11 February 2010

Mesjid Raya Pekanbaru :
Sejarah Berdirinya,
Situs Sejarah dan
Pergantian Nama

Sejarah Berdirinya Mesjid Raya Pekanbaru

Mesjid Raya Pekanbaru memang telah dibangun sejak lama dan telah pula dilakukan berbagai perombakan/pembaharuan/renovasi/revitalisasi serta beberapa kali telah berganti nama. Terakhir yang kita kenal nama masjid ini adalah Mesjid Raya Pekanbaru. Revitalisasi Mesjid Raya Pekanbaru saat ini (2010) dilakukan oleh Badan Revitalisasi Kawasan Mesjid Raya Pekanbaru mencakup luas areal 3,02 hektar mencakup mesjid dan pekarangan hingga sampai ke tepian Sungai Siak. Ternyata desainnya tidak sesuai benar dengan desain yang kuterima seperti pada postingan Gambar/Desain Mesjid Raya Pekanbaru, mungkin pada saat-saat akhir desain berubah sesuai permintaan melalui Bappeda Propinsi Riau. Yang tertinggal adalah sejarah dan kenangan akan Mesjid Raya Pekanbaru seperti gambar di samping. Ada rasa kecewa sedikit.

Masjid Raya Pekanbaru dibangun pada abad ke 18 tepat 1762 sehingga merupakan mesjid tertua di Pekanbaru. Mesjid yang terletak di Jalan Senapelan Kecamatan Senapelan ini memiliki arsitektur tradisional. Mesjid yang juga merupakan bukti Kerajaan Siak Sri Indrapura pernah bertahta di Pekanbaru (Senapelan) yaitu di masa Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah sebagai Sultan Siak ke-4 dan diteruskan pada masa Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah sebagai Sultan Siak ke-5.

Sejarah berdirinya Mesjid Raya Pekanbaru dikisahkan ketika di masa kekuasaan Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah memindahkan dan menjadikan Senapelan (sekarang Pekanbaru) sebagai Pusat Kerajaan Siak. Sudah menjadi adat Raja Melayu saat itu, pemindahan pusat kerajaan harus diikuti dengan pembangunan "Istana Raja", "Balai Kerapatan Adat", dan "Mesjid". Ketiga unsur tersebut wajib dibangun sebagai representasi dari unsur pemerintahan, adat dan ulama (agama) yang biasa disebut "Tali Berpilin Tiga" atau "Tungku Tiga Sejarangan".

Pada penghujung tahun 1762, dilakukan upacara "menaiki" ketiga bangunan tersebut. Bangunan istana diberi nama "Istana Bukit" balai kerapatan adat disebut "Balai Payung Sekaki" dan mesjid diberi nama "Mesjid Alam" (yang mengikut kepada nama kecil sultan Alamuddin yaitu Raja Alam). Pada tahun 1766, Sultan Alamuddin Syah meninggal dan diberi gelar MARHUM BUKIT. Sultan Alamuddin Syah digantikan oleh puteranya Tengku Muhammad Ali yang bergelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah. Pada masa pemerintahannya (1766-1779), Senapelan berkembang pesat dengan aktivitas perdagangannya. Para pedagang datang dari segala penjuru. Maka untuk menampung arus perdagangan tersebut, dibuatlah sebuah "pekan" atau pasar yang baru, pekan yang baru inilah kemudian menjadi nama "Pekanbaru" sekarang ini.

Perkembangan yang begitu pesat menyebabkan Mesjid Alam tidak lagi cukup menampung para jemaah yang beribadah maupun yang menuntut ilmu agama di sana. Apalagi Sayid Osman, seorang ulama, menggunakan mesjid tersebut sebagai pusat dakwah menyebarkan Agama Islam. Atas dasar musyawarah Sultan Muhammad ALi, Sayid Osman, Datuk Empat Suku beserta para pembesar lainnya, disepakati untuk memperbesar mesjid tersebut. Pada tahun 1775, pekerjaan membesarkan bangunan mesjid dilakukan. Menurut sumber lokal, bangunan msjid yang diperbaharui tersebut, keempat "Tiang Seri" disediakan oleh Datuk Empat Suku, "Tiang Tua" disediakan oleh Sayid Osman, "Kubah Mesjid" disediakan oleh Sultan Muhammad Ali, sedangkan pengerjaannya dilakukan oleh seluruh rakyat. Cara ini menunjukkan persebatian/kesatuan antara Pemerintah, Ulama, Adat dan masyarakat. Acuan ini kemudian dikekalkan di Kerajaan Siak, yang mengandung maksud tertentu pula :
Sultan : Pucuk pemerintahan pemegang daulat
Datuk Empat Suku : Tiang pemerintahan pemegang adat
Ulama : Tiang agama pemegang hukum syarak
Rakyat : Darah daging kerajaan pemegang Soko Pusaka, petuah dan amanah

Diperbesarnya mesjid ini diikuti dengan penggantian nama mesjid menjadi Mesjid Nur Alam yang berarti memberikan cahaya ke alam sekitarnya dan memberikan penerangan bagi hati ummat manusia.

Pada tahun 1779, Sultan Muhammad Ali diganti oleh iparnya Sultan Ismail (1779-1781) yang kemudian setelah mangkat digantikan oleh Sultan Yahya (1781-1784). Sultan Yahya diganti oleh putera Sayid Osman yaitu Tengku Udo Sayid Ali bergelar Assyaidissyarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin (1784-1810). Pada masa pemerintahannya, pusat Kerajaan Siak dipindahkan ke Mempura Kecil (Kota Siak sekarang). Masa itu juga, Mesjid Nur Alam diberi selasar (teras) yang dipergunakan untuk tempat peziarah duduk, sekaligus tempat pemberian/pelafasan gelar. Konon sejak itu, banyaklah mesjid dibangun menggunakan selsar di sekeliling bangunan, sekurang-kurangnya di salah satu sisi bangunan.

Pada masa pemerintahan Sultan Ismail II yang bergelar Sultan Assyadisyarif Ismail Abdul Jalil Syaifuddin (1827-1864), Mesjid Nur Alam diperbaiki lagi dan memperbesar selasarnya. Sultan Ismail II mangkat pada tahun 1864 dan digantikan puteranya Tengku Sayid Kasim (Sultan Syarif Kasim Awal). Pada masa ini tidak ada perubahan yang mendasar pada bangunan mesjid. Perubahan baru terjadi ketika Tengku Putera Sayid Hasyil memegang tampuk pemerintahan (1889-1908). Pada masa itu, Mesjid Nur Alam dipindahkan 40 langkah dari posisi semula ke arah matahari hidup/terbit (timur). Dengan dipindahkannya posisi mesjid ini, maka mesjid ini terkenal dengan Mesjid Sultan yang berarti dipindahkan oleh Sultan. Karena bangunannya lebih luas, maka disebut juga Mesjid Besar yang kadang juga disebut Mesjid Raya.

Sultan Sayid (Said) Hasyim mangkat pada tahun 1908 dan digantikan puteranya Tengku Said Kasim yang bergelar Sultan Assyaidissyarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin yang biasa disebut Sultan Syarif Kasim II. Sultan memerintah sampai kerajaan Siak berakhir di tahun 1946 ketika bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada tahhu 1935, Sultan Syarif Kasim II memutuskan untuk membangun mesjid lebih besar dengan bahan semen dan batu yang letaknya berdekatan dengan mesjid lama yang sudah ada, dengan dasar pertimbangan hakikatnya masih menyatu dengan mesjid lama. Maka dalam tahun itu juga dimulailah pembangunan mesjid yang dimaksud, yang namanya tetap menjadi Mesjid Raya. Pemilihan lokasi yang berdekatan ini dengan pertimbangan sebagi berikut :
  • Mesjid baru hakikatnya masih menyatu dengan mesjid lama
  • Mesjid baru lokasinya berdekatan dengan makam-makam nenek moyang beliau
  • Mesjid baru dibangun supaya lebih tahan dan lebih besar
  • Mesjid baru ini dibangun sebagai tanda ingat beliau kepada nenek moyangnya yang telah berjasa mengembangkan Islam di Kerajaan Siak dan sekitarnya.


Ringkasan Sejarah Pergantian Nama Mesjid Raya Pekanbaru

Mesjid Alam 1762 :
Diberi nama Mesjid Alam yang diambil dari nama kecil Raja Alam ketika dibangun oleh Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah.

Mesjid Nur Alam 1775 :
Sejalan dengan pembesaran Mesjid Alam yang melibatkan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, Datuk empat Suku, Sayid Osman, dan masyarakat Pekanbaru. Perpindahan secara keseluruhan Kerajaan Siak dari Senapelan (Pekanbaru) kembali ke Siak antara tahun 1784-1810 oleh Sultan Assyaidissarif Ali Abdul Jalil Syarif karena tekanan Belanda. Mesjid Nur Alam tetap dibangunkan selasar-nya. Di tahun 1858 dilakukan perluasan selasar oleh Sultan Ismail II.

Mesjid Sultan, Mesjid Besar, Mesjid Raya 1889 - 1908 :
Oleh Sultan Hasyim (Assyaidissarif Hasyim Abdul Jalil Syafuddin), Mesjid Nur Alam dipindahkan 40 langkah dari posisi semula ke arah matahari terbit. Penyebutan nama Mesjid Sultan atau Mesjid Besar atau Mesjid Raya karena mesjid itu dipindahkan oleh Sultan, bentuknya lebih besar dari semula dan sehingga lebih ramai.

Mesjid Raya 1935 :
Pembangunan mesjid dari bahan semen dan batu yang letaknya berdekatan dan masih dalam satu areal dengan mesjid lama pada masa pemerintahan Sultan Syarif Kasim II. Mesjid ini menjadi aset sejarah sebagai bukti sejarah Kerajaan Siak yang berakhir pada tahun 1946 ketika bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Walaupun sedikit ada perbedaan pendapat tentang asal mula penamaan Mesjid Raya Pekanbaru dari tokoh adat seperti yang tercantum di bawah ini :
SELAMA ini pemberitaan di media massa terjadi kekeliruan dalam memberitakan kapan sebenarnya berdirinya Masjid Raya Pekanbaru. Sebagai contoh pada berita Riau Pos, Kamis (7/1) kemarin yang menyebutkan, umur Masjid Raya sudah berabad-abad.

Oleh karenanya itu, saya ingin meluruskan kembali dan pemberitaan tentang Masjid Raya dapat berpegang pada tanggal dibangunnya masjid yang sebenarnya. Dalam buku sejarah Syair Marhum Pekan karangan GP Ade Dharmawi halaman 149 dan 150 menuliskan:

Pada tahun sembilan belas dua puluh lima. Datuk Comel digantilah pula. Oleh Wan Entol penguasa berikutnya. Datuk bergelar Sri Amat Perkasa.

Ketika Wan Entol memerintah Senapelan. Pembangunan Pekanbaru diadakan peningkatan. Tersebar pasar ramai setiap pekan. Dipungutlah dana perawatan dan kebersihan.
Kehidupan beragama diperhatikan pula. Dengan dibangunnya Masjid Raya memperbaharui bangunan masjid lama. Wan Entol sebagai ketua pelaksana (tahun 1929).

Bidang pendidikan turut dibina. Sekolah kerajaan kemudian dibuka. Hanya tiga tahun masa belajarnya. Pendidikan disebut Sekolah Desa.

Pada tahun sembilan belas tiga puluh satu. Karena berhasil mengembangkan Pekanbaru. Wan Entol diangkat pada kedudukan baru. Districthoofd Siak jabatan dipangku.

Terima kasih saudara Ade Dharmawi. Jadi jelaslah Masjid Raya Pekanbaru itu dibangun pada tahun 1929. Mudah-mudahan siapapun yang akan menulis mengenai Masjid Raya Pekanbaru tidak lagi mengulangi informasi yang salah terima kasih.***

Wan Ghalib,
Jalan Banda Aceh 12A Harapan Raya Pekanbaru.
RiauPos Online 8 Januari 2010
(http://www.riaupos.com/berita.php?act=full&id=253&kat=5)


Jika melihat tulisan Wan Ghalib di atas, maka tulisan dari GP Ade Dharmawi mirip seperti pantun ataupun syair :
Pada tahun sembilan belas dua puluh lima.
Datuk Comel digantilah pula.
Oleh Wan Entol penguasa berikutnya.
Datuk bergelar Sri Amat Perkasa.

Ketika Wan Entol memerintah Senapelan.
Pembangunan Pekanbaru diadakan peningkatan.
Tersebar pasar ramai setiap pekan.
Dipungutlah dana perawatan dan kebersihan.

Kehidupan beragama diperhatikan pula.
Dengan dibangunnya Masjid Raya
Memperbaharui bangunan masjid lama.
Wan Entol sebagai ketua pelaksana (tahun 1929).

Bidang pendidikan turut dibina.
Sekolah kerajaan kemudian dibuka.
Hanya tiga tahun masa belajarnya.
Pendidikan disebut Sekolah Desa.

Pada tahun sembilan belas tiga puluh satu.
Karena berhasil mengembangkan Pekanbaru.
Wan Entol diangkat pada kedudukan baru.
Districthoofd Siak jabatan dipangku.


Situs-situs Sejarah di Kawasan Mesjid Raya Pekanbaru - Riau

  • Mesjid Raya
    Sebagai mesjid tertua di Kota Pekanbaru yang memiliki kolom Tiang Seri, Tiang Tua dan Mimbar (yang diberikan oleh Sultan Hasyim).
  • Sumur Tua
    Terletak di sebelah kiri Mesjid Raya yang mempunyai nilai-nilai pembersihan diri.
  • Makam
    Terletak di sebelah kanan Mesjid Raya merupakan makam Sultan Marhum Bukit dn Marhum Pekan sebagai pendiri Kota Pekanbaru. Marhum Bukit adalah Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Sultan Siak ke-4) memerintah tahun 1766-1780, di sekitar tahun 1775 memindahkan ibukota kerajaan Siak dari Mempura Siak ke Senapelan. Beliau Mangkat tahun 1780.
  • Gerbang Lama
    Terletak di depan mesjid seperti terlihat pada gambar di atas.



Baca juga :
Desain/Gambar Mesjid Raya Pekanbaru

Sumber tulisan :
Laporan Revitalisasi Mesjid Raya Pekanbaru
RiauPos Online

Sumber Gambar :
Stok Gambar Pemerintah Kota Pekanbaru



37 comments:

  1. Ada kesempatan nyepam gak bang? :D

    ReplyDelete
  2. Wah om Atta emang pemerhati dan pecinta sejarah sampe budaya Melayu nih .. jarang-jarang orang sepertimu. Keep it up xD

    ReplyDelete
  3. sejarah yang panjang dan patut untuk dipelajari dan pelihara...nice informasi bang.....

    ReplyDelete
  4. Wow,megah juga masjidnya.Nice sharing...

    ReplyDelete
  5. waahh.. panjang juga sejarahnya, bang atta pemerhati sejarah banget yaahh,, salut deehh...

    ReplyDelete
  6. hiks..hiks... Masjid Raya ku Sayang.. Masjid Raya ku Malang....

    ReplyDelete
  7. wah dulu aku belum sempet masuk tuh.... kalo mesjid yang deket simpang 3 jalan sudirman udah jadi bang

    ReplyDelete
  8. salam sejahtera
    selamat ya sudah ganti domain
    bagus..
    masalah Masjid Raya Pekanbaru yang akan di rivitalisasi sayng banget ya
    padahal pengen banget lihat yang aslinya

    ReplyDelete
  9. Bang komen q kok ndak di moderasi to?maap klo ada yang salah....

    ReplyDelete
  10. sebuah heritage yang begitu indah sayang sekali sekarang tinggal kenangan ya bro

    ReplyDelete
  11. bang attayaya...ada oleh2 tag tuch di blog melly mohon di ambil ya...cos bingung mau ngasih ke siapa hhehhe pisss

    ReplyDelete
  12. aku sangat menyayangkan perubahan pada mesjid raya...

    kalo review dari blogvertise n sponsor review pasti di bayar om. kalo yang 130 dollar belom dibayar ituh dari www.blogadvertisingstore.com ;katanya sih nunggu 30 hari; liat aja ntar....

    ReplyDelete
  13. yep. perbaikan perlu mempertahankan keaslian nya, krn ini jg menghargai pendirinya yg dah capek2 mbangun. salam

    ReplyDelete
  14. wAh kAlAu ada kEsempatan saya peNgen uNtuk sHolat disana.,.,
    tHanks sObat.,,..,

    ReplyDelete
  15. wah jadi nambah ilmu, tetapi aku sendiri belum pernah ke pekan baru... kapan2 mampir kalau ada kesempatan.

    ReplyDelete
  16. Kapan ya saya bisa mengunjungi mesjid raya Pekanbaru...semoga tetap terpelihara...
    Datang di sini sekaligus menginformasikan kalau gambar2 versi pria sudah diposting :)

    ReplyDelete
  17. artikel yang membuat kita berada di dalam mesjid tersebut...karena kita tahu sejarah nya kini..thanks sob..

    ReplyDelete
  18. betul betul betul masjid yang indah..andai kan ane bisa ke pekan baru pasti akan langsung ke masjid itu u/ beribadah..

    ReplyDelete
  19. bang ini opini yah yang dimuat di riau pos??

    ReplyDelete
  20. nyepaaaaaaaaaaaammmmmmmmmmmmmmm

    ReplyDelete
  21. kapan yah ke pekan baru huhuhu
    bagus yah renovasi mesjidnya :) semoga tetep dilestarikan karena itu bagian dari sejarah :)

    ReplyDelete
  22. SALAM BANG... lama x berkunjung kemari...
    makin hebat blognya..huhu
    bleh tnya... adat yg diamalkan oleh msyrakat melayu siak ini adakah berkait & mempunyai cmpuran adat melayu Minang?

    ReplyDelete
  23. makin malam makin mantab..mampir bang

    ReplyDelete
  24. gambarnya kurang besaaaaaaaaar
    jadi gak lega lihat masjid sebagus itu

    ReplyDelete
  25. ya bang... Negeri Sembilan sebetulnya.. tnh tumpah darahku (bangga nih)..huhuhu

    hahaha... lama x nampak sbb sibuk dikit la, sbb sekolah...huhuhu
    tp sekolahnya udah abis, jd aktif kembali berblogging.. =)

    ReplyDelete
  26. http://www.facebook.com/photo.php?pid=30576584&id=1340487555

    ReplyDelete
  27. kulihat pada tanggal 17 Februari lalu, sumurnya masih ada

    ReplyDelete
  28. "..skrg mesjid nya sdh bagus,.klu dtg berkunjung rasa nya bukan di masjid yg dlu,ga terasa aroma sejarah nya..." ( sdh di renovasi di renovasi lagi )

    ReplyDelete

Copyright © 2013 attayaya: Mesjid Raya Pekanbaru :Sejarah Berdirinya,Situs Sejarah danPergantian Nama | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah