28 Desember 2011

Geliga Malay Jazz from Pekanbaru

Geliga adalah kelompok musik beraliran Jazz. Aliran jazz yang diusung Geliga berbeda daripada yang lainnya, dengan sentuhan etnik melayu yang khas menambah daya tarik dari album ini.

Aku lagi ngumpulin video Geliga yang berada di internet, kemudian akan dibuat sebuah ulasan dan profile Geliga Jazz yang akan aku muat di www.RiauMagazine.com sesuai obrolan dengan Prof. Yusmar Yusuf melalui sms.

Geliga Part A
Geliga part. A performance @ 6th Riau Hitam - Putih International 2008 "world music for the aerth" produksi Malay Music Institute (MMI)


Geliga Part B
Geliga performance @ 6th Riau Hitam - Putih International 2008 "world music for the aerth" produksi Malay Music Institute (MMI)



Mannasalwa by Geliga
The one and only Malay Jazz from Pekanbaru,Indonesia



Personil Geliga Band :
Eri Bob (Piano, Keyboard, Violin, Guitar on Rona Merona-Promised Lan)
Arman Rambah (Acordion)
Yusman Yahya (Saxophone)
Iwan (Guitar)
Ryan (Electric Bass & Fretless Bass)
Frankie (Drum)
Andi (Tabla)
MAt Rock (Bebano)
Siska ( Vocal )

Album Geliga Band :
  1. GELIGA-Instrumental Jazz Melayu Riau
  2. Dang Bulan Nan Julang
    • Rona Merona,
    • Promissed Land,
    • Senja Sentarum,
    • Tampuk Ranggi,
    • Cerutai,
    • Tunjuk Langit,
    • Mannasalwa,
    • Selasar,
    • Navy Blue,
    • Main Gasing,
    • Awan Juwita,
    • Tanjung Katung,
    • Galaxy.



selengkapnya...

27 Desember 2011

Penghancur Kehidupan Alam

Akhir-akhir ini banyak berita yang menyiarkan peristiwa Mesuji-Sodong Lampung/Sumsel. Konflik lahan antara perusahaan dan masyarakat yang telah bertempat tinggal lama di suatu lokasi. Perusahaan yang seharusnya mengayomi wilayah sekitarnya ternyata tidak menjalankan misi kemanusiaan, malahan melakukan perseteruan dengan masyarakat. Hal ini didukung oleh kebijakan Pemerintah Pusat memberikan hak lahan kepada perusahaan. Pemberian hak lahan ini dilakukan oleh Pemerintah Pusat baik melalui Departemen Kehutanan maupun Badan Pertanahan Negara (BPN) tanpa melihat kondisi nyata di lokasi. Mereka memberikan hak lahan berdasarkan peta yang mereka miliki padahal dalam area tersebut telah bermukim penduduk.

Hal ini juga terjadi di Tebo, Jambi, dimana suku "Orang Rimba" terdepak dari hutan adat yang mereka miliki sejak turun temurun. Mereka terdepak oleh Perusahaan APP Sinar Mas yang memiliki konsesi lahan pengolahan hutan yang mereka dapati dari Departemen Kehutanan. Dalam hal ini Dep.Hut. tidak pernah melihat lokasi tersebut bahwa dalam lokasi itu telah bermukim sebuah suku yang lebih tua umurnya dari umur lembaga "Dep-Hut" itu sendiri.

Perusahaan yang memiliki kekuatan dana besar tetap melanjutkan pekerjaan pengolahan hutan tanpa memikirkan kehidupan "Orang Rimba", bahkan tidak memikirkan HUTAN ULAYAT yang dimiliki oleh suku tersebut. Kesombongan dan kerakusan perusahaan APP Sinar Mas menutup hati mereka dan terus bekerja berdasarkan peta yang mereka dapati dari Departemen Kehutanan tersebut.

Kesalahan Departemen Kehutanan (Dephut) dan/atau Badan Pertanahan Negara (BPN) :
  • TIDAK MEMPERHATIKAN BAHWA DI LOKASI TERSEBUT TELAH BERMUKIM PENDUDUK TURUN TEMURUN DAN ADANYA HUTAN ULAYAT/ADAT SUKU TERTENTU.
  • TIDAK MEMBERITAHUKAN KEPADA PUBLIK PETA LOKASI IZIN PERUSAHAAN UNTUK MENGETAHUI BATAS-BATAS PENGELOLAAN HUTAN/LAHAN.
  • MENGGUNAKAN "SPIDOL" UNTUK MEMBUAT GARIS DI PETA, SEHINGGA AKAN MEMBUAT LAHAN YANG DIKELOLA PERUSAHAAN MENJADI LEBIH LUAS DARI YANG SEMESTINYA.
  • TERLALU BERPEGANG PADA PETA TERTENTU BUATAN BELANDA JAMAN PENJAJAHAN YANG JELAS UNTUK MENGERUK KEKAYAAN ALAM TANPA MEMIKIRKAN RAKYAT YANG BERMUKIM DISANA.

Kesalahan Perusahaan (APP Sinar Mas dan perusahaan-perusahaan lainnya) :
  • TIDAK MELAPOR KEMBALI KE INSTANSI YANG MEMBERI IZIN BAHWA LOKASI TERSEBUT ADALAH HUTAN ULAYAT/ADAT DAN TELAH BERMUKIM PENDUDUK, DAN MENCARI SOLUSI TERBAIK UNTUK MENGHINDARI KONFLIK.
  • TIDAK MAU MEMBUKA PETA LOKASI IZIN KE PUBLIK SEHINGGA DAPAT DIKETAHUI DENGAN JELAS BATAS-BATAS WILAYAH MASING-MASING HAK.

Percaya APP Sinar Mas?



Apakah anda percaya dengan slogan-slogan Sinar Mas yang mengusung praktik industri hutan berkelanjutan, melindungi habitat harimau, dan peduli dengan masyarakat lokal? Video ini mengungkap fakta apa yang sebenarnya terjadi di lapangan dibalik slogan manis yang sering didengungkan APP Sinar Mas ke media massa.

Laporan dari Greenpeace
http://www.greenpeace.org/seasia/id/blog/ucapan-dan-tindakan-app-yang-bertolak-belakan/blog/38447/

Temuan Tim Mata Harimau :
http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/melindungi-hutan-alam-terakhir/Hasil-Temuan-Perjalanan-Tim-Mata-Harimau/


selengkapnya...

26 Desember 2011

Greenpeace Year in Pictures 2011

Greenpeace Year in Pictures 2011

2011 was the year the bottom shook the top, the year the ballerina danced on the bull, and "The Protestor" was named Time Magazine person of the year. The faces in our Year in Pictures pay testament and tribute to our contribution and to the benefit of standing up and taking action.




selengkapnya...

23 Desember 2011

Pantai Rupat Bengkalis

Pantai Rupat Bengkalis terletak di Pulau Rupat Kabupaten Bengkalis, Propinsi Riau. Terdapat 2 karakteristik pantai-pantai di pulau tersebut. Karakteristik pantai di bagian timur, barat dan selatan pulau Rupat adalah pantai berlumpur dengan hutan manggrove. Sedangkan karakteristik pantai utara Pulau Rupat adalah berpasir putih yang cukup keras untuk dilalui kendaraan. Pantai pasir putih di pulau Rupat Utara memanjang hampir lurus sejauh kurang lebih 12 km dan berada dalam wilayah 3 desa. Hal ini menyebabkan penyebutan nama pantai itu pun menjadi bermacam macam. Ada menyebutnya Pantai Tanjung Lapin maupun Pantai Teluk Rhu. Masyarakat sekitar akhirnya sepakat menyebut 1 nama saja yaitu PANTAI PESONA PULAU RUPAT UTARA. Pantai ini langsung berhadapan dengan Semenanjung Malaka. Jika menghadap Timur Laut akan berhadapan dengan Melaka Malaysia, sedangkan jika menghadap ke Utara, maka dari Rupat akan berhadapan dengan Port Dickson Malaysia. Jarak terdekat daratan Pulau Rupat Utara dengan Daratan Malaysia adalah sejauh 38 km yaitu di Tanjung Rusa dekat Port Dickson Malaysia.

Untuk mencapai Pulau Rupat Utara dapat melalui 2 jalur yaitu dari Pelabuhan TPI Bawah Jembatan Dumai menggunakan speedboat dengan biaya 100.000 rupiah, ataupun Speedboat dari Pelabuhan Camat Bengkalis dengan harga sekitar 150.000 rupiah. Speedboat kedua jalur itu akan berlabuh di Pelabuhan Tanjung Medang dan dapat melanjutkan dengan ojek ke utara Pantai Pesona dengan biaya 10-30 ribu rupiah tawar-menawar. Dari Bengkalis juga ada kapal pompong yang akan berlabuh di Kadoor (Kadur) Rupat dan dilanjutkan dengan ojek ke Pantai Pesona.

Kami dari Blogger Bertuah, aku dan Bang Ais, datang ke pantai tersebut tanggal 16-18 Desember 2011 mengikut rombongan Pelatihan Bela Negara RSUD Bengkalis. Sebenarnya kami hanya mau menebeng transportasi dari Bengkalis ke Pulau Rupat yang akhirnya ditunjuk menjadi tukang photo acara tersebut hahahaha... Asyiiik juga neh acara. Kami diberi akomodasi penginapan berupa perkemahan sama seperti peserta atau rombongan lainnya. Walaupun ada penginapan Afira di Pantai Pesona tersebut, tapi kami tetap menggunakan kemah sesuai jadwal acara Pelatihan Bela Negara tersebut.

Dengan badanku yang kurang fit karena demam, aku lebih banyak tidur di kemah. Urusan potret-memotret kuserahkan kepada Bang Ais. Hajaaaar....

Sunset dan Sunrise Pantai Pesona Pulau Rupat

Tidak dapat melihat dengan jelas sunset dan sunrise. Pertama karena kondisi cuaca waktu itu adalah berawan. Kedua posisi matahari terbit (sunrise) hampir sejajar terhadap pantai. Posisi matahri terbenam (sunset) berada di belakang pantai. Ya sutralaaaah... Jika kondisi cuaca bagus mungkin akan terlihat sunset dan sunrise dengan lebih indah.

Secara keseluruhan, pantai yang memanjang 12 km itu sangatlah indah. Suatu berkah bagi Pulau Rupat yang sedang dikembangkan untuk menjadi Pulau Wisata bagi Kabupaten Bengkalis. Jalan poros Rupat Selatan menuju Rupat Utara akan dibangun 2012 ini. Demikian juga halnya dengan listrik akan dinaikkan kapasitasnya. Saat kami datang, listrik hidup dari sore sampai pagi hari saja. Bersiap-siap ngecas (charging) seluruh gadget pada malam hari. Maka siang hari lupakanlah gadgets, nikmati saja seluruh keindahan Pantai Pesona Pulau Rupat Utara.

Pantai Rupat Bengkalis

Pantai Rupat Bengkalis Pesona Tanjung Lapin

Pantai Rupat Bengkalis Pesona Tanjung Lapin

Pantai Rupat Bengkalis Pesona Tanjung Lapin

Pantai Rupat Bengkalis Pesona Tanjung Lapin

selengkapnya...

22 Desember 2011

Memperingati Hari Ibu

Memperingati Hari Ibu pada tanggal 22 Desember 2011 ini aku cuma mau nyanyi.

123
satu satu aku sayang ibu
dua dua aku sayang ibu
tiga tiga aku sayang ibu
satu sua tiga
aku sayang bapak

Demikianlah nyanyian aku untuk memperingati hari ibu.

psssst... untung ga direkam ma produser, ntar aku jadi artis pula kek briptu Norman.
jiahahahahahaaa.......

selengkapnya...

19 Desember 2011

Pariwisata Lingga Riau

LINGGA BUNDA TANAH MELAYU, itulah julukan bagi negeri Kerajaan Riau-Lingga yang sekarang menjadi Kabupaten Lingga sejak tahun 2003 ini dan berikbukota di Daik. Sejak menjadi kabupaten baru tersebut, Daik Lingga mulai bangkit. Kebangkitannya ini untuk mensejajarkan kembali posisinya diantara saudara-saudara mudanya Penyengat dan Siak. Daik Lingga dahulu betul-betul "tenggelam" secara posisi dan kejayaan kerajaan-kerajaan muda. Untuk itu masyarakat dan pemerintahnya mulai membangkitkan Daik-Lingga dari berbagai bidang terutama Pariwisata Lingga karena potensinya sangat besar sekali. Hal ini didukung infrastruktur yang mulai dibangun seperti jalan, transportasi, listrik dan air serta akomodasi maupun telekomunikasi.

Perjalananku pada tanggal 8-11 Desember menuju Lingga Bunda Tanah Melayu kemaren menunjukkan bahwa benar potensi pariwisata Lingga sangatlah menonjol. Masih di Kota Daik kita dapat menemukan wisata Religius (Mesjid Sultan Lingga Riau), maupun Makam Yang Dipertuan Muda X Raja Muhammad Yusuf yang biasa disebut Makam Merah dengan jumlah pagar yang tidak bisa dihitung secara tepat. Ketika malam 27 Ramadhan akan ada acara malam 7 (tujuh) Likur sebagai wisata Seni dan Budaya. Acara ini mirip dengan Festival Lampu Colok di Pekanbaru dan Bengkalis. Terdapat juga Pentas Seni Bangsawan, Tradisi Mandi Syafar, Tarian Zapin, Berzanji, Musik Kompang, Silat Daik, Tarian Joget Dangkong, maupun orkes Melayu. Pada tanggal-tanggal tertentu diadakan Festival Memancing, Lomba perahu Jung, Lomba Dayung Sampan, Lomba dan Festival Layang-layang Daik.

Wisata sejarah yang memberikan gambaran kejayaan Kerajaan Melayu Riau-Lingga pun terdapat di seantero pulau Lingga. Replika Bangunan Gerbang dan Istana Damnah, Situs Istana Damnah, Situs Pondasi Istana 44, Situs Istana Robat, Benteng Bukit Cening, Benteng Bukit Pasir Panjang, Benteng Tanjung Cengkeh, Benteng Kuala, Benteng Pulau Mepar, maupun Benteng Kubu Parit. Semuanya membuktikan bahwa daerah ini adalah pusat pemerintahan dan perkembangan kebudayaan Kerajaan Melayu di Riau.

Dalam kesempatan aku ke Daik tersebut, aku hanya sempat mengunjungi 3 lokasi wisata alam. Aku kemudian terpukau, terkagum-kagum akan keindahan alam Daik Lingga. Ketiga lokasi ini menjadikan Pariwisata Lingga layak "jual" ke seantero Indonesia dan manca negara, tentunya dengan menjaga keseimbangan alam itu sendiri.

Pariwisata Lingga : PANTAI PASIR PANJANG

Pertama, aku mendatangi Pantai Pasir Panjang dengan menempuh waktu sekitar 20 menit dari pusat kota Daik tempat aku menginap menuju ke arah Barat. Kondisi jalan aspal yang sangat bagus membuat perjalanan menjadi menyenangkan. Pantai Pasir Panjang adalah sebuak teluk yang dapat kusebut mirip dengan "Lagoon" atau "laguna" yang banyak di daerah Thailand maupun China bagian selatan. Pasir putih membentang sepanjang teluk dengan air yang sangat jernih. Sebuah pondok nelayan berdiri di tengah-tengah teluk memberikan suatu pemandangan yang sangat eksotis.

Mendaki Bukit Pasir Panjang yang tak seberapa tinggi makin memberikan sensasi lain atas rasa indah yang diberikan Tuhan kepada Lingga. Di Bukit tersebut terdapat sebuah benteng batu sebagai pertahanan serangan bagi Kerajaan Lingga. Sungguh Menakjubkan.




Pariwisata Lingga : AIR TERJUN RESUN

Air Terjun Resun berada di Desa Resun - Daik Lingga sekitar perjalanan 20-30 menit dari Kota Daik menuju timur. Pelabuhannya yang berada di tepi sungai Resun menyediakan transportasi ke Desa Pancur seperti yang dijelaskan di bawah.

Air Terjun ini memiliki landasan terjun sekitar 45 derajat sehingga air tidak langsung terjun ke dasar tetapi mengalir di dinding landasan tersebut. Gemericik air dan suhu sekitarnya sangat menentramkan hati. Pohon-pohon tinggi masih tertanam dengan baik tidak terganggu oleh manusia. Cahaya Matahari menembus di sela-sela dedaunan memberikan cahaya yang sangat indah.

Jalan menuju Air Terjun akan diaspal pada tahun 2012 ini akan menjadikan wisata alam Air Terjun Resun mudah dicapai dengen berkendaraan roda 4. Perjalanan menuju lokasi ini saja sudah sangat indah dengan sungai kecil bebatuan yang mengalir di sisi kanan jalan tersebut.



Pariwisata Lingga : DESA PANCUR

Aku bisa membandingkan pemandangan ini, walau beda jenis pantainya, dengan Pantai Senggigi Lombok ketika menghadap ke Pulau Bali dimana terlihat jelas Gunung Agung. Desa Pancur berada di Laguna Pancur yaitu Teluk yang sangat menjorok ke dalam. Berbagai dimensi alam dapat ditemukan di desa ini, ada bukit, gunung, sungai, maupun laut itu sendiri. Dari atas bukit kita dapat melihat rumah-rumah penduduk yang menghadap pantai yang juga berhadapan langsung dengan Gunung Daik. Rumah-rumah di Desa Pancur selalu menghadap air baik sungai maupun laut. Mereka membangun rumah tidak membelakangi air, kecuali beberapa rumah yang ada di darat. Ini konsep bangunan masyarakat China yang membuat Desa Pancur menjadi berbeda dengan desa lainnya yang berada di tepi sungai maupun di tepi laut. Halaman rumah mereka adalah "pelantar" yang menjadi jalan umum bagi siapa saja yang mau melaluinya. Hal ini menunjukkan rasa sosial yang sangat tinggi diantara mereka.

Ketika sore hari dan waktunya matahari terbenam, pemandangan dari Desa Pancur menjadi semakin eksotis dan penuh kehangatan untuk menikmati keindahan alam ini. Matahari berada di balik Gunung Daik menjadi sebuah hadiah yang tak terhingga bagi Desa Pancur.


Desa Pancur dapat dicapai dengan menggunakan Speedboat dari Tanjung Pinang setiap hari yang memakan waktu sekitar 3 jam. Jalur lainnya adalah dari Kota Daik menuju Desa Resun dan naik kapal speedboat kecil menyusuri Sungai Resun langsung ke Desa Pancur sekitar 20 menit.


*****

Sebuah SMS masuk dari pak Professor, "bayangkan jika tahun depan ada acara Pancur Lagoon Poetry Reading", kurang lebih begitu isinya. Waaah berarti pak Professor yang sangat mencintai keindahan alam berencana untuk makin menaikkan Daik Lingga dan sekitarnya melalui acara-acara yang sangat berhubungan erat dengan keindahan alamnya, dan tentu saja akan menaikkan Pariwisata Lingga dan marwah Kerajaan Melayu Lingga. Aku balas sms itu "saya ikut pak untuk jadi tukang kodak hehehe".


Pariwisata Lingga

Wisata Alam
Wisata Religius
Wisata Sejarah
Seni dan Budaya
Museum

Fasilitas Penunjang Pariwisata Lingga
Bank dan Pos
Hotel dan Penginapan
Rumah Makan
Tranportasi

selengkapnya...

17 Desember 2011

Indeks Pembangunan Manusia Indonesia




Table Indeks Pembangunan Manusia Dunia

Indonesia peringkat 124 yang ditandai merah.
RANKING
NUMBER
COUNTRY HUMAN
DEVELOPMENT
INDEX (HDI)
VERY HIGH HUMAN DEVELOPMENT
1 Norway 0,943
2 Australia 0,929
3 Netherlands 0,910
4 United States 0,910
5 New Zealand 0,908
6 Canada 0,908
7 Ireland 0,908
8 Liechtenstein 0,905
9 Germany 0,905
10 Sweden 0,904
11 Switzerland 0,903
12 Japan 0,901
13 Hong Kong, China (SAR) 0,898
14 Iceland 0,898
15 Korea (Republic of) 0,897
16 Denmark 0,895
17 Israel 0,888
18 Belgium 0,886
19 Austria 0,885
20 France 0,884
21 Slovenia 0,884
22 Finland 0,882
23 Spain 0,878
24 Italy 0,874
25 Luxembourg 0,867
26 Singapore 0,866
27 Czech Republic 0,865
28 United Kingdom 0,863
29 Greece 0,861
30 United Arab Emirates 0,846
31 Cyprus 0,840
32 Andorra 0,838
33 Brunei Darussalam 0,838
34 Estonia 0,835
35 Slovakia 0,834
36 Malta 0,832
37 Qatar 0,831
38 Hungary 0,816
39 Poland 0,813
40 Lithuania 0,810
41 Portugal 0,809
42 Bahrain 0,806
43 Latvia 0,805
44 Chile 0,805
45 Argentina 0,797
46 Croatia 0,796
47 Barbados 0,793
HIGH HUMAN DEVELOPMENT
48 Uruguay 0,783
49 Palau 0,782
50 Romania 0,781
51 Cuba 0,776
52 Seychelles 0,773
53 Bahamas 0,771
54 Montenegro 0,771
55 Bulgaria 0,771
56 Saudi Arabia 0,770
57 Mexico 0,770
58 Panama 0,768
59 Serbia 0,766
60 Antigua and Barbuda 0,764
61 Malaysia 0,761
62 Trinidad and Tobago 0,760
63 Kuwait 0,760
64 Libyan Arab Jamahiriya 0,760
65 Belarus 0,756
66 Russian Federation 0,755
67 Grenada 0,748
68 Kazakhstan 0,745
69 Costa Rica 0,744
70 Albania 0,739
71 Lebanon 0,739
72 Saint Kitts and Nevis 0,735
73 Venezuela (Bolivarian Republic of) 0,735
74 Bosnia and Herzegovina 0,733
75 Georgia 0,733
76 Ukraine 0,729
77 Mauritius 0,728
78 The former Yugoslav Republic of Macedonia 0,728
79 Jamaica 0,727
80 Peru 0,725
81 Dominica 0,724
82 Saint Lucia 0,723
83 Ecuador 0,720
84 Brazil 0,718
85 Saint Vincent and the Grenadines 0,717
86 Armenia 0,716
87 Colombia 0,710
88 Iran (Islamic Republic of) 0,707
89 Oman 0,705
90 Tonga 0,704
91 Azerbaijan 0,700
92 Turkey 0,699
93 Belize 0,699
94 Tunisia 0,698
MEDIUM HUMAN DEVELOPMENT
95 Jordan 0,698
96 Algeria 0,698
97 Sri Lanka 0,691
98 Dominican Republic 0,689
99 Samoa 0,688
100 Fiji 0,688
101 China 0,687
102 Turkmenistan 0,686
103 Thailand 0,682
104 Suriname 0,680
105 El Salvador 0,674
106 Gabon 0,674
107 Paraguay 0,665
108 Bolivia (Plurinational State of) 0,663
109 Maldives 0,661
110 Mongolia 0,653
111 Moldova (Republic of) 0,649
112 Philippines 0,644
113 Egypt 0,644
114 Occupied Palestinian Territory 0,641
115 Uzbekistan 0,641
116 Micronesia (Federated States of) 0,636
117 Guyana 0,633
118 Botswana 0,633
119 Syrian Arab Republic 0,632
120 Namibia 0,625
121 Honduras 0,625
122 Kiribati 0,624
123 South Africa 0,619
124 Indonesia 0,617
125 Vanuatu 0,617
126 Kyrgyzstan 0,615
127 Tajikistan 0,607
128 Viet Nam 0,593
129 Nicaragua 0,589
130 Morocco 0,582
131 Guatemala 0,574
132 Iraq 0,573
133 Cape Verde 0,568
134 India 0,547
135 Ghana 0,541
136 Equatorial Guinea 0,537
137 Congo 0,533
138 Lao People's Democratic Republic 0,524
139 Cambodia 0,523
140 Swaziland 0,522
141 Bhutan 0,522
LOW HUMAN DEVELOPMENT
142 Solomon Islands 0,510
143 Kenya 0,509
144 Sao Tome and Principe 0,509
145 Pakistan 0,504
146 Bangladesh 0,500
147 Timor-Leste 0,495
148 Angola 0,486
149 Myanmar 0,483
150 Cameroon 0,482
151 Madagascar 0,480
152 Tanzania (United Republic of) 0,466
153 Papua New Guinea 0,466
154 Yemen 0,462
155 Senegal 0,459
156 Nigeria 0,459
157 Nepal 0,458
158 Haiti 0,454
159 Mauritania 0,453
160 Lesotho 0,450
161 Uganda 0,446
162 Togo 0,435
163 Comoros 0,433
164 Zambia 0,430
165 Djibouti 0,430
166 Rwanda 0,429
167 Benin 0,427
168 Gambia 0,420
169 Sudan 0,408
170 Côte d'Ivoire 0,400
171 Malawi 0,400
172 Afghanistan 0,398
173 Zimbabwe 0,376
174 Ethiopia 0,363
175 Mali 0,359
176 Guinea-Bissau 0,353
177 Eritrea 0,349
178 Guinea 0,344
179 Central African Republic 0,343
180 Sierra Leone 0,336
181 Burkina Faso 0,331
182 Liberia 0,329
183 Chad 0,328
184 Mozambique 0,322
185 Burundi 0,316
186 Niger 0,295
187 Congo (Democratic Republic of the) 0,286
OTHER COUNTRIES OR TERRITORIES
.. Korea (Democratic People's Rep. of) ..
.. Marshall Islands ..
.. Monaco ..
.. Nauru ..
.. San Marino ..
.. Somalia ..
.. Tuvalu ..

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) / Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup (IHP), melek huruf (ALI), pendidikan (GER) dan standar hidup (PDB) untuk semua negara seluruh dunia. IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup.

Nilai Indek Pembangunan Manusia yang terbaik adalah mendekati angka 1, demikian sebaliknya nilai Indeks Pembangunan Manusia yang terburuk adalah mendekati angka 0.

Source :
UNDP HDI List 2011
Daftar IPM UNDP 2011
http://hdr.undp.org/en/statistics/hdi/

The Human Development concept
http://hdr.undp.org/en/humandev/

The Human Development Report
http://hdr.undp.org/en/reports/about/

List of countries by Human Development Index
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_Human_Development_Index

Human Development Index
http://en.wikipedia.org/wiki/Human_Development_Index

selengkapnya...

13 Desember 2011

Lingga Negeri Bunda Tanah Melayu

Lingga Negeri Bunda Tanah Melayu begitulah tag-line untuk Kabupaten Lingga yang beribukota di DAIK. Tagline yang didengungkan oleh Prof. Yusmar Yusuf di tahun 1999 ini melekat samai sekarang. Ketika itu istilah ini muncul dalam kegiatan acara Perkampungan Penulis Melayu Serumpun yang dilaksanakan di Daik Lingga. Lebih tepatnya tagline tersebut adalah Lingga Negeri Bunda Tanah Melayu. 10 tahun kemudian tagline tersebut terjadi penambahan menjadi Daik Lingga sebagai Negeri Bunda Tanah Melayu yang Bertamadun Melayu. Lingga dahulunya merupakan sebuah kerajaan Melayu yang sangat besar dan menjadi induk dari perkembangan budaya Melayu ke depannya.

Daik Lingga, itulah tempat nenek moyangku bertempat tinggal dahulu kala. Menurut Silsilah Keluarga, dimulai dari Yamtuan II Daeng Celak (1728-1748), seorang keturunan Bugis Bone yang memerintah di Riau (Tanjungpinang), dilantik oleh Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah I. Turunannya pun menetap di sekitar pulau Lingga dan Pulau Singkep seperti Daeng Putera, Daeng Muhammad, Daeng Masiki, Daeng Usman, Daeng Basrah (Daeng H.M. Saleh Chalidi) dan seterusnya. Sayangnya perunut silsilah keluarga ini telah dipanggil Allah SWT (penggagas buku Butang Emas, Warisan Budaya Melayu Kepulauan Riau).

*****

Tanggal 9 Desember 2011, bersama Prof. Yusmar Yusuf, dan para pekerja seni Griven H. Putera, Samson Rambah Pasir serta Kamarulzaman, aku berangkat ke Daik Lingga yang berarti aku pulang kampung untuk yang pertama kalinya. Aku yang terlahir Natuna di sebuah pulau bernama Terempa di ujung utara Propinsi Riau (sekarang Propinsi Kepulauan Riau), tidak pernah menjejakkan kaki ke Daik Lingga. Keturunan bapakku banyak tinggal di Dabo Singkep yang berbeda pulau dengan Daik Lingga.

Dari Pekanbaru naik pesawat ke Batam yang dilanjutkan dengan naik speedboat ke Kota Daik memakan waktu sekitar 4,5 jam. Perjalanan kali ini mengambil rute melalui pulau-pulau kecil di sekitar 4 pulau besar yaitu pulau Temiang, Pulau Sebangka dan pulau Bakung serta Pulau Lingga itu sendiri. Hanya pulau Singkep yang tidak dilalui oleh rute ini. Maka, pemandangan indah terpampang jelas di depan mata. Inilah keindahan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa kepada Kabupaten Lingga. Pulau-pulau yang berjumlah 531 buah dan telah dihuni sebanyak 92 buah pulau. Sisanya adalah pulau-pulau yang tidak berpenghuni atau hanya disinggahi nelayan secara tidak tetap.

Dalam perjalanan aku sempat tertidur, pak Profesor membangunkanku dan mengingatkan agar segera memotret keindahan alam ini. Alam Lingga yang begitu indah menjadi salah satu alasan utama bagi pak Profesor untuk menyebut Kabupaten Lingga sebagai "Lingga Bunda Tanah Melayu". Alasan yang paling mendasar adalah tentang sejarah Melayu itu sendiri dimana Lingga menjadi awal pusat pemerintahan Melayu walau tidak diketahui oleh banyak orang.





Dengan dijadikannya Lingga sebagai Kabupaten baru yang disahkan melalui Undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2003, tentulah kita tetap wajib memelihara kawasan sekitar cagar budaya. Peninggalan sultan-sultan menurut catatan tertulis dan bekas reruntuhan seperti Istana Pangkalan Kenanga, Istana Robat, Istana Keraton, Istana Damnah, Istana 44 bilik, dan juga benteng-benteng sebagai tulang punggung pertahanan Kerajaan Lingga (benteng pertahanan pulau Mepar, benteng Bukit Cening, benteng Pasir Panjang dan benteng Kuala Daik) serta makam-makam bersejarah adalah bukti sejarah masa lampau yang melambangkan kejayaan dan kebanggaan khususnya bagi Kabupaten Lingga sebagai eks wilayah Kerajaan Lingga yang dikenal seantero dunia sebagai "Lingga Negeri Bunda Tanah Melayu". Tapak-tapak sejarah Kerajaan Lingga, karya bahasa dan sastra Melayu tetap kental dan melekat dalam kehidupan masyarakat. Sebagaimana yang tersirat dalam dua bait Madah Bunda Tanah Melayu berikut :
Gunung Daik bercabang tiga
Sudah terkenal ke serata dunia
Walaupun cabangnya tinggallah dua
Sejarahnya tak hilang dimakan masa

Di Daik adanya makam merah
Ia terletak di bukit yang gagah
Kalau dilihat tampaknya merah
Makam penuh memendam sejarah

selengkapnya...

11 Desember 2011

Seperti menggantang asap mengukir langit


Seperti menggantang asap, mengukir langit
Masyarakat sibuk menghindar asap kebakaran hutan, sedangkan para pejabat sibuk menghitung uang dari hasil asap kebakaran hutan atau lahan tersebut.
Seperti menggantang asap : artinya perbuatan yang sia-sia, tidak ada gunanya. Seperti Menggantang Asap merupakan sebuah peribahasa Indonesia atau Pepatah Bahasa Indonesia.

Gantang adalah alat ukur volume padi atau beras. Walaupun pada pemakaiannya bisa untuk mengukur barang-barang lainnya. Besaran ukurannya pun berbeda-beda berkisar 3 kg. Di beberapa daerah ukuran 1 gantang adalah 2,8 kg, ada juga yang berukuran 4,5 kg.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, "gantang" adalah satuan ukuran isi atau takaran 3,125 kg, biasanya untuk menakar atau menyukat beras, kacang-kacangan, dsb; se·gan·tang berarti seukuran atau setakaran. Menggantang berarti menakar atau menyukat dengan gantang.

Gantang dalam Kiasan Bahasa Indonesia :
  • menggantang anak ayam, merupakan kiasan yang berarti melakukan pekerjaan yg sangat sulit;
  • gantang asap, berarti memikirkan (menghendaki) yg bukan-bukan (yg tidak mungkin akan tercapai);
  • penuh sudah bagai gantang, berarti sudah penuh benar-benar;

Gantang dalam Peribahasa Indonesia :
  • secupak tak jadi gantang, berarti sesuatu yg tetap dan tidak dapat diubah lagi.
  • melukut di tepi gantang, berarti perkara kecil yg tidak mendapat perhatian atau sudah tidak diperhatikan lagi.
  • dari segenggam jadi segantang, berarti bernasib baik.
  • duduk dengan cupak dan gantang, berarti pemimpin yang adil.
  • menggantang asap, mengukir langit. Memikirkan (menghendaki) yang bukan-bukan; melakukan perbuatan yang sia-sia.
  • mengisi gantang pesuk, berarti melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan hasil.
  • tiada terbawa sekam segantang, berarti sangat lemah; tidak berdaya.
  • yang secupak/sesukat takkan jadi segantang. berarti sesuatu yang tidak dapat diubah lagi.

Hmmm... jadi ini mau ngebahas apa seh???

mau membahas Seperti menggantang asap mengukir langit atau duit pejabat???

Jadi bagaimana cara menggantang asap atau mengukur asap? Salah satu tolok ukurnya adalah ketika negara tetangga mencak-mencak, itu berarti udah kebanyakan asap. Padahal yang membuat asap itu adalah pengusaha dari negara tersebut. Baaah...

Psssst.... ada yang bisa "mengukir langit"???

Mengukir langit pakai asap.


Seperti menggantang asap mengukir langit cuma kata-kataku aja sekedar curcol dengan keadaan di Riau, Jambi, wilayah Sumatra lainnya dan wilayah Kalimantan yang sering terjadi kebakaran bukan hutan, tapi lahan. Pada saat membersihkan lahan yang dimiliki oleh perusahaan besar, cara tercepat adalah dengan membakar. Sebagian lahan dimiliki oleh orang Indonesia (perusahaan maupun pribadi), sebagian lain dimiliki oleh orang negara tetangga (biasanya melalui warga Indonesia).

Seperti menggantang asap mengukir langit dasarnya hanyalah peribahasa Seperti menggantang asap, lalu aku menambahkan kata-kata mengukir langit untuk menunjukkan bahwa asap yang terjadi akibat membakar lahan akan mengukir langit Indonesia menjadi KELAM.

Let's Clearing Indonesian Sky

selengkapnya...

07 Desember 2011

Canon EOS 60D Video Tutorial

Canon EOS 60D Video Tutorial cukup banyak tersedia di youtube.com, cuma harus pilih-pilih mana yang enak dilihat. Salah satunya adalah Canon EOS 60D Video Tutorial dari Christopher K. Blog. Dia membuat video tutorial untuk Canon EOS 60d yang cukup lengkap dan terdiri dari 14 Video Tutorial. Aku menemukan video tutorial ini ketika mencari tutorial untuk setting Movie Clip.

Kembali ke era penelitian Canon, EOS adalah dirancang sebagai sebuah sistem kamera SLR yang utama. Sistem ini terus berinovasi sampai sekarang dan telah menghasilkan berbagai produk Canon Seri EOS. Kepanjangan EOS adalah singkatan dari Electro Optical System, sebuah sistem kamera Canon yang menekankan penggunaan auto-fokus (AF) pada sistem kameranya. Canon Inc. (dibaca ké-nèn, IPA:ˈkænən, dalam Bahasa Jepang: キヤノン株式会社) adalah sebuah perusahaan yang bermarkas di Tokyo Jepang dengan bidang usaha utama adalah Gambar Grafis dan Optik, terutama kamera, mesin fotokopi maupun printer atau juga scanner. Canon didirikan oleh Yoshida Goro di tahun 1933 dengan nama 精機光学研究所 (Seiki-kougaku-kenkyuujo atau Laboratorium Peralatan Optik Presisi). Yoshida Goro memang tidak sendiri, ia didukung oleh iparnya yang bernama Uchida Saburo dan didanai oleh Takeshi Mitarai (teman dekat Uchida Saburo). Kamera pertama Canon adalah bernama Kwanon atau Dewi Pengasih Buddha di tahun 1934. Kemudian pada tanggal 10 Agustus 1937, perusahaan itu berganti nama menjadi CANON.


Canon EOS 60D Video Tutorial


Canon EOS 60D Tutorial - Multi Control Dial Operation 1/14




Canon EOS 60D Tutorial - Quick Control Button 2/14




Canon EOS 60D Tutorial - Selecting Af Points 3/14




Canon EOS 60D Tutorial - Back Button AF and more 4/14




Canon EOS 60D Tutorial - Live View Features 5/14




Canon EOS 60D Tutorial - Electronic Level Display 6/14




Canon EOS 60D Tutorial - Movie Mode 7/14




Canon EOS 60D Tutorial - Basic Plus Feature 8/14




Canon EOS 60D Tutorial - In Camera Creative Filters 9/14




Canon EOS 60D Tutorial - Picture Style Operation 10/14




Canon EOS 60D Tutorial - In Camera RAW Processing 11/14




Canon EOS 60D Tutorial - Resize Function 12/14




Canon EOS 60D Tutorial - Integrated Speedlite Transmitter 13/14




Canon EOS 60D Video Tutorial


Canon EOS 60D Tutorial - Interchangeable Focus Screens 14/14



Canon EOS 60D Commercial



Canon EOS 60D Video Tutorial


selengkapnya...

05 Desember 2011

Dikejar Ombak Bono Sungai Kampar

Sambungan Catatan Perjalanan Attayaya
dari artikel sebelumnya Mengejar Bono Sungai Kampar

Ombak Bono Sungai Kampar

Itulah yang kami kejar. Bono merupakan ombak atau gelombang yang terjadi di Sungai Kampar dengan ketinggian 4-6 meter pada lokasi tertentu menjadi sebuah fenomena alam dan mulai menjadi daya tarik wisatawan terutama wisatawan luar negeri yang senang berselancar (surfing), terlepas dari mitos, mistik dan legenda yang beredar di tengah-tengah masyarakat mengenai Ombak Bono 7 Hantu dan Istana Jin Orang Bunian di Tanjung Sebayang.

*****

Pagi setelah sarapan yang sangat nikmat, kami pun menunggu jemputan dari speed boat yang akan mengantar kami ke Tanjung Sebayang (Membayang/Bebayang). Tidak semua speed boat mau mengantar ke lokasi tersebut apalagi jika waktu yang diperkirakan sangat dekat dengan waktu kedatangan Bono. Pengemudi speedboat biasanya disebut TEKONG oleh masyarakat disana. Setiap Tekong harus mengetahui lika-liku perjalanan dan alur sungai dengan "membaca" keadaan arus air dan arus angin. Kepandaian "membaca" ini sangat diperlukan karena alur perjalanan akan selalu berubah-ubah setiap hari yang disebabkan perubahan dasar sungai. Ombak Bono Sungai Kampar dengan deburan dan pergerakan airnya menyebabkan dasar sungai Kampar yang terdiri dari jenis "Pasir Bulan" akan selalu berubah-rubah. Hal ini menyebabkan dasar sungai tidak tetap. Hal yang harus dihindari oleh para Tekong adalah jangan sampai speedboat kandas di dasar sungai yang dangkal. Jika kandas, speedboat susah digerakkan walaupun dari speedboat jenis "speedboat pancung" yang memiliki "dasar lunas" yang datar. Ketika speedboat kandas dan kemudian Bono datang, maka alamat malapetaka akan menimpa. Untuk itu, para Tekong selalu tidak mau takabur (sombong) dengan kepandaian mereka "membaca" arus air dan angin.

Uang sebesar Rp.300.000,- adalah ongkos antar jemput kami dari Desa Teluk Meranti ke Tanjung Sebayang untuk sebuah speedboat 1 mesin berkapasitas 6-8 orang. Maka kami pun berangkat ke Tanjung Sebayang sekitar jam 10.30 wib dengan memakan waktu sekitar 20 menit. Sesampainya di tanjung tersebut, kami pun naik ke lokasi dan memantau keadaan disana. Kami mencari tempat aman agar kami tidak sampai terbawa arus Bono yang menghantam sisi tepi sungai.

Pada tanggal 26 November 2011 tersebut, sesuai dengan perkiraan penduduk setempat maka Bono datang tepat jam 11.30 wib. Bono datang diawali dengan suaranya yang menggemuruh bagai guruh menderu-deru. Bahkan pada saat-saat tertentu suaranya bagai halilintar.

Siap-siap kamera

Begitu mendengar suara gemuruh Bono datang, kami pun bersiap-siap dengan kamera masing-masing. Setelah dipikir-pikir ternyata lensa yang kami gunakan ternyata tidak begitu mendukung untuk mengambil gambar jarak jauh. Aku sendiri menggunakan lensa zoom Canon IS-series 18-200mm dan menghasilkan photo tidak maksimal. Bahkan lensa dari kualitas bagus semacam lensa canon EF-series 70-200 milik photographer www.insidesumatera.com tidak mendapatkan hasil maksimal juga. Hal ini karena kami berada di tepi sungai yang tidak dapat mengejar ombak Bono. Sangat berbeda dengan hasil-hasil photo milik photographer yang menyewa speedboat untuk mengejar Bono dari lokasi sekitar Pulau Muda sebagai lokasi ombak Bono terbesar sampai balik lagi ke Desa Teluk Meranti. Sewa sebuah speedboat untuk mengejar ombak Bono Sungai Kampar berkisar Rp.600.000,- lebih. KAMI BLOGGER KERE... ga sanggup menyewa speedboat itu. Ya sudahlah... Alhamdulillah sudah dapat melihat Bono Sungai Kampar dari tepi sungai di Tanjung Sebayang ini.

Dikejar Ombak Bono Sungai Kampar

Ketika Bono datang dan kami sibuk memotret dengan hasil alakadarnya terlihat kelucuan diselingi rasa cemas. Lucu karena yang menonton di tepi sungai ini pada berlarian ke darat karena takut dikejar dan disapu ombak Bono yang naik ke tepi sungai. Cemas karena kalo mereka telat menghindar, alamat mala petaka yang menimpa.


Aku berada di tempat yang agak tinggi sekitar 30 meter terhadap sungai yang diselingi sebuah "parit gajah" atau parit besar selebar 3 meteran dan dalam juga sekitar 3 meteran sebagai parit penyaluran air dari perkebunan sawit dimana lokasi kami berada. Parit ini langsung penuh secara tiba-tiba dan hampir meluap ketika Bono datang. Untunglah posisi tempatku berdiri masih aman dan aku terus memotret kejadian ini.

Bono terus menderu laju menuju Desa Teluk Meranti. Kejadian sangat cepat. Kesibukan memotret tidak boleh melupakan keselamatan diri. Ombak Bono awal diikuti dengan beberapa ombak Bono lainnya sekitar 6-7 ombak besar masing-masing berjejer di belakang ombak utama. Inilah yang disebut Ombak Bono 7 Hantu (The Seven Ghost Waves from Kampar). Untuk lokasi di Pulau Muda, Ombak besar ini bisa mencapai ketinggian 4-6 meter. Sedangkan di lokasi Tanjung Sebayang ketinggiannya 1-2 meter.


Photo Ombak Bono Sungai Kampar di Tanjung Sebayang


Setelah 7 ombak lewat, maka kejadian cepat berikutnya adalah derasnya air sungai yang mengikuti ombak-ombak tersebut. Kejadian ini bagaikan derasnya air ketika tsunami baik di Aceh maupun di Jepang. Jika ada yang terseret, entah dimana nantinya akan tersangkut. Jika tenggelam, entah dimana akan timbulnya. Derasnya air ini akan sampai ke Desa Teluk Meranti dan terus masuk ke hulu sungai beberapa kilometer lagi.

Sebagian photo di-cropping dengan menggunakan aplikasi grafis, sehingga hasilnya tidak maksimal. Maaf....











Setelah Bono Lewat

Di Desa Teluk Meranti, derasnya air sungai akibat Bono ini menyebabkan banjir di seluruh desa. Untungnya rumah-rumah penduduk dibuat tinggi menjadi "rumah panggung" sehingga tidak kemasukan air. Banjir ini menjadi suatu hal yang lumrah bagi penduduk dan menjadi hiburan bagi anak-anak.






Peta Lokasi Bono Sungai Kampar :

Lokasi ombak sungai Bono kampar / Tidal Bore di Dunia
Lokasi Bono Sungai Kampar Riau
terhadap Kecamatan Kuala Kampar
Kabupaten Pelalawan - Riau

Saran Tips ketika mengunjungi Ombak Bono Sungai Kampar :
  • Mengetahui jadwal terjadinya ombak Bono. Dapat dilihat pada artikel : Ombak Bono Sungai Kampar, Schedule List 2012.
  • Sebaiknya tidak membawa anak kecil untuk berwisata ombak BONO Sungai Kampar
  • Pergunakan pelampung untuk menjaga keselamatan
  • Jangan takabur/sombong

selengkapnya...

01 Desember 2011

Mengejar Bono Sungai Kampar

Catatan Perjalanan Attayaya
untuk Mengejar Bono Sungai Kampar

ALLAHU AKBAR... begitulah yang terucap dalam hatiku ketika melihat ombak Bono Sungai Kampar itu untuk pertama kalinya, walau dari kejauhan. Kubuktikan sekali lagi bahwa Allah itu Maha Besar. Bono itu mulai terlihat pertama kali olehku dan teman-teman lain dari jarak sekitar 700 meter dari tempat kami berdiri memantau Bono, tepatnya di Tanjung Sebayang di tepi Sungai Kampar. Tempat kami berdiri itu adalah tepi lahan sawit milik sebuah perusahaan perkebunan sawit. Sebagian masyarakat lokal menyebut tanjung itu sebagai Tanjung Membayang atau Tanjung Bebayang. Benar-benar Bono itu datang bagai bayang-bayang dari kejauhan.



Itulah tujuan kami (aku, fiko dan eri), mengejar Bono Sungai Kampar dalam artian melihat secara langsung ombak Bono itu di lokasi terdekat yang bisa kami capai. Aku yang tinggal di Pekanbaru, dari umur belasan pernah mendengar tentang Bono ini, dan baru kali inilah aku melihatnya secara langsung Bono yang kalau dihitung berjarak sekitar 200 km dari Pekanbaru.

Perjalanan mengejar Bono Sungai Kampar ini dimulai hari Jum'at 26 November 2011 sekitar jam 09.30 wib dimana aku dan teman-temanku menaiki mobil angkutan umum trayek Pekanbaru - Pangkalan Kerinci yang berjarak sekitar 90 km. Biaya yang kami keluarkan adalah 20 ribu per orang serasa sangat wajar untuk jarak tersebut yang biasanya ditempuh 1,5 - 2,5 jam.

Sesampainya di Pangkalan Kerinci, kami minta diturunkan di depan Hotel Meranti. Sesuai informasi yang kami dapat bahwa di depan hotel tersebut terdapat mobil angkutan menuju Desa Teluk Meranti. Desa ini merupakan lokasi terjauh yang dapat dicapai oleh kendaraan darat untuk mellihat Bono.

Mobil pun berangkat sekitar jam 13.30 wib menuju Desa Teluk Meranti yang berada dalam wilayah Kecamatan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau. Perjalanan dari Pangkalan Kerinci sebagai ibukota Kabupaten Pelalawan menuju Desa Teluk Meranti adalah melalui jalan Lintas Timur Sumatera sejauh sekitar 30 km sampai di Simpang Bunut, lalu berbelok ke kiri untuk memasuki Jalan Lintas Bono. Jalan yang kami lalui sangat mulus dengan aspal yang bagus. Tetapi jalan aspal tersebut hanya sepanjang sekitar 40 km dan dilanjutkan dengan jalan tidak beraspal yang masih berupa tanah keras. Jalan tanah keras sepanjang sekitar 70 km ini direncanakan oleh pemerintah akan di aspal akhir tahun 2012. Dari Simpang Bunut sampai di dekat Desa Teluk Meranti tidak ada persimpangan dan hanya mengikuti jalan utama. Persimpangan ke kiri hanya terdapat di 1 km memasuki desa dengan petunjuk yang sangat jelas.

Sesampainya di desa hari telah sore, kami membayar 50 ribu per orang atas ongkos mobil angkutan tersebut. Selanjutnya mulailah kami mencari penginapan yang kami rencanakan untuk 2 malam. Hanya terdapat 1 penginapan yang memasang tanda. Selain dari itu adalah penginapan yang disediakan masyarakat di rumah-rumah mereka dengan tarif 50 ribu s/d 100 ribu rupiah termasuk sarapan pagi. Rumah-rumah yang mempunyai kamar berlebih, disulap menjadi penginapan darurat yang sangat sesuai dengan harganya. Hal ini cukuplah untuk "meluruskan kaki, memanjangkan badan" alias istirahat.

Pada saat kami datang tersebut, penginapan penuh karena banyaknya orang yang mau melihat Bono. Lagi pula direncanakan akan datang 4 orang Menteri dari Pemerintah RI untuk melihat dan meninjau fasilitas sarana dan prasarana di desa tersebut. Hal ini berkaitan dengan terbukanya Desa Teluk Meranti sebagai salah satu objek wisata alam Bono Sungai Kampar.

Akhirnya kami dapat juga sebuah kamar di rumah penduduk di tepi sungai yang menyediakan kamarnya untuk penginapan. Sebuah kamar kami isi bertiga (3) orang tidaklah menjadi masalah. Kamar dilengkapi dengan kipas angin makin membuat nyaman kamar ini. Di dapur tersedia kamar mandi sehingga kami tidak perlu mandi di sungai. Harap dimaklumi karena wilayah Desa Teluk Meranti berada di Semenanjung Kampar yang merupakan wilayah bertanah gambut bahkan merupakan wilayah bertanah gambut terdalam di dunia menurut Greenpeace, maka air di sekitar wilayah tersebut akan berwarna coklat sesuai warna gambut. Jadi semua orang akan mandi dengan air gambut yang berwarna coklat itu. Hanya air masak saja yang diambil dari sumber lain yang sehat.

Mandi jibang-jibung sudah selesai. Empunya rumah pun menawarkan makanan yang tentunya akan dihitung bersama pembayaran kamarnya. Hmmmmm.... nikmatnya makan di tepi sungai ini. Sebatang rokok menjadi penutup santap malam yang nikmat ini. Belum selesai rokok di tangan habis dihisap. Tiba-tiba datanglah seorang tua dengan senyumnya yang menampakkan beberapa giginya yang tersisa. Dia biasa dipanggil "pak Datuk" atau "Datuk" saja oleh masyarakat setempat. Tujuannya datang hanya untuk ngobrol-ngobrol. Kesempatan ini tak kami sia-siakan untuk sedikit melakukan wawancara terhadap beliau. Alat perekam dan kamera pun disiapkan.

Namanya ABU SOMA. Memulai cerita tentang asal muasal Bono dari abad ke 9 Masehi ketika jaman-jaman kerajaan Nusantara bangkit. Cerita ini merupakan cerita turun temurun. Menurut cerita tersebut, terdapat seorang Juru Mudi kapal (masyarakat sekitar menyebutnya "Tongkang") yang tidak dapat melanjutkan perjalanan dari Pangkalan Kerinci (dahulu "Pulau Lawan" atau Pelalawan) menuju Malaka untuk berniaga. Juru Mudi tersebut kemudian melaporkan kepada Raja bahwa Tongkangnya tersangkut atau kandas di tengah laut di sekitar daerah Teluk Embun. Menurut cerita itu, daerah Semenanjung kampar belum ada dan masih berbentuk lautan.

Raja yang ingin membuktikan kandasnya Tongkang tersebut mengutus Anak Raja Pelalawan, Anak Raja Ranah Tanjung Bunga (Langgam), Anak Raja Pagaruyung, Anak Raja Gunung Sahilan, Anak Raja Macam Pandak sebagai saksi. Berangkatlah mereka dengan menggunakan Tongkang yang lain. Sesampainya di sekitar Teluk Embun, mereka dihadang gelombang besar yang membuat Tongkang mereka juga kandas persis sama seperti Tongkang yang dilaporkan oleh Juru Mudi tadi kepada Raja.

Melihat kondisi kapal Tongkang yang mereka tumpangi kandas, maka Anak Raja Pelalawan berkata, "Iya bono gelombang pasang kata kamu". Kalimat dalam bahasa Pelalawan itu dapat diartikan : Ternyata benar yang kamu katakan. Bono itu sendiri berarti BENAR dalam bahasa Pelalawan. Sejak saat itu, gelombang besar di daerah tersebut disebut Gelombang BONO atau Ombak BONO. Demikianlah Pak Soma menceritakan hal tersebut.

Waktu pun berjalan makin malam. Satu per satu warga yang mendengar cerita Pak Soma beranjak pulang. Sedangkan kami berniat untuk tidak tidur karena ingin melihat Bono dan mendengar suara gemuruh ketika Bono itu datang. Perlu diketahui bahwa Bono akan datang dua (2) kali dalam sehari, yaitu siang hari dan malam hari. Bono siang hari biasanya lebih besar daripada Bono Malam hari.

Sekitar jam 1 malam, suara gemuruh itu pun terdengar bagai suara guruh menderu-deru. Benarlah apa yang dikatakan semua orang. Suara Bono yang membahana di tengah malam yang sunyi. Suara ini biasanya tidak begitu terdengar di siang hari karena banyak suara bising di sekitar desa.

Selang 30 menit dari suara gemuruh itu pertama kali kami dengar, maka air sungai di sekitar kami pun naik pasang secara mendadak. Ketinggian rumah panggung di tepi sungai ini ternyata sudah diperhitungkan oleh penduduk sehingga ketika air naik karena Bono, maka air tidak akan masuk ke dalam rumah. Suatu peristiwa yang sangat fenomenal tentang kecepatan air pasang naik yang sangat cepat tersebut. Aku secara pribadi takjub akan hal itu.

Sekitar jam 3 subuh, air belum juga turun, tetapi mata sudah sangat mengantuk kelelahan. Kami pun memutuskan untuk istirahat tidur dan melanjutkan petualangan mengejar Bono esok hari.


*****

Catatan Perjalanan Attayaya untuk Mengejar Bono Sungai Kampar, akan dilanjutkan pada postingan berikutnya DIKEJAR BONO SUNGAI KAMPAR yang akan memuat photo-photo ombak Bono hasil jepretanku.

Baca :
Jadwal Terjadinya Ombak Bono Sungai Kampar 2012

selengkapnya...

Copyright © 2013 attayaya: Desember 2011 | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah