15 Februari 2011

Kearifan Lokal Memelihara Kampung di Pulau Ransang, Meranti : Obor dari Bokor

Kearifan Lokal Memelihara Kampung
di Pulau Ransang, Meranti
Laporan PURNIMASARI, Bokor
purnimasari@riaupos.com


Adat orang hidup beriman
Tahu menjaga laut dan hutan
Tahu menjaga kayu dan kayan
Tahu menjaga binatang hutan
Tebasnya tidak menghabiskan
Tebangnya tidak memusnahkan
Bakarnya tidak membinasakan


Siang yang cukup terik, tengah hari, di awal Januari. Para penumpang yang hendak menyeberang ke Pulau Ransang dari Pelabuhan Tanjung Harapan, Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, sibuk mencari posisi yang strategis dalam boat pancung. Yang paling nyaman adalah duduk di bangku belakang, karena percikan air akibat hempasan haluan boat pancung akan sedikit berkurang. Sekitar 15 menit, boat pancung singgah ke Pelabuhan Peranggas, Desa Lemang, Kecamatan Ransang Barat untuk menurunkan pesisir. Letak Peranggas berhadap-hadapan dengan Tanjung Harapan. Jurumudi kemudian menyusuri Selat Air Hitam hingga bertemu kuala Sungai Bokor. Seketika, kawanan bakau (mangrove) yang terpelihara pun menyambut. Dari Selatpanjang ke Pelabuhan Bokor kurang lebih memakan waktu sekitar 30 menit.

Untuk sampai ke Bokor sebenarnya ada banyak jalan. Bisa lewat Bantar (ibukota Kecamatan Ransang Barat), Sialang Pasung, Tanah Kuning dan pelabuhan Kampung Jepun. Tapi umumnya adalah lewat Peranggas atau menyusuri sungai hingga ke pelabuhan Bokor. Jarak antara Peranggas ke Bokor kurang lebih 8 Km dan bisa ditempuh dengan sepeda motor.

Tiba di Bokor, suasana teduh pun menyapa. Jalan-jalan di kampung dicor semen dan cukup lebar. Pohon buah-buahan begitu mudah dijumpai. Mulai dari yang biasa seperti cempedak, manggis, jambu, langsat dan duku, hingga buah-buahan rimba yang sudah mulai langka seperti tampui, buah kundang (mirip anggur), paye (seperti salak tapi lebih kecil), pulas, lekop, sentul, semprung (seperti duku tapi agak besar) dan lain sebagainya. Batang-batang durian raksasa tumbuh di mana-mana, tinggi menjulang, menjilat angkasa. Nuansa rimba kian terasa ketika kicau burung dan bunyi selenging (iy’ang-iy’ang) menyelinap, menggelitik telinga.

Jika kita berjalan ke kampung-kampung lainnya di sekitar Bokor, maka lintasan-lintasan pemandangan yang dijumpai sungguh menyentuh dawai perasaan atau hati. Ada kebun getah, kelapa, kopi, pinang, kakao, saka, hingga taman padi yang permai diselingi panggung-panggung kecil tempat beristirahat. Kebun-kebun ini silih berganti dan kadang menyatu dalam sebuah komposisi yang unik ibarat sebuah lukisan. Kelapa bisa bersanding dengan padi. Pinang bisa berkawan dengan kopi. Bahkan, teras-teras rumah adalah huma padi. Sungguh persulaman-persulaman yang menenteramkan hati. Mirip patchwork (jahitan kain perca) yang meski main tabrak, campur aduk, namun tetap jelita. Hanya tangan lasak nan piawai yang sanggup menaklukkannya.

Hebatnya, semua komoditas itu berukuran serba jumbo. Semua terasa sanggam karena tanah yang dikawal sungai dan selat ini sangat subur sebab bersemenda dengan air masin. Pendek kata: kemari jadi, apapun ditanam, hasilnya takkan risau hati. Inilah cuplikan-cuplikan pemandangan alam semula jadi yang sungguh membuat takzim.

Di sepanjang jalan di kampung-kampung, penduduk menjemur pinang dan kopra. Kalau banyak, ia disusun di para-para di pekarangan rumah. Namun tidak diserakkan begitu saja. Buah pinang yang telah dibelah disusun dalam shaf-shaf yang rapi, pertanda yang melakukannya memang bertolak dari pangkal hati. Para perempuan mengumpulkan daun pandan untuk dibuat tikar. Budak-budak tertawa gembira bermain air di parit-parit besar yang membelah kampung mereka.

‘Bela’ Kampung, Sebuah Ritus Tua


Uniknya, masyarakat Bokor masih menegakkan tradisi ‘bela’ kampung. Dalam helat itu, penduduk melakukan ratib saman (berzikir) sambil berjalan keliling kampung. Tradisi ‘bela’ kampung sebenarnya dikenal hampir di semua tempat di Riau. Dalam dialek puak Melayu di daratan biasanya diucapkan dengan kata bolo. Artinya merawat, memelihara. Bedanya, biasanya ratib saman hanya dilakukan dalam surau atau masjid. Biasanya, ratib saman ini dilakukan orang-orang tarikat dengan maksud tolak bala, menghindarkan malapetaka dari kampung. Karena itu ia disebut juga ratib berjalan atau ratib tolak bala. Ini adalah sebuah ritus tua, tradisi yang sudah sangat lama. Paling akhir diperkirakan hanya ada sekitar tahun 1940-an.

Menurut wakil ketua panitia ‘bela’ kampung, Khaidir, ritual ‘bela’ kampung di Bokor sebenarnya juga sudah lama tak dilaksanakan, lebih kurang ada 17 tahun.
Kini kita coba adakan lagi untuk memacu semangat generasi muda bahwa pentingnya pelestarian budaya serta agar jauh dari bala petaka. Karena insya Allah akan diadakan sebuah helat besar di Bokor pertengahan tahun ini, dari hasil rapat dengan penduduk, diputuskan kita harus ‘bela’ kampung dulu. ‘Bela’ kampung sebenarnya ada dua versi, yakni secara adat dan syarak. Secara adat dilakukan dengan membuat sesajian di ancak dan yang secara syarak dilakukan dengan ratib saman keliling kampung," ujar Khaidir yang juga wakil ketua Badan Pembangunan Desa itu.

Menurut salah seorang tetua masyarakat Bokor, Uzir (42), tradisi ‘bela’ kampung dengan ratib saman keliling kampung adalah sebuah tradisi tua dan dulu dilakukan hampir di seluruh daerah di Kepulauan Meranti. Namun seiring perkembangan zaman, hal itu sudah makin jarang dilakukan bahkan nyaris tak ada lagi.

Semasa ia kecil dulu, kenang Uzir, jumlah penduduk yang melakukan ‘bela’ kampung jauh lebih besar. Yang ikut tak hanya puak Melayu, tapi juga Jawa, Banjar dan Bugis. Ketika itu, ‘bela’ kampung tak cuma dilakukan di darat, tapi juga di sungai atau laut. Untuk ‘bela’ kampung di laut, mereka membuat gambar orang-orangan dari pelepah rumbia yang kemudian dihanyutkan ke sungai. "Kalau ‘bela’ kampung yang di laut, sampan-sampan diatur sedemikian rupa lalu diberi galang-galang dari papan sehingga antara sampan ke sampan saling berhubungan. Nanti, bomo (dukun) akan menari-nari di atas papan itu sampai ia serap (macam kerasukan, red). Kadang, ada juga yang sebelum ke sungai, bomo menari di atas dulang yang ada bara api," tutur Uzir.

Kini, lanjut Uzir, ‘bela’ kampung di laut tak lagi dilakukan karena bomo laut sudah tak ada. Meski anak sang bomo laut ramai, ternyata tak ada yang mewarisi ilmu sang ayah. Yang masih hidup hanyalah bomo darat yang akrab disapa Aki Jamil yang kini sudah berusia 80 tahunan. Meski umur sudah uzur, Aki Jamil hingga kini masih jadi bomo. Dengan kondisi tubuhnya yang sudah bungkuk, ia masih bisa membaca mantera-mantera. Dalam aturan mainnya, bomo darat tak bisa melakukan ‘bela’ kampung di laut, begitu pula sebaliknya. "Dulu, ‘bela’ kampung juga diikuti perempuan. Yang paling berat adalah yang di laut. Karena penduduk akan berkumpul di kuala Sungai Bokor dan kemudian terjun ke laut. Mereka mengambil akar-akar kayu yang ada di kuala sungai lalu dibawa pulang untuk dijadikan obat," ungkap Uzir.

Dikatakan Uzir, sebenarnya, semua penduduk boleh ikut ‘bela’ kampung. Syaratnya, sudah akil baligh, berwudhu dan bersih dari hadas kecil dan hadas besar. Di hulu Sungai Bokor yang merupakan kampung tua dekat Sarang Burung dan Sengelir, penduduknya melakukan ‘bela’ kampung ketika buah-buahan sudah mulai masak. Hanya, mereka tak membuat ancak dan ratib saman cukup dilaksanakan di surau. Itu masih dilakukan hingga kini. Uniknya, meski sudah masak, buah-buahan yang ada di sana tak boleh dihabiskan semuanya oleh manusia, tapi harus disisihkan beberapa agar bisa dimakan hewan.

"‘Bela’ kampung dilakukan untuk menghindari gangguan makhluk halus dan syetan. Dengan adanya ‘bela’ kampung, diharapkan semua jenis tanaman terhindar dari penyakit. Karena itu ‘bela’ kampung ini boleh diteruskan. Sebab kalau dari sekarang kita sudah mengembangkan tradisi, anak-anak kita di kemudian hari insya Allah takkan lupa. Mungkin bisa saja dilakukan sekali setahun saat tahun baru Islam," tutur Uzir.

Warga Bokor lainnya, Om Bay (40) juga menilai bagus diadakannya kembali ‘bela’ kampung. "Ini sebenarnya sudah tradisi desa kami puluhan tahun lalu untuk menghindari bala. Masa saya kecil dulu, waktu orang sedang berzikir tu, kita tak boleh terserempak (berhadapan), juga tak boleh keluar rumah karena dianggap tak baik," kenang Om Bay.


Artikel lainnya :
Ekspedisi Hulu Sungai Bokor
Fiesta Bokor Riviera 2011
Desa Bokor Kecamatan Rangsang Barat
Herba Kembang Bokor
Peta Hutan Kabupaten Meranti Propinsi Riau
Tahun Baru Imlek di Selat Panjang
Bangunan Tua Kota Selatpanjang
Kearifan Lokal Memelihara Kampung di Pulau Ransang, Meranti : Obor dari Bokor
Unsur Mitos dalam Pelestarian Alam
Memperlakukan Alam Bagai Manusia







Copyright © 2013 attayaya: Kearifan Lokal Memelihara Kampung di Pulau Ransang, Meranti : Obor dari Bokor | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah