08 Agustus 2011

Taman Nasional Tesso Nilo di Ambang Kehancuran

Tetap Semangat di Ambang Kehancuran

Laporan Mashuri Kurniawan Pelalawan
mashurikurniawan@riaupos.co.id

Degradasi mengancam Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Kekayaan alam hayati yang terkandung di dalam TNTN satu persatu habis dirambah pembalakan liar. Dengan leluasa perambahan hutan hingga kini masih berlangsung di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo Riau yang mengancam keberadaan hutan konservasi itu.

Pemandangan pohon tumbang, pembakaran lahan, kayu ilog tersusun rapi bisa dilihat di kawasan tersebut sebagai akibat kegiatan deforestasi hutan. Berbagai jenis kayu seperti Gaharu (Aquilaria malaccensis), Ramin (Gonystylus bancanus), Keranji (Diallium), Meranti (Shorea), Keruing (Dipterocarpus), kondisinya sangat miris karena ditebang pelaku pembalakan liar. Bentangan hijau tanaman sawit dan raungan bunyi chinsaw juga bisa didengar keras. Pembalak liar dengan mudah masuk ke dalam kawasan TNTN karena akses ke dalam hutan yang sudah cukup lancar. Ratusan kepala keluarga juga berada dalam kawasan TNTN. Bahkan pekerjaan mereka juga ada yang sebagai pembersih lahan. Jalan tanah kuning dengan lebar enam meter menjadi koridor-koridor pembalak liar masuk ke dalam hutan. Jalan ini merupakan eks yang dibangun perusahaan eks HPH dan perusahaan besar. Pelaku umumnya adalah masyarakat setempat yang kondisi ekonominya terbatas serta memerlukan lahan untuk memperluas kebun dalam menggantungkan hidupnya. Namun dijumpai juga adanya masyarakat luar yang ikut melakukan pelanggaran ini.

Padahal sudah jelas dasar penunjukan dijadikannya kawasan hutan tersebut sebagai Taman Nasional Teso Nilo (TNTN) yakni SK Menteri Kehutanan No. 255/Menhut-II/2004 tanggal 19 Juli 2004 merubah fungsi sebagian kawasan HPT di Kelompok Kawasan Hutan Produksi Terbatas Tesso Nilo seluas lebih kurang 38.576 hektar di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu, Provinsi Riau sebagai Kawasan Pelestarian Alam dengan fungsi Taman Nasional.

Dasar ini diperkuat lagi SK Menteri Kehutanan Nomor SK.663/Menhut-II/2009 tanggal 15 Oktober 2009 tentang Perluasan Taman Nasional Tesso Nilo menjadi lebih kurang 83.068 hektar (penambahan luas lebih kurang 44.492 hektar berasal dari HPH PT Nanjak Makmur). Namun tetap saja, ada oknum tidak bertanggungjawab melakukan pembalakan liar. Apakah karena pengawasan yang lemah dari instansi pemerintah di bidang ini? Sehingga pembalakan liar dapat berlangsung dengan leluasa. Begitu juga dengan penjarahan dan klaim lahan yang banyak dijumpai di kawasan hutan Tesso Nilo.

Beberapa masyarakat yang ditemui Riau Pos akhir pekan lalu di lokasi TNTN, menyebutkan, mereka melakukan ini karena kondisi ekonomi keluarga. Termasuk permintaan kayu dari oknum pengusaha yang tinggi. Ditambah lagi, lahan disekitar lokasi akses menuju TNTN sangat mudah dilakukan.

Seperti yang diutarakan ZK (35), tuntunan memenuhi kebutuhan keluarga seharian membuat dirinya memberanikan diri diberi pekerjaan oleh oknum orang berduit untuk melakukan pembersihan hutan. Pembersihan hutan dengan cara dibakar dan melakukan penebangan pohon dilakoninya dengan upah sebesar Rp600.000.

"Uang yang saya terima dari kerja untuk membuka lahan perkebunan Rp600.000. Itu uangnya untuk membeli boreh (beras - red), minyak, dan memenuhi kebutuhan keluarga," ungkapnya. Segala pekerjaan pembersihan lahan dan kebutuhan yang diinginkan dilakoninya.

Walaupun diakuinya, pekerjaan ini sangat berbahaya karena bertaruh nyawa, ZK tetap melakukan. ZK bekerja tidak sendiri bersama dengan empat orang teman seprofesinya membantu melakukan pembersihan lahan. Pria itu mengaku bernama Idham. Bersama dengan ZK, Idham rela berpanasan dan menanggung akibatnya, termasuk dikejar Polisi Kehutanan. Kedua orang ini saling membantu dalam menjalankan pekerjaannya.

Bagi Idham, kalau bekerja sendiri tidak akan bisa melakukan pembersihan lahan dan penebangan pohon. Biasanya kata dia, pekerjaan itu dilakukan berkelompok. Dengan begitu akan mempemudah pekerjaan tersebut. "Bapak mau cari lahan," kata Idham menawarkan kepada Riau Pos. "Mau keliling saja pak," jawab Riau Pos.

Harga lahan dilokasi TNTN dari penuturan Idham, dua hektar hanya dijual Rp10 juta sampai dengan Rp15 juta. Lahan dengan harga seluas itu, masih berbentuk semak belukar dan pepohonan. Banyak orang berduit yang membeli lahan di lokasi TNTN untuk membuka perkebunan sawit.

28.000 Hektar Lahan TNTN Rusak Dirambah
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan juga mengakui, perambahan hutan hingga sekarang masih berlangsung di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo Riau yang mengancam keberadaan hutan konservasi di provinsi itu. Dari data yang diperolehnya, sambung Zulkifli, 30 persen atau seluas 28.000 hektar lebih dari luas total 83.000 hektar kawasan konservasi Taman Nasional Tesso Nilo berada dalam kondisi yang rusak akibat dirambah.

“Saya sangat berharap penegak hukum di Riau dan seluruh instansi terkait dilapangan bisa melakukan pengawasan secara intensif. Bila ditemukan kelompok masyarakat yang melakukan pembakaran lahan dan pembalakan liar hendakanya bisa diberikan hukum setimpal, sesuai ketentuan berlaku," kata Zulkifli kepada wartawan belum lama ini, di Pekanbaru. Orang nomor satu di Kementrian Kehutanan RI ini juga berharap Tesso Nilo dikembalikan menjadi taman nasional. Karena bagi dia, peranan hutan ini bisa menjaga keseimbangan ekosistem pada komponen-kompenen yang berhubungan secara langsung pada kehidupan manusia sehari-hari.

Keseimbangan tersebut menurutnya, bisa mencegah banjir serta kekeringan. Tingginya tingkat pengrusakan hutan dan konflik antara manusia dengan gajah di Riau, menjadikan kawasan TNTN menjadi sangat istimewa dan perlu mendapat prioritas tinggi dalam hal pelestarian keanekaragaman hayati yang masih tersisa. Sehingga kawasan ini dapat berfungsi sebagai daerah alternatif untuk translokasi gajah yang berkonflik dengan manusia di Riau.

Kepala Sie Pengelolaan Taman nasional wilayah I, BP DAS Indragiri Rokan, Suhana mengatakan, permasalahan di TNTN dipicu oleh kondisi ekonomi masyarakat di sekitar hutan serta kebutuhan akan kayu yang demikian tinggi. Kemudian, lemahnya Komitmen Perusahaan HPH dan HTI dalam Perlindungan Hutan dan Koridor. Begitu juga dengan banyaknya akses jalan-koridor HPH dan HTI di sekitar kawasan.

Dari segi pengawasan, tegas Suhana, pihaknya bersama dengan Polisi Kehutanan sudah melakukan pengawasan secara ketat. Hanya saja diakuinya, keterbatasan anggota dilapangan dengan luas area yang ada di Kawasan TNTN tidak terjangkau. Namun demikian, ada beberapa pelaku yang sudah pernah diamankan. Kebanyakan pelaku perambahan, menurut dia, berasal dari luar daerah atau pendatang. Perambahan yang dilakukan menggunakan alat tradisional seperti parang. Tapi, ada juga yang mempergunakan cinsaw sebagai alat menebang kayu. Dilokasi juga ada hasil kayu hutan diolah menjadi papan ditemukan.

"Petugas dilapangan pernah menemukan pembalakan liar. Mereka ini sistimnya berkelompok. Jumlahnya empat sampai lima orang yang berkeja melakukan penebangan pohon. Hasil kayu yang sudah diolah dihanyutkan melalui Sungai Nilo. Kami tetap semangat mengatasi masalah ini," ungkapnya. Sedangkan untuk pengembangan perkebunan sawit, dari penuturan Suhana, kebanyakan masyarakat menggunakan sistim KKPA bekerjasama dengan pengusaha. Sementara para perambah yang tidak memiliki kelompok, berupaya mengembangkan perkebunan sawit di lahan-lahan yang masih murah di kawasan hutan yang sulit dijangkau.

Untuk mengatasi masalah ini, Suhana bersama tim dilapangan sudah melaukan sosialisasi kepada masyarakat untuk tidak lagi melakukan perambahan hutan. Kemudian, pemasangan plang pembatas dilokasi kawasan TNTN. Secara terus menerus, petugas terangnya, mengawasi kawasan hutan TNTN ini. Dengan harapan tidak dirambah oleh oknum masyarakat maupun pengusaha.

Menurut dia, permasalahan yang terjadi di TNTN merupakan tanggungjawab bersama. Seluruh elemen masyarakat diharapkan bisa bersama dan sadar untuk tidak melakukan penebangan hutan secara liar dikawasan ini.

Keanekaragaman Hayati Terganggu
Kawasan hutan TNTN memiliki keanekaragaman hayati tinggi serta merupakan habitat potensial untuk keberlangsungan jangka panjang bagi gajah Sumatera di Riau. Terjadinya perambahan dilokasi hutan TNTN sangat berdampak satwa dilindungi dan ekosistim sekiar terganggu. Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) Indragiri Rokan, Agus mengatakan, hutan Tesso Nilo merupakan hutan hujan dataran rendah yang tersisa di Sumatera saat ini. Hutan ini juga merupakan Sub Daerah Aliran Sungai Tesso dan Nilo yang merupakan Daerah Aliran Sungai Kampar serta merupakan perwakilan ekosistem transisi dataran tinggi dan rendah yang memiliki potensi keanekaragaman hayati tinggi.

Dari hasil penelitian Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) tahun 2003 ditemukan pohon 215 jenis dari 48 family dan anak pohon 305 jenis dari 56 family. Juga ditemukan 82 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan obat dan 4 jenis tumbuhan untuk racun ikan. Jenis tumbuhan dan racun tersebut terdiri dari 86 jenis dan 78 marga yang termasuk 46 famili untuk mengobati sekitar 38 macam penyakit.

Dari data BP DAS Indragiri-Rokan, dikawasan ini ditemukan juga 23 jenis mamalia dan dicatat sebanyak 34 jenis. Dari jumlah tersebut 18 jenis diantaranya berstatus dilindungi dan 16 jenis termasuk rawan punah berdasarakan kriteria IUCN. Diantaranya adalah Rusa Sambar (Cervus unicolor), Kijang Muncak (Muntiacus muntjak), Tapir Cipan (Tapirus indicu), Beruang Madu (Helarctos malayanus), Gajah (Elephas maximus sumatranus), Harimau (Panthera tigris sumatrae).

Sedangkan dari hasil penelitian Puslit Biologi LIPI juga tercatat 107 jenis burung dari 28 famili, salah satu yang tercatat adalah jenis burung beo sumatera (Gracula religiosa) yang hampir punah. Total jenis burung yang ditemukan tersebut merupakan 29 persen dari total jenis burung di pulau Sumatera yaitu 397 jenis diantaranya, Rangkong Badak (Buceros rhinoceros), Sempidan Sumatera (Lophura ignita),Serindit (Loriculus galgalus) dan Kuau (Argusianus argus) serta sebanyak 50 jenis ikan yang mewakili 31 genera, 16 familia dan 4 ordo.

Didalam hutan Tesso Nilo, ujar Agus terdapat beberapa anak sungai dan sungai besar yang bermuara ke Sungai Kampar. Sungai yang ada itu, sambungnya, airnya berwarna kecoklatan (karena lahan gambut - red). Sungai-sungai itu diantaranya Sungai Segati, Sungai Nilo, Sungai Tesso, Sungai Toro, Sungai Mamahan, Sungai Air Sawan dan Sungai Medang.

TNI Manunggal Masuk Hutan
Bersama dengan TNI AD, BP DAS Indragiri Rokan membuat kesepakatan menjaga kawasan TNTN dari perambah. Kesepakatan ini tertuang dalam Memorandum of Understanding antara Korem 031/Wirabima dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) Indragiri Rokan, di aula Makorem, akhir pekan lalu.

Komandan Komando Resort Militer (Danrem) 031/Wirabima, Kolonel Infantri Zaedun menegaskan, rehabilitasi kawasan hutan dan pengawasan merupakan tindaklanjut dari kesepakatan Panglima TNI dan Menhut RI, untuk menjaga lingkungan. Maraknya kerusakan hutan yang terjadi di Riau, khususnya dikawasan TNTN menjadi prioritas TNI sekarang ini. Menjadikan program rehabilitasi kawasan hutan sebagai prioritas, sambungnya, bukan hanya sekadar kegiatan seremonial saja. Seluruh anggota TNI yang berada dibawah Korem 031/Wirabima, wajib mematuhi semua kesepakatan yang sudah dibuat bersama antara Korem dan BP DAS Indragiri Rokan.

Dari penuturannya, Korem 031/Wirabima tahun 2011 ini mendapat lahan yang akan ditanam seluas 4.250 hektare dari 88.000 hektare yang rusak, termasuk didalamnya 28.000 hektare yang dirambah masyarakat dan pengusaha. Nama program TNI ini TMMH (TNI Manunggal Masuk Hutan) untuk menanam kembali hutan.

"Seluruh TNI AD yang berada dibawah Korem 031/Wirabima siap menyingsingkan lengan baju bersama-sama dengan BP DAS dan Dinas Kehutanan untuk melakukan penanaman kembali hutan telah rusak di kawasan TNTN. Termasuk dalam menertibkan pelaku pembalakan liar yang masih terjadi,’’ ujarnya.

Termasuk anggota TNI yang menjadi "beking" (backing) pembalakan liar dilapangan, Zaedun menegaskan, bila masyarakat menemukan anggota TNI bermain dilapangan atau menjadi beking pembalakan liar langsung laporkan kepada dirinya. Tindakan tegas pasti dilakukan terhadap anggota yang menjadi baking pembalakan liar dilapangan.

"Saya tidak ingin ada anggota TNI menjadi baking pembalakan liar di Riau. Bila ada masyarakat menemukannya, langsung laporkan kepada saya. Tindakan tegas menunggu anggota yang bermain tersebut," ujarnya.

Kerusakan yang terjadi di lahan konservasi ini, terangnya, masih terus terjadi pada area lahan yang masih menjadi habitat Gajah Sumatra dan perlintasan Harimau Sumatra.

Taman Nasional Tesso Nilo merupakan salah satu kawasan blok hutan tropis dataran rendah yang masih tersisa di Pulau Sumatera, dan merupakan habitat bagi hewan-hewan langka yang dilindungi seperti gajah dan harimau.

Diharapkan, seluruh lapisan masyarakat bisa bekerjasama menjaga kelestarian alam di kawasan Hutan Taman Nasional Tesso Nilo TNTN ini. Zaedun menghimbau kepada masyarakat, tidak lagi merambah hutan. Karena bisa menggangu ekosistim sekitar dan merugikan masyarakat sekitar. Bencana alam banjir menurut dia, pasti terjadi, bila hutan gundul. ***

Sumber :
Riau Pos
Ahad
24 Juli 2011
Halaman 33-34

Copyright © 2013 attayaya: Taman Nasional Tesso Nilo di Ambang Kehancuran | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah