15 September 2013

Tugu Perjanjian Setan Bagan Siapiapi

Tugu Perjanjian Setan Bagan Siapiapi

Nama tempat wisata kali ini cukup unik dan menarik, Tugu Perjanjian Setan Bagan Siapiapi yang sudah cukup terkenal sejarah pembuatannya. Tidak banyak cerita yang bisa digali dari tugu bersejarah tersebut. Akan tetapi, cerita yang cukup mahsyur dari sejarah berdirinya tugu tersebut di awali pada saat tahun naga atau tepatnya pada tahun 1928. Tugu Perjanjian Setan Bagan Siapiapi terletak di pinggiran jalan, berwana merah dan kuning dengan ukiran huruf-huruf Cina yang memiliki makna tersendiri. Tugu ini konon merupakan bentuk simbol perjanjian antara setan atau roh-roh dengan manusia yang terjadi pada saat tahun naga tersebut.


Sejarah Tugu Perjanjian Setan Bagan Siapiapi

Diceritakan pada sekitar tahun 1928, telah terjadi kehebohan dan kegaduhan di banyak tempat di Bagansiapiapi tersebut. Dimana tempat-tempat perjudian, tempat minum-minuman keras, rumah-rumah prodeo banyak mengalami peristiwa yang tidak masuk akal. Ditempat pelacuran sering terdengar suara orang sedang mandi di kamar mandi, namun ketika dilihat ternyata tidak ada orang yang sedang mandi. Begitu juga di tempat perjudian, batu-batu mahyong sering berputar-putar sendiri sehingga menimbulkan banyak kegaduhan. Di kedai kopi misalnya kerap terlihat kaki manusia diatas meja. Kontan, para penghuninya dibuat bingung dan mereka segera mengadu kepada para biksu Budha yang ada di Bagan Siapiapi untuk mengantisipasi hal yang terjadi tersebut.

Namun yang terjadi, para biksu yang ada di Bagansiapiapi sendiri tidak mampu berbuat banyak akan kejadian tersebut. Mereka lalu memanggil biksu Budha lainnya yang berasal dari Singapura dan Taiwan untuk dimintai bantuan mengatasi permasalahan yang terjadi. Setelah dicek oleh para biksu asal Taiwan dan Singapura tersebut, ternyata kegaduhan tersebut ditimbulkan oleh para roh-roh yang sebelumnya mati di laut. Maka atas hal ini, diupayakan lah perjanjian antara pihak biksu dengan pihak roh-roh dari laut tersebut.

Langkah awal dari isi perjanjian antara biksu dengan roh-roh tersebut adalah diberi kesempatan bagi para roh untuk menghibur diri selama satu pekan lamanya. Di seluruh pelosok kota Bagansiapiapi didirikan tempat-tempat hiburan simbolik terbuat dari bambu dan kertas, ada kedai kopi,ada tempat pengisapan candu, perjudian dan lain lain. Semuanya terbuat dari bambu dan kertas secara simbolik. Ada panggung sandiwara, ada rumah bordir dengan wanita PSK-Nya, ada kedai kopi, ditempat-tempat inilah para syetan dipersilahkan menghibur selama satu minggu sebagai tahapan awal dari perjanjian yang akan disepakati.

Setelah para syetan puas bergentayangan selama satu minggu untuk menghibur diri mereka di tempat-tempat yang telah disediakan, maka selanjutnya para setan tersebut harus kembali bergentayangan di laut, tidak boleh lagi membuat kegaduhan di daratan seperti yang telah dilakukan sebelumnya.

Sebagai bukti dari hasil perjanjian yang telah disepakati tersebut maka dibuatlah tiga buah prasasti atau tugu yang bertuliskan di atasnya LAM HU OMITOHUD yaitu nama sang Budha. Maka setelah tugu tersebut didirikan, setiap kali syetan-syetan itu akan kembali ke darat, maka para syetan itu akan membaca tugu perjanjian yang telah dibuat tersebut dan mereka pun biasanya akan kembali lagi ke laut. Konon ceritanya, tugu-tugu perjanjian yang telah dibuat tersebut tidak boleh hilang dari tempat tersebut. Apabila Tugu Perjanjian Setan tersebut hilang maka konon perjanjian yang telah dibuat dengan syetan akan batal, begitu menurut kepercayaan masyarakat setempat.

Konon sejauh ini telah puluhan tahun lamanya perjanjian tersebut disepakati, namun belum ada kabar atau kejadian syetan melanggar hasil dari perjanjian tersebut. Hikmah pelajaran yang dapat dipetik adalah ternyata syetan bisa lebih patuh dan disiplin dibandingkan dengan manusia itu sendiri. Konon syetan selalu menunggu tugu tersebut supaya lenyap. Dengan demikian maka berarti perjanjian yang sudah disepakati akan batal, dan para syetan pun akan kembali bebas ke daratan untuk bisa mengganggu manusia seperti sebelumnya. Demikian kepercayaan masyarakat setempat terhadap keberadaan Tugu Perjanjian Setan Bagansiapiapi tersebut.

Sebagai informasi bahwa Kota Bagan Siapiapi memiliki komunitas Tionghoa yang besar di Indonesia. Komunitas ini tersebar di hampir pelosok kota Bagan Siapiapi. Klenteng sebagai tempat ibadahnya dapat dijumpai di sudut-sudut kota. Tionghoa di Bagan Siapi-api juga mempunyai tradisi Bakar Tongkang yang merupakan satu-satunya tradisi yang ada di dunia.

selengkapnya...

02 September 2013

JANGAN PILIH BAPAK ITU, SI MACAN OMPONG, SAMPAI RIMBA MERDEKA

JANGAN PILIH BAPAK ITU, SI MACAN OMPONG

Woooww Riau akan memilih seorang Gubernur pada tanggal 4 September 2013 yang akan memimpin Riau selama 5 tahun 2013 mpe 2018 aja (kalo mau lanjut lagi harus ikut ajang kompetisi pilih memilih lagi). Sangat banyak keinginan masyarakat yang dititipkan kepada para Calon Gubernur Riau (biasa disingkat CAGUBRI). Dan semakin banyak pula janji-janji yang diberikan oleh Cagubri kepada masayarakt. Baik Cagubri yang berani teken kontrak depan Notaris dengan Masyarakat yang dijanjikannya. Ada pula Cagubri yang omong sana-omong sini. Ada pula Cagubri yang berani nulis dimana-mana. Macam gaya banyak rasa.

Ketika aku menulis sebuah status di facebook tanggal 1 September 2013 sekitar jam sebelas malam yang berbunyi eeeh yang tertulis :
Kebun untuk rakyat?
Kenapa ga buat hutan untuk rakyat? Untungnya ga cuma buat rakyat tapi bagi seluruh alam bumi.
Weeeew jadi rame dah.

Tulisan itu kutulis ketika melihat sebuah Fanpage Cagubri yang dishare oleh seorang teman lain tentang sebuah program yang sepertinya bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembagian lahan yang akan dijadikan kebun, khususnya kebun sawit.

Abis nulis itu, komen bermunculan. Aiiih... menurut salah seorang teman (si A) bahwa program itu diajukan oleh seorang teman (si B) yang menjadi Tim Sukses seorang Cagubri, yang juga merupakan teman aku (si C). Aiiih... nii semua pertemanan.

Boleh dooong sebagai teman mengkritik sesama teman.
Kalo ga boleh, aku berhenti nulis aaah.

Status itu kulanjutkan dengan nulis status lagi :
Hutan sudah terancam dan makin terancam
http://www.youtube.com/watch?v=R8aXY9BFIZs

Status itu memuat sebuah video yang aku edit dah lamaaa sekali (upload 9 Mei 2011). Jauuuh sebelum ada ajang kompetisi pemilihan gubernur tahun ini. Eeeeh aji gileee yang nonton 24 ribu kali. #eheeeem

Video itu aku publish lagi di blog pada tulisan "Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi" pada tanggal 10 Mei 2011.

Tak lama kemudian, hatiku semakin perih ketika mendapat sebuah inbox dari masbro RZ. Hakim (www.acacicu.com) yang memberikan aku sebuah lagu dari ujung timur pulau Jawa. Lagu yang menyayat hati para pecinta lingkungan untuk terus tetap tegar mengumandangkan semangat perjuangan lingkungan dan berbuat lebih baik kepada lingkungan.

Mendengar lagu tersebut, aku kemudian menulis status di Facebook (lagi...) :
burung pun menangis melihat hutan hancur. Kita hidup di bumi ini hanya sebentar, lalu apa hak kita untuk menghancurkan alam dengan mengambil seluruh manfaatnya saat ini?

aaah sedih rasanya melihat tanah riau akhirnya habis hanya untuk dibagi2kan kepada manusia tanpa memberi ruang yang lebih luas untuk makhluk hidup lainnya.

cc: Hisam Setiawan Juli Endri Taufik 'Fiko' Asmara

Lagu itu dinyanyikan Grup Tamasya pada Album Save The Tree.
http://www.reverbnation.com/tamasyabandalbumsavethetree4/song/17525321-sarka

Ini lirik aslinya :
SARKA (Sampai Rimba Merdeka)

Hutanku tak ada lagi
Dan sungai mulai tercemar
Sang raja hutan berlari
Tapi tak tahu kemana..

Dengar bumiku merintih
Pelan terbawa angin
Apa kau juga mendengarnya...

Temanku bersedih lagi
Tanahnya ditambang lagi
Orang rimba kalah lagi
Hidupnya semakin tersisih

REFF

Waktuku hampir habis
Harus tetap bertahan
Melawan semua yang menindas
Sampai kita semua merdeka

Kemudian aku nulis lagi, lagi dan lagi. Statusku kubuat berdasarkan lagu yang dikirim Hisam Setiawan :
JANGAN PILIH BAPAK ITU!!!
Photomu kau paku di pohon

https://soundcloud.com/hisam-setiawan/macan-ompong
CC: Hisam Setiawan Juli Endri Fauzanov Medevdev Taufik 'Fiko' Asmara

Generasi muda penerus bangsa memimpikan Pemimpin yang pro terhadap lingkungan demi Negara Indonesia.

Lagu ini dinyanyikan oleh JP-28 Band
SANI SARAGIH untuk Lyric & Music, Drumer
RICKY DUTA, Guitar Lead
MOELJADI, Guitar Rhytim
RIAN, Bass
HISAM, Vocalist

MACAN OMPONG | JANGAN PILIH BAPAK ITU

Peraturan yang tumpang tindih
Kebijakan manipulasi
Tutup mata terima kanan kiri

Hutan-hutan kau eksploitasi
Perizinan kau rekomendasi
Pada siapa yang mau beri upeti

Chorrus:
Jangan pilih bapak itu - yang ga peduli dengan hutan ku
Jangan coblos pasangan itu - yang cuma bisa ngomong, kelakuan persis Macan Ompong

Kabut asap penuh polusi
Global warming menanti pasti
Bagaimana anak cucu kami nanti

Hutan-hutan kau modifikasi
Korupsimu menjadi-jadi
Mau kemana nasib negeri ini nanti

Back to chorrus*

Reff:
Macan Ompong - Macan Ompong - Hutan gundul kau cuma bengong
Macan ompong - Macan Ompong - Alam ku rusak kau malah bohong
Macan ompong - Macan Ompong - Photomu kau paku di pohon
Macan Ompong - Macan Ompong - Janji manismu pepesan kosong

Kedua lagu diatas bersuara sama yaitu menyuarakan KEPEDULIAN LINGKUNGAN. Satu ingin kemerdekaan bagi makhluk hidup di rimba, yang satu lagi mengajak kita untuk tidak memilih pemimpin yang TIDAK PEDULI LINGKUNGAN.


Dari 5 CAGUBRI yang akan bertanding tanggal 4 sept nanti, tidak ada satupun yang menggelontorkan program penyelamatan lingkungan yang sangat terkait dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Coba lihat dan baca Visi Riau 2020 :
"Terwujudnya Provinsi Riau Sebagai Pusat Perekonomian Dan Kebudayaan Melayu Dalam Lingkungan Masyarakat Yang Agamis, Sejahtera, Lahir Dan Bathin Di Asia Tenggara Tahun 2020”

Pusat perekonomian :
Emangnya hutan ga bisa menjadikan Riau sebagai pusat perekonomian ya?

Sejahtera :
Emangnya hutan ga bisa menjadikan masyarakat Riau menjadi lebih sejahtera ya?

Aiiih... kalo pikirannya pendek, yaaa... programnya yang pendek-pendek aja.

aaaah cabe dweeeeh.....

milih ga ya?
selengkapnya...

Copyright © 2013 attayaya: September 2013 | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah