Find out how to reduce your carbon footprint
attayaya support to : The Banyumas Residence

2009-08-24

Penyebab "ganyang malaysia" 1966 bermula dari keinginan malaysia untuk mengggabungkan Brunei, Sabah dan Sarawak serta tanah Kalimantan dalam Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961. Jelas sudah keinginan malaysia itu ditentang oleh Presiden Soekarno yang menganggap malaysia sebagai "boneka" Britania. Hal ini menyebabkan terjadinya Konfrontasi Indonesia-Malaysia sebagai sebuah perang mengenai masa depan pulau Kalimantan, antara Malaysia dan Indonesia pada tahun 1962-1966. Kebangkitan semangat nasionalisme Indonesia untuk mempertahankan wilayahnya terpancar dengan slogan "GANYANG MALAYSIA". Kontrol dan back-up Inggris atas malaysia juga menyebabkan Presiden Soekarno menentang keras keinginan malaysia tersebut dan hal ini tentu saja mengancam kemerdekaan Indonesia dan kesatuan wilayah Republik Indonesia.

Di Kuala Lumpur, terjadi demonstrasi anti-Indonesia, dimana para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno. Mereka juga membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Perdana Menteri Malaysia saat itu, Tunku Abdul Rahman, dan memintanya untuk menginjak Garuda. Soekarno marah terhadap Malaysia. Rakyat Indonesia marah terhadap malaysia.

20 Januari 1963, melalui Menteri Luar Negeri Indonesia Soebandrio, Pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa Indonesia mengambil sikap bermusuhan terhadap Malaysia. Filipina memutuskan hubungan diplomatik dengan malaysia. Brunei menolak bergabung dengan federasi malaysia. Singapore walaupun telah ikut bergabung dengan malaysia, kemudian menyatakan sikap keluar dari federasi malaysia.
12 April 1963, sukarelawan Indonesia memasuki Sarawak dan Sabah dan menyebar propaganda dan melaksanakan penyerangan dan sabotase.
27 Juli, Sukarno mengumumkan bahwa dia akan meng-"ganyang Malaysia".
16 Agustus, pasukan dari Rejimen Askar Melayu DiRaja berhadapan langsung dengan gerilyawan Indonesia.
17 Agustus pasukan terjun payung mendarat di pantai barat daya Johor dan membentuk pasukan gerilya.
Pertengahan 1965, pasukan resmi Indonesia menyerang malaysia melalui wilayah timur Pulau Sebatik dekat Tawau, Sabah.
(lengkapnya dapat dibaca di wikipedia)

Dari cerita sejarah Riau, dinyatakan bahwa rakyat Riau sangat tidak mau bergabung dengan malaysia, terutama rakyat Riau Kepulauan yang dilatarbelakangi oleh sejarah kerajaan Melayu Riau-Lingga.

Konfrontasi selesai dengan pengumuman penyelesaian konflik antara Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia tanggal 28 Mei 1966 dalam sebuah konferensi di Bangkok. Kekerasan berakhir bulan Juni, dan perjanjian perdamaian ditanda tangani pada 11 Agustus dan diresmikan dua hari kemudian.

Sangat jelas dari dulu, malaysia sangat jatuh hati dan jatuh cinta kepada Indonesia serta berminat menjadikan Indonesia sebagai bagian wilayah kedaulatannya. Dan tentu saja malaysia didukung Inggris yang gagal menjajah Indonesia secara keseluruhan dan harus berbagi dengan Belanda.

Setelah konfrontasi, banyak guru (cik gu) malaysia yang belajar di Indonesia dan kemudian menjadikan pendidikan malaysia lebih maju. Selain itu, dalam bidang sumberdaya energi, PSC (Production Sharing Contract) Indonesia dipelajari malaysia (bahkan juga Afrika). Tetapi sayangnya, malaysia kini seolah menjadi "murid yang durhaka", bukannya berterima kasih malah sering membuka konfrontasi baru dengan Indonesia. Seperti, malaysia berusaha mencaplok wilayah "ambalat" yang banyak mengandung minyak dan gas bumi (migas). Pertamina sebagai "Sang Guru" yang sudah sepuh tertatih-tatih dibantai muridnya "petronas" dan "bp (bumi putera)". Tidak ada tanda terima kasih sedikitpun. (perspektif Majalah Indocita).

Dalam bidang hak cipta, jelas-jelas malaysia mengambil hak cipta Indonesia
Bunga Rafflesia dianggap tumbuhan malaysia, kurasa hal ini karena "kenangan" orang inggris-malaysia yang harus keluar dari wilayah Bengkulu jaman penjajahan dulu. Termasuk juga rasa sayange, kemungkinan lagu Erni Djohan "Kau selalu dihatiku" karangan Wedhasmara, Reog Ponorogo, Batik, Tari Pendet Bali yang semuanya berasal dari Indonesia.

Beberapa bulan lalu, budayawan Riau uring-uringan karena beberapa naskah kuno Melayu yang dipegang oleh beberapa orang pribadi di Kepulauan Riau (Tanjung Pinang) telah dibeli oleh orang malaysia. Hal ini dilakukan malaysia, salah satunya, untuk menetapkan jati diri bangsa Melayu itu berasal dari malaysia. Aku yakin tak lama lagi akan muncul Federasi Melayu Malaysia.

Dalam bidang kehutanan dan perkebunan, pengusaha-pengusaha malaysia dengan sengaja membeli kayu bulatan Indonesia. Pengusaha-pengusaha malaysia dengan sengaja membeli tanah di Indonesia dengan menggunakan nama warga negara Indonesia untuk dibuat perkebunan. Ketika tanah tersebut masih hutan, kayunya ditebang dan dijual, lahan tanah yang masih belum bersih tersebut dari semak dan kayu-kayu kecil, lalu dibersihkan dengan cara dibakar. Pembakaran semak untuk pembersihan lahan tersebut mengakibatkan asap yang menyebar kemana-mana. Lalu malaysia dan singapore melancarkan komplen alias keberatan kepada pemerintah Indonesia atas asap yang merayap sampai ke negara mereka. Hahahahaha padahal yang berbuat tersebut adalah warga negara mereka sendiri.

AKANKAH KITA MAU MENJADI GURU YANG DILECEHKAN OLEH MURID?



Semua harus berperan serta dalam mempertahankan budaya dan seluruh hak cipta yang ada di Indonesia, baik oleh pemerintah, masyarakat, maupun perusahaan-perusahaan swasta, serta lembaga-lembaga non-pemerintah. Dalam hal hak cipta budaya, seni dan lainnya, dapat dilakukan dengan cara :
  1. Pemerintah dapat melakukan permudahan regulasi hak cipta seni perorangan maupun lembaga, dan mempercepat penetapan hak cipta berbagai budaya Indonesia yang hanya bisa dilakukan dan dimiliki pemerintah.
  2. Masyarakat tetap terus melestarikan, memajukan, dan mengembangkan budaya tradisi, dan bukan hanya mengedepankan budaya barat/modern dan budaya komersialisasi.
  3. Iklan-iklan perusahaan swasta maupun perusahaan negara sebaiknya menggunakan atau menampilkan budaya Indonesia secara jelas, nyata dan terang-terangan, bukan hanya sekedar imajinasi teatrikal.
  4. Lembaga-lembaga non-pemerintah dapat menggerakkan masyarakat dan budaya Indonesia dan menyiarkannya melalui berbagai media massa.

Pidato Presiden Soekarno

Ini dadaku, mana dadamu?
Kalau Malaysia mau konfrontasi ekonomi,
Kita hadapi dengan konfrontasi ekonomi.
Kalau Malaysia mau konfrontasi politik,
Kita hadapi dengan konfrontasi politik.
Kalau Malaysia mau konfrontasi militer,
Kita hadapi dengan konfrontasi militer.



Update :
Menurut berita Metro tv tadi sore (24/08/09), pemerintah malaysia telah menyampaikan maaf atas penggunaan Tari Pendet Bali dalam iklan malaysia, dengan alasan bahwa iklan tersebut dibuat oleh pihak ketiga.

Bullshit... gak jantan. Iklan itu pesanan pemerintah malaysia, maka jangan salahkan pihak ketiga yang telah memasukkan Tari Pendet Bali tersebut. Seharusnya pemerintah malaysia meminta maaf dan bertanggung jawab penuh tanpa menyalahkan pihak ketiga pembuat iklan tersebut.

Tulisan ini terinspirasi dari Perspektif Majalah Indocita Oil & Gas Business and Community, Edisi Juli 2009
Malingsia is malingsial






Related Post


67 komentar:

alamendah said...

Apa bukan lantaran Sang Guru yang mulai melupakan kekayaannya?.

Sang Cerpenis bercerita said...

tul, malingsia memang bener2 maling...jitak aja tuh.

pencinta AHLUL BAYT said...

ancen malingsia ngejak geger mas...hancurkan malaysia... pulihkan harga diri dan martabat indonesia

ivan kavalera said...

test dulu..pertama ya

ivan kavalera said...

Hemmm, saya masih penasaran nih dg berita klaim budaya tari pendet oleh Malaysia.

aswien said...

Hidup Indonesia ....
kita ga boleh diam saja...melihat tingkah malaysia yang udah mulai kelewatan....
selama mereka mau menyerang kita kita serang...
tapi kalaupun berdamai kita juga mau koq damai....

Seti@wan Dirgant@Ra said...

Malingsia emang murid murtad.
Ayah saya dulu pernah dikirim kesana jadi guru 4 tahun.

Tukang Komen said...

Gerah juga mendengar hal-hal ini bang, dari dulu memang sepertinya mereka cari masalah terus, tapi yah, Soekarno tiada lagi, saya sangat kagum dengan nasionalisme beliau, pertahankan bumi tanah air walau darah dan nyawa taruhannya, masih adakah sosok pemimpin yang benar-benar seperti beliau, bukan hanya cara ngomongnya saja.

esha di birulangit said...

Tak punya lagi wibawa dan tak disegani.....akibat sang guru yang compang camping membenahi rumah tangganya sendiri....?

J O N K said...

waduh, kenapa ya kita bisa kalah sama orang2 yang kabarnya pernah kita ajar. mmmm ,,,

Indo Hijau said...

Pengalaman pahit dengan malaysia itu selalu terulang, belum lama kasus reog, sekarang muncul lagi kasus pendet. Payahnya, kita selalu kalah, simpadan ligitan go, dan tidak menutup kemungkinan ambalat bisa terbang juga. Hai Para Pemimpin Negeri..., kami percaya kepada kalian, urus negara ini dengan baik !!!

frizzy said...

kita bisa minta kompensasi HAKI ke Malaysia gak ya?? lumayan kan kalo bisa dapt duit klaimnya

patahati said...

Hmm, the first time, aQ selalu gak bisa dapetin pertamax dirumah bg attayaya ini, ketinggalan terus. the second time, artikelnya selalu inovatif. mau komen wawasan jauh tertinggal. btw hanya bisa berharap semoga budaya yang kita miliki tetap bisa dipertahankan oleh generasi penerus dgn harapan pemda jauh lebih perhatian akan pelestarian budaya sendiri agar tidak terjadi pengklaiman oleh pihak lain. salam hangat bang.

Dinoe said...

Benar bang..tidak mungkin guru bisa dikalahkan murid...sudah Saatnya Indonesia bertindak tegas...tunjukkan pada dunia arti Persatuan yang ada di Pancasila...(saya dengan semangat berapi-api ini bang, he..he..he) met malam bang...

vina cute said...

jadi inget pidato bung Karno. jas merah
mungkin kita sekarang begini karena kita sudah melupakan sejarah

Taktiku said...

yang saya bingungkan kenapa kok pemerintah kita diam saja ya.?

genial said...

wah... cukup keras juga nii bang :(
moga makin banyak yang sadar akan hal ini bang :(

sawali tuhusetya said...

wahm ternyata konfrontasi indonesia-malingsia sudah melewati sejarah yang panjang. dalam suasana seperti ini, pemerintah kita anats nama bangsa dan negara yang demikian besar perlu segera mengambil tindakan yang tegas. klaim budaya yang terus masif dilakukan malingsia sdh cukup bukti kalau negeri jiran itu memang sudah tak memiliki iktikad baik. doh!

@n9in said...

Malaysia memang multi Ras.Di Qatar, saya dan suami bersentuhan lgsg dg orang2 Malaysia.Adat dan kebiasaannya memang mirip dg kita. Ada nama-nama jalan yang mana itu adalah nama kota di Indonesia misalnya jalan Semarang.Makanannya pun nyomot dari kita, misalnya Mie Jawa, Mie Bandung, Serunding dll. Sinetron Indonesia jg populer dimata Malaysia. Anak2 yang saya kenal, mereka sering bertanya ttg arti dari:busyyett,gokil,sok kePDan, dll yang mereka kenal dari sinetron tsb. Kebetulan orang2 yg akrab dg saya semuanya baik2, sama2 menghormati. Dan kamipun tetap berusaha menjaga harga diri bangsa. Tp ada juga kawan lain yang punya kasus tidak mengenakkan, yg dilakukan oleh orang Malaysia. Misalnya, memanggil dg sebutan INDON (sy jd sensi dengarnya, mirip2 dg=in down). Menganggap orang Indonesia tidak pandai berbahasa Inggris dan miskin2. Mereka melihatnya bahwa Indonesia pengekspor pembantu dan tenaga kasar semacam buruh bangunan. Sementara tenaga profesional (kyk kerja di minyak dan gas) jumlahnya jelas lbh sedikit drpd pekerja sektor rumah tangga. Saatnya kita merubah image harga diri bangsa kita dimata International!

arifin said...

pertanyaannya, apakah pemerintah kita berani? apakah kita punya kemampuan militer yang memadai untuk berkonfrontasi dengan malaysia? apakah kita memiliki sdm yang memadai untuk bersaing secara ekonomi? apakah kita punya kemampuan diplomasi yang memadai untuk berkonfrontasi politik dengan malaysia?

saya rasa tidak, karena kita masih nebeng, meskipun kita kaya? kita dikendalikan, meskipun katanya berdaulat.

musuh kita bukan malaysia... tapi kapitalisme.

bunga raya said...

perjuangkan martabat bangsa ini dengan penuh kekuatan.......

Tisti Rabbani said...

Yuk, rame2 ganyang malingsia!!..
Kemaren saya jg nonton di metro tv, kemudian ditayangkan iklan malaysia yg di hebohkan itu.
Gemesss!!!...masak wayang kulit juga ikut2 di klaim sama orang bakat maling itu???...sejak kapan orang melayu kenal wayang kulit yg jelas2 dr tanah jawa indonesia???....

Ayo, dong Pemerintah Indonesia, tegass!!...
besok apalagi yg di klaim malingsia itu, ya??...
benar orang malay itu 'tak mencabar'..alias gak jelasss!!!...

mocca_chi said...

oala.... kok aku baru tahu ya indonesia pernah nyerang malaysia?jahh... pelajaran sejarah aku kemana aja ya... kok ga tau sama sekali. hiii jadi maluuu

ADVINTRO said...

asli bikin jengkel! eh, lagi puasa, ntar jengkelnya setelah buka aja ya, Mas

Gostav Adam said...

emang budaya malaysia dengan budaya kita kan agak-agak mirip tuh. Pastinya mereka punya kepentingan untuk semakin meningkatkan aspek wisata. Lumyan menambah devisa negara. Tapi kalau melihat bagaimana dulu mereka belajar kepada kita, ya gimana ya gakda kata durhaka. Tapi yang emamng maling sih....hehehe. Main curi aja ya

salam. mampir ke blog kami

Pasang Iklan Gratis said...

Wah.. malasyia memang perlu ditegasi oleh pemerintah indonesia. jangan dibiarkan saja, sudah berapa banyak mereka mengklem kebudayaan indonesia. kita sebagai bangsa indonesia juga harus ikut berpartisipasi.
dan kita harus tidak rela dilecehkan oleh murit!
dan tentunya semua tidak boleh dengan emosi.
Kenali dan kunjungi objek wisata di pandeglang

share for better said...

Ternyata...pernah jadi murid toh...

Terorisnya juga dari sana...Hiks...!

Wisata Riau said...

oleh sebab itu mari kita tunjukkan dada kita.. Ini dadaku... mana dada mu,.,,,, eits,,, lagi puasa ya... ga boleh.. liat2 dada... hehehe...
Om... ada Fosil nih di temukan di Kuansing... baca di blog ku yah...

melandri said...

itu tanda2 kalau mereka itu negara yg tidak punya identitas,,makanya mencari cari identitas dg nyuri2 identitas tetangga...walaupup apapun bentuknya..stealing is a sin,,,
and they keep doing it..
hope that God will curse them

fashion and style said...

ayo ayo..jangan biarkan Malaysia menginjak-injak negara kita. ayo kita selamatkan budaya tradisional kita!!! jangan sampai dirampas lagi!!

Ronaldo Rozalino, Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi said...

MAri saling memaafkan dalam Bulan Rmadhan ini...Semoga Allah membukan pintu rahmat kita semua

Ronaldo Rozalino, Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi said...

MAri saling memaafkan dibulan Ramdhan ini

All About Samarinda said...

Entahlah yaa...koq nggak pernah belajar dari kesalahan yg lalu tho....????

Ibarat org bilang, di kasi hati minta jantung...makanya zaman Soekarnao doeloe tu ada program 'ganyang malaya'...kali aja....

Penikmat Buku said...

tengkyuuuuuuuuuu somaaaaaaaddd, gw copas tulisannya :D

BIG SUGENG said...

ayo kita serbu malaisia

buwel said...

malingsia malingsia.....payah!

A-Chen said...

Apa perlu kita ganyang lagi Bos!

~PakKaramu~ said...

Salam ziarah di sore ramadan

KangBoed said...

hehehe,, mengajak sahabat jalan jalan sambil nunggu berbuka puasa.. ceuk orang sunda mah ngabuburit

KangBoed said...

hehehehe.. sabaaar.. mungkin memang kelihatan dari kita yang tidak ada wibawa dan ketegasan yaaaaa

×÷·´¯`·.·•[ peace ]•·.·´¯`·÷× said...

Yang perlu dicatat ada hal yang menyebabkan pemerintah lamban dalam mengatasi masalah diplomatik dengan malaysia,saat perjanjian damai indonesia dan malaysia pada 27 Oktober 1966 ada beberapa hal yang menyebabkan indonesia berpikir dua kali kenapa indonesia hanya berusaha selesaikan secara damai walau serasa kita di hina berapa kali oleh malingsial itu seperti kejadian di ambalat kapal perang malay masuk toh kita cuman teriak teriak saja,budaya di bajak kita cuman damai lagi diplomatik lagi ya karena UU itu sendiri yang di setujui oleh Bung karno.
isi perjanjian yg buat kita musthi damai isa di simak di www.theceli.com/dokumen/produk/1966/5-1966.html ,disitu jelas ditulis dan kita tentunya ngga bisa menyalahkan pemerintah saat ini.Yang jelas HARGA MATI UNTUK NKRI !!! salam indonesia damai.

Linda Belle said...

Ganyang Malingsia!!!!!

Muhammad Qori said...

Ada ada saja ya negara tetangga sebelah kita itu...

Kata adik saya sih mereka itu kekurangan kebudayaan, jadi mau ekspor budaya orang lain, setelah budaya amerika.

Linda Belle said...

mereka itu emang edan...
kurang budaya makanya ngambil dr kita mulu
tapi kita jg pemerintahnya lama n gak tegas,bikin bete aja...

YolizZ said...

si malingsia cuma ngeles tuh bang!!! dasar mereka itu sirik banget yah sama kita,, semuanya mau diklaim jd milik mereka!!! huh!! emosi jiwa kalo udah ngomongin si malingsia!!

ismail said...

maknya budayakn budaya indonesia, terutama anak muda mudi, jngn musik dan budaya terus di berdayakn dan d pelajari.. mudah sja hilang bdaya lokal,... jngan emosi, mesti instrospeksi....

Hendrawan said...

Saya setuju!!

lucky devi said...

dua kata : GANYANG MALAYSIA!! apa laah itu malingsial..udh menyebar teroris di indonesia noodin malingsial top!!, pake ngaku2 kebudayaan Indonesia!!apa mereka gak punya kebudayaan sendiri!!iri sama Indonesia..sebagai rakyat Indonesia..beserta pemerintah RI harus bisa menjaga warisan budaya leluhur yg merupakan cerminan jati diri bangsa...jgn sampai direbut oleh bangsa lain barang secuil pun!!!
satu lagi jangan sampai pemerintah Indonesia ACC pembuatan jembatan antara sumatra malaysia di jalur selat malaka...malah mereka (malingsial) bakalan semakin mudah masuk dan merusak Indonesia..!!!

Narzis Blog's said...

Malaysia emang gak tau diuntung...
Dulu ngemis2 minta pengajar dari Indo buat ngajar di negara mereka, tapi sekarang malah gak berterima kasih....

Negara kampret tuh, wkwkwkkw....

aldy said...

Murid yang murtad atau murid yang lebih pintar dari gurunya ? kalau tidak salah itu semua berkaitan dengan hak cipta dan kekayaan intelektual. Mestinya pemerintah Indonesia segera menginveratisir kekayaan itu dan didaftarkan hak ciptanya.

h35ti said...

kalo liat di filmnya ipin-upin tuh ada masakan rendang yg sepertinya juga sudah menjadi masakan khas di malaysia, dan juga kan ada negeri sembilan yg mayoritas penduduknya konon berasal dari negeri minang kabau
Mungkin karena banyak orang2 Indonesia, khususnya sumatera yg merantau dan menetap menjadi warga negara malaysia, sehingga mereka mengakui kebudayaan kita sebagai kebudayaan mereka juga kali yaa??

attayaya said...

bw baru mpe angin neh

attayaya said...

alhirnya selese terbalas semua bw

reni said...

Perlu dipikirkan suatu tindakan yg bisa menyadarkan Malaysia atas semua perbuatan liciknya selama ini...
Tetangga terdekat biasanya menjadi saudara.. tapi ini malah menjadi musuh dalam selimut !!!

attayaya said...

emang musuh beneran tuh mba

Elsa said...

emang sial tuh malingsia.
SBY juga sih, gak tegas sama sekali menghadapi malingsia ini...

attayaya said...

elsa tau aja

as said...

malaysia negara gak kreatif.buzzzz

SyerAgh said...

kenapa di ambil contoh 1966? pandang ke depan, bukan ke belakang

Musnahkan Blog Laknat dari Malaysia said...

Indonesia bangsa yang besar, harusnya kuat secara diplomatis,ekonomi dan politik, seandainya pemerintah belum mampu menunjukan itu semua pada rakyat indonesia kita tidak usah ikut pula gagal.

Sebagai blogger indonesia, mari hancurkan Blog laknat dari malingsial yang menhina indonesia didunia maya.

Ayo tunjukan rasa kecintaanmu thd indonesia.

Anazkia said...

:( no comment :(

Sukadi Brotoadmojo said...

sekali kali 'mereka' perlu di jewer, biar tidak melecehkan terus...

attayaya jadi anak smp said...

kita semua pengen menjewer mereka
agar mereka sadar

ReBorn mau smp lagi said...

kenapa juga tidak brani melakukan konfrontasi?
pemerintah pun sudah jelas mendapatkan dukungan penuh dari rakyatnya.
ayo kita jewer maling...sia!

attayaya jadi anak smp said...

yuk kita jewer

Muhammad A Vip said...

Malaysia malaysia, nasibmu itu lho...

attayaya jadi anak smp said...

mengenaskan