19 Februari 2011

Memperlakukan Alam Bagai Manusia

Memperlakukan Alam Bagai Manusia
Laporan PURNIMASARI, Bokor
purnimasari@riaupos.com



Kearifan puak Melayu memelihara alam sehingga lingkungan hidup di Riau telah lestari dalam rentangan ratusan tahun, adalah suatu hal yang layak diketahui. Semua itu berpunca pada pemakaian alam yang sebatas keperluan pribadi dan persukuan, tidak diolah massal dan cepat. Hari ini, dengan alasan modern, manusia telah melakukan pencemaran dan merusak alam dalam tempo beberapa tahun saja. Gundulnya hutan belantara, perairan tercemar, punahnya flora dan fauna bisa berbalik memberi ancaman pada umat manusia.

Bagaimana tetua puak Melayu memberi kearifan pada anak cucu dan kemenakannya agar menjaga dan memelihara alam lingkungan telah terkumpul dalam bidal, gurindam, pantun, talibun, syair, petatah-petitih, koba dan cogan-cogan kebijaksanaan yang jadi peneraju hidup dan penuntun berperilaku dalam tata nilai bagi orang Melayu. Ia penyelamat hidup, sekaligus penyelamat lingkungan itu sendiri.

Seperti ditulis UU Hamidy dalam bukunya Kearifan Puak Melayu Riau Memelihara Lingkungan Hidup (UIR Press, Januari 2001), kemampuan masyarakat adat Melayu memelihara lingkungan hidupnya, tak hanya sebatas memberi kemakmuran pada anak negeri. Budaya memakai lingkungan yang terkendali oleh adat (sehingga tak melampaui batas) telah membuat mereka punya kekayaan hutan tanah dengan flora fauna yang tak tepermanai nilainya. Ketika sumber-sumber itu diolah puak Melayu dengan panduan adat atau undang-undang yang islami dari kerajaan (di zaman dahulu), sejarah telah membuktikan, betapa negeri-negeri Melayu telah jadi daerah yang makmur dengan alam yang indah.

Masyarakat adat dengan norma-norma di bawah naungan lembaga adat yang dikemudikan pemangku adat ternyata mampu mengurus diri sendiri. Kesatuan masyarakat adat Melayu dalam bentuk kepenghuluan, pebatinan dan kenegerian ternyata dapat hidup sejahtera dengan memanfaatkan lingkungan alamnya.

Tetua Melayu masa silam sebenarnya punya pandangan yang jauh ke depan. Dengan membuat lingkungan hidup terpelihara, mereka telah menyelamatkan generasi di belakang. Mereka bukan orang yang egois, yang hanya memandang kepentingan dan kesenangan diri mereka. Dalam hal hutan tanah, pemangku adat Melayu telah membuat semacam tata ruang yang paling kurang ada empat bagian: rimba simpanan (rimba larangan), tanah kebun dan peladangan, rimba kepungan sialang dan tanah pekarangan. Dalam pemeliharaannya dipandu dengan bidal "kayu ditebang diganti kayu, rimba ditebang diganti rimba". Inilah ikhtiar merawat lingkungan yang tiada tandingannya.

Semua makhluk hidup mendapat tempat untuk hidup secara wajar dalam tata ruang masyarakat adat Melayu. Inilah kedaan semula jadi yang benar-benar bisa membuat orang merasa damai dan tenteram sebab semuanya adalah pancaran kasih sayang Tuhan yang bisa menggugah hati untuk memelihara baik-baik serta membuka jalan untuk bersyukur dan mengabdi pada Sang Khalik.

Orang Melayu tradisional telah memperlakukan alam bagaikan manusia, sehingga ada sentuhan emosi dalam hubungan manusia dengan alam. Agama memberi panduan hidup dan mati, adat mengawal hidup mulia, sedangkan resam (tradisi) membuat hubungan harmonis dengan alam. Ketika manusia menanggalkan itu semua, maka akan datang bencana. Semula terhadap lingkungan hidup tapi kemudian kerusakan itu berbalik mengancam manusia sendiri. Islam, adat dan resam adalah bingkai yang paling mangkus dalam pelestarian lingkungan alam.

Kini, hutan belantara puak Melayu telah tercabik-cabik dilanyau Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Hutan, tanah dan sungai yang selama ini jadi ‘gudang’ bahan baku kebudayaan Melayu telah dieksploitasi hingga punah-ranah dan mendatangkan bencana ekologis. Ia berlindung dalam modus kebijakan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan telah menjadi ‘jalan pedang’ bagi perusahaan-perusahaan besar. Kesatuan masyarakat adat yang pernah otonom dan indah itu kini berkecai. Sementara warga masyarakat adat jatuh miskin jadi kuli, suatu lapangan pekerjaan yang paling hina dalam pandangan orang patut (ulama, pemangku adat dan tokoh tradisi) Melayu masa silam. Lembaga adat sudah lama disingkirkan dan pemangku adat sering diperalat untuk mengkhianati masyarakatnya sendiri.

Puak Melayu masa silam telah berbuat arif memelihara hutan tanah, daratan dan lautan. Jika kearifan itu tidak didedahkan, generasi budak-budak Melayu kini bisa salah paham, sehingga mereka beranggapan leluhur mereka adalah orang yang rakus dan ceroboh terhadap lingkungan, karena mereka lihat betapa rimba belantara dan lautan telah rusak binasa. Kearifan inilah yang seharusnya bisa jadi bahan bandingan, sumber gagasan dan bahan rencana bagi para pemimpin yang memang ingin meninggalkan jasa. Hanya dengan pemahaman yang memadai serupa itu, dapat dibuat perhitungan yang baik, sehingga masyarakat tidak makin tertindas.

Kita perlu pemimpin yang arif untuk menyelamatkan medan kehidupan dari bencana kerusakan lingkungan. Tanpa kearifan, manusia hanya dapat kesenangan semu. Pemimpin masyarakat adat puak Melayu masa silam telah memandang jabatan sebagai medan juang yang harus meninggalkan jasa untuk dikenang zuriat di kemudian hari. Sebagaimana kata Raja Ali Haji, pengarang Riau yang piawai itu dalam ikat gurindamnya, "hendaklah berjasa kepada yang sebangsa". Jika tidak, kearifan itu hanya akan hanyut dalam rangkaian pantun dan gurindam.

Kini, salah satu bukti kearifan lokal yang jenius itu masih bisa ditemukan di Bokor. Inilah saksi bagaimana Melayu membangun peradaban. Inilah spirit menjaga alam yang harus tetap digemuruhkan, jika Riau memang ditahbiskan sebagai salah satu paru-paru dunia. Inilah anugerah yang harus menjadi titik balik kita untuk kembali menghargai alam.

Menyelamatkan dunia dari Riau. Inilah obor dari Bokor. Suluh yang harus senantiasa dijaga apinya. Namun, jika para pemegang teraju kepemimpinan hanya berpikir sebatas kerongkongan, alamat padamlah ia. Maka, obor dari Bokor, jangan sampai teledor…***

Artikel lainnya :
Ekspedisi Hulu Sungai Bokor
Fiesta Bokor Riviera 2011
Desa Bokor Kecamatan Rangsang Barat
Herba Kembang Bokor
Peta Hutan Kabupaten Meranti Propinsi Riau
Tahun Baru Imlek di Selat Panjang
Bangunan Tua Kota Selatpanjang
Kearifan Lokal Memelihara Kampung di Pulau Ransang, Meranti : Obor dari Bokor
Unsur Mitos dalam Pelestarian Alam
Memperlakukan Alam Bagai Manusia


18 komentar:

  1. Hidup orang Melayu...!!!!!!!!
    Takkan Ilang Melayu dibumi....!

    BalasHapus
  2. huhuhuhuhu.....saya rindu dengan warna hijau daun dan rindangnya pohon!!!!

    sepertinya semua itu bakal jadi barang langka jika kita tidak berusaha menjaga ya bang!!!

    PAGIIIII BANG ATTAAAAAA!!!!

    BalasHapus
  3. kalau selalu dihubungkan dengan materi, maka timbullah keserakahan ketidakpedulian dengan alam, sehingga melupakan tugas sebagai khalifah di bumi dan saatnya bumi menyerang balik, dengan kekeringan, pemanasan global, naiknya permukaan air laut, jadi senyumlah kepada alam agar dia tersenyum padamu, artikel yang sangat mengugah bang

    BalasHapus
  4. Alam memang harus kita jaga ya bang, agar anak cucu kelak dapat menikmati keindahannya

    BalasHapus
  5. om...dija ikutan gerakan seo positif juga
    bener gak postingannya gitu??
    tolong di cek ya Om...

    BalasHapus
  6. Saya sangat setuju, bang.

    Alam harus diperlakukan sebagai manusia karena kita saling tergantung satu dengan yang lainnya.
    Kalau tidak maka manusia akan merugi, seperti yang terjadi akibat penebangan hutan secara babi buta menyebabkan berbagai bencana: banjir besar pada musim hujan, kekeringan pada musim panas.

    Selamat menikmati akhir pekan.

    BalasHapus
  7. Orang2 melayu yang punya tradisi bagus saja seperti kewalahan melawan kerakusan, apalagi orang di kampung saya yang tak mewarisi tradisi luhur dari orang tua. tapi yang penting perjuangannya, semoga orang melayu di Riau tetap menjaga warisan leluhur dan menginspirasi banyak bangsa di dunia.

    BalasHapus
  8. Alam juga manusia...eh salah. :)
    Maksudnya Alam juga butuh perhatian dari manusia ya bang supaya tetap asri

    BalasHapus
  9. sejahat-jahatnya maling adalah maling hutan, karena mereka telah merampas warisan alam dan budaya yang telah dipelihara sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu,
    untuk pejabat yang terhormat, semoga engkau segera mendapatkan balasan setimpal atas segala kebijakanmu, amin
    met liburan bang attayaya :D

    BalasHapus
  10. Rayuan para investor terhadap penguasa mengalahkan niat mereka untuk menjaga/memanfaatkan SDA secara bertanggung jawab, tawaran fee yg besar membuat mereka terus mengeluarkan izin. Padahal sering berpidato bahwa melestarikan alam itu penting .. jadi ndak nyambung perbuatan dan perkataan .. padahal masyarakat sejak dari dulu sudah punya mekanisme mempertahankan kelestarian alam

    BalasHapus
  11. Alam Juga Manusia. Tuh contohnya Alam penyanyi dangdut. Manusia belum tentu Alam,karena Alam sang penyanyi.

    BalasHapus
  12. hijaukan indonesiaku,semngat bos...

    BalasHapus
  13. Yup..., perkataan saja tak cukup... Harus langsung diterapkan..., Percuma gembar-gembor jaga alam dengan baik bila masih banyak pengusaha yang memanfaatkan lahan ini dengan merusaknya....

    BalasHapus
  14. Hutan hutanku
    tetaplah menjadi hutan
    tetaplah gelap jangan menjadi terang..

    Sebuah lagu untuk Mas Attayaya, judulnya Hutan hutanku..

    BalasHapus
  15. Ingatlah kalo kita merusak alam, suatu saat nanti alam 'tidak akan ramah lagi' kepada kita dan muncullah bencana :-(

    BalasHapus

Copyright © 2013 attayaya: Memperlakukan Alam Bagai Manusia | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah