30 Agustus 2008

Puasa


Puasa


Berpuasa di bulan Ramadhan merupakan salah satu rukun dari beberapa rukun agama. Kewajiban melaksanakannya tidak membuthkan dalil, dan orang yang mengingkarinya berarti telah keluar dari Islam, karena puasa seperti shalat, yaitu ditetapkan dengan keharusan. Dan ketetapan itu diketahui baik oleh yang bodoh maupun orang yang ‘alim dewasa maupun yang anak-anak.

Puasa mulai diwajibkan pada bulan Sya’ban, tahun kedua Hijriyah. Puasa merupakan fardhu ‘ain bagi setiap mukallaf, dan tak seorang pun dibolehkan berbuka, kecuali mempunyai sebab-sebab seperti berikut :

  1. Haid dan Nifas : para ulama sepakat bahwa bila seorang perempuan haid atau nifas, puasanya tidak sah.
  2. Sakit : kalau orang yang berpuasa itu sakit, dan ia dan/atau diberitakan oleh dokter/ahli, khawatir dengan berpuasa itu akan menambah penyakitnya, atau memperlambat kesembuhannya, maka bila suka berpuasalah, dan bila tidak, berbukalah tetapi tidak ada ketentuan (keharusan) berbuka baginya, karena berbuka itu merupakan rukhshah (keringanan), bukan keharusan bagi orang yang berada dalam keadaan sakit. Tetapi menurut perkiraannya sendiri bahwa dengan berpuasa itu akan menimbulkan bahaya, atau akan membahayakan salah satu anggota inderanya/tubuhnya, maka ia harus berbuka, dan bila terus berpuasa, puasanya tidak sah.
  3. Perempuan hamil yang hampir melahirkan, dan perempuan yang sedang menyusui : kalau perempuan hamil atau menyusui khawatir pada dirinya atau pada anaknya, maka sah puasanya, namun boleh baginya untuk berbuka. Tetapi bila dia berbuka maka dia harus meng-qadha’ (menggantinya).
  4. Perjalanan yang sesuai dengan syarat-syarat yang dibolehkan melakukan shalat qashar : terdapat penambahan satu syarat lain lagi yaitu : perjalanan itu harus berangkat sebelum terbit fajar, sampai menempuh jarak dibolehkannya melakukan shalat qashar. Namun bila perjalanan itu berangkat setelah terbit fajar, maka diharamkan untuk berbuka. Dan kalau berbuka, maka ia harus meng-qadha’ (menggantinya) tetapi tidak perlu membayar kifarah.
  5. Orang yang mempunyai penyakit sangat kehausan bolah berbuka, dan kalau ia kuat di kemudian hari, maka ia wajib meng-qadha-nya (menggantinya), tetapi tidak perlu membayar fidyah.
  6. Orang tua renta, baik laki-laki maupun perempuan, yang mendapatkan kesulitan dan kesukaran, serta tidak kuat lagi berpuasa : maka ia mendapat rukhshah (keringanan) untuk berbuka, hanya harus membayar fidyah setiap hari dengan memberikan makanan pada orang miskin. Begitu juga orang sakit yang tidak ada harapan sembuh sepanjang tahun.




Hilangnya Udzur (halangan)
Kalau udzur yang membolehkan berbuka itu hilang, seperti orang sakit yang telah sembuh, anak kecil yang telah baligh, seorang musafir yang telah selesai menempuh perjalanannya, atau perempuan haid yang sudah suci, maka kesemuanya disunnahkan untuk menahan diri.

Syarat-syarat puasa
Puasa Ramadhan itu wajib/fardhu ‘ain bagi setiap mukallaf yaitu orang yang sudah baligh dan berakal. Maka puasa tidak diwajibkan bagi orang gila atau ketika sedang gila, dan kalau dia berpuasa maka puasanya tidak sah. Anak kecil tidak wajib berpuasa, tetapi kalau dia berpuasa dan dia sudah mumayyiz maka puasanya sah.

Dan tidak boleh tidak, bahwa syarat sahnya puasa adalah beragama Islam dan disertai dengan niat, sebagaimana dalam ibadah-ibadah lainnya. Maka bagi mereka yang bukan Islam, puasanya tidak diterima. begitu juga kalau berpuasa dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasanya tanpa niat, maka puasanya tidak diterima.

Do'a malaikat Jibril menjelang Ramadhan "Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
• Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
• Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami isteri;
• Tidak berma'afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali. Dapatkah kita bayangkan, yang berdo'a adalah Malaikat dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan para sahabat, dan dilakukan pada hari Juma’at.

Hal-hal yang Membatalkan Puasa
Ada beberapa perkara yang wajib ditahankannya dari terbit fajar sampai Maghrib, yaitu :
  1. makan dan minum dengan sengaja, jika dilakukan maka wajib meng-qadha-nya. Dalam hal ini termasuk juga merokok.
  2. bersetubuh dengan sengaja, jika dilakukan maka wajib meng-qadha-nya dan membayar kifarah.
  3. istimma’, yaitu mengeluarkan mani dengan sengaja, bahkan keluar madzi (cairan bening sebelum mani keluar) pun membatalkan puasa. Hal ini terjadi disebabkan melihat sesuatu yang dapat membangkitkan gairah seks, atau sejenisnya apalagi jika dilakukan berulang-ulang. Untuk itu saat berpuasa hendaknya menahan diri baik penglihatan, pendengaran maupun ucapan.
  4. muntah dengan sengaja kecuali jika terpaksa, misalnya keracunan makanan di waktu sahur, yang pengobatannya dilakukan dengan sengaja memuntahkan isi makanan yang telah berada dalam perut.
  5. berbekam (bercaduk) baik yang dibekam maupun yang membekam.
  6. disuntik dengan yang cair. Ia wajib meng-qadha-nya, dan jika tidak benar-benar kritis maka ia wajib meng-qadha-nya dan membayar kifarah.
  7. debu halus yang tebal (pekat) yang masuk ke dalam lubang yang ada di tubuh.
  8. memutuskan atau membatalkan niat puasa. Ini menurut Imamiyah dan Hambali saja khususnya.
  9. berbohong kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, maka ia wajib meng-qadha-nya dan membayar kifarah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2013 attayaya: Puasa | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah