Selat Panjang (Selatpanjang. Selat Pandjang) merupakan ibukota Kabupaten Meranti Propinsi Riau yang dimekarkan dari kabupaten induk (Kabupaten Bengkalis) pada tanggal 19 Desember 2008, Dasar hukum berdirinya kabupaten Kepulauan Meranti adalah Undang-undang nomor 12 tahun 2009, tanggal 16 Januari 2009. Terletak pada bagian pesisir timur pulau Sumatera, dengan pesisir pantai yang berbatasan dengan sejumlah negara tetangga dan masuk dalam daerah Segitiga Pertumbuhan Ekonomi (Growth Triagle) Indonesia - Malaysia - Singapore (IMS-GT) dan secara tidak langsung sudah menjadi daerah Hinterland Kawasan Free Trade Zone (FTZ) Batam - Tj. Balai Karimun.
Kota Selatpanjang sebagai pusat pemerintahan kabupaten Kepulauan Meranti, dahulu merupakan salah satu bandar (kota) yang paling sibuk dan terkenal perniagaan di dalam kesultanan Siak. Bandar ini sejak dahulu telah terbentuk masyarakat heterogen, terutama suku Melayu dan Tionghoa, karena peran antar merekalah terbentuk erat dalam keharmonisan kegiatan kultural maupun perdagangan. Semua ini tidak terlepas ketoleransian antar persaudaraan. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan dan lalu lintas barang-barang maupun manusia dari China ke nusantara dan sebaliknya.
Ramai interaksi perdagangan di daerah pesisir Riau inilah menyebabkan pemerintahan Hindia Belanda ikut ambil dalam bagian penentuan nama negeri ini. Sejarah tercatat pada masa Sultan Siak yang ke 11 yaitu Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin. Pada tahun 1880, pemerintahan di Negeri Makmur Tebing Tinggi dikuasai oleh J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi yang bergelar Tuan Temenggung Marhum Buntut (Kepala Negeri yang bertanggung jawab kepada Sultan Siak). Pada masa pemerintahannya di bandar ini terjadilah polemik dengan pihak Pemerintahan Kolonial Belanda yaitu Konteliur Van Huis mengenai perubahan nama negeri ini, dalam sepihak pemerintahan kolonial Belanda mengubah daerah ini menjadi Selatpanjang, namun tidak disetujui oleh J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi selaku pemangku daerah. Akhirnya berdasarkan kesepakatan bersama Negeri Makmur Tebing Tinggi berubah menjadi Negeri Makmur Bandar Tebingtinggi Selatpanjang. J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi mangkat pada tahun 1908. Makamnya ada di tengah Kota Selat Panjang.
Perjalanan panjang Kota Selat Panjang juga melahirkan bentukan bangunan-bangunan tua terutama di sekitar pelabuhan yang masih ada sampai sekarang. Kawasan ini sangatlah cocok dijadikan WISATA KOTA TUA SELAT PANJANG yang dapat ditelusuri hanya dengan berjalan kaki.
catatan :
Khusus untuk bangunan Tepekong (toa pe kong / tempat sembahyang China) merupakan bangunan baru karena telah direnovasi.
Artikel ini tidak secara spesifik menjelaskan umur masing-masing bangunan. Perlu analisa bangunan lebih lanjut.
Kota Selatpanjang sebagai pusat pemerintahan kabupaten Kepulauan Meranti, dahulu merupakan salah satu bandar (kota) yang paling sibuk dan terkenal perniagaan di dalam kesultanan Siak. Bandar ini sejak dahulu telah terbentuk masyarakat heterogen, terutama suku Melayu dan Tionghoa, karena peran antar merekalah terbentuk erat dalam keharmonisan kegiatan kultural maupun perdagangan. Semua ini tidak terlepas ketoleransian antar persaudaraan. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan dan lalu lintas barang-barang maupun manusia dari China ke nusantara dan sebaliknya.
Ramai interaksi perdagangan di daerah pesisir Riau inilah menyebabkan pemerintahan Hindia Belanda ikut ambil dalam bagian penentuan nama negeri ini. Sejarah tercatat pada masa Sultan Siak yang ke 11 yaitu Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin. Pada tahun 1880, pemerintahan di Negeri Makmur Tebing Tinggi dikuasai oleh J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi yang bergelar Tuan Temenggung Marhum Buntut (Kepala Negeri yang bertanggung jawab kepada Sultan Siak). Pada masa pemerintahannya di bandar ini terjadilah polemik dengan pihak Pemerintahan Kolonial Belanda yaitu Konteliur Van Huis mengenai perubahan nama negeri ini, dalam sepihak pemerintahan kolonial Belanda mengubah daerah ini menjadi Selatpanjang, namun tidak disetujui oleh J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi selaku pemangku daerah. Akhirnya berdasarkan kesepakatan bersama Negeri Makmur Tebing Tinggi berubah menjadi Negeri Makmur Bandar Tebingtinggi Selatpanjang. J.M. Tengkoe Soelong Tjantik Saijet Alwi mangkat pada tahun 1908. Makamnya ada di tengah Kota Selat Panjang.
Perjalanan panjang Kota Selat Panjang juga melahirkan bentukan bangunan-bangunan tua terutama di sekitar pelabuhan yang masih ada sampai sekarang. Kawasan ini sangatlah cocok dijadikan WISATA KOTA TUA SELAT PANJANG yang dapat ditelusuri hanya dengan berjalan kaki.
catatan :
Khusus untuk bangunan Tepekong (toa pe kong / tempat sembahyang China) merupakan bangunan baru karena telah direnovasi.
Artikel ini tidak secara spesifik menjelaskan umur masing-masing bangunan. Perlu analisa bangunan lebih lanjut.


37 komentar:
Pengen berwisata kesana..
ihhh gila, di indonesia ternyata ada juga yeah tempat kaya bgini...
thanks foe sharing brow
rumah yg kedua dr bawah kayak rumah yg di film laskar pelangi...
wisata kotatuanya ajib bener bang, mengenang kejayaan kesultanan siak, mantaf :)
mantapp ommmmm
karena sudah posting poto bagus-bagus saya kasih award biar capeknya hilang.
Melihat gambar-gambar yang ada bagaikan saya berada di selat panjang
Lengkap sekali bang, ada narasinya +++ photo, makasih sharrnya
meski tua namun tetap terawat ya bang bangunannya, bersih
Kalau dibandingkan dengan Malang gimana ya
foto2 bangunan tua memang selalu menarik perhatian mata mas ya.. hebat!
huaaaaaaaaa pengen jalan2 huaaaaaaaaa
Wah,,pingin kesana nih
pingin poto2 disana
pasti seru..
nambah lagi deh daftar kunjungan,hiihihi
makasih infonya Om..
Satu2nya daerah di Riau/Sumatera yang saya
pernah kunjungi beberap kali adalah Batam.
Melihat foto2 kota Selat Panjang membuat
saya ingin kesana.
Mirip sama kota tua di Jakarta kota ya.
Duh, kotanya bersih banget. Apalagi bangunan2 tuanya menambah klasik kota ini. Aku serasa berada pada abad berapa gitu
Ternyata daerah bentukan baru ya Bang? Berapa tuh jumlah penduduknya?
Banyak juga ya gedung2 tuanya, sayang banyak yg tidak terawat dg baik tuh.
Banyak sekali foto2nya Om...
Rumah panggung masih ada juga ya ternyata...?
bangunan yang penuh dengan sejarah masa lalu
Ke selatpanjangnya sewaktu ngantar buku hibah ya om.
fotonya bagus-bagus bang, dulu semasa kuliah di pekanbaru saya sering singgah di selat panjang naik kapal jelatik sewaktu mau transit ke tg.pinang
wah, sempurna.....met wiken bang..
Sampai kapan bisa bertahan bangunan kunonya, sekarang inginnya bangunan modern!
karena sudah ambil award saya review blog anda, semoga tidak menjengkelkan.
sepertinya terlihat damai, aman dan tentram..., jadi tidak seperti tua...
trims atas infonya, sukses selalu n tetap semangat
Wow.... seru juga suasananya keknya neh!
ho ho ho great photo , sudah jarang sekali yang seperti ini di daerah saya
jadi inget kota tua di jakarta. sering keliatan di tv tapi aku belum pernah kesana
met weekend om...
beberapa bangunan dari fotonya kok ga tua-tua banget yah... masih mirip bangunan tahun 1980-an
Indonesia ini terlalu luas yaa.. Terlalu banyak tempat-tempat indah yang belum terekspose :)
umurnya sedang dianalisa
Wihh... gak ngangka... foto rumah gw ada di sini.
Asli, foto ke 3 dari bawah, itu adalah rumah saya tinggal
Ohya, masih ada satu lagi bangunan tua, letaknya di jalan Masjid, yaitu Masjid Al Falah Selatpanjang, itu adalah Masjid tertua di Selatpanjang
foto buat cap go meh besok diambil juga gak ... pasti rame...
tak bisa
masih di pekanbaru
Post a Comment