08 September 2011

Program Reforest Indonesia

Program Reforest Indonesia mengajak masyarakat untuk menanam suatu jenis pohon di tempatnya masing-masing. Salah satu jenis pohon yang dicanangkan sebagai pohon penghijauan dalam Program Reforest Indonesia tersebut adalah dari jenis pohon Trembesi sebagai pohon penyerap karbondioksida terbaik.

Baaaah seharusnya nanamnya di hutan sana, hutan yang hancur karena pengusahanya udah dibiayai oleh pihak bank. Tidak banyak masyarakat yang memiliki lahan kosong untuk ditanami pohon trembesi yang mengambil luas sekitar 10m x 10m (mungkin lebih). Maka untuk itu, perlu pihak perusahaan membeli tanah luas untuk nanam pohon dan dijadikan hutan khusus. Dananya bisa didapat dari dana Community Development (CD) milik bank yang bisa digabung ma CD dari pengusaha itu.

KOK MEREKA MELAKUKAN PROGRAM REFOREST INDONESIA INI NANGGUNG-NANGGUNG YA???

iiihhhh sinis amat aku ya... :)

Ayolaaaah wahai perusahaan-perusahaan HPH, Hutan Industri, pabrik bubur kertas, pabrik kertas, perkebunan sawit dan karet, jangan cuma mau mengeruk keuntungan tapi melupakan keseimbangan alam.

Program Reforest Indonesia

Coba sisihkan sebagian keuntungan perusahaan untuk membeli lahan dan lalu wakaf-kan atau sedekahkan ke masyarakat dengan payung hukum yang jelas. Tanam lahan tersebut dengan pepohonan. Kurasa semua perusahaan dapat membeli lahan sekitar 5 hektar di tepian kota untuk dijadikan kebun raya atau hutan raya. Di Pekanbaru harga tanah di tepian kota seluas 1 hektar berharga sekitar 80 juta - 200 juta. Jika dibeli seluas 5 hektar butuh biaya sekitar 400 juta sampai 1 milyar. Tidak akan sulit untuk melakukan hal itu oleh perusahaan-perusahaan besar sekelas RAPP, Sinar Mas dan perusahaan-perusahaan lainnya. Kemudian tanah yang sudah dibeli tersebut, jadikan sebagai hutan raya. Bisa tetap atas nama perusahaan, hibah ke masyarakat atau pemerintah dengan perjanjian hukum bahwa tanah tersebut ditetapkan sebagai Hutan Raya dan tidak boleh diperjualbelikan kembali.

Kami masyarakat tetap akan menanam pohon di tempat kami masing-masing. Kalian perusahaan besar, belilah tanah dan jadikan Hutan Raya. Kalian bisa juga merubah hutan yang telah habis HPH-nya tetap menjadi hutan, bukan menjadikannya perkebunan sawit. Wahai kalian perusahaan-perusahaan yang telah menghancurkan Semenanjung Kampar. Berhentilah membabat habis hutan. Walau kalian dapat surat sakti di Jakarta. Perhatikanlah keseimbangan alam. (Lihat daftar Perusahaan Perusak Semenanjung Kampar). Baca tentang : Kehancuran Semenanjung Kampar Riau.

Aku menulis ini karena aku belum pernah melihat Hutan Raya di Pekanbaru milik perusahaan. Kalo di Bekasi aku sudah melihat Jababeka Botanical Garden (Hutan Raya Jababeka). Di Riau ini ga ada Hutan Raya yang bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat. Ada beberapa taman perusahaan yang kalau mau masuk harus lapor satpam bertampang bengis yang tidak bersahabat dan harus meninggalkan SIM atau KTP atau kartu tanda pengenal lainnya.

Hutan Rakyat di Pekanbaru yang berada di daerah Rindu Sempadan (perbatasan Pekanbaru-Minas) saja sebagian sudah dijarah oleh perusahaan dan oknum-oknum aparat.

Hmmmm.... seandainya aku punya duit 1 milyar. Aku akan beli tanah untuk dijadikan Hutan Raya untuk menjalankan Program Reforest Indonesia oleh diriku sendiri.

Rincian biaya :
Tanah 4 hektar = Rp.800.000.000
Parit Gajah keliling = Rp.80.000.000
Bibit sebanyak-banyaknya = Rp.20.000.000
Perawatan 5 tahun = Rp.100.000.000
Total = Rp.1.000.000.000

Ternyata duitku tak sebanyak itu.
Siapa yang mau nyumbang ya???
Apa bisa minta ke Ford Foundation untuk mendukung Program Reforest Indonesia yang kulakukan???

Tanah di depan rumahku ada lahan tanah sekitar 50m x 100m yang telah kutanam beberapa pohon, tetapi tidak semua lahan bisa ditanami, karena sang pemilik menjadikan lahan tersebut untuk kegiatan sosial salah satunya untuk Shalat Ied yang membutuhkan areal lapang. Jadi aku hanya bisa menanam di pinggiran lahan saja. Lumayanlah.....


Yang mau baca tentang Lahan Gambut ada di
http://assets.wwfid.panda.org/downloads/faqgambut.pdf

22 komentar:

  1. Nanti kalau pohonnya dah besar2 ditebangi sama perusahaan besar githu yah, Bang? :(

    BalasHapus
  2. GO GREEN Indonesia...
    memotifasi kesadaran masyarakat akan pntingnya pohon...

    BalasHapus
  3. Moga pragram ini di ikuti semua masyarakat ya bang

    BalasHapus
  4. jangan pada bakar bakaran hutan! :p :)

    BalasHapus
  5. Banyak juga buat beli tanahnya om, habis 1 milyar.

    BalasHapus
  6. Walaupun lokasi terdekat dari rumah saya ada di semarang kemarin iseng2 saya ikutan mendaftar.
    Cuman iseng, lha masak mau datang sejauh itu cuman ngambil bibiut sebatang trembesi yang di desa saya saja melimpah-limpah.
    Dapat balasan email tapi belum dapat penjelasan komplit tentang tata cara dan lokasi penanamannya. Apakah disediakan lahan tersendiri atau ditanam di tempat yg terserah.

    BalasHapus
  7. Jadi inget kalau di SMPku dulu ada pohon trembesi yg besar sekali.. dan memang tempat paling sejuk adalah di bawah pohon trembesi itu... Pohon trembesi yg penuh kenangan wkwkwk... :p

    BalasHapus
  8. Dear bang Atta,

    Minal aidin wal faidizin.... maaaf lahir dan bathin....

    sebetulnya sebagai forester.... gw juga udah melihat itu sebagai sebuah kepura-puraan saja dan menghabiskan uang triyunan buat sesuatu yang sia2..... pengelolaan hutan di indonesia snagat carut marut.... pejabat yang jadi gubernur, bupati walikota ayau apaun yang bukan atau tak ada pengalaman ngurus hutan... sok-sok an ngurus hutan,,, yach jadinya ya... gini dech... ngawur...... kashian riau... setiap tahun mengirimkan asap ke berbagai negara asean... trus setiap tahun juga kena sumpah seranah dari setiap orang yang terganggu dengan adanya asap..... pengelolaan hutan ondomesia carut marut sekali banyak uang yang sia-sia....

    regards,
    ... Ayah Zahia ...

    BalasHapus
  9. Selamat Berjuang... kesungguhan pasti akan tercapai cita-citanya... salam kenal Farah Herbal... :)

    BalasHapus
  10. Kalau tidak salah perusahaan yang punya HPH wajib setor uang tertentu untuk penghijauan kembali : dana reboisasi.
    Yang jadi masalah dananya kemana sekarang?
    Dulu zaman Pak Harto sebagian dipakai untuk mendanai program pak Habihie (IPTN).

    BalasHapus
  11. semoga saja dana sebesar itu tidak disalah gunakan.

    BalasHapus
  12. mantap nie artikel nya sangat bagus nie gan............

    BalasHapus
  13. klu program blackforest bagaimana om. Aku klu ada tanah,akan kutanam banyak pohon om, tapi tak ada tanah, ada yg jual tanah ngak om,lokasi digobah dan tangkerang,harga yang murahlah.

    BalasHapus
  14. saya cuma punya pot kecil depan kamar kos, setelah baca ini, akan dipertimbngkn nanam lagi utk penyerap CO2 :D

    BalasHapus
  15. Saya sih nanem pohon yg kecil-kecil aja. Soalnya kalau nanem besar-besar, males nyapuin daunnya. Apalagi kalau saya lagi sibuk & pas jarang di rumah :D

    BalasHapus
  16. poto nya sangat bagus dan menarik nie............

    BalasHapus
  17. aku udah ndaftar, tapi mpe sekarang ga pernah dihubungi

    BalasHapus
  18. bener banget tw pengusaha2 yang udah bikin hutan jadi pada gundul... ;)

    BalasHapus
  19. sudah saatnya kita berpikir utk keberlangsungan kehidupan di bumi ini...

    BalasHapus
  20. aaah ga pernah dihubungi utk ngambil bibit di Panin

    BalasHapus

Copyright © 2013 attayaya: Program Reforest Indonesia | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah