15 September 2010

Festival Lampu Colok Pekanbaru, Minyak Tanah Tak Ada, Hilang Satu Budaya

Festival Lampu Colok, Minyak Tanah Tak Ada, Hilang Satu Budaya merupakan uneg-unegku atas dihilangkannya peredaran minyak tanah di seluruh Indonesia. Festival Lampu Colok merupakan festival lampu minyak tanah yang menjadi bagian sejarah Melayu sejak dahulu kala, diadakan di setiap kecamatan di Kota Pekanbaru saat akhir Ramadhan. Tahun ini terasa kurang meriah karena beberapa kecamatan tidak bisa mendapatkan minyak tanah seperti tahun-tahun sebelumnya untuk menyalakan lampu colok. Hiasan lampu colok merupakan tradisi Melayu pada malam Lailatul Qadar yang ada sejak lama. Warga menyalakan lampu colok untuk menerangi jalan menuju mesjid dan disekitar masjid untuk beribadah pada malam suci di bulan Ramadhan tersebut. Dari malam Ramadhan pertama sebenarnya lampu colok sudah dipasang, cuma jumlah sedikit saja, dan makin banyak dan besar diakhir bulan Ramadhan, terutama di malam ke 27 Ramadhan.

Sesuai perkembangan jaman, desainnya pun ikut berubah sesuai kondisi saat itu. Satu desain utama lampu colok membutuhkan sekitar 1000 - 2000 bahkan bisa mencapai 5000 lampu colok yang diisi minyak tanah antara 100 ml - 200 ml yang bisa dipakai hanya untuk 1 malam saja yang dihidupkan dari setelah maghrib sampai sekitar jam 11 atau 12 malam saja. Malam berikutnya harus diisi minyak tanah lagi. Ini berarti membutuhkan minyak tanah 100 - 200 liter setiap malamnya untuk 1 buah desain yang besar dengan 1000 - 2000 lampu colok. Penghematan bisa dilakukan jika pemadaman lampu colok dipercepat, sehingga sisa minyak tanah yang masih berada dalam botol lampu colok tersebut bisa ditambahkan untuk malam berikutnya.

Biasanya setiap kecamatan memiliki 1 desain utama besar dan 2 desain kecil di tambah lampu penerang jalan yang disusun berjajar. Maka diperkirakan setiap kecamatan membutuhkan sekitar 100 liter tiap malam lebih. Jumlah liter ini akan membengkak terutama di daerah Kabupaten Bengkalis yang mempunyai desain yang lebih besar (mungkin paling besar se-propinsi Riau).

Karena kesulitan mendapatkan minyak tanah, beberapa kecamatan hanya menghidupkan seluruh desain lampu colok pada malam pertama dan kedua saja, sedangkan malam berikutnya hanya menghidupkan lampu colok pada desain utama. Beberapa kecamatan yang festival tahun-tahun lalu memiliki desain/bentuk lampu colok kecil selain desain/bentuk utama, tahun ini hanya memiliki 1 (satu) desain utama saja tanpa desain kecil. Bahkan untuk kecamatan LIMAPULUH sekitar jalan Tanjung Rhu jumlah desain/bentuk lampu coloknya lebih sedikit dari biasanya. Desain-desain utama pun menjadi mengecil dari tahun-tahun sebelumnya.

Minyak Tanah Tak Ada,
Hilang Satu Budaya




Photo/Gambar Festival Lampu Colok Kota Pekanbaru

Festival_Lampu_colokPembukaan Festival Lampu Colok Pekanbaru 2010
dipusatkan di Kecamatan Tenayan Raya - Pekanbaru
(punya @ProfIjo)


Festival_Lampu_colokLampu Colok Minyak Tanah
yang dibuat dari bekas botol minuman
digantung di kawat
Kecamatan Pekanbaru Kota - Pekanbaru


Festival_Lampu_colokPetugas menghidupkan lampu colok
sekaligus menjaga agar lampu tetap hidup
Untuk Lampu Colok yang tinggi,
digunakan galah bambu (tongkat panjang)
Kecamatan Pekanbaru Kota - Pekanbaru


Festival_Lampu_colokLampu Colok
disusun berjejer sepanjang pembatas tengah jalan
Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru


Festival_Lampu_colokLampu Colok desain Buku dan Ka'bah
Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru


Festival_Lampu_colokLampu Colok Desain Mesjid dan tulisan Selamat Idul Fitri 1431 H
Kecamatan Sail - Pekanbaru


Festival_Lampu_colokLampu Colok Desain Gerbang
Kecamatan Pekanbaru Kota - Pekanbaru


Pekanbaru Daily Photo punya andie buytank
Lampu Colok Desain Kapal Layar
Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru 2010


PojokPhoto.com punya bang Fiko
Lampu Colok desain Mesjid
di lokasi tepi Sungai Siak
Kecamatan Senapelan - Pekanbaru


Festival_Lampu_colokTampak samping lampu colok tepi Sungai Siak
Kecamatan Senapelan - Pekanbaru
(sorry... gambarnya agak blur)


Festival_Lampu_colok_Jembatan_Sungai_SiakBonus photo/gambar jiahahahahaha....
Jembatan Lighton (Leighton) Sungai Siak Pekanbaru di malam hari
Ngambil gambar bersama @ProfIjo
pake tripod
Shutter Speed 15 detik
Bukaan 5,6
ASA 800
Kamera Nikon D50





Mohon maaf lahir bathin

Sepertinya, artikel ini satu-satunya yang menyiratkan bahwa
Festival Lampu Colok Pekanbaru 2010 tidak meriah.

Pemerintah Kota Pekanbaru mengembangkan tradisi budaya Melayu tersebut dari kebiasaan masyarakat, dan festival lampu colok tahun ini (2010) merupakan yang keenam kalinya diselenggarakan sejak tahun 2003.


Copyright © 2013 attayaya: Festival Lampu Colok Pekanbaru, Minyak Tanah Tak Ada, Hilang Satu Budaya | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah