus
  19. harus,...sejatinya manusia dan alam harus berjalan seimbang.ini tradisi leluhur ya bang...:)

    kunjungn menjelang dini hari bang atta,..gak bisa bobo :(

    BalasHapus
  20. wah banyak pantangannya ya...

    BalasHapus
  21. itulah adat istiadat dan budaya....

    BalasHapus
  22. Unsir mitos kan emang kental dengan orang Indonesia. Ga di hutan, gunung, laut, pasti ada ritual2 yang dilakukan oleh masyarakat disono.

    BalasHapus
  23. ritual itu yang menjadikan alam lebih lestari

    BalasHapus

Copyright © 2013 attayaya: Unsur Mitos dalam Pelestarian Alam | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah