26 August 2008

Jalan-jalan ke Bukittinggi

Bukittinggi memiliki julukan sebagai "kota wisata" karena banyaknya objek wisata yang terdapat di kota ini. Lembah Ngarai Sianok merupakan salah satu objek wisata utama. Taman Panorama yang terletak di dalam kota Bukittinggi memungkinkan wisatawan untuk melihat keindahan pemandangan Ngarai Sianok. Di dalam Taman Panorama juga terdapat gua bekas persembunyian tentara Jepang sewaktu Perang Dunia II yang disebut sebagai 'Lobang Jepang'.

Pasar Atas berada berdekatan dengan Jam Gadang yang merupakan pusat keramaian kota. Di dalam Pasar Atas yang selalu ramai terdapat banyak penjual kerajinan bordir dan makanan kecil oleh-oleh khas Sumatera Barat seperti Keripik Sanjai yang terbuat dari singkong, serta Kerupuk Jangek (Kerupuk Kulit) yang terbuat dari kulit sapi atau kerbau dan Karak Kaliang, sejenis makanan kecil khas Bukittinggi yang berbentuk seperti angka 8.

Poto ini diambil di lokasi :
Bukittinggi : Hotel Lima's, kaki lima Pasar Atas, Parkiran mobil Pasar Atas, Pasar Los Lambuang, Kerupuk Jangek Pasar Atas, Pisang Kapik Pasar Atas.
Payakumbuh : Lembah Harau, Lokasi Pembangunan Jalan Layang Kelok Sembilan, Danau PLTA Koto Panjang yang lagi kekeringan, dan kantor.


Lihat juga yang lainnya deh...

Poto berikut adalah sebagian angkot di Kota Padang, Pantai Muaro, Sanjai Christine Hakim, Pantai Teluk Bayur, Bukittinggi dan Lembah Harau Payakumbuh.









Kota Bukittinggi adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 25,24 km² dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 100.000 jiwa. Letaknya sekitar 2 jam perjalanan lewat darat (90 km) dari ibukota provinsi Padang. Bukittinggi dikelilingi tiga gunung berapi yaitu Gunung Singgalang, Gunung Marapi dan Gunung Sago.

Kota yang merupakan kota kelahiran Bung Hatta, adalah sebuah kota budaya di Sumatera Barat dan terkenal dengan Jam Gadang yang merupakan simbol kota Bukittinggi.
Selain memiliki potensi objek wisata, kota berhawa sejuk ini merupakan salah satu daerah tujuan utama dalam bidang perdagangan di pulau Sumatera. Bukittinggi telah lama dikenal sebagai pusat penjualan konveksi yang tepatnya berada di Pasar aur kuning.

Jam Gadang adalah sebuah menara jam yang merupakan markah tanah kota Bukittinggi dan provinsi Sumatra Barat di Indonesia. Simbol khas Sumatera Barat ini pun memiliki cerita dan keunikan karena usianya yang sudah puluhan tahun.

Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota). Pada masa penjajahan Belanda, jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan, sedangkan pada masa pendudukan Jepang, berbentuk klenteng. Pada masa kemerdekaan, bentuknya berubah lagi menjadi ornamen rumah adat Minangkabau.
Ukuran diameter jam ini adalah 80 cm, dengan denah dasar 13x4 meter sedangkan tingginya 26 meter. Pembangunan Jam Gadang yang konon menghabiskan total biaya pembangunan 3.000 Gulden ini, akhirnya menjadi markah tanah atau lambang dari kota Bukittinggi. Ada keunikan dari angka-angka Romawi pada Jam Gadang ini. Bila penulisan huruf Romawi biasanya pada angka enam adalah VI, angka tujuh adalah VII dan angka delapan adalah VIII, Jam Gadang ini menulis angka empat dengan simbol IIII (umumnya IV).

Sebagai kota wisata, tentunya Bukittinggi terkenal dengan oleh-olehnya yang bisa dibawa pulang wisatawan domestik maupun mancanegara, misalnya :
  1. keripik sanjai yang terbuat dari ubi dan cabe
  2. kerupuk jangek yang terbuat dari kulit kerbau atau sapi
  3. kue delapan dari tepung terigu dan bumbu
  4. bareh randang yang terbuat dari beras ditumbuk dan gula halus
  5. aneka makanan ringan lainnya
  6. aneka sendal dari karet maupun kulit dengan berbagai jenis seperti sendal pak datuk, sendal karet, sendal bordiran, dan lain-lain
  7. aneka kerajinan tangan lainnya seperti gantungan kunci
  8. aneka bordiran
  9. aneka jilbab
  10. aneka mukena
  11. aneka kain sarung

Bila kita berwisata ke ranah minang, akan terasa kurang bila kita tidak sekalian berwisata kuliner. "Urang Minang" terkenal dengan jago masaknya. Banyak makanan khas yang berasal dari daerah ini. Bahkan hati kita menjadi miris mendengar jika masakan rendang yang terkenal itu telah di patenkan oleh sebuah negara tetangga kita.

Jangan lupa juga untuk mengisi "kampung tengah" alias perut, karena terlalu sibuk berbelanja. Untuk urusan perut, "pasar los lambuang" (sangat pas namanya) menjajakan aneka makanan masakan khas minangkabau khususnya Bukittinggi yaitu "nasi kapau".
Jadi, tidak perlu takut untuk urusan perut jika berjalan-jalan ke Sumatera Barat, khususnya Bukittinggi. Tetapi harus tahan pedas, karena umumnya masakan minang selalu pedas. Sarapan dan makan siang bisa mampir dulu di Pasar Atas. Nama area tempat makan disana bernama “Pasar Los Lambuang”. Lambuang artinya lambung atau perut, jadi tepat sekali penamaan tersebut karena semuanya memang berurusan dengan perut. Mulai dari “katupek” (ketupat), kue lupis, nasi kapau lengkap dijajakan di Los Lambuang. Kalau nasi kapau lengkap dengan lauk pauknya seperti :
  1. usus berisi telur,
  2. tunjang,
  3. rendang daging/ayam,
  4. gulai babek (babat/isi perut sapi),
  5. gulai hati sapi,
  6. dendeng “kariang” atau kering,
  7. baluik masiak (belut kering),
  8. ayam lado merah,
  9. sayur kapau (gulai cubadak/nangka + lobak/kol + sedikit jeki (jengkol) + kacang panjang), dan
  10. gulai ikan batalua (bertelur).
Ciri khas menyajikan nasi kapau adalah dengan menggunakan sendok panjang. Sang penjaja biasanya perempuan dan dipanggil "uni" yang berarti kakak, akan berada ditengah-tengah tempat lauk-pauk yang dijajakan. Jika pengunjung meminta nasi plus dendeng kariang/kering, si uni akan menjulurkan sendok panjangnya untuk mengambil dendeng dan meletakkannya di dalam piring nasi, kemudian baru diserahkan kepada pengunjung.

Jika tidak cukup 1 piring nasi mengganjal perut anda yang telah keroncongan, silahkan bilang/sebut "tambuah nasi ciek" yang berarti "tambah nasi satu" piring lagi yang biasanya akan diberi kuah gulai, bahkan mungkin dapat rejeki sibiran daging gulainya sebagai penambah nikmat.
Jika anda menyebutkan "tambuah nasi ciek, kariang" berarti anda hanya meminta nasi saja tanpa kuah gulai atau sibiran daging

Catatan :
Masing-masing daerah mempunyai ciri khas masing-masing.
Jeki atau Jengkol atau Jering bukan merupakan makanan khas Bukittingi tetapi khas Pariaman. Jeki pada masakan nasi kapau Bukittinggi hanyalah merupakan pelengkap saja.


2 comments:

  1. Slidenya bagus. Gimana cara dapet beberapa gbrnya? ada view yang diperlukan. tq

    ReplyDelete
  2. kapan lagi bisa jalan seperti ini ya??? Bener2 asyik... Thanks so much ya.....

    ReplyDelete

Copyright © 2013 attayaya: Jalan-jalan ke Bukittinggi | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah