13 December 2011

Lingga Negeri Bunda Tanah Melayu

Lingga Negeri Bunda Tanah Melayu begitulah tag-line untuk Kabupaten Lingga yang beribukota di DAIK. Tagline yang didengungkan oleh Prof. Yusmar Yusuf di tahun 1999 ini melekat samai sekarang. Ketika itu istilah ini muncul dalam kegiatan acara Perkampungan Penulis Melayu Serumpun yang dilaksanakan di Daik Lingga. Lebih tepatnya tagline tersebut adalah Lingga Negeri Bunda Tanah Melayu. 10 tahun kemudian tagline tersebut terjadi penambahan menjadi Daik Lingga sebagai Negeri Bunda Tanah Melayu yang Bertamadun Melayu. Lingga dahulunya merupakan sebuah kerajaan Melayu yang sangat besar dan menjadi induk dari perkembangan budaya Melayu ke depannya.

Daik Lingga, itulah tempat nenek moyangku bertempat tinggal dahulu kala. Menurut Silsilah Keluarga, dimulai dari Yamtuan II Daeng Celak (1728-1748), seorang keturunan Bugis Bone yang memerintah di Riau (Tanjungpinang), dilantik oleh Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah I. Turunannya pun menetap di sekitar pulau Lingga dan Pulau Singkep seperti Daeng Putera, Daeng Muhammad, Daeng Masiki, Daeng Usman, Daeng Basrah (Daeng H.M. Saleh Chalidi) dan seterusnya. Sayangnya perunut silsilah keluarga ini telah dipanggil Allah SWT (penggagas buku Butang Emas, Warisan Budaya Melayu Kepulauan Riau).

*****

Tanggal 9 Desember 2011, bersama Prof. Yusmar Yusuf, dan para pekerja seni Griven H. Putera, Samson Rambah Pasir serta Kamarulzaman, aku berangkat ke Daik Lingga yang berarti aku pulang kampung untuk yang pertama kalinya. Aku yang terlahir Natuna di sebuah pulau bernama Terempa di ujung utara Propinsi Riau (sekarang Propinsi Kepulauan Riau), tidak pernah menjejakkan kaki ke Daik Lingga. Keturunan bapakku banyak tinggal di Dabo Singkep yang berbeda pulau dengan Daik Lingga.

Dari Pekanbaru naik pesawat ke Batam yang dilanjutkan dengan naik speedboat ke Kota Daik memakan waktu sekitar 4,5 jam. Perjalanan kali ini mengambil rute melalui pulau-pulau kecil di sekitar 4 pulau besar yaitu pulau Temiang, Pulau Sebangka dan pulau Bakung serta Pulau Lingga itu sendiri. Hanya pulau Singkep yang tidak dilalui oleh rute ini. Maka, pemandangan indah terpampang jelas di depan mata. Inilah keindahan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa kepada Kabupaten Lingga. Pulau-pulau yang berjumlah 531 buah dan telah dihuni sebanyak 92 buah pulau. Sisanya adalah pulau-pulau yang tidak berpenghuni atau hanya disinggahi nelayan secara tidak tetap.

Dalam perjalanan aku sempat tertidur, pak Profesor membangunkanku dan mengingatkan agar segera memotret keindahan alam ini. Alam Lingga yang begitu indah menjadi salah satu alasan utama bagi pak Profesor untuk menyebut Kabupaten Lingga sebagai "Lingga Bunda Tanah Melayu". Alasan yang paling mendasar adalah tentang sejarah Melayu itu sendiri dimana Lingga menjadi awal pusat pemerintahan Melayu walau tidak diketahui oleh banyak orang.





Dengan dijadikannya Lingga sebagai Kabupaten baru yang disahkan melalui Undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2003, tentulah kita tetap wajib memelihara kawasan sekitar cagar budaya. Peninggalan sultan-sultan menurut catatan tertulis dan bekas reruntuhan seperti Istana Pangkalan Kenanga, Istana Robat, Istana Keraton, Istana Damnah, Istana 44 bilik, dan juga benteng-benteng sebagai tulang punggung pertahanan Kerajaan Lingga (benteng pertahanan pulau Mepar, benteng Bukit Cening, benteng Pasir Panjang dan benteng Kuala Daik) serta makam-makam bersejarah adalah bukti sejarah masa lampau yang melambangkan kejayaan dan kebanggaan khususnya bagi Kabupaten Lingga sebagai eks wilayah Kerajaan Lingga yang dikenal seantero dunia sebagai "Lingga Negeri Bunda Tanah Melayu". Tapak-tapak sejarah Kerajaan Lingga, karya bahasa dan sastra Melayu tetap kental dan melekat dalam kehidupan masyarakat. Sebagaimana yang tersirat dalam dua bait Madah Bunda Tanah Melayu berikut :
Gunung Daik bercabang tiga
Sudah terkenal ke serata dunia
Walaupun cabangnya tinggallah dua
Sejarahnya tak hilang dimakan masa

Di Daik adanya makam merah
Ia terletak di bukit yang gagah
Kalau dilihat tampaknya merah
Makam penuh memendam sejarah


27 comments:

  1. itu Gunung Daik knp cabangnya bs jd 2 Bang..?

    ReplyDelete
  2. Indah sekali pulau itu
    kekayaan alam yang terkandung di dalamnya pasti banyak

    ReplyDelete
  3. asalamualaikum,
    saya baru tahu kalau kabupaten Lingga beribukota Daik.
    trims artikelnya menambah pengetahuan kita semua.

    ReplyDelete
  4. kalau mudik ke cirebon menemui mama papa saya hanya memakan waktu 4 jam perjalanan darat dgn mobil sendiri, tp cukup melelahkan. tidak terbayang mudiknya bang atta kali ini ke Daik lingga...jauuuh nian meski naik pesawat dulu.

    tp indahnya pemandangan pasti jd bonus tersendiri ya bang :)

    ReplyDelete
  5. Ternyata kampungnya di Lingga ya bang. Daerah yang kaya dengan tradisi melayu. Karena melayu takkan hilang dibumi.

    ReplyDelete
  6. Bang Atta lahir di Natuna, tho? Pulau Tujuh kata orang sini. Atasanku dulu orang Natuna (aku lupa nama pulaunya) lalu ada juga orang Dabo dan Lingga.

    Peninggalan sejarah itu masih ada semua, Bang? Apa cukup terpelihara? Kalau dulu saya ke Penyengat, bekas istana raja sama nggak terawatnya dengan makam raja2. Rumput ilalang setinggi paha. Menurutku sih, sayang banget kalau peninggalan sejarah lampau itu nggak dijaga dgn baik.

    Saya paling suka wisata sejarah. Serasa kembali ke jaman lampau *duh jadi pengen ke Lingga*

    ReplyDelete
  7. met siang..mampir meski tak enak badan. hiks..

    ReplyDelete
  8. Salam...Bang Atta apa kabar, maaf ya baru bisa datang kemari..ini juga nyicil bang, mumpung malasnya lagi hilang.

    Bang kemarin beberapa hari yang lalu aku lihat siaran daerah pulau Bono ya...lihat siaran itu terus aja inget bang Atta karna suka cerita disini.

    ReplyDelete
  9. moga dilain kesempatan kalau singgah ke Dabo kita bisa ketemu atau kalau sy ke tempat Bang Atta pasti sy hubungi .....

    ReplyDelete
  10. baru tau ada kepulauan namanya lingga. bagus ya pemandangannya

    ReplyDelete
  11. Sumpe deh Bang bagus banget yah tempatnya *ngelap iler*

    Mana neh oleh2nya buat Double Zee?? :-)

    ReplyDelete
  12. Lingga itu nama kabupaten juga, sementara yang saya tahu lingga yoni barang/obyek peninggalan di Tanah Toraja

    ReplyDelete
  13. entah mengapa jika cakap tentang melayu selalu membuat hati tenteram, budaya, indah tutur katanya, penduduknya , ah Indonesia seandainya seindah dalam buku roman-roman melayu jaman dulu

    ReplyDelete
  14. lingga yoni kalo dlm bhs sansekerta dianggap sebagai simbol kesuburan dan keselarasan yg saling melengkapi
    waw indahnya pemandangan di kepulauan lingga. :)

    ReplyDelete
  15. Subhanallah... Indah nian pemandangannya. namanya disana aneh aneh ya Om, daik. Saya bahkan gak pernah tau gimana sejarah desa dan pulau kecil itu, sungguh terlalu pokoknya.

    ReplyDelete
  16. menyenangkan sekali bisa selalu bepergian kemana saja kita mau :(

    ReplyDelete
  17. sinyal ponsel di pulau tersebut bagaimana? :D

    ReplyDelete
  18. sebelumnya belom pernah tau :D asik main kesini jadi tau sekarang

    ReplyDelete
  19. lho om kenapa kok dipreteli semua adsensenyaaaa
    ah sekarang ibn juga :D

    ReplyDelete
  20. keindahan sumatera macam itu, lum pernah saya cicipi, nama kabupaten lingga ibukota daik pun, baru saya baca hari ini :D

    ReplyDelete
  21. Aku suka namanya : Lingga. Artinya apa ya Bang?

    ReplyDelete
  22. artinya aga seronok neh mba, walau bukan itu maksudnya

    ReplyDelete

Copyright © 2013 attayaya: Lingga Negeri Bunda Tanah Melayu | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah